
“Menjadi penurut? Maksudmu dia seperti terhipnotis?” tanya Eric dengan terkejut. Ia tentu tidak berpikir Arthur akan membuat kebohongan tidak berguna.
Meski begitu Eric masih sulit mempercayai kalau Arthur menuduh orang yang jelas-jelas mustahil menjadi pelakunya.
“Aku tak tahu apa yang terjadi namun benar adanya si target menjadi penurut. Selagi si wanita menghipnotisnya, pria ini mencuri DP targetnya.”
Arthur juga menyampaikan kalau mereka mengetahui ia mengintip dan menyuruh orang itu untuk membunuhnya. Tentu Arthur tidak tinggal diam dan ia berusaha melarikan diri namun tampaknya tidak mudah.
Stigma yang ditanamkan kepada si penurut ini tampaknya mengakar dalam, bahkan jika dia kelelahan karena mengejar Arthur, nyatanya dia tak berhenti. Pada akhirnya Arthur harus membuatnya tidak sadarkan diri.
“Namun mengapa kamu menyangka itu Ray?” Terumi mengerutkan alisnya dengan tidak senang. “Ray ada bersama kami untuk membantu menangkap si pembunuh!”
“Tenang dulu Terumi,” Mona mulai melerai Terumi yang emosi. “Kamu berpisah dengan Ray lebih dari tiga puluh menit, kan? Tidak menutup kemungkinan kalau dia meninggalkan tempatnya dan melakukan hal ini.”
Faktanya Ray tidak ada di sini meskipun Leo sudah memberikan tanda. Jarak antara tempat Ray menjaga dan Leo memang cukup jauh sehingga akan memakan waktu baginya untuk sampai.
Meski begitu, Terumi tetap menolak untuk percaya jika Ray adalah orang yang menyamar di depannya saat ini.
“Lagi pula atas dasar apa kamu mencurigainya? Tidakkah kamu berpikir itu mungkin hanya karena dendam tak jelas?!” ujar Terumi, mengambil langkah maju dan coba menyerang Arthur.
Leo dan Eric lekas menahannya, sementara Arthur tetap berwaspada kepada dua orang pembunuh yang mungkin saja menunggu kesempatan untuk melarikan diri.
“Aku memiliki alasan yang jelas,” ujar Arthur. “Pertama, aku sering melihat Ray berkeliaran tidak jelas di beberapa blok dan bahkan mall.”
Arthur menyampaikan kalau gelagatnya sangat mencurigakan. Di beberapa kesempatan dia menemukan Ray berbicara dengan orang-orang asing terutamanya di restoran.
Tentunya bukan hal yang aneh membangun relasi pada tahap ini, tetapi Arthur mencurigai Ray merencanakan sesuatu yang tak menyenangkan.
“Aku mendapat informasi kalau orang-orang yang menyelamatkan kita terakhir kali di penghujung Open World terhubung dengannya.”
Arthur tidak menjelaskan bagaimana cara ia mendapatkannya namun kata-katanya terdengar sangat yakin. Bahkan jika begitu, masih belum ada bukti pasti.
“Apa hanya itu saja yang mendorongmu mencurigai Ray? Itu sangat tidak masuk akal!” Terumi menolak menerima alasan tidak jelas itu.
“Tidak hanya itu, Terumi,” Mona menyela. “Aku melihat Ray pergi membeli pakaian serupa dan topeng. Tentunya awalnya aku berpikir dia ingin menggunakannya setelah waktu rehat ini selesai. Namun aku tidak menduga dia melakukannya untuk pembunuhan dan pencurian DP.”
Berbagai hal mulai diungkapkan namun tetap saja tidak ada argumen yang cukup kuat untuk membuat Arthur menuduh Ray menjadi tersangka.
“Aku sudah mengenalmu sejak lama, Arthur,” ujar Eric dengan sedikit waspada. “Kamu bukan tipe orang yang bergerak karena dendam dan emosi. Argumenmu tidak cukup kuat.”
“Kamu diam saja, kak!” Chelsea yang sejak tadi diam ikut bergabung dalam percakapan. “Lebih cepat jika kita menguak langsung identitas orang-orang ini.”
Itu benar adanya, ketimbang berdebat untuk sesuatu yang tidak jelas lebih baik memastikannya langsung.
“Kalian dengan perkataannya?” tanya Arthur kepada dua orang itu. “Cepat buka topeng kalian!”
Kedua orang itu diam dalam waktu lama dan memandang sekitar. Ia menemukan bahwa tak ada jalan untuk melarikan diri sama sekali sehingga hanya bisa pasrah akan diri mereka.
Perlahan mereka mulai mengangkat topengnya namun sebelum itu terjadi suara seseorang memecah keheningan.
“Apa yang sedang terjadi di sini?”
Terumi dan Leo berbalik dan menemukan Ray di sana. Mereka tersenyum senang karena kecurigaan Arthur nyatanya bohong.
“Ray!” seru Terumi dengan senang.
Arthur terbelalak karena dugaannya salah. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Ray sungguh-sungguh bukan pelaku dari perampokan yang terjadi. Lantas jika begitu siapa dalang pembunuhannya?
“Bagaimana bisa?” gumam Mona, dia juga tak menyangka kalau dugaan ini adalah salah paham yang luar biasa memalukan.
Ray datang di waktu yang tepat saat kedua orang yang dicurigai sebagai dalang pembunuhan hendak mengungkap identitasnya.
Tentunya Ray hanya mendengar sedikit situasinya namun ia memahami segalanya. Lagi pula Ray telah meramalkan hal ini mungkin akan terjadi. Meski begitu dia tetap harus bermain sebagai orang bodoh.
“Ada apa ini?” tanya Ray sekali lagi dengan bingung.
“Dengar ini, Ray,” kata Terumi dengan geram. “Arthur menuduhmu sebagai dalang pembunuhan yang terjadi belakangan ini.”
Ray menaikkan alisnya karena terkejut, “Itu tuduhan yang tidak berdasar. Mengapa aku yang dicurigai?”
Terumi mulai menjelaskan kalau Arthur mencurigainya karena Ray sering keluar di malam hari dan melakukan hal-hal aneh seperti berkeliaran tanpa arti.
Ray memasang wajah polosnya selagi menjelaskan, “Aku biasa pergi ke mall untuk makan dan membaca buku karena aku tidak yakin setelah ini berakhir akan bisa melakukannya.”
Tidak pernah ada jaminan kalau Ray dapat bertahan hidup sampai akhir. Bahkan jika uji coba ini selesai, belum tentu Secret akan membebaskan mereka begitu saja.
“Aku telah di sini sehingga harusnya salah satu dari dua orang itu bukanlah aku. Lebih baik kita mengungkapkan siapa mereka.”
Ray tentu tidak mau memperpanjang hal ini, salah paham pada akhirnya hanya akan menjadi kesalahpahaman saja. Ia tak ingin membuatnya lebih panjang lagi karena waktu yang ditentukan sudah sangat dekat.
Arthur menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia mulai merasakan sakit kepala dan malu karena salah menuduh, “Yah, aku akan meminta maaf nanti. Sekarang, mari kita ungkap identitas kedua orang ini.”
Semua orang menantikan para pembunuh ini mengungkapkan wajahnya. Ray mungkin bisa menebak dari mana mereka berasal namun ia tak tahu siapa yang akan menjadi aktor besarnya.
Dua orang itu mulai melepaskan topeng dan alhasil itu mengejutkan mereka. Bahkan Ray sendiri tidak menduganya, pemimpin dari kelompok kecil itu sendiri yang turut bermain.
“Fu fu, aku pikir ingin sedikit diam lebih lama lagi karena pertengkaran kalian menarik untuk disaksikan. Namun sayangnya orang yang jadi tersangka muncul di waktu yang tidak tepat.”
Logat khasnya yang unik dan seringai lembut serta kalimatnya yang penuh sarkasme. Tidak lain dan bukan adalah Indri. Ia adalah dalang dibalik pembunuhan ini bersama dengan rekannya Hiroshi.
Arthur sendiri terbelalak karena tidak memasukkan kelompok ini sebagai variabel yang mungkin melakukannya. Namun, ia sendiri tidak merasa tuduhannya salah.
‘Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Aku yakin kalau Ray dan Erina adalah pelakunya. Mengapa bisa jadi orang ini?’ pikir Arthur selagi menatap Ray dengan heran.
Di sana ia menemukan kalau Ray memberikan tatapan datar yang terkesan dingin dan apatis. Tidak ada ekspresi tertentu yang memberikan ejekan.
Arthur tentunya masih mencurigai Ray namun kejadian ini. membuatnya meragukan firasatnya yang tak mungkin salah.
‘Firasatku harusnya tepat mengingat Degree-ku berkemungkinan besar mempengaruhi segala pola yang kutemukan. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa mungkin orang ini telah meramalkannya?’
Arthur tidak bisa memberikan jawaban atas hal ini. Otaknya mengalami distraksi karena kejutan yang membuatnya salah dalam perhitungan.
“Apa kalian tidak akan melanjutkan perkelahian sebelumnya?” tanya Indri yang memecahkan keheningan, “Bukan hal yang buruk melihatnya. Aku seperti sedang menyaksikan orang bodoh berdebat tentang makan bubur diaduk atau tidak.”
“Aku merasa dipermainkan. Tak peduli siapa pelakunya namun kamu takkan bisa selamat!” Arthur akhirnya keluar dari pemikirannya dan menodongkan pistolnya langsung ke kepala Indri.
Ray tentunya ikut melakukannya dan siap menembak Hiroshi kapanpun ia bertindak nekat, “Sejujurnya aku masih tidak mengerti mengapa aku jadi tersangka. Namun kalian adalah psikopat gila yang berkeliaran untuk membunuh harus dihentikan sekarang juga.”
‘Mereka campur tangan terlalu banyak namun aku bersyukur,’ pikir Ray, dalam hatinya ia berterima kasih kepada Indri.
Dengan ini Ray sudah pasti tidak akan pernah dicurigai oleh Terumi, Leo ataupun Eric. Namanya bisa dibilang bersih karena tuduhan bodoh yang diberikan Arthur. Dan, ada satu hal yang telah dikonfirmasi.
‘Aku yakin sekarang kalau aku harus membunuh Arthur secepatnya.’
Dengan demikian maka sudah waktunya Ray memulai kisah yang ia rancang sendiri. Teater yang penuh dengan kepalsuan dan konspirasi akan dimulai.