
Ben sendiri terkejut karena Arthur tampaknya sungguh-sungguh mengejar Ray sekarang ini. Memang, Ben sendiri mengakui jika pria itu perlu untuk dilenyapkan
‘Masalahnya adalah posisi kami condong ke arahnya,’ pikir Ben.
Di sisi lain Indri sedang memutar otaknya dengan sangat keras. Tentunya dia ingin menyelesaikan tugas ini, tetapi dia juga tak bisa mengkhianati Ray.
Mereka adalah musuh yang gencatan senjata saat ini, Indri memang rela jika kalah dari Ray dengan syarat pertarungan mereka tidak dimulai dari pengkhianatan.
Itu adalah cara terburuk untuk mengakhiri kerja sama dan memulai pertempuran.
“Memang benar aku berusaha mengalahkan bajingan itu, tetapi tidak ada kebutuhan untukku menarik benang melalui dirimu.” Arthur tidak menyetujui ataupun menolaknya. Cara terbaik untuk tidak memberikan jawaban jelas.
“Lalu apakah kamu berusaha menghilangkan bidak yang akan melindungi Ray saat waktunya tiba? Dilihat dari manapun, aku adalah bidak ratu yang akan bergerak melindungi rajanya.”
Jika Indri ingin menghajar Ray dia akan melakukan hal yang sama. Mengeliminasi bidak yang Ray kendalikan untuk meningkatkan keberhasilan.
Ray adalah orang yang begitu terampil dengan segala strateginya. Indri ingat betul bagaimana Ray berencana menjatuhkan pesawat ke gedung tempat Haiyan berada.
Namun sayangnya bajingan Haiyan ini mengambil langkah lebih cepat dengan mencuri emas.
“Huh,” Arthur menghela napas panjang, “Akan aku anggap kamu benar. Maka dari itu kamu akan berada di pihakku sekarang. Aku tidak menerima jawaban tidak.”
Indri tentunya tidak bisa melakukan apapun terhadap hal itu karena saat ini Arthur memegang kendali sepenuhnya. Meski begitu setidaknya Indri masih memiliki nilai untuk tidak dilenyapkan.
‘Fakta bahwa aku terhubung dengan Ray dan memiliki informasi tentangnya menjadikan alasan aku tak bisa dieliminasi. Aku harus menjaga dengan baik informasi sekecil apapun.’
Entah seberapa banyak perubahan yang terjadi kepada Arthur, tetapi Indri tidak memiliki keraguan jika Arthur tak sungkan membunuhnya. Dia tampak seperti bukan lagi bocah naif.
“Kamu bosnya sekarang,” ujar Indri, dengan enggan mengangkat tangannya dan pasrah.
“Apa yang kamu lakukan?!” tanya Ben dengan tercengang, “Kamu akan mengikutinya?”
“Apa kita punya pilihan lain, Ben?” Indri menatap sinis. “Hidup adalah segala-galanya.”
Melalui kalimat itu Ben tampak terdiam dan menurut. Dengan enggan dia ikut mengangkat tangannya, indikasi menyerah.
Arthur segera memerintahkan tentara untuk melucuti senjata Ben dan Indri. Tak lupa dia meminta borgol untuk mengikat tangan keduanya sebelum pergi ke tenda.
Indri menemukan sepanjang perjalanan para tentara menatap ke arahnya dengan tegas, juga penasaran tentang apa yang terjadi. Tampaknya mereka tidak tahu apapun soal keberadaan manusia super dan sejenisnya.
Saat masuk ke tenda ada wajah tidak asing, yakni Mona, Mira dan bocah kecil yang tidak diketahui siapa oleh Indri. Indri berasumsi bahwa mereka berempat termasuk Arthur masing-masing memegang kunci.
“Anjing yang setia, aku terkejut wanita itu terus bersamamu. Bahkan tampaknya, ada anjing lain yang memberikanmu tulang,” Indri terkekeh.
“Kita tidak boleh seperti itu,” ujar Ben. “Anjing tidak benar-benar memahami perkataan manusia.”
“Fu fu, ada benarnya.”
“Apa yang kamu—” Mona menjadi marah, tetapi dihentikan segera.
“Jangan terprovokasi, Mona. Mereka memang ahli bersilat lidah.”
Indri hanya tersenyum kecil oleh perkataan Arthur sebelum duduk di kursi yang disediakan. Ada meja dengan transmisi hologram memisahkan keduanya.
Gambar monas ditampilkan serta keberadaan para tentara yang mengepung tempat ini.
“Kamu yakin membocorkan semua ini kepadaku?” tanya Indri.
“Jangan khawatir, kamu tak memiliki kesempatan melarikan diri,” balas Arthur dengan ringan. “Aku hanya ingin kamu mendengarkan ini.”
Arthur mulai berbicara tentang kronologi awal penyerangan terhadap monas dan pencurian emasnya.
Indri tidak begitu fokus mendengarkan pada awalnya lantaran dia sudah memahami situasinya, tetapi semakin banyak Arthur berbicara, semakin tertarik Indri mendengarkannya.
“Situasi sekarang ini mungkin terlihat menyedihkan karena tak ada perkembangan apapun. Namun pada kenyataannya, kami sedang mencari jalan tengahnya.”
Di satu sisi itu akan menguntungkan bagi Haiyan dan komplotannya karena bisa melarikan diri dari situasi menyedihkan ini. Sementara di sisi lain akan ada kerugian lebih banyak yang didapat negara ini.
Terutama adalah kecaman keras dari negara lain dan terutamanya penduduk negara ini sendiri. Membiarkan mereka lolos adalah tindakan memalukan.
Seakan menjawab pertanyaan dalam kepala Indri, Arthur mulai menjelaskan.
“Saat ini Marshal Ardianto sedang berbincang dengan jendral lain terkait situasi di tempat lain. Dan, kami ingin masalah ini ditangani oleh kami.”
“Marshal, kah? Tidak aku sangka kamu mendapatkan dukungan dari orang berpangkat tinggi. Seperti yang diharapkan dari tokoh utama,” ujar Ben, tersenyum masam.
Arthur tak menghiraukannya dan terus melanjutkan.
“Tentunya kami tidak berencana membiarkan mereka pergi begitu saja. Tergantung pada apa tawaran mereka, kemungkinan terburuk kami akan melakukan penyerangan.”
Indri mulai mengerutkan alisnya. Ada hal yang seakan-akan menjadi lubang besar dari semua ini.
“Jika pada akhirnya kamu akan menyerang lantas mengapa memilih jalur negosiasi? Selain itu, apa maksudmu dengan situasi di tempat lain?”
Indri merasa dia bisa memahami sedikit maksudnya, tetapi untuk beberapa alasan dia belum sampai pada kesimpulan yang mungkin sangat dekat untuk diraihnya.
Arthur melipat tangan dan merunduk. Dia menggertak giginya dengan kesal.
“Situasinya tidak sesederhana itu. Para bajingan ini memikirkannya dengan sangat baik.”
Tak hanya Arthur, tetapi wajah Mona dan yang lainnya ikut memburuk karena sesuatu. Mereka juga tampak nyaris putus asa oleh semua ini.
Indri merasa bahwa semua ini tidak akan hanya menjadi insiden pencurian saja, tetapi ini akan menjadi insiden besar yang akan menggemparkan banyak negara.
“Apa maksudmu?” ujar Indri, semakin dalam mengerutkan alisnya.
“Monas— tempat ini bukanlah satu-satunya tempat yang kacau. Presiden serta keluarganya di tawan di monas, dan para menteri baik dalam negeri maupun luar negeri juga menjadi tawanan di istana negara.”
Ada lebih banyak tawanan yang tidak bisa diabaikan. Kini Indri mengerti alasan mengapa situasi stagnan tanpa ada perkembangan berarti.
Menteri dan presiden negara ini menjadi tawanan Haiyan. Entah sebuah kebetulan atau semuanya memang sudah direncanakan.
“Kesampingkan menteri dan presiden negeri ini. Jika para diploma luar negeri ikut kena imbasnya, kemarahan negara lain takkan bisa dihindari. Fu fu, politik sungguh mengerikan. Hal itu bisa membuat negara ini jatuh.”
Indri baru mengetahui hal ini. Tentunya sangat jelas mengapa tidak segalanya dipublikasikan karena ada beberapa hal yabg memang sebaiknya tidak diketahui secara meluas. Mengingat media bisa diakses oleh siapapun termasuk komplotan Haiyan.
“Bahkan itu tidak cukup. Tidakkah kamu berpikir bahwa pengguna Degree bukanlah orang sebodoh ini? Bahkan aku tahu kamu pernah sekarat oleh bajingan ini.”
Indri cukup terkejut karena Arthur mengetahui hal seperti itu, tetapi dia tak tertarik mengetahuinya. Toh, mudah bagi Arthur melakukan penyelidikan dengan kekuatan besar di belakangnya dan analisis Mona.
Hal yang menarik dari perkataannya adalah situasinya tidak selesai sampai penawanan orang penting.
“Setelah dipikir-pikir lagi, tidak ada monyet idiot yang akan bisa bertahan sampai kita dibebaskan. Aku hampir lupa akan hal itu. Jadi, apa racun lain yang parasit ini sebarkan?”
“Banyak sekali bom.”
“?!” Indri tersentak oleh pernyataan cepat milik Arthur.
“Bom? Apa maksudmu mereka menanamkan bom di sekitar monas— tidak. Itu sama saja bunuh diri,” ujar Ben, mulai memutar otaknya dan mendapatkan kesimpulan. “Tempat terbaik menyembunyikan dan meledakkan bom adalah di keramaian.”
“Kamu tepat sasaran,” Mona bantu menjawabnya. “Persiapan mereka sangat matang. Mereka telah memasang bom yang bisa meledak kapanpun di tempat penuh keramaian.”
“Saat ini kami telah berhasil mengidentifikasi hampir dua puluh bom di sekitar ibukota. Kami tidak tahu jumlah pastinya, tetapi dipastikan ada lebih dari lima puluh bom yang disebarkan.”
“Dengan bantuan para pengguna Degree di pihakku, kami berusaha menyelesaikannya tanpa menimbulkan kepanikan yang berarti.”
Dengan adanya semua hal itu, maka bisa disebut bahwa Haiyan tidak hanya sekedar ******* murahan belaka.
Jika berita ini tersebar maka akan muncul kesimpulan bahwa motif serangan ini bukanlah pencurian, tetapi berusaha menjatuhkan negara.