
Ray pergi ke kamar Erina setelah dari perpustakaan. Di sana wanita itu sudah memakai perlengkapan yang Ray berikan kepadanya.
Pakaian hitam seperti apa yang akan digunakan polisi wanita. Dengan baju anti peluru yang melindungi dadanya dan beberapa kantung untuk menyimpan senjata.
“Kamu tak perlu menggunakannya sedini ini. Kita takkan pergi merampok.”
Selama seminggu belakangan ini Ray pergi ke banyak tempat untuk mencuri beberapa DP dari orang lainnya. Tentunya Ray tak membunuh siapapun, ia justru menjadikan beberapa dari mereka yang telah dicuri DP-nya menjadi rekan.
Namun sialnya ia menemukan situasi tak terduga sehingga harus melakukan beberapa tindakan yang berada di luar situasinya.
“Bagaimana dengan orang itu? Dia membunuh orang-orang yang telah terpengaruh Degree-ku,” ujar Erina.
Wanita ini sudah bisa berbicara lebih banyak dan tidak diam seperti boneka. Ray tak tahu apakah Degree Rani dan Rina sudah memudar atau Erina telah beradaptasi dengan hal ini. Apapun itu, bukannya Ray tidak boleh semakin waspada.
Jika tiba keadaan yang tidak diharapkan terjadi, Erina harus segera dieliminasi.
Ray duduk di kasur Erina dan menatap langit-langit dalam diam, “Orang itu memang merepotkan. Meski dia belum mengetahui identitas kita, hanya butuh waktu sampai dia mengetahuinya.”
Saat merampok orang hal pertama yang harus dilakukan tentunya menutupi identitas mereka. Ray bukan orang bodoh yang akan melakukan kejahatan terang-terangan tanpa menyembunyikan wajahnya.
“Apa kita lenyapkan saja?” tanya Erina dengan wajah apatis.
“Tidak. Aku yakin dia belum mengetahui kekuatanmu dengan pasti. Kita bisa memanfaatkannya. Selain itu ...”
Ray sudah membuat rencana untuk melenyapkannya. Bahkan jika itu tidak berhasil, rencana lainnya sudah disiapkan.
“Pagi ini kita akan bertindak. Aku harap kamu sudah meninggal tempat ini jam tiga pagi dan bersembunyilah di taman.”
“Mengapa?”
Ray mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah jam yang sedang menghitung mundur.
“Ini adalah waktu tersisa yang kita miliki. Saat waktunya tiba aku ingin kamu melakukan sesuatu.”
Ray mulai menceritakan kondisi yang ia ramalkan mungkin akan terjadi di masa depan. Erina tentunya tidak akan memahaminya sekarang namun saat waktunya tiba dia akan tahu harus melakukan apa.
“Saat itu terjadi, kamu muncul dan selamatkan mereka. Dengan itu, Degree-mu akan efektif mengunci pergerakan mereka. Bahkan jika nantinya aku dengan orang itu akan berada di sisi lain, dia takkan bisa mengatakan apa-apa.”
Melihat wajah Erina yang kaku, Ray perlahan bangkit, mendekat kepadanya dan mendorongnya ke dinding. Erina menghantam dinding cukup kuat namun wajahnya masih tanpa ekspresi apapun.
Ray baru saja memberikannya sedikit kejutan dengan harapan ada reaksi yang ia dapatkan darinya namun nyatanya itu tidak terjadi.
“Kamu tidak lupa dengan rencananya, kan?” tanya Ray mendekatkan wajahnya.
“Ya,” jawab Erina selagi perlahan memejamkan matanya, ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini sudah dianggap rutinitas selama seminggu belakangan. “Aku takkan lupa.”
Kedua bibir mereka bersentuhan beberapa detik lamanya. Ray kemudian menjauhkan dirinya sebelum ada dorongan lain yang tak terkendali.
Tanpa membuang waktu lebih lama Ray meninggalkan kamar Erina. Diakhir ia menyampaikan:
“Beristirahatlah sampai waktu yang ditentukan. Jangan terlambat.”
Ray kembali ke kamarnya dan lekas beristirahat. Satu detik saat ini amatlah berharga untuk tidak disia-siakan.
...****...
Ray datang sepuluh menit lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Belum ada siapapun di sini sehingga Ray perlu menunggu sedikit lebih lama. Tak sampai lima menit kemudian seseorang datang.
“Kamu datang lebih awal, ya.”
Eric berdiri di tempat yang berlawanan dari Ray, ia memandang sekitar sebelum melihat ke Ray lagi.
“Terumi dan Leo belum datang? Aku pikir kalian akan datang bersama-sama.”
“Kami tak sedekat itu. Meski Terumi terlihat dekat denganku, sejujurnya aku masih belum tahu bagaimana cara menyikapinya.”
Dari luar terlihat jelas kalau Ray dan Terumi terlihat serasi namun nyatanya Ray tak tahu bagaimana harus bersikap kepada Terumi.
“Ha ha ha, bahkan kamu juga canggung terhadap wanita.” Eric berkata seakan-akan dirinya juga mengalami hal yang sama.
Keduanya tak memiliki percakapan berarti setelahnya dan hanya menghabiskan diam selagi menunggu kedatangan yang lainnya. Di jam tiga tepat Terumi tiba dan Leo datang beberapa menit setelahnya.
“Dengan ini semuanya telah berkumpul,” ujar Ray. “Mari kita ulas kembali rencananya.”
Dari informasi yang sudah diketahui sampai saat ini, si pembunuh akan bergerak kisaran jam tiga dan empat. Selain itu, Eric sebelumnya sudah mengkonfirmasi kalau adiknya akan keluar di jam yang sama.
Tujuan utama rencana ini bukan menangkap si pembunuh, tetapi hanya menjaga beberapa blok yang kemungkinan besar menjadi sasaran si pembunuh ini sementara Eric akan pergi mencari adiknya.
“Ya. Ingatlah untuk membuat suara keras atau tanda jika menemukan adikku ataupun si pembunuh itu.” Eric menegaskan sekali lagi.
Ray dan lainnya mengangguk, mereka sudah mengerti dengan jelas rencana yang sudah ditetapkan.
“Kalau begitu mari kita berpisah dan menjaga di blok-blok yang sudah ditentukan.”
“Ya, kalau begitu mari kita berpisah di sini.” Leo berjalan lebih dulu dan melambaikan tangannya.
Terumi juga tersenyum dan mulai berjalan pergi ke arah lainnya, “Kalau begitu aku juga pergi, kalian hati-hati!”
Dikarenakan Ray telah berada di bloknya yakni tempat mereka berkumpul sehingga ia tak perlu pergi ke manapun lagi.
Untuk beberapa alasan Eric diam di tempat dan tak melakukan apa-apa, ia hanya mengamati Leo dengan seksama sampai akhirnya Ray batuk untuk memecah keheningannya.
“Maaf,” ujar Eric. “Kamu harus berhati-hati dengan pria itu. Aku pernah melihatnya datang dari suatu tempat yang seharusnya tidak ada jalan apa-apa.”
Eric menjelaskan bahwa ia pernah melihat Leo datang dari jalan buntu atau tembok yang mengurung mereka di tempat ini.
Ray tentunya tertarik karena dari pengakuannya Leo tidak keluar sama sekali dari kamarnya selama dua bulan. Jika ada saksi yang melihatnya keluar maka patut dipertanyakan.
Selain itu, Ray sejak awal hampir tidak pernah mempercayai Leo dalam cara apapun.
“Kamu melihatnya? Apa kamu tak salah lihat atau mungkin orang yang mirip?” tanya Ray. “Leo mengatakan kalau dia tak pernah meninggalkan kamarnya.”
Eric kemudian berpikir serius selagi memegang dagunya dengan serius.
“Aku tak mungkin salah melihat. Orang dengan rambut nyentrik dan pendek seperti dia tidak banyak. Kurasa mustahil salah mengenali Leo.”
Itu sangat benar. Selama ini Ray tak pernah melihat orang yang memiliki kemiripan apapun dengan Leo sehingga sulit untuk salah mengira Leo.
“Betul juga. Yah, semua orang memiliki rahasianya masing-masing. Bahkan kamu juga sama.”
Eric tentunya mustahil membatah perkataan tersebut. Tidak ada siapapun di sini yang tidak memiliki rahasia bahkan jika mereka sudah memiliki aliansi seperti sekarang ini.
“Aku akan mengingat baik-baik perkataanmu. Terima kasih atas informasinya.”
“Ya,” ujar Eric. “Kalau begitu aku pergi lebih dulu.”