The Degree

The Degree
Akhir Ujian Secret II



Ray Morgan, Retsuji Arthur, dan Maa Dong Wok saling berhadapan satu sama lain.


“Sepertinya masing-masing dari kalian menghadapi situasi sulitnya sendiri karena rencana besar ini. Izinkan aku meminta maaf atas itu.”


“Sayangnya maafmu tidak diterima karena senyumanmu yang membuatnya tidak terlihat tulus,” ujar Ray tersenyum tipis.


“Untuk kali ini aku sepakat denganmu,” ujar Arthur.


Insiden yang menyebabkan Ray kehilangan lengannya, tragedi yang membuat Arthur terluka sedemikian rupa dan kehilangan banyak tentara.


Semuanya adalah rangkaian rencana Dong Wok dengan Haiyan. Semua tragedi yang terjadi di sini adalah ulah mereka berdua.


“Bukankah kalian berdua bermusuhan satu sama lain? Bagaimana bisa sepakat seperti itu? Sungguh tidak adil,” Dong Wok menatap orang yang tergeletak di belakangnya. “Ah, pria di sana belum mati, tetapi jika kamu terlambat mungkin dia benar-benar akan mati.”


Ray memandang pria tentara yang tergeletak mengenaskan. Dilihat dari kondisinya memang benar terlambat memberikan penanganan akan menyebabkan kematian untuknya.


Arthur juga tampak khawatir dengan orang itu, sepertinya dia datang untuk menyelamatkannya.


“Bagaimana jika kita selesaikan ini dengan cepat?” ujar Ray, “Aku tidak punya tenaga untuk berbicara.”


“Kamu benar namun bukankah lebih sopan jika kita mengungkapkan Degree satu sama lain? Toh, ini bisa dikatakan final. Siapapun yang berdiri terakhir diantara kita akan menjadi pemenang tugas.”


Masing-masing dari mereka memiliki kunci. Diantara para pengguna Degree bisa dikatakan mereka bertiga berada di podium tertinggi. Jika diantara mereka hanya berdiri seorang saja, bisa dikatakan tidak ada lagi yang menandingi mereka.


“Jangan khawatir, pertarungan ini hanya diantara pria. Harusnya ada seorang lagi dari pihak Indri namun aku yakin Haiyan akan mengurusnya.”


‘Pihak Indri ... Ben rupanya, ya? Pria itu memang patut diperhitungkan,’ pikir Ray.


Ben kuat bahkan tanpa Degree. Ray yakin akan hal itu namun dia tidak mempertimbangkan kehadirannya saat ini. Jika hanya dihadang seorang gadis membuatnya terlambat selama ini, bisa dikatakan hasil yang diraihnya adalah kekalahan.


“Namaku Maa Dong Wok. Degree-ku adalah Bulking. Aku bisa membuat tubuhku besar dan kuat sampai batas tertentu hanya dengan makan banyak. Sungguh cheat, kan? Singkatnya aku bisa membentuk keseluruhan tubuhku tanpa olahraga atau apapun.”


Ringkasnya Maa Dong Wok hanya perlu makan untuk membentuk tubuhnya hingga sebesar ini. Dia juga bisa memperkecil tubuhnya dengan diet yang ketat.


Alasan selama ini Dong Wok sama sekali tidak menonjol sangatlah sederhana. Besar kemungkinannya dia baru menggunakan Degree-nya ketika pelepasan para pengguna Degree ke Jakarta.


“Retsuji Arthur, tokoh utama.” Arthur mengangkatnya tinjunya, dia juga menggunakan knuckle untuk menyerang.


“Sungguh tidak penting, kita bukan ksatria ataupun tentara. Namaku Ray Morgan, sampai mati Degree-ku adalah rahasia.”


Ray tidak berencana mengungkapkannya, tidak kepada Dong Wok. Setidaknya dia akan mengatakannya kepada satu orang nantinya.


“Kamu tidak berencana mengungkapkannya? Yah, aku akan tahu saat kamu menggunakannya.” Dong Wok tersenyum percaya diri.


Arthur hanya mengamati sementara Ray membalas senyuman Dong Wok dengan senyuman.


“Akan kuberikan kebenaran padamu. Sampai titik ini, aku tidak pernah menggunakan Degree. Aku tidak tahu cara menggunakannya.”


“Apa?” Arthur tanpa sengaja bersuara.


“... kamu hanya menggertak—” Dong Wok ingin membantah namun Ray segera menyela.


“Lalu pernahkah kamu melihat aku melakukannya? Bahkan orang yang menggunakan Degree Analisis tidak bisa menemukan apapun tentang Degree-ku.”


Arthur mulai berkeringat. Dia ingat bahwa Mona pernah membuat laporan serupa tentang Ray yang mungkin belum menggunakan Degree-nya atau Degree itu sendiri yang berbeda.


Hanya ada dua hal yang membuat Mona tidak bisa dia ketahui melalui Degree-nya. Pertama adalah orang yang sama sekali belum menggunakan Degree, kedua adalah kasus spesial seperti Arthur.


Arthur memiliki Degree berupa Tokoh Utama, itu memiliki pola rumir yang mana memiliki faktor tidak masuk akal seperti keberuntungan besar yang membuat Arthur seakan-akan memiliki plot armor.


‘Dia bilang tidak bisa menggunakan Degree-nya? Perkataannya sungguh palsu. Tidak mungkin dia bisa bertahan sejauh ini.’


“... kamu memang orang yang aneh, Ray Morgan. Persis perkataan Haiyan, kamu variabel yang lebih merepotkan ketimbang tokoh utama. Kamu merepotkan karena aku tidak tahu apapun.”


Musuh yang misterius adalah lawan merepotkan karena tidak diketahui trik dan kekuatan seperti apa yang bisa digunakannya.


Meski begitu Ray cukup tertarik mendengar perkataan Dong Wok.


“Aku adalah variabel terbesar dalam rencanamu. Berarti setelah aku adalah tokoh utama, kan? Apa itu artinya kamu sanggup mengatasinya?”


Dong Wok mendengus dan merentangkan tangannya untuk pemanasan.


“Jika benar seperti artiannya, maka Tokoh Utama adalah orang yang hampir mustahil bisa dibunuh. Namun tokoh utama tidak selamanya berhasil dalam segala hal, kan? Sejak awal kami tidak berencana membunuh Arthur. Rencana Haiyan adalah membuatnya tidak bisa menyelesaikan situasi ini persis yang kau lakukan, Ray Morgan.”


Ray pernah membuat Arthur bermain di telapak tangannya dan mengungkapkan Degree-nya. Insiden itu sepertinya cukup untuk menjadi landasan bagi rencana Dong Wok dan Haiyan.


“Pada akhirnya tokoh utama adalah Degree. Aku percaya untuk mengalahkan Degree maka harus dilawan dengan Degree, kan?”


Arthur melesat maju dan mengulurkan tinjunya. Namun Dong Wok menahannya dengan telapak tangannya sesantai menangkap pukulan bayi.


Wajah Dong Wok berubah aneh. Bukan kesaksian, dia tampak jengkel dan mengatakan:


“Ugh, gatal.”


Dong Wok melemparkan tangan lainnya dan Arthur segera mundur untuk menjaga jarak.


“Oi, oi, apa hanya segini—” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Dong Wok mendapati Ray sudah melompat dan menendang rahangnya.


Dong Wok segera terhuyung-huyung, meski tubuhnya kekar namun pukulan di rahang termasuk serangan fatal.


“Ah, brengsek yang benar saja? Tinggiku hampir tiga meter dan kamu melompat setinggi itu? Dasar monster!” Dong Wok mengumpat kesal.


Ray berdiri beberapa langkah di samping Arthur. Keduanya berjalan berdampingan mendekati Dong Wok.


“Kau tahu? Ada banyak hal yang secara pribadi ingin aku bicarakan denganmu.” Ray mengeluarkan nunchaku yang dia sembunyikan di dalam kemeja putihnya.


“Kebetulan yang mengerikan. Aku juga butuh bicara denganmu, Ray.”


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama keduanya bekerjasama dan bertarung bersama.


“Bereskan dengan cepat,” ujar Ray.


“Jangan memerintah seakan kau ketua!” Arthur mengumpat jengkel.


Di sisi lain Dong Wok meregangkan rahangnya yang kesakitan. Dia menatap marah antara Ray dan Arthur secara bergantian.


“Oi, jangan bercanda. Aku pikir ini akan jadi pertarungan satu lawan satu, dan lawan satu. Namun mengapa jadi seperti ini?”


“Dua lawan satu? Jangan bercanda,” Arthur tertawa kecil. “Mustahil aku bekerjasama dengan bajingan ini!”


“Ya, bagaimana bisa aku menjalin kerjasama dengan orang yang bisa menusuk punggungku?” Ray menganggukkan kepalanya.


Dong Wok semakin jengkel, “Lalu mengapa kalian berdampingan dan hanya menyerangku?!”


Ray dan Arthur tersenyum lebar dengan mata terbuka lebar, hampir terlihat seperti orang gila.


“Kami hanya memikirkan kepentingan yang sama!”


Keduanya dengan cepat menerjang Dong Wok dan melakukan serangan habis-habisan.


Baik Ray maupun Arthur tidak memiliki kesepakatan bekerjasama. Mereka hanya ingin menghabisi lalat yang akan mengganggu pertarungan mereka nantinya.