
Di tempat lain yang cukup jauh dari taman, satu-satunya tempat yang tak terjangkau oleh para kelinci percobaan. Terdapat dua orang, satunya terluka parah sementara yang lainnya memiliki luka tembak di bahu.
“Mengapa?” tanya Virgo dengan ekspresi curiga. “Mengapa kamu menyelamatkanku? Bahkan setelah meninggalkan Rebellion, Ryouma.”
Orang yang memiliki luka tembak di bahunya tidak lain adalah Ryouma Hisatsu, mantan petinggi Rebellion dan tangan kanan Virgo. Orang itu telah memutuskan hubungan dengan kelompok dan berjanji takkan saling mengganggu.
Namun nyatanya Ryouma masih memiliki kemauan menyelamatkan Virgo, meskipun wanita ini tidak mengharapkannya sama sekali. Dia sendiri memiliki harga diri yang tinggi untuk tidak meminta tolong pada pembelot.
“Tak ada alasan khusus. Aku hanya ingin membicarakan beberapa hal denganmu,” ujar Ryouma, melepaskan pelindung dadanya dan mulai mengobati lukanya sendiri.
“Bicara? Tak ada apapun yang bagus bisa kamu dapatkan dariku.” Virgo seakan pasrah oleh keadaannya, dia memegang wajahnya yang sobek dan berdecak kesal.
Meskipun itu hanya wajah palsunya, Virgo tetap tak ingin memperlihatkan yang asli. Dia menggertak giginya dengan kuat karena kulitnya akan terbuka dengan gerakan kecil saja.
“Kamu tampak sangat tidak ingin memperlihatkan wajahmu.” Ryouma terlihat tertarik dengan sikap Virgo yang sangat keras soal wajahnya.
“Ini bukan urusanmu. Pergilah jika kamu hanya ingin mengejek!” ujar Virgo dengan keras.
Ryouma menjadi semakin tertarik, ia duduk berhadap-hadapan dengan Virgo selagi menjaga jarak pasti.
“Aku tak mengejek. Demi apapun aku bersungguh-sungguh ingin membicarakan beberapa hal penting. Jika tidak, untuk apa aku susah payah menyelamatkanmu.”
Dia rela terluka oleh tembakan tersebut hanya untuk menyelamatkan Virgo dengan asumsi setidaknya akan mendapatkan satu-dua hal yang bisa digunakan. Jika ia menyelamatkan Virgo hanya untuk hal sia-sia, sejak awal tak perlu melakukannya.
Virgo masih curiga kepadanya, orang ini, sejak dia meninggalkan Rebellion maka kepercayaan tak lagi dimiliki. Tidak. Sejak awal Virgo tidak benar-benar percaya kepadanya. Hal itu karena terkadang Ryouma menghilang tanpa pemberitahuan apapun.
“... jadi apa yang ingin kamu bicarakan?”
Untuk saat ini Virgo tak bisa melakukan hal-hal yang akan memprovokasi Ryouma. Nyawanya selamat sekarang adalah keberuntungan hebat. Virgo tak ingin menyia-nyiakannya.
“Ada beberapa hal namun pertama. Siapa yang menyebabkan kekacauan ini? Aku tahu kamu bukan dalangnya namun aku juga tahu kamu terhubung dengan pelaku utamanya. Katakan padaku siapa dia dan kesepakatan apa yang kamu miliki dengannya.”
Sejak satu minggu sebelum hari ini, Ryouma sudah tidak bersama Virgo lagi sehingga ia tidak tahu apa yang orang ini lakukan. Selain itu bahkan jika Ryouma masih di sisinya, Virgo takkan mengungkapkan dengan mudah.
“Apa pentingnya bagimu mengetahuinya?” Virgo tak langsung memberikan jawabannya, ia justru menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain.
“Aku hanya bertanya. Selebihnya tidak penting bagimu mengetahuinya. Berhentilah menyelidiki dan lakukan saja tugasmu.”
“Ha ha ha!” Virgo tertawa dengan keras, baginya kalimat terakhir Ryouma sungguh jenaka. “Kamu menggunakan kalimat yang biasanya aku gunakan padamu, ini sungguh ironis!”
Selama menjadi anak buah Virgo, Ryouma selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan setiap kali Virgo memberikannya perintah. Dan, kalimat yang dia gunakan sebelumnya adalah sesuatu yang akan dikatakan Virgo.
“Yah, biarlah. Lagi pula itu tak penting,” ujar Virgo. “Kamu penasaran tentang siapa yang merancang malapetaka ini, kan? Namun aku bertanya-tanya, atas dasar apa kamu menganggap aku terhubung dengannya?”
Ryouma hanya menatap Virgo dalam diam. Orang itu jelas tidak akan mengatakan segalanya dengan mudah.
“Aku hanya memanfaatkan kondisi kekacauan ini untuk keuntunganku sendiri. Tak peduli siapa yang melakukannya, selama ada keuntungan yang bisa aku ambil maka aku tidak peduli.”
Perkataan Virgo terdengar meyakinkan namun sayangnya Ryouma tidak bisa dibohongi semudah itu.
“Itu penyimpangan. Faktanya kamu bekerja sama dengan Ray Morgan agar bisa memberikanmu situasi untuk berhadapan dengan Arthur juga Mona, kan?”
“...”
Virgo tidak memiliki kalimat apapun untuk dikatakan, ia hanya menatap Ryouma dalam diam.
“Kamu tak pernah jujur. Aku sudah mengetahui fakta ini. Alasanku bertanya padamu hanya untuk memastikan apakah kamu akan terus terang atau tidak.”
Dari raut wajahnya, tampaknya hal itu benar. Ryouma sejatinya tidak benar-benar tahu, ia hanya mengikuti kata hatinya untuk menghubungkan semua ini dengan Ray.
Namun tidak disangka tebakan tersebut ternyata benar adanya. Ryouma menjadi yakin sekarang kalau Ray Morgan adalah orang berbahaya namun juga layak.
Ryouma mengeluarkan pistol di sakunya dan menodongkannya kepada Virgo, “Jika kamu berbohong maka timah panas akan menembus kepalamu, Virda Gracius Orloff.”
Virgo terbelalak, ia berniat menarik kerah Ryouma namun moncong pistol sudah tepat di depan keningnya.
“... dari mana ... kamu mengetahuinya?”
“Mudah saja, aku cuma tahu lebih banyak dari yang kamu ketahui.” Ryouma tentunya tidak akan memberitahu dari mana ia mengetahui nama asli Virgo, yakni Virda Gracius Orloff.
“Harusnya ... takkan ada yang mengetahuinya selain aku!” Virgo mendadak menjadi marah namun ia masih bisa mengendalikannya dan menahan emosi.
“Aku bisa mengungkapkan banyak hal tentangmu kepada orang lain namun itu tak penting. Karena itu, jawab pertanyaanku sejujurnya. Aku yakin, kamu juga tidak ingin orang-orang tahu apa yang ada di balik wajah palsu itu.”
Sekali lagi Virgo terkejut bukan main, di tempat ini harusnya hanya Sebastian yang pernah melihat wajahnya. Pria tua itu sudah mati, harusnya tak ada lagi siapapun yang mengetahuinya.
Namun Ryouma dengan misterius bisa mengatakan hal-hal yang tak terduga.
“Tunjukan padaku Degree apa yang kamu miliki.” Ryouma memulai langsung dari hal yang sulit.
“... toh, Degree-ku bukan sesuatu yang berguna sehingga harus disembunyikan dengan sangat ketat.” Virgo tampaknya tidak berniat menyembunyikannya sejak awal.
Tentunya itu karena wajah palsunya sudah cukup jelas untuk siapapun menebaknya. Bahkan Virgo tidak percaya diri menciptakan sebuah kebohongan yang cukup kuat untuk dipercaya.
“Degree-ku adalah penata rias wajah. Kemampuan maksimalku adalah mengubah wajahku menjadi orang lain seperti yang aku lakukan saat ini.”
Ryouma sudah menduga sesuatu seperti itu namun dia tak menyangka kalau sesuatu seperti make up bisa membuat seseorang menjadi orang lain.
“Aku sudah menduganya namun tidak disangka kalau penata rias bisa membuatmu memakai wajah seseorang. Tampaknya ingatanmu juga tajam.”
Bisa membuat wajah semirip itu pastinya Virgo memiliki ingatan kuat tentang Mein sampai-sampai bisa menirunya. Hal itu bahkan cukup mengejutkan bagi Ryouma.
“Mari ke hal lainnya,” Ryouma tidak mengejar lebih dalam tentang Degree Virgo. “Apa bentuk kesepakatan yang kamu buat dengan Ray Morgan?”
“Aku yakin kalian takkan membentuk sebuah kesepakatan tanpa meraup keuntungan tertentu.”
Virgo terlihat sedikit berpikir sebelum menjawab, Ryouma kemudian menembakkan satu peluru yang dengan sengaja diarahkan meleset.
“Aku takkan membiarkanmu berpikir. Langsung saja jawab setiap pertanyaan dariku,” ujar Ryouma dengan nada yang mengancam. “Ini hanya peringatan saja, bisa saja akurasiku akan meningkat nantinya.”
Virgo mulai berkeringat dingin, dia tentu tahu kalau Ryouma adalah seseorang yang tidak pernah meleset soal tembakannya kecuali dia menginginkannya sendiri.
Bahkan jika dia coba melarikan diri, Ryouma bisa menembaknya tepat di kepala bahkan dengan mata tertutup.
“Kamu memang orang yang kejam.”
“Jika tidak begitu kamu takkan pernah memintaku membunuh rekan.”
“Itu memang benar,” Virgo tertawa kecil. “Aku hanya meminta orang itu membuat situasi di mana aku bisa membunuh Arthur dan Mona.”
Ryouma mulai berpikir, tidak mungkin jika Ray sendirian menyiapkan sesuatu untuk meledakkan hampir separuh blok untuk menciptakan situasi seperti ini.
‘Dia semestinya memiliki tangan lain untuk membantunya. Apa mungkin orang-orang di sekitarnya seperti Terumi dan Leo? Tidak.’
Ryouma tidak yakin jika Ray akan menggunakan kedua orang itu. Terumi terlalu baik hati untuk melakukan hal-hal keji seperti itu, sementara untuk Leo, Ryouma yakin dia tak terlibat.
Maka artinya Ray memiliki kelompok lain di belakangnya yang mendukungnya. Memikirkannya saja membuat jantung Ryouma berdebar-debar dengan hebat.
Bisa melakukan sesuatu sebesar ini jelas bukan tindakan yang bisa dilakukan orang biasa.
“Pertanyaan terakhir ... maukah kamu bergabung dengan kami?” tanya Ryouma.
Virgo tidak mampu mencerna makna dari kalimatnya. Jika Ryouma memintanya bergabung, maka artinya orang itu memiliki kelompoknya sendiri.
“Bergabung? Dengan apa?”
“Denganku dan yang lainnya. Kita takkan langsung ikut andil dalam peperangan antara para pengguna Degree. Kita hanya menunggu pemenang dan pergi melayani.”
Virgo masih tidak memahami apa yang dikatakan orang ini. Ada kontradiksi di dalam pikirannya yang mana Virgo menolak kemungkinan ini.
“Aku tak tahu apa yang kamu maksud namun aku akan menolaknya.”
Ryouma bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Virgo berdiri.
“Begitu, maka apa boleh buat.”
“Memangnya kamu bergabung dengan kelompok seperti apa?” tanya Virgo.
“Kamu tak perlu tahu detilnya. Namun sebagai bayaran informasimu aku akan membagikannya sedikit.” Ryouma memandang sekitarnya sebelum menyampaikannya dan tersenyum.
“Tidakkah kamu memikirkan bahwa Secret memiliki kaki tangannya sendiri di tempat ini? Mereka mungkin ada namun juga tidak ada. Yah, selebihnya pikirkan sendiri ... jika kamu memiliki waktu.”
Ryouma kemudian mencekik Virgo dan membenturkannya ke dinding dengan kuat. Virgo coba melepaskannya namun kekuatan Ryouma lebih dominan.
“A-apa yang k-kamu lakukan?!”
“Aku? Tidak ada. Hanya coba membunuhmu.”
“Namun sebelum itu aku penasaran tentang seberapa mengerikan wajahmu sampai tidak ingin menunjukkannya.”
“Hentikan—”
Ryouma tak mengindahkan peringatan tersebut dan lanjut menyobeknya. Dia cukup terkejut melihatnya. Virgo memiliki wajah yang terbilang buruk rupa. Selain mata dan hidungnya, sisanya memiliki luka bakar yang sangat jelek untuk dilihat.
“Aku tak bermaksud menghinanya namun itu memang luka yang mengerikan. Sangat tak enak untuk dilihat.”