
“Semuanya cepat pergi ke taman!”
“Taman lebih aman daripada berada di bangunan yang bisa saja hancur!”
“Mohon jangan panik dan evakuasi dengan tertib!”
Atas keinginan Arthur, Mona dan Chelsea ikut membantu mengevakuasi orang-orang dari ledakan misterius tersebut. Saat ini Arthur sedang memikirkan kontradiksi di dalam kepalanya.
‘Apa mungkin wanita bernama Indri itu yang menjadi dalangnya? Namun, mustahil aku salah mengira Ray adalah pelaku,’ pikir Arthur.
Pendiriannya tetap pada Arthur adalah tersangka dari semua hal ini namun di satu sisi ia juga sadar kalau dugaannya bisa saja salah. Degree-nya bukanlah kebenaran mutlak di dunia ini.
‘Apa aku terlalu percaya diri? Sampai-sampai Degree-ku bisa salah sasaran?’
Degree-nya bisa memungkinkannya mendapati firasat buruk yang takkan meleset. Arthur awalnya tak percaya kalau Degree-nya sesuatu seperti ini, cukup tidak masuk akal namun setelah sejauh ini ia tak lagi terkejut.
“Uargh!”
“Tolong selamatkan aku!”
“Semuanya menjauh!”
“Kuhahaha! Matilah, matilah terbakar dasar cacing tanah!”
“Ini menyenangkan! Ahahaha!”
Arthur mendengar jeritan keras dan penuh menyakitkan dari kejauhan. Disusul dengan tawa lantang dan kalimat-kalimat yang adalah umpatan namun disampaikan dengan kebahagiaan.
“A-apa-apaan itu ...” Chelsea memandang ke tengah taman dan jatuh berlutut sebelum memuntahkan isi perutnya.
Mona lekas ke arahnya dan menjaganya, ia kemudian memandang apa yang dilihat Chelsea dan ikut terkejut.
“Arthur ...,” panggil Mona dengan wajah pucat. “Lihat itu ... .”
Arthur menoleh karena penasaran, ia kemudian berkerut marah karena apa yang dia lihat.
Sekelompok orang dengan pelontar api sedang membakar manusia secara acak. Mereka tampak tidak terpaksa melakukannya. Justru sebaliknya, mereka bahagia.
“BAJINGAN SADIS!” Arthur berteriak keras dan berlari ke arah kelompok gila tersebut.
Dia berusaha membuat orang tidak ada yang mendekati kelompok itu namun tetap ada orang bodoh sok kuat coba menghadapinya.
“Apakah kamu tidak punya hati dasar bajingan!”
“Tempat ini tidak butuh hati! Rasakan saja api manis ini!”
“Kuagh!”
Arthur menyaksikan seorang pemuda terbakar api, mulai berlari beberapa detik sebelum tewas terbakar. Cara mati yang paling mengerikan.
“HENTIKAN INI!”
Kelompok dengan pelontar api itu menoleh ke arah Arthur.
Arthur hanya memasang wajah marah dan tangannya mengepal kuat. Ia mulai bertanya-tanya apakah sungguh ada bajingan yang senang membantai manusia.
“Geh! Lihat itu, si pahlawan datang!” ujar seorang pria paruh baya yang membunuh pemuda sebelumnya.
“Ha ha ha! Jadi ini bajingan yang selalu menyusahkan bos. Tampaknya kita akan mendapatkan imbalan besar jika berhasil membunuhnya!”
“Oy! Sebisa mungkin sisakan kepalanya utuh tak terbakar sebagai bukti!”
Arthur menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya, ia mulai menilai situasinya saat ini dengan tenang dan berusaha untuk tetap berkepala dingin.
‘Ada dua puluh orang lebih yang membawa pelontar api. Empat ada di depanku, beberapa menyaksikan dan sisanya mengejar orang-orang.’
Meski ada banyak yang membawa pelontar api namun tidak semuanya membakar orang secara acak seperti yang ada di hadapan Arthur. Kebanyakan dari mereka hanya membakar orang yang berani melawan.
“Ini aneh,” gumam Arthur. “Mereka seakan-akan mengosongkan taman ini untuk sesuatu.”
Orang-orang itu bergerak seakan-akan membuat ruang kosong yang cukup lebar. Arthur saat ini berada tepat di tengah-tengah taman yang sedang dikosongkan itu.
“Bos! Tampaknya ada beberapa pengacau!” Salah satu anggota kelompok tersebut menyampaikan informasi.
Arthur menoleh ke tempat lain dan menemukan pria aneh yang memperagakan pantomim sedang melindungi orang dengan Degree-nya.
‘Apa-apaan itu! Dia berlagak seperti ada tembok dan membuat pelontar api tak berguna meski tidak ada tembok di sana!’ Arthur terkejut karena ini pertama kalinya dia melihatnya.
Arthur terkejut kalau ternyata pantomim bisa sehebat itu jika dijadikan Degree. Ia tak tahu dari mana orang itu namun keberadaannya cukup membantu.
Menatap sekitarnya, Arthur menemukan kalau Terumi juga ikut andil untuk membantunya. Terumi terlihat coba melumpuhkan beberapa orang atau bahkan pelontar apinya.
Dari kejauhan Arthur juha menemukan Ray ikut membantu.
‘Orang itu, sejak kapan dia mencari papan dan kain basah?’
Di sana Ray melindungi beberapa orang dari semburan api menggunakan kain tebal yang basah dan diikatkan pada papan untuk membentuk perisai.
Arthur tak yakin itu akan efektif namun setidaknya lebih baik ketimbang kain kering.
‘Sepertinya aku hanya memiliki kesalahpahaman dengannya. Aku akan minta maaf dengan benar setelah ini,’ Arthur sedikit malu karena salah mencurigai orang.
“Apa tujuan kalian melakukan semua ini?” tanya Arthur, menatap empat orang gila di depannya. “Aku tak melihat ada keuntungan yang bisa kalian dapatkan dari hal ini.”
“Hah? Kami melakukannya karena kami menginginkannya. Bos bilang boleh melakukan apa saja jadi kami melakukan ini.”
“Ya!” Seseorang dengan rambut putih mengangguk setuju dengan wajah gila. “Sangat menyenangkan melihat manusia terbakar!”
“Kamu benar,” orang dengan luka di mata kanannya setuju. “Jika neraka itu ada, aku ingin tinggal di sana.”
Arthur awalnya berniat menggali tujuan orang-orang ini namun ia menyesal mengetahuinya. Mereka hannyalah sekelompok orang gila yang menginginkan pembunuhan saja.
“Sia-sia berbicara dengan kalian. Mati saja!” Arthur mengeluarkan pistol dan pisau miliknya, dia sial untuk menyerang tetapi terhenti.
“Ketua! Lihat apa yang aku temukan! Wanita cantik, loh!”
Rekan mereka datang membawa seorang gadis yang pakaiannya compang-camping karena dilucuti. Orang itu membawa gadis tersebut dengan cara menarik rambut dan menyeretnya.
Arthur menjadi semakin marah oleh tindakan orang-orang yang kehilangan akal sehatnya ini.
“Hentikan perbuatan bejat kalian!” Arthur hendak menarik pelatuknya, tetapi orang-orang itu menggunakan wanita yang dibawa sebagai perisai.
“Tembak saja, bunuh kami bersama wanita ini!” Orang dengan mata terluka berkata dengan riang.
Wanita itu terlihat menderita, dengan air mata berderai ia menatap Arthur penuh permohonan, “T-tolong aku ... .”
“A-aku t-tak ingin mati!” tambahnya.
Arthur jatuh ke dalam dilema. Ia bisa mengabaikan gadis itu namun hatinya menentang membuat pengorbanan tidak diperlukan.
‘Aku harus mencari celah untuk mengatasi mereka dan menyelamatkan gadis itu. Dengan Degree-ku harusnya bukan mustahil,’ pikir Arthur, ia coba membuat rute penyelamatan gadis itu.
“Kamu orang yang menyusahkan bos selama ini. Itu artinya kamu berbahaya sampai-sampai para petinggi tidak bisa menyingkirkanmu. Jika begitu ...,” pria paruh baya yang tampaknya adalah pemimpin kelompok gila tersebut menarik gadis tersebut dan memasukkan moncong pelontar api ke mulutnya.
Wanita itu mengeluarkan suara seperti orang tersedak namun pria paruh baya tersebut mengabaikannya.
“Tubuhnya memang menarik dan menggoda namun itu tak sebanding dengan rasa penasaranku. Apa yang akan terjadi jika manusia menelan api.”
“Hentikan itu!” Arthur berteriak dengan marah. Jika keadaannya seperti ini ia takkan bisa berbuat apa-apa.
Arthur mau tak mau harus melakukannya, iya tidak memiliki banyak pilihan. Dia membuang pistol dan pisaunya ke depan kemudian mengangkat tangannya.
“Anak pintar, hahaha!”
“Kamu memang keji, bos! Nah, bagaimana jika kita gunakan wanita ini? Aku tak tahan dengan tubuhnya!”
“Aku ingin membiarkannya namun tak bisa. Di sini ada banyak musuh.”
Pria itu menyampaikan kalau mereka bisa membiarkan wanita ini tetap hidup sampai semuanya selesai. Tentunya, Arthur tahu mereka takkan membiarkan gadis itu tetap hidup.
Tatapan Arthur beralih ke tempat lain, di sana ia menemukan Eric sedang mengendap-endap untuk menyelamatkan gadis itu.
‘Cepatlah, Eric!’ pikir Arthur.
“Kamu tahu? Bos Virgo akan senang jika kita bisa membunuh bajingan ini. Dia akan mampu memberikan kita banyak wanita yang luar biasa sehingga gadis ini tak ada apa-apanya. Karena itu, mari bunuh si pahlawan ini!”
Tatapan mereka tertuju kepada Arthur dengan niat membunuh yang luar biasa. Di sisi lain, Arthur terbelalak karena satu hal.
“Kalian orang-orang Virgo? Itu artinya sisa-sisa dari Rebellion?”
Arthur awalnya berpikir jika Rebellion harusnya telah lenyap sejak hancurnya Open World. Meskipun dia tahu Virgo dan petinggi lainnya selamat namun tak disangka anggotanya juga selamat.
“Ya! Kami dari Rebellion. Berkatmu dan teman-temanmu, banyak rekan kami hilang!”
“Karena itu ini adalah pembalasan dendam!”
Arthur mendengus kesal, “Itu konyol mengingat kalian sendiri yang mencari masalah.”
Sejak awal Rebellion adalah pembuat kekacauan di Open World. Mulai dari penghancuran Redwest sampai ke deklarasi perang. Sejak awal yang bermasalah adalah mereka sendiri, aneh jika Rebellion mengatakan ingin balas dendam.
“Kami takkan membuat masalah jika kalian menurut, kan?” tanya si rambut putih kepada rekan-rekannya.
Mereka serempak mengangguk, salah satu dari mereka mendekati wanita yang sedang dijadikan sandra. Orang itu dengan bejat mulai menyentuh bagian tubuh wanita tersebut. Dari dada hingga bagian bawahnya.
“Hey, kamu terlihat seperti babi yang bernafsu. Hentikanlah itu!” bentak pria paruh baya.
“Baiklah, baiklah! Jangan marah—” orang itu terbelalak saat melihat Eric sudah mengulurkan pisaunya ke pria paruh baya, yang adalah ketuanya. “MENYINGKIR!”
Pria paruh baya itu terkejut karena teriakkan tersebut. Dia berbalik dan melihat Eric sudah mengarahkan pisau ke tenggorokannya.
“MATI!”
Pria itu menghindarinya, ia berhasil menghindari kematian namun tetap terluka parah. Pisau Eric tak mengenai lehernya namun menusuk dalam bahu pria tersebut.
“Sialan!” Pria paruh baya mengumpat kesal, ia ingin membalas namun dalam waktu singkat Eric sudah ada di sisinya dan memotong rambut gadis yang ia pegang.
Sebelum yang lainnya bisa beraksi, Eric merunduk dan mengangkat pria tersebut lalu melemparkannya ke yang lain.
“Apa?! Dia bisa mengangkat ketua dengan mudah!”
“Ini bukan apa-apa!” teriak Eric selagi melemparkan orang itu ke rekannya!
Eric kemudian menggendong gadis tersebut dan berniat menjauh.
“Tenang saja, kamu akan baik-baik—”
DOR!
Suara pistol ditembakkan. Harusnya itu bukan masalah mengingat tempat ini sedang kacau. Hanya saja, pistol itu ditembakkan tepat ke kaki Eric dan membuatnya kehilangan keseimbangan sebelum terjatuh.
“Argh! Sialan!” Eric mengumpat, ia berbalik dan menemukan orang yang menjadi pelaku penembakan kakinya.
Arthur juga berbalik dan menemukan orang-orang bertopeng sedang mendekatinya. Tiga orang yang sama sekali tidak asing bagi Arthur.
“Virgo ... .”
Hal yang membuat Arthur mengerutkan alisnya bukanlah kehadiran orang itu, tetapi apa yang ia bawa bersamanya.
“Tahukah engkau? Aku merancang semua ini untuk melenyapkanmu,” ujar Virgo dengan suara dingin, ia masih menggunakan alat untuk mengubah suaranya. “Kesalahan terbesar membiarkan wanita ini sendirian.”
“Arthur ... .” Mona yang sekarang menjadi tawanan memanggil namanya dengan nada yang lemah.
“Itu ... apa yang akan kamu lakukan kepada adikku?!”
Tidak hanya Mona namun Virgo juga menahan Chelsea bersamanya. Antara Mona dengan Chelsea, kondisi Chelsea sangat buruk. Pakaiannya compang-camping dan wajahnya babak belur dipukuli. Lebih buruknya lagi, Virgo menyeretnya hanya dengan memegang kakinya.
“Ini? Dia coba melawanku jadi aku patahkan tangan dan kakinya,” ujar Virgo dengan acuh tak acuh.
“Lepaskan mereka sekarang!” Arthur mengambil senjatanya dan mulai kehilangan ketenangan.
“Tentu akan aku lepaskan. Jika kamu mau menukar nyawa dengan dua gadis ini. Bagaimana? Tawaran yang adil menurutku.”
“Pergilah ke neraka!” Arthur mengumpat dan berlari cepat ke arah Virgo.
Virgo seakan-akan tertawa dan menarik Mona dari Alexis. Ia mencekik lehernya dengan erat dan mengangkat Mona. Tak hanya itu, Virgo melemparkan Chelsea dan menginjak lehernya.
“HENTIKAN ARTHUR!” Eric berteriak keras, ia tahu apa yang coba dilakukan oleh Virgo sekarang ini.
Arthur kembali tersadar dari amarahnya dan berhenti melangkahkan kakinya. Ia tahu, bergerak lebih dari ini akan membuat Mona atau Chelsea mati. Tidak, bahkan mungkin keduanya.
“Anak pintar. Andai kamu melangkah kaki sedikit lagi, aku pasti mematahkan leher salah satunya.”
Arthur menggertak gigi dengan kuat, “Kergh! Apa yang kamu inginkan dari ini, Virgo?!”
“Sudah kubilang, tukar nyawamu dengan kedua gadis ini.”
“Itu tidak bisa diterima! Tak ada jaminan kamu akan membiarkan keduanya hidup!”
Jika Arthur menurutinya dan memilih mati, maka dia tidak akan tahu apakah Mona dan Chelsea akan dibiarkan tetap hidup atau sebaliknya. Arthur bukan orang bodoh yang akan menerima kondisi seperti itu.
“Ha ha ha!” Virgo tertawa lantang, “Wahai pria yang menyerupai pahlawan di mana takdir dan keberuntungan berpihak padamu! Bisakah kamu mengatasi situasi ini dengan benar?”
Arthur menjadi diam, matanya terbelalak dengan kata-kata Virgo.
‘Orang ini ... sejak kapan ia menyelidiki Degree-ku?’
Meski perkataannya absurd namun hal-hal tersebut sangat dekat dengan Degree yang dimiliki oleh Arthur. Harusnya tidak akan ada yang bisa mencapai kesimpulan ini kecuali ada beberapa faktor.
“Aku tak tahu apa maksudmu namun aku pasti akan menyelamatkan mereka!”
“Tentu saja kamu akan melakukannya. Namun apa kamu cukup percaya diri mampu melakukannya? Bergerak satu langkah saja akan mematahkan leher gadis-gadis ini.”
“Aku telah menyebarkan orang agar tak ada pengganggu. Sakura Terumi, Ray Morgan dan para bajingan lainnya takkan datang membantu.”
Arthur mengamati sekitarnya dan menemukan bahwa Virgo sudah menempatkan beberapa orang untuk menghadapi Ray dan Terumi. Entah di mana Leo berada namun mungkin saja ia juga terjebak rencana Virgo.
‘Bagaimana bisa aku tak menyadari rencana besar seperti ini? Apa ada yang salah dengan Degree-ku?!’ Arthur mengumpat di dalam pikirannya.
Virgo menjatuhkan Mona yang sudah lemas dan tak memiliki tenaga untuk melarikan diri. Dengan setiap blok, mall dan tanaman di sekitarnya yang terbakar, Virgo merentangkan kedua tangannya.
Di depannya ada pemandangan luar biasa di mana puluhan orang terbakar bersama dengan tempat ini. Untuk pertama kalinya di muka umum, Virgo membuka topengnya. Membiarkan wajahnya yang hanya tertutupi masker terbuka.
Rambut pendek berwarna hitam dan mata yang penuh dengan suka cita.
“Semua malapetaka ini, aku siapkan untuk membuatmu terpojok, Retsuji Arthur.”
Tirai kekacauan telah terbuka. Sandiwara penuh kekejaman akan dimulai.