The Degree

The Degree
Sergapan Virgo



Semua orang merenungkan perkataan Leo dengan seksama. Beberapa mulai menangis karena mengetahui harus meninggalkan rekan mereka.


Leo juga menekankan bahwa dengan membawa orang terluka bersama mereka maka akan memperbesar kemungkinan kematian. Selain itu, para petinggi hanya akan menyediakan alat pertolongan saja dan tak ikut andil mengurusinya.


“Aku harus membawanya atau meninggalkannya? Jika aku membawanya, bisa saja aku yang mati.”


“Ini sangat menyakitkan. Pilihannya memang kejam namun ini risiko yang kita tanggung sendiri.”


Tentunya ini hal menyakitkan bagi mereka yang memiliki kenalan terluka parah.


Leo tak menggubris apa yang mereka katakan ataupun keluhkan, ia hanya pergi meninggalkan mereka dan memerintahkan persiapannya segera.


Mobil tentunya sudah sedia dan siap mengangkut banyak orang namun risiko besarnya adalah sergapan dari pihak lain.


Di tempat lain Arthur sudah menyiapkan mobil khusus yang akan digunakan petinggi lainnya. Mobilnya sedikit berbeda karena hanya mampu menampung sedikit orang dan lebih kecil ukurannya.


Lebih dari tiga puluh menit berlalu sejak peringatan Leo dan semuanya telah siap. Arthur berinisiatif untuk mengemudi karena ia memiliki pengalaman dengannya.


Tak ada yang menolak karena baik Leo, Terumi ataupun Mona tak pernah mengendarai kendaraan roda empat. Di dunia ini kendaraan manual memang jarang berguna karena keberadaan AI yang biasanya menyetirnya secara pribadi.


“Ini pertama kalinya aku mengendarai mobil yang masih menggunakan minyak. Yah, aku yakin ini sama seperti menunggang sepeda.” Arthur menganggukkan kepalanya saat berbicara sendiri.


Mendengar apa yang dikatakan Arthur membuat Terumi dan Mona memandangnya dengan takut. Habisnya Arthur berkata memiliki pengalaman mengendarai mobil namun dari apa yang baru saja ia sampaikan membuatnya tak meyakinkan.


“Tunggu, kamu benar-benar bisa melakukannya, kan, Arthur? Kamu tidak mengatakannya hanya karena ingin tampil keren, kan?” Terumi bertanya, ia jelas terlihat sangat gelisah.


Pada tahap ini kecelakaan karena kecerobohan amat menyakitkan ketimbang berkonfrontasi dengan Rebellion.


“Tenang saja. Bahkan jika aku belum pernah mengendarai mobil seperti ini, setidaknya aku tahu teorinya.” Arthur tersenyum dan mengacungkan jempolnya dengan percaya diri.


Disaat itu juga Mona menjewer pipinya dengan kesal, “Jika kamu melakukan kesalahan sekecil apapun itu, aku akan membunuhmu!”


“Bahkan jika kamu mencubitku setiap hari, bukannya sakit atau benci, aku malah merasa semakin dekat denganmu.” Arthur memegang lembut tangan Mona, membuat wanita itu luluh dan diam selagi wajah merah seperti tomat.


Tak ada diantara mereka berusaha mengatakan apapun tentang kejadian tersebut. Ray sendiri hanya diam selagi memperhatikan, ia tak tahu harus mengatakan apa.


“Tunggu! Nona, jangan tinggalkan kami!”


“Apa kalian akan menelantarkan kami?! Setelah semua yang kami berikan?”


“Tidak, aku tidak mau mati!”


Saat mereka berniat pergi orang-orang terluka yang ditinggalkan pergi keluar untuk memohon diajak. Baik Terumi, Arthur dan pasukan mereka menggigit bibirnya. Beberapa bahkan mula menangis lantaran tak bisa menahan rasa sakit di hati mereka.


Ordo yang berada di mobil terpisah dan terbaring lemah hanya bisa tutup telinga. Ia sungguh tak ingin mendengarnya sama sekali. Ordo memahami jelas bahwa keputusan ini adalah yang paling benar.


Kembali dengan sebanyak mungkin orang, hal itu jadi prioritas utama saat ini.


“Mari kita berangkat!” Arthur tancap gas segera karena khawatir orang-orang itu akan mulai merangkak naik ke mobil. Selain itu, ia tak bisa tahan dengan ratapan mereka.


“Sial! Kepalaku terbentur, lain kali lakukanlah dengan lebih lembut!” Leo mengumpat dengan kesal lantaran ia berada di kursi paling belakang yang memiliki tempat sempit.


“Aku beruntung tak berada bersamamu.” Ray bergumam dengan lega, andaikan Terumi tak berinisiatif duduk di belakang mungkin Ray akan mengalami nasib yang sama.


“Fu fu, kamu boleh meletakkan kepalamu di dadaku, Ray. Ini takkan sakit dan akan jadi pengalaman menyenangkan.” Erina memegang dadanya selagi tersenyum nakal.


Ray tak mengatakan apapun selagi membuang muka. Tawarannya mungkin cukup menarik namun Ray takkan bisa tenang dengan adanya tatapan membunuh dari wanita di belakangnya.


Mengikuti mobil mereka, mobil lainnya yang dikendarai anggota serikat mengikuti. Meskipun Ray dan Erina sudah menyarankan untuk mereka bergerak terpisah namun keteguhan hati Arthur menyebabkannya tidak terjadi.


“Kita dari tempat yang yang sama dan harus tiba di tempat yang sama,” begitu yang ia katakan untuk meyakinkan Ray dan Erina.


Meskipun ia mengatakannya dengan berat hati mengingat ada orang-orang yang ditinggalkan, Arthur terpaksa melakukannya untuk mencegah perdebatan lebih lanjut.


“Berapa lama perkiraan kita sampai di Shelter terdekat?” tanya Ray selagi mengintip ke belakang, ia menemukan bahwa ada mobil lain yang bukan milik Redwest maupun Blueeast.


“Paling lambat dua puluh menit andaikan kita melaju tanpa hambatan dengan kecepatan ini!” Arthur menyampaikan.


Itu hanya berlaku jika meraka tidak mendapatkan halangan apapun dalam perjalanan. Tentunya semua tidak akan selancar itu. Selain treknya yang tidak mudah, para pengejar juga sudah terlihat dan kekhawatiran terbesar pertempuran akan pecah.


“Kita harus berpencar dan melakukan upaya untuk menghambat mereka.” Ray menyarankan, ia segera menatap Erina dan menyampaikan pesan melalui matanya.


“Leo, gunakan sinyal merah!” Erina memberikan perintah saat memahami niat Ray.


Leo mengangguk dan menyalakan asap merah lalu melambaikan tangannya. Anggota Blueeast dan Redwest melihatnya dan mulai berseru dengan keras.


“PELARIAN A!”


Pelarian A yang berarti adalah sinyal untuk berpencar namun tetap pada tujuan yang sama. Ini memang langkah yang memiliki risiko besar namun amat efektif.


Efektivitas tersebut akan meningkat sekarang karena rencana Ray.


“Leo, lemparkan bensin itu ke pohon atau dataran yang lebat. Lalu Terumi, kamu cobalah untuk membakarnya. Menggunakan pistol hanya akan membuang peluru yang berharga jadi lakukan dengan ini.” Ray mengeluarkan korek dari kantungnya dan menyerahkannya.


Terumi dan Leo tampak ragu untuk melakukannya namun hanya butuh hitungan detik bagi mereka memantapkan tekad.


“Tunggu!”


Teriakkan menghentikan keduanya. Mereka memandang orang yang berteriak dengan sedikit kesal mengingat situasinya mendesak.


“Ada apa? Cepat katakan dengan jelas!”


“Kita masih belum tahu di mana Mein! Ia tak ada di mobil manapun dan mungkin masih berada di sekitar hutan!” Erina tampak khawatir dan memandang hutan yang tampak sunyi, “Jika semuanya terbakar, ia akan mati!”


Erina takkan bisa menerima fakta bahwa Mein mati oleh tindakan rekan-rekannya sendiri. Akan lebih mudah baginya menerima bahwa Mein sudah gugur sejak sebelum hutan terbakar.


Namun kenyataannya tak ada kabar apapun tentang gadis itu sehingga rasa cemasnya tak terbendung.


Mau tidak mau Ray harus membuat kebohongan yang mungkin terlihat buruk dan sangat jelas.


“Erina. Mein itu kuat dan cerdas, ia takkan–” Ray tak menyelesaikan kalimatnya.


“MERUNDUK!” Arthur tiba-tiba berteriak keras tanpa peringatan apapun.


Tanpa coba melihat apa yang terjadi, Ray mendorong Erina untuk menunduk, begitu juga Leo yang bertindak sama untuk membuat Mona menunduk karena refleksnya yang lambat. Untuk Terumi, ia tampak sudah terlatih sehingga bisa bergerak dengan cepat dan menunduk.


Beberapa detik setelah peringatan tersebut hujan peluru menembaki mereka. Kaca depan pecah dan beberapa peluru menembak mesin.


“Semuanya keluar dari sini!” Ray berteriak, ia membuka pintu dan membawa Erina keluar dari mobil. Dalam prosesnya luka di tangan kanannya terasa sakit dan sedikit terbuka jahitannya. Meski begitu tidak ada waktu untuk mengeluh.


Yang lainnya juga keluar disaat yang sama. Mobil yang terus berjalan tanpa pengemudi perlahan mengeluarkan asap hitam dan meledak. Tak sampai di sana, bensin yang harusnya digunakan untuk membakar hutan ikut terbakar dan menyebabkan ledakannya tak kecil.


Ledakannya cukup besar sampai membakar hutan secara sembarangan.


“Sial! Mereka menyergap kita!” Leo mengumpat saat melihat beberapa orang berlari dari balik pepohonan.


Tampak jelas bahwa Rebellion sudah menyadari bahwa aliansi serikat besar akan melarikan diri tepat setelah tugas diberitakan. Mereka bertindak cepat dan memblokir jalan ataupun menyebarkan orang ke sekitar.


“Kalian sungguh terlihat menyedihkan, teman-temanku, atau haruskah aku katakan, mantan teman-temanku?”


Mendengar suara itu membuat semua orang menggertakkan gigi dengan marah. Suara berat nian serak dari seorang pria tua yang tentunya tak asing bagi mereka. Dia adalah si pengkhianat berdarah dingin.


“Sebastian!” Leo memanjangkan kukunya dan sudah siap melompat ke arahnya namun Arthur segera menghentikannya, “Sekarang apa?!” Leo menaikkan suaranya marah.


“Lihat baik-baik sekitarmu! Keparat ini tida sendirian.” Selain tentara yang berkhianat bersama Sebastian, ada orang lain yang masih bersembunyi di belakangnya, “Kamu bisa keluar dari sana!”


Mengikuti perkataan Arthur, satu orang yang menyembunyikan dirinya di balik pepohonan keluar. Orang itu memiliki topeng yang menutupi keseluruhan wajah san kepalanya, pakaiannya terlihat tebal sehingga sulit memastikan kelaminnya.


“Tampaknya kostum ini memang terlalu mencolok karena lampu biru yang menyala ini.” Suaranya terdengar mengejek dan orang itu dengan santai mengangkat tangannya, “Yo, lama tidak jumpa kalian semua. Kita memang tak saling mengenal secara langsung namun kedua pihak sudah saling membenci sejak pertemuan pertama.”


Orang itu berkata santai meski nadanya sedikit kuat. Bahkan jika ia menggunakan alat untuk mengubah suaranya menjadi seperti robot, alat tersebut tampak tak cukup hebat untuk menghilangkan emosi.


“Hahaha! Berani-beraninya kamu muncul setelah semua kekacauan yang kamu buat, Virgo!” Arthur tertawa kering selagi menyiapkan pistol dan pisaunya.


Ray juga ingin mengeluarkan senjatanya namun disayangkan bahwa ia memiliki kebutuhan menjaga Erina yang masih tak bisa berjalan.


“Awalnya aku tidak berniat melakukannya namun wanita yang kamu selamatkan itu masih hidup. Aku tak bisa membiarkan tikus terus berkeliaran. Jika kamu mau menyerahkannya maka yang lainnya akan aku lepaskan.” Virgo menoleh ke arah Mona yang sekarang bersembunyi di belakang Terumi.


Wanita itu jelas sangat takut kepada Virgo karena beberapa hal. Yang pertama adalah Mona tahu bagaimana Virgo mampu menentukan orang-orang yang berbahaya, sementara yang kedua. Alasan Virgo tak bisa melepaskannya adalah karena Degree yang dimiliki Mona.


“Ho? Bahkan kamu takut Degree-mu terungkap. Jika begitu keadaannya ada lebih banyak alasan bagiku tak membiarkanmu mendekatinya.”


Sejak awal Arthur sama sekali tidak memiliki niat memberikan Mona pada siapapun karena ia tahu betapa pentingnya Mona. Mungkin banyak orang yang memiliki Degree mirip dengannya namun Arthur sangat yakin tidak ada satupun yang memiliki persis seperti Mona.


Alasan itu sudah cukup menjadi argumen kuat untuk tak membiarkan Mona jatuh ke tangan Virgo.


Virgo menggeleng-gelengkan kepalanya, “Setelah melihat semua ini kalian masih keras kepala. Aku benci orang yang keras kepala. Sepertinya memang sebuah kesalahan tidak membunuh wanita ini sejak awal.”


Virgo mengungkapkan baru saja memastikan Degree Mona sebenarnya sangat berguna dan mengganggunya setelah apa yang terjadi kepada Sebastian.


“Aku benar-benar merasa bodoh karena menentukan batasan dari Degree seseorang. Padahal, si penciptanya membuat uji coba untuk mengetahui batasannya. Siapa yang pernah menyangka bahwa Analisis akan menjadi menyebalkan seperti ini.”


Arthur tersenyum guna memprovokasi lawannya, “Kamu hanya memandangnya sebelah mata dan tak membayangkan bahwa gadis yang kamu remehkan, akan menjadi musuh yang merepotkan bagimu.”


Ray yang mendengar percakapan mereka secara tidak langsung memahaminya. Alasan Mona bisa mengetahui Degree Sebastian dengan tepat sasaran karena ia memiliki Degree Analisis.


Entah bagaimana cara kerjanya pasti itu berhubungan dengan saat seseorang menggunakan Degree tepat di depan Mona. Bila diistilahkan, menggunakan Degree di depan Mona sama saja dengan seseorang membeberkan rahasianya terang-terangan.


Untungnya Ray tak pernah melakukan tindakan apapun di depan Mona karena ada kemungkinan Degree wanita itu bisa mengetahui gerak-geriknya.


Analisis, ya. Aku tak boleh meremehkannya karena Virgo yang melakukannya merasa menyesal. Orang itu jelas menginjak ranjau yang sudah pernah ia lihat dan ketahui tempatnya. Pikir Ray.


“Kamu tahu provokasi hanya akan membuat situasimu lebih buruk?” Virgo bertanya dingin, “Ini penawaran terakhirku. Berikan wanita itu maka sisanya akan mencapai ke Shelter dengan selamat? Atau mati di sini karena terbakar, bahkan bisa saja mati karena ledakan.”


Erina, Ray, Leo dan Terumi, bahkan Mona tak berbicara sepatah katapun. Mereka ingin melakukannya namun entah bagaimana semuanya menyadari bahwa lebih baik membiarkan Arthur menjawabnya.


Lagi pula tanpa diskusi apapun semuanya memiliki jawaban yang jelas-jelas sama.


“Bagaimana jika begini? Kami takkan memberikan Mona dan akan mengantarkanmu ke neraka sana?”


Sebastian terlihat kecewa dan mengeluarkan pisau kecil serta pistol dari lengan bajunya. Pria tua itu mulai membuat ancang-ancang menyerang. Tindakannya juga diikuti tentara yang ada di sekitar mereka.


Virgo kembali menggelengkan kepalanya, gerak-geriknya seakan-akan tengah menatap langsung Arthur dari mata ke mata.


“Jadi artinya kamu memberikan penolakan?”


“Lebih baik membakar diri ketimbang menyetujui.” Arthur memberikan jawaban cepat.


“Lalu kamu akan melawanku sampai akhir dan mati?”


“Jika itu artinya memberikan banyak masalah kepadamu maka tentu saja.” Dan, jawaban cepat lainnya.


“Huh, sangat disayangkan. Aku awalnya ingin membiarkanmu hidup karena menyenangkan namun terserahlah. Bunuh–” Virgo hendak memerintahkan orang-orangnya namun ia menghentikannya.


Virgo menyadari bahwa ada orang lain datang dari arah lain. Orang itu hanya sendiri, melewati api yang membara seakan-akan bukan sesuatu yang merepotkan.


Wajah terlihat benar-benar marah dan ia memegangi perutnya yang pakaiannya memiliki bercak darah.


“Berani-beraninya kamu mencoba mendekati adik dan temanku, setelah semua yang kamu perbuat, Sebastian!”


Pria itu adalah Ordo yang benar-benar terlihat murka. Ordo jelas siap bertarung bahkan jika itu artinya kematian.