
“Alasan, kah ...” Ray menatap wajah Edward dan yang lainnya.
Jelas bahwa mereka masih meragukan apakah Ray hitam atau putih. Setelah pertikaian yang terjadi sebelumnya itu tindakan wajar.
Ray sendiri tidak begitu mengeluhkannya selama mereka tak berusaha menjadi tali kekang baginya.
“Ya. Aku sudah mencapai kesimpulan bahwa rintangan di depan adalah cara terbaik untuk mengubur kami sekaligus. Tidak ada cara apapun yang lebih baik dari ini.”
Edward menekankan kata 'Mengubur kami' dalam suaranya.
Ray memejamkan matanya seakan tak peduli sebelum berbicara.
“Dari tiga rintangan yang bisa dipilih, hanya kubus yang memiliki kemungkinan selamat terbesar.”
Ray berharap mereka akan puas hanya dengan itu namun tampaknya tidak.
Dia sungguh merasa muak karena harus menjelaskannya secara terperinci kepada mereka yang tak bisa menggunakan kepala untuk berpikir.
“Hah? Apanya yang paling besar. Menurutku sepeda roda satu lebih baik!” Steve berkata dengan nada mengejek, dia berjalan mendekati Ray.
Steve menunjuk dengan jari telunjuknya yang berada tepat di ujung hidung mancung Ray.
“Lagian untuk apa kamu ingin kerja sama dari kami jika tahu ada rintangan yang bisa kamu lalui sendiri. Jangan-jangan—” Steve mengulurkan tangannya dan menarik kerah Ray, “Kamu ingin membunuh kami dengan menyakitkan?!”
“Hentikan itu, Steve!” Jack terlihat khawatir dengan kelakuan Steve dan coba menghentikan.
Tak peduli bentuk ejekan, sarkasme atau hinaan yang akan diterimanya. Namun perlakuan yang diberikan Steve sekarang ini adalah sesuatu yang tak bisa dia abaikan.
Ray membuka mata dan menatap Steve dengan dingin.
Tatapan matanya cukup tajam untuk membuat Steve tertegun dan muak.
“Apa-apaan sorot matamu itu!”
“Jika kamu ingin terlihat kuat dan berharap dihormati olehku ... setidaknya lakukanlah jika kamu lebih kuat dariku!” Ray berkata setenang air namun tangan kanannya terulur dan mencengkram dengan kuat.
“Hek-!”
Steve tersedak napasnya dan mengeluarkan bunyi seperti rengekan kambing.
Perlahan tubuhnya terangkat ke udara. Dia mati-matian mencakar dan berupaya melepaskan tangan Ray yang jari-jarinya mengikat lehernya.
“Aku tidak masalah dengan penghinaan verbal. Namun untuk tindakan berhati-hatilah karena aku tidak toleran.”
“Tolong hentikan itu, Ray!” Edward meminta dan mencekram tangan Ray selagi memohon, “Aku mohon biarkan dia.”
Ray menghela napas kecil dan melepaskan Steve sebelum berjalan kecil melewati mereka.
Untuk berjaga-jaga sekarang Ray akan sedikit menghindari jurang.
“Dua rintangan lainnya memang mungkin aku lalui sendirian. Namun apakah kalian yakin bahwa hanya ada itu saja? Aku selalu percaya bahwa ada perangkap dalam perjalanannya. Dikarenakan aku tak mengetahui apa itu maka kemungkinan untuk gagal lebih besar.”
Di sisi lain rintangan kubus sudah diketahui berkat Erina yang membuat pembukaan megahnya.
Selagi mekanisme kubus belum berubah sama sekali maka lebih baik mereka mengambilnya.
Dengan begitu kemungkinan berhasil akan lebih besar.
“Aku paham bahwa kalian khawatir aku akan mendorong jatuh kalian ke neraka. Untuk itu aku akan dengan sukarela mengambil posisi paling berbahaya.”
Harusnya Edward dan Jane sedikit lebih mengetahui posisi berbahaya dari rintangan kubus.
“Baiklah ... mari dengar apa yang ada di pikiranmu.” Edward memilih mempercayai Ray dan akan menilai melalui apa yang akan disampaikannya.
Setelah memberikan waktu untuk Steve tenang diskusi kemudian dimulai.
Ray kembali menegaskan bahwa satu kubus hanya bisa dinaiki satu orang dan ketika diinjak, orang tersebut tak boleh pergi atau seluruh kotaknya akan jatuh.
Bagian merepotkan dari rintangan kubus adalah cara kerjanya tersebut. Meski begitu sebenarnya sangat mudah memahami cara kerjanya.
Terima kasih kepada orang-orang yang mencoba tanpa meneliti. Berkat kematian mereka Ray bisa mengerti cara mengatasi rintangan kubus.
“Itu artinya kita harus segera mengisi tempat yang ditinggalkan sebelum tiga detik tiba. Ketika ada orang yang kembali menginjaknya, warna akan kembali seperti semula?”
Ray mengangguk puas atas kesimpulan tepat yang dibuat Jane.
Rintangan diciptakan untuk bisa dilalui oleh seseorang.
Jika ada seseorang yang menganggap rintangan yang dihadapi tak bisa dilalui maka itu adalah contoh nyata orang malas yang putus asa.
“Karena itu kamu meminta kekompakan untuk mengatasi rintangan ini?” tanya Edward selagi memegang dagu layaknya berpikir.
“Ya, kalian sudah saling kenal jadi tak ada masalah. Aku hanya perlu menyesuaikan diriku sampai ke tahap tertentu sehingga bisa satu irama dengan kalian.”
Itu bukan pekerjaan yang mudah namun bukan juga mustahil.
Menyesuaikan diri terhadap orang-orang yang baru ditemuinya kurang dari satu jam bukan sesuatu yang mudah.
“Ada sepuluh kubus dan kita berenam. Andai kata lima orang berhasil mencapai lima kubus, bukankah orang keenam akan mendapatkan masalah? Dari perkataanmu jika satu kubus jatuh maka semuanya akan jatuh. Bukan hanya orang keenam namun semuanya dalam bahaya.” Jack terlihat khawatir dan memandang curiga Ray.
“Lihat? Orang ini benar-benar bajingan, kan?!” Steve tampak menyimpan dendam kesumat dan menatap benci Ray.
“Itu memang benar karena nyatanya lima kubus awal hanya permulaan. Permainan benar-benar akan dimulai dari kotak ke enam dan seterusnya.”
Bersamaan Edward dan rekannya menenggak air liur selagi menunggu perkataan yang keluar dari mulut Ray.
“Saat orang di kubus ke lima melangkah ke kubus enam, maka kubus pertama akan mulai jatuh meski tak ada pemicunya. Tentu saja itu berlaku untuk semua kubus.”
Ray menjabarkan bahwa kubus yang jatuh akan sesuai urutan yakni dari kubus pertama hingga sepuluh.
Kekompakan, ketenangan dan kecepatan sangat dibutuhkan dalam rintangan ini.
“Semua rintangan membutuhkan hal yang sama yakni berpikir dengan kepala dingin. Jika ada diantara kalian ingin mencoba dua lainnya tak masalah. Lihatlah kembali... .”
Rintangan yang berayun seperti tarzan membutuhkan tangan yang kuat dan daya tahan. Selain itu juga ada perangkap udara yang merepotkan seperti hembusan angin atau tali palsu yang tak terikat.
Rintangan kedua dibutuhkan konsentrasi, ketenangan dan keseimbangan mutlak. Tentunya ada beberapa gangguan tak terlihat yang akan menjadi penghambat.
Hanya rintangan ketiga yakni jembatan kubus saja memiliki keselamatan besar karena masalahnya hanya ada di kubus yang akan jatuh.
“Kita membutuhkan kekompakan, itu memang benar. Kami berlima sudah sangat lama bersama jadi tak ada keraguan. Namun kamu ...” Jane tak perlu mengatakannya lebih jauh karena Ray sendiri tahu bahwa di sini posisinya yang berbahaya.
“Ya, aku bisa saja menjadi beban untuk kalian atau diriku sendiri. Selain itu aku menempatkan posisiku di bagian berbahaya yakni orang terakhir.”
Itu untuk asuransi kelompok Edward bahwa Ray takkan dengan sengaja menjatuhkan mereka. Ray sendiri tidak menginginkan ada di posisi ini namun dia takkan mengeluhkannya.
“Itu kabar baik. Masalahnya adalah apakah kamu bisa dipercaya atau tidak soal jembatan kubus ini. Bisa saja kamu berbohong tentang jembatan kubus.”
Ada kemungkinan bahwa Edward dan kelompoknya bersekongkol untuk mengubur Ray dengan sengaja menyabotase di saat-saat terakhir. Namun Ray telah mengurus hal itu dengan cermat.
“Itu hakmu untuk percaya atau tidak namun aku katakan bahwa tak ada cara apapun bagimu membantah sesuatu yang memang nyata adanya.” Ray hanya memejamkan mata dan memasukkan tangan ke jubahnya.
“Hey Steve ... lehermu sedikit berdarah, loh. Lalu cairan kuning apa yang ada di sekitarnya?” Diana mengusap darah kecil di leher Steve yang kemudian mengalir tetes demi tetes.
“Itu luka yang tidak biasa dan cairan itu ... jangan-jangan-!” Edward menatap Ray dengan tak percaya, begitu juga yang lainnnya.
Ray yang memejamkan mata kemudian membukanya dengan acuh tak acuh. Dia menatap Edward dan lainnya dengan tatapan merendahkan.
Mereka terkena perangkap kecil yang sama dengan orang yang sama.
Entah mereka benar-benar bodoh dan naif atau memang tak pernah menduganya meski Ray menyampaikan bahwa dia bisa meracuni mereka melalui apapun.
“Bahkan jika kalian meragukannya dan berusaha menyabotase, aku memiliki dua korban di tanganku yang bisa mati kapanpun aku inginkan.”
Seperti yang Ray katakan sejak awal. Bahwa Edward dan rekannya tak pernah memiliki pilihan apapun.