The Degree

The Degree
Pertemuan



Ray memasuki ruang bawah tanah seorang diri. Toh, meski begitu tampaknya ada juga orang-orang yang melakukan aktivitas di sana.


Mereka pasti memiliki tujuan yang sama yaitu menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka.


Orang-orang dari berbagai serikat memasuki tempat yang sama. Bahkan Ray meyakini bahwa setidaknya ada orang-orang yang berasal dari serikat timur.


Meskipun hubungan dengan barat masih dalam status di mana hal kecil menyebabkan perang, tampaknya ruang bawah tanah adalah satu-satunya tempat netral yang tak bisa keduanya ganggu.


“Dari pada ruang bawah tanah, tempat ini cukup mirip dengan Dungeon yang biasa ada di dalam game.”


Ray tak pernah bermain game namun dia pernah membaca dan mendengar hal-hal semacam itu saat di dunia luar.


Meski dia tertarik mencobanya namun tampaknya Market tidak menyediakan benda semacam itu.


Ray mengamati baik-baik orang yang datang dan pergi. Ada diantara mereka yang pulang dengan pakaian compang-camping dan penuh luka.


Ada juga yang terlihat tidak sadarkan diri dan harus dibawa menggunakan tandu.


“Mereka terlihat menyedihkan.”


Ray sedikit bersimpati dengan orang-orang tersebut namun hanya sampai di sana. Meski Ray bisa memberikan sedikit bantuan namun sayangnya Ray sama sekali tidak mengenalnya.


Tidak ada gunanya mengasihi orang asing atau membantunya. Ray memilih mengabaikannya dan menuju tempat yang seharusnya dia tuju.


Ketika itu Ray dibingungkan dengan adanya banyak jalan bercabang. Dia tidak tahu harus melangkah masuk ke mana. Itu dikarenakan Erina sama sekali tidak memberitahu apapun bahkan tidak juga memberikan peta.


“Ini gawat, aku tidak tahu harus memilih jalan yang mana.”


Dikarenakan dia tidak ingin sembarangan memilih dan berakhir dengan menyedihkan Ray memilih pergi keluar dengan tujuan untuk menanyakannya langsung kepada Erina.


Namun tampaknya dia tidak lagi ada di depan gerbang ruang bawah tanah. Wajar saja karena di kediaman ada setumpuk dokumen yang harus dia perangi.


“Kembali ke sana akan memakan waktu.”


Jarak antara ruang bawah tanah dan tempat tinggal Erina tidaklah dekat.


Ray tidak mau melakukannya sehingga dia harus membuat pilihan terakhir yakni menanyakannya kepada orang-orang di sekitarnya.


Alasannya tidak menjadikannya pilihan di tempat pertama karena ada kemungkinan penipuan dan pemberian informasi palsu.


Di Open World hal itu menjadi sangatlah mungkin untuk menemukan orang seperti itu. Bahkan Ray takkan terkejut akan ada orang yang meminta imbalan sebagai ganti menunjukkannya jalan.


“Aku harus siap mengeluarkan DP yang tidak sedikit.”


Ray menghela napas lelah dan mulai menanyakan setiap orang satu-persatu.


Dia menanyakan pertanyaan yang sama kepada enam orang dan sesuai dugaan bahwa mereka meminta DP sebagai gantinya.


Tentunya Ray dengan sukarela memberikannya dua puluh DP setiap orang, total 120 DP keluar hanya untuk menanyakannya.


“Dua orang mengatakan jalan nomor dua, dua lainnya menjawab nomo satu, satu menjawab jalan nomor tujuh, dan satu lainnya delapan. Sudah kuduga semuanya penipu.”


Ada kemungkinan dari mereka yang menjawab jujur namun karena perbandingannya setara atau lebih rendah Ray tak bisa menentukannya.


Ray duduk di pojokan selagi melakukan perhitungan tentang jalan mana yang benar. Disaat dia sedang berpikir seorang pria menghampirinya.


“Sepertinya kamu juga kerepotan, ya?”


Ray sama sekali tidak mencoba melihat orang itu karena dia lebih fokus menyusun berbagai hal di dalam ingatannya.


“Begitulah. Apa kamu ingin memberitahukan jalan yang benar agar aku bisa daftar serikat? Aku akan berterima kasih jika kamu mau melakukannya tanpa perlu aku membayar.”


“Sayangnya aku juga tidak memiliki informasi apapun yang berguna. Nasib kita sama.”


Ray kemudian membuka matanya dan menatap orang itu. Padahal dia bisa saja memberikan informasi palsu kepada Ray namun karena dia tidak melakukannya maka itu jadi hal lain.


Saat melihat orang itu Ray terkejut. Rambut hitam panjang dengan tindik di telinganya, terdapat tato kecil di dekat matanya. Pria yang terlihat menyeramkan namun juga tampan. Ray tidak asing dengannya.


“Aku mengingatmu. Kamu orang yang sebelumnya dibicarakan Erina. Kalau tidak salah namamu ...”


“Retsuji Arthur. Itulah namaku. Kamu boleh memanggilku Arthur.”


“Retsuji? Apa kamu datang dari Jepang?”


Jepang memiliki bahasa yang berbeda dan orang awam sekalipun mampu mengetahuinya hanya dari nama ataupun marganya.


“Aku dari inggris. Namun Ayahku dari Jepang sehingga aku menggunakan marganya. Bisa dibilang aku blasteran.”


“Begitu. Namaku Ray Morgan, kamu bisa memanggilku Ray.”


Arthur dan Ray adalah orang dari tugas yang sama ketika memperebutkan kursi. Ray tak pernah melihat kemampuan Arthur namun sebaliknya. Arthur sudah melihat kemampuan Ray ketika dia berjuang mati-matian disaat terakhir.


“Sejak aku melihatmu di ujian sebelumnya, aku sudah cukup tertarik kepadamu. Kamu pintar dan juga berkemampuan.”


Ray kemudian berdiri dan juga bersandar di dinding, “Terima kasih. Aku hanya pernah berlatih hal-hal seperti itu.”


“Itu artinya kamu tak menggunakan Degree sama sekali, ya. Yah, aku tak peduli dengan itu. Untuk saat ini bagaimana jika kita bertukar informasi untuk mencari jalan yang menuju pendaftaran serikat?”


Ray berpikir bahwa tidak ada yang salah melakukannya karena tujuan mereka sejalan. Namun untuk beberapa alasan Ray seakan tak bisa menolak dan memiliki keinginan kuat untuk membantunya.


Jadi ini perasaan yang dimaksud Mein dan Erina. Aku mengerti, orang ini memiliki kharisma yang tidak biasa.


Ray cukup membenci perasaan semacam itu, seakan-akan dirinya sedang diintimidasi.


Tampaknya akan berbahaya jika dia terus dekat dengan Arthur namun untuk saat ini saja Ray tak memiliki opsi lain.


“Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tak memiliki informasi apapun?”


“Ya, aku tak memiliki informasi tentang jalan yang benar. Namun aku juga melakukan tindakan serupa denganmu. Aku telah bertanya ke banyak orang namun tak satupun yang aku yakini kebenarannya.”


Ray cukup kagum dengan orang-orang yang tidak terpengaruh oleh kharisma yang dimiliki Arthur.


“Begitu. Aku rasa tidak ada pilihan lain. Tujuan kita sejalan jadi tidak ada salahnya bekerjasama.”


Ray menyetujuinya bukan karena dia tunduk oleh perasaan ingin membantu Arthur, tetapi Ray melakukannya untuk mencapai tujuannya sendiri.


Arthur kemudian mengungkapkan semua informasi yang dia temukan. Dia telah menanyakannya ke delapan orang dan tidak ada jawaban memuaskan seperti halnya Ray.


“Jadi nomor satu dan tiga memiliki suara yang sama. Sementara nomor dua yang paling sedikit.”


Sisanya dapat diabaikan karena dari perhitungan keduanya antara yang paling banyak mendapatkan suara dan paling sedikit akan menjadi pilihannya.


“Pada akhirnya kita hanya bisa bertaruh, ya?” Arthur menghela napas dengan sedikit kecewa.


“Ya. Seandainya ada orang yang telah lama berada di sini, dan seseorang yang kita kenal maka itu akan aman.”


Ray mulai berpikir untuk kembali dan menemui Erina namun ketika dia hendak melakukannya seseorang memanggilnya.


“Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Ray!”


Suara gadis yang terdengar riang menggema, Ray menoleh untuk menemukan Terumi berlari ke arahnya.


Ketika Terumi tiba di tempatnya dan hendak menyapa Ray, dia menyadari kehadiran Arthur.


“Apa dia temanmu, Ray?”


“Tidak, kami baru saja bertemu.” Ray segera menolaknya.


Hubungannya dengan Arthur hanya sebatas bertukar informasi. Akan aneh sudah menganggapnya teman dari hal itu.


“Dia benar. Namaku Retsuji Arthur.”


“Retsuji? Ah, aku Sakura Terumi. Salam kenal.” Seakan menyadari bahwa mereka dari negeri yang sama, Terumi membungkuk untuk perkenalan. Hal yang lumrah dikalangan orang Jepang.