The Degree

The Degree
Datang Untuk Menyapa



Terumi izin pergi ke tempat tertentu dan berpisah dengan Ray. Meski begitu sebenarnya ia ingin kembali ke kamarnya karena tak mampu melihat wajah Ray.


Hal itu disebabkan oleh apa yang terjadi diantara keduanya. Terumi masuk ke kamarnya dan bersandar di pintu, kemudian merosot duduk selagi menutup wajahnya yang memerah seperti tomat.


“Apa yang baru saja aku lakukan!” Ia menjerit antara kesal dan senang.


Momen di mana kedua bibir mereka bertemu masih segar dalam ingatannya. Bahkan Terumi masih mampu merasakan sensasi hangat di bibirnya. Hal tersebut yang membuatnya tak kuasa menatap Ray atau bersamanya lebih lama.


Mengesampingkan hal itu, Terumi kembali teringat dengan hal yang membuatnya salah paham.


“Jika aku pikirkan lagi, Ray memang tidak ada di kamarnya saat itu. Ia datang dari luar tepat setelah aku membuka pintunya.”


Memang masuk akal bahwa Ray tak melakukan dosa apapun dengan wanita lain. Di tempat ini, segala tindak kejahatan tidak memiliki konsekuensi.


Bahkan Terumi harusnya tahu tempat ini bukan lingkungan mereka yang biasanya. Ini adalah tempat di mana kasus pembunuhan hal yang lumrah.


Terumi merasa malu karena kebodohan dirinya sesuatu yang tak sepatutnya terjadi justru terjadi. Ia ingin meminta maaf lebih jelas kepada Ray, tetapi ciuman pertamanya mengganggunya.


“Kamu sungguh menyedihkan, Terumi!” Terumi mengumpat kepada dirinya sendiri.


Beberapa hal mungkin berantakan seperti rencananya kencan dengan Ray, tetapi setidaknya ia mendapatkan hal yang lebih berharga dari kencan itu sendiri.


“Selain itu ... .”


‘Maukah kamu mengajarkannya padaku?’


Kata-kata Ray yang demikian absurd terus berputar di kepalanya layaknya kaset yang terus diputar. Itu mengandung banyak makna sehingga Terumi tidak bisa menyimpulkan sesuka hatinya.


“Apa maksudnya? Mungkinkah Ray ingin aku berkencan dengannya? Atau yang lebih dari itu? Seperti me-menikah?! Ahh!”


Terumi menarik rambutnya seperti orang gila, wajahnya merah merona seakan kulitnya sedang berganti warna. Ia kemudian berbaring dengan lemah terlepas dari lantai yang dingin.


“Mengapa kamu selalu membuat kesalahpahaman semacam ini, Ray?”


Terumi tidak mengerti bagaimana jalan pikir pria itu. Namun karena dia tidak mengerti jalan pikirannya, ia justru semakin tertarik untuk coba mengerti tentangnya.


“Aku tahu masa lalunya. Hanya itu. Aku tidak pernah tahu tentang apa yang ia inginkan dan akan lakukan.”


...**************...


Sebuah tempat yang gelap dan sepi. Suara air limbah mengalir disertai bau yang tidak sedap. Pencahayaan sedikit kurang di tempat ini. Alasannya sederhana, karena tidak ada siapapun yang mau pergi ke tempat menjijikkan seperti pembuangan limbah.


Di tempat yang seharusnya tak dikunjungi oleh siapapun, seorang pria berdiri bersandar pada dinding. Orang itu tidak peduli dengan aroma tidak sedap yang memenuhi udara.


Langkah kaki kemudian terdengar, pelan dan semakin dekat. Pria itu membuka matanya dan menatap kegelapan di depannya. Meski hanya mampu melihat kedua kaki dengan celana hitam panjang dan sepatu kulit, pria itu tahu siapa sosok di depannya.


“Kamu bisa datang terlambat meskipun memantau seluruh area di tempat ini, Secret.”


Sosok di depannya adalah perancangan sistem, Degree, dan setiap tugas yang ada di tempat ini. Secret ada di depannya.


“Kami memiliki waktu berharga untuk tidak disia-siakan.”


“Jadi maksudmu bertemu denganku adalah hal yang sia-sia?” tanyanya dengan tajam dan tidak senang.


“Tergantung bagaimana caramu menyimpulkan. Katakan saja laporanmu.” Secret tidak berniat membuang-buang waktu dan langsung melompat ke poin utamanya.


Pria itu hanya menghela napas, menyerah untuk berdebat lebih jauh. Karena dibandingkan siapapun di tempat ini, pria itu tahu bahwa perdebatan seperti apapun tidak akan berarti di hadapan Secret.


“Asgardian tidaklah dibutuhkan. Kota di atas langit ini sudah tidak perlu digunakan untuk tugas.”


Asgardian, kota di atas langit yang mana semua orang berada di sini sekarang. Meski belum ada yang diizinkan untuk pergi melihat keluar, tetapi pria ini mengetahui sesuatu yang seharusnya hanya diketahui oleh Secret.


“Bukan tempatmu mengatakannya. Kami yang menentukan layak dilanjut atau tidaknya.”


“Haruslah cerdas dan berambisi. Serta beberapa hal lainnya.”


Pria itu menghela napas dengan kasar. Ia selalu saja mulai jengkel setiap kali Secret berbicara hanya diantara dirinya sendiri.


“Huh, aku tahu itu! Dan karena itulah Asgardian tidak lagi penting.”


“Aku mungkin tidak tahu apa yang kalian siapkan namun aku tahu bahwa kalian ingin menghasilkan beberapa kandidat dari Asgardian ini.”


Tugas sebenarnya dimulai setelah Open World. Pria itu tahu bahwa hanya akan ada kurang dari tiga tugas besar yang akan terjadi di masa depan, bahkan mungkin jangkauannya lebih luas dari Open World itu sendiri.


“Open World bertujuan untuk melihat siapa saja yang amat menonjol. Mereka yang menonjol akan memberikan data terbaik dan berkesempatan menjadi kandidat yang kamu inginkan.”


“Karena itulah aku mengatakan Asgardian tidak diperlukan. Kalian bisa langsung memulai tugas terakhir.” Pria itu berkata dengan nada yang mengancam.


“Apa yang membawamu terburu-buru seperti ini?” Secret bertanya, ia tak menjawab perkataan pria itu sebelumnya.


Pria itu menghela napas dan tersenyum dingin.


“Tujuanku tak pernah berubah sejak pertama kali aku datang ke tempat ini. Sejak aku menjadi kelinci percobaan kalian yang menanamkan dua Serum D dari generasi yang berbeda.”


Pria itu memang sangat spesial. Dan, karena dirinya spesial Secret memberinya beberapa perlakuan khusus dan membuatnya menjadi mata-mata. Mau bagaimanapun, apa yang terjadi di lapangan dan apa yang ditampilkan layar monitor memiliki perbedaan informasi yang signifikan.


Secret mulai berbalik dan berjalan meninggalkan tempat ini. “Kami akan mempertimbangkan masukanmu. Lalu, apa ambisi yang kamu selalu inginkan itu, Leo?”


Pria itu— Leo tersenyum dengan wajah dingin dan memiliki kesan yang sungguh jahat.


...****************...


Setelah menyelesaikan urusan dengan Terumi, Ray pergi ke taman dan berjalan tanpa tujuan selagi menghela napas panjang.


‘Setidaknya aku berhasil menyelesaikan masalah ini dengannya.’


Stigma bahwa ‘Semuanya hanya salah paham’ telah ditanamkan meski tidak ada jaminan akan berhasil bertahan lama.


Untuk itu Ray perlu solusi pasti agar kecurigaan lain tidak muncul dalam benak Terumi. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menghindari kontak dengan Rani dan Rina, atau bahkan melenyapkannya.


“Untuk sekarang sebaiknya aku menyelesaikan hal yang telah lama aku tunda.”


Ray bukan orang yang suka menunda-nunda pekerjaannya, tetapi selalu saja ada berbagai hal yang membuatnya harus menunda.


Sekarang mungkin bukan waktu yang tepat dan terkesan terburu-buru, tetapi semakin cepat persiapannya maka semakin baik.


Selagi terus berjalan tanpa arah Ray mengakses Market dan berniat memesan barang.


“Apa ini terlalu banyak? Hampir separuh DP-ku akan lenyap karena membelinya.”


Itu harga yang mahal dan belum lagi rencana ini memiliki kemungkinan gagal yang cukup besar.


“Lihat siapa yang kita temui.” Suara yang akrab membuat Ray keluar dari pemikirannya. Ray menghentikan aktivitasnya dan menutup kembali sistem Market.


Ray tahu bahwa orang itu akan berada di tempat yang sama dengannya. Tentunya karena mereka memasuki Shelter yang sama, sungguh tidak mengejutkan bahwa mereka akan tinggal di tempat yang sama.


Meski begitu Ray tidak menyangka bahwa orang itu akan menyapanya pada tahap ini. Bukankah ini terlalu cepat?


“Kamu tampak sehat.” Ray berkata dengan acuh tak acuh.


“Sayangnya itu juga berlaku untukmu. Masa depan akan lebih sulit dari yang aku harapkan.”


Suara yang jelas dibuat oleh teknologi. Orang ini sama sekali tidak lengah. Bahkan pakaian tebal yang mencegah orang mengetahui dari posturnya tentang apa jenis kelaminnya.


“Kamu juga terlihat bersenang-senang karena memiliki waktu damai untuk dirimu sendiri, Virgo.”