The Degree

The Degree
Akhir Ujian Secret



Ben melompat menuju Haiyan dan memberikan tendangan kuat padanya.


“Keparat-!”


Haiyan mengumpat dan menahan serangan dengan kedua tangannya. Dia mulai kehilangan keseimbangan tubuh dan terdorong beberapa langkah karenanya.


Namun Haiyan tidak bisa lengah karena Ben terus mendekat dan menyerangnya. Indri yang bahkan terluka sedemikian rupa masih memiliki senyuman gila dan mulai melangkah ke arahnya.


“Kalian benar-benar gila!”


“Kamu tidak akan mengerti kegilaan sebelum melalui penderitaan hebat!”


Indri berlari terhuyung-huyung dan mengabaikan darah yang terus keluar dari perutnya. Dia mengangkat pistol dan berhasil menembak bahu Haiyan.


Ben segera mengambil alih dan memberikan tendangan kuat di dadanya. Haiyan juga tidak putus asa, dia menarik kaki Ben dan menusukkan pisaunya di tulang kering sebelum melompat mundur dan gagal mendarat dengan baik.


“Sial! Kau bertarung dengan baik.”


Kakinya mengeluarkan darah, kini Ben tidak bisa bergerak dengan benar. Begitu juga Indri yang terhuyung-huyung, kesadarannya mungkin tidak akan bertahan lama.


Sementara Haiyan juga terlihat menyedihkan dengan kondisinya sekarang ini.


“Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya tinggal di lingkungan yang keras.”


Haiyan dibesarkan di lingkungan mafia bersama dengan Maa Dong Wok. Itu lingkungan yang penuh dengan darah dan penculikan. Mau tak mau Haiyan perlu menjadi orang yang busuk untuk bertahan di lingkungan seperti itu.


‘Sial ... kesadaranku-!’


Visinya mulai bergetar dan kabur, Haiyan sudah mencapai batasnya. Namun siapa yang menduga bahwa Indri menjadi orang yang gugur lebih awal.


“Indri!” Ben dengan susah payah menghampiri, dia terkejut ketika menemukan Indri pingsan berdiri. Itu kasus yang langka terjadi.


Ben merentangkan tubuh Indri dengan hati-hati namun dia tidak menyadari bahwa lawannya masih bertahan. Di sana Haiyan sudah menodongkan pistolnya.


“Selamat tinggal ... Pecundang!”


Dor!


Peluru menembus tepat di kening Ben, dia jatuh dengan dramatis dan menghembuskan napas terakhirnya.


Haiyan terhuyung-huyung dan jatuh. Dia mendengar suara langkah kaki, orang yang berdiri tepat di depannya.


“... sial. Kamu ... sudah menunggu?”


“Kamu tidak pintar rupanya. Apa kamu pernah mendengar membiarkan musuh saling bertarung dan kalahkan pemenangnya?”


Haiyan menggertak giginya saat kepalanya ditempelkan pistol. Tubuhnya mulai bergetar dan dia menyesal datang ke sini sendirian. Itu kesalahan terbesar untuknya.


“Selamat tinggal.”


“Bajingan kau ... Mona—”


Peluru di tembakkan, Mona memiliki wajahnya terciprat darah. Meski begitu dia tenang, tidak ketakutan atau merasa bersalah karena dosa membunuh manusia.


Sejauh ini dia sudah melihat banyak sekali darah yang ditumpahkan. Ratusan, mungkin ribuan orang sudah mati karena semua tes konyol ini. Setelah melalui semua itu, mana mungkin Mona memiliki perasaan bersalah di hatinya yang telah membeku?


Hanya ada kesedihan dan kebencian dalam hatinya. Dia sedih ketika memikirkan keluarga yang ditinggalkan orang-orang di sini. Dan, dia benci kepada orang-orang yang membuat situasinya semakin buruk.


“Aku sudah berharap kamu akan datang, Terumi.” Mona menatap dingin kepada gadis yang terengah-engah dan memandang dengan benci.


Itu Terumi. Dia tampak berantakan dan penuh darah, tatapan lembutnya yang bisa tidak lagi ditemukan.


“Bisa biasanya ... kamu meledakkan orang tak bersalah!”


Bagaimana dia bisa tetap tenang? Tiba-tiba saja ada ledakan terjadi diantara demonstrasi dan menyebabkan kematian di mana-mana. Mereka hanya orang-orang tak bersalah, lantas kematian mereka tidak bisa dibenarkan.


Mereka tidak memiliki dosa yang pantas untuk dihukum dengan kematian menyedihkan seperti itu.


“Orang tak bersalah?” Mona mengerutkan alisnya. “Apa kamu pernah bercermin? Kamu yang menggunakan warga sipil dalam rencanamu juga tidak bisa dibenarkan! Lalu di mana salahnya aku menggunakan cara kotor sepertimu?!”


Mona sendiri tidak mau mengerahkan orang untuk membombardir para pendemo itu. Dia melakukannya terpaksa karena sadar ada beberapa penyusup dan provokator diantara para pendemo.


Demonstrasi yang ditunggangi dan membuat pengguna Degree membaur diantara mereka, Mona tentunya tidak bisa mengabaikannya. Ketimbang mati karena pengabaian, lebih baik membunuh mereka.


“Setidaknya aku tidak berusaha membunuh mereka! Ada rencana lain yang lebih baik ketimbang itu!”


Mona mengangkat tinjunya, “... tidak ada gunanya berbicara denganmu.”


“Itu benar ... mari menjadi seperti para pria yang berbicara dengan tinjunya.”


Terumi mengatur napasnya dan memejamkan matanya. Kenangan indah yang dia lalui bersama Mona terlintas dalam benaknya. Ini menyakiti hatinya saat harus bertarung dengan temannya sendiri.


Meski menyakitkan namun Terumi tetap mengangkat tinju, menunjukkan taring kepada Mona.


“Maaf, Mona—”


“Maaf juga, Terumi—”


Keduanya memejamkan mata dan membukanya sekali lagi dengan tatapan kebencian nian tajam. Dan, serempak deklarasi perang dari keduanya dinyatakan.


“Aku akan membunuhmu!”


“Akan kuhabisi kamu!”


Terumi berlari dan mengulurkan tangannya untuk meraih kerah baju Mona, tetapi sebuah tinju dengan cepat muncul dan mencegahnya bertindak.


Tinju Mona mendarat di bahunya, itu cukup menyakitkan.


“Aku tidak menyangka bahwa wanita feminim sepertimu bisa melakukan boxing.”


Mona menjaga jarak dan mengendurkan kuda-kudanya. Dia tersenyum dan mulai membuka bajunya.


“Kamu berusaha meraih kerah bajuku. Aku ingat bela diri jepang yang meraih baju lalu membanting lawannya. Jika tidak salah itu adalah judo, kan?”


Mona hanya menggunakan kaus dalam yang menutupi *********** saja dan membiarkan perutnya tidak ditutupi apapun. Dia juga merobek celana panjangnya dan meninggalkannya sangat pendek sampai pahanya terekspos.


Dia kemudian membuang pisau dan semua senjata yang dia miliki.


“Bicara selayaknya pria, selayaknya wanita.”


Bahkan tanpa kalimat sekalipun, Mona dan Terumi mengerti satu sama lain. Keduanya menginginkan pertarungan murni tanpa Degree maupun senjata. Mau bagaimanapun mereka dulunya rekan.


“Jangan berpikir aku hanya bisa judo, Mona,” Terumi juga melepaskan kemejanya untuk bisa bertarung dengan lebih leluasa. “Bahkan tanpa Degree, aku tetap menyukai budaya. Bela diri termasuk ke dalam budaya, tolong diingat.”


Terumi hanya menggunakan perban yang melilit payudara, tetapi bagian yang mengejutkan Mona adalah tato yang terukir di tubuhnya.


Ada tato naga yang dimulai dari bahu kiri hingga perut kiri Terumi. Tato naga berwarna hitam.


“Pantas kamu tidak pernah menggunakan pakaian pendek. Apa untuk menyembunyikan tato itu dari bajingan Ray?”


“Kamu juga tampak menyembunyikan semua otot itu dari si keparat Arthur.”


Tanpa kata apapun Mona segera menerjang dan memberikan jab dengan gerakan yang cepat. Terumi menahannya dengan tangan, wajahnya terlihat menderita selagi dia menunggu celah.


Namun Mona sungguh habis-habisan dan menyerang tanpa henti sampai benar-benar berhasil memberikan pukulannya.


Terumi yang terus bertahan tak bisa lagi diam dan membiarkan dirinya dipukuli. Dia memulai serangan balasannya dengan serangkaian serangan kuat.


Mona terhuyung mundur dan batuk sedikit darah. Melihat Terumi yang menyerang titik vitalnya, dia teringat sebuah teknik yang pernah diberitahukan Marshal Ardianto.


‘Apa ini ... Systema?’


Sebuah bela diri yang tujuannya adalah melumpuhkan lawan dengan cepat dengan menyerang bagian vital.


Mona bisa merasakan tubuhnya bergejolak karena pukulan itu. Saat dia menjaga jarak Terumi mulai memotong jarak.


Jarak keduanya habis dengan cepat, Terumi berniat melancarkan serangannya namun mendadak rahangnya mendapat pukulan keras dan diikuti tendangan kuat yang membuatnya terhempas.


Mona menggunakan kakinya untuk menyerang rahang dan menendang Terumi sebelumnya. Bagaimana? Sejak awal dirinya tidak pernah mengatakan hanya menguasai boxing. Dia juga menguasai sedikit tentang karate berkat Degree analisisnya yang membuatnya bisa belajar dengan cepat.


“Kamu ... sialan.”


Terumi nyaris tidak bisa berdiri dengan benar. Kesadarannya hampir saja hilang beberapa saat sebelumnya. Pukulan di rahang sangat berbahaya.


“... maaf, penderitaanmu akan aku akhiri sekarang, Terumi.”


Mona berlari dan bersiap untuk memulai serangannya. Targetnya adalah wajah Terumi untuk membuatnya tidak sadarkan diri.


Namun di sisi lain Terumi mulai bergumam.


“Mengakhiri? Jangan bercanda.”


Pak!


Terumi mendapatkan pukulan tepat di wajahnya, hidungnya patah karena pukulan kuat yang dilontarkan Mona.


“Kamu kalah—” Mona tidak melanjutkan kalimatnya saat dia menemukan tangan Terumi berada di uluk hatinya.


“Mona ... kamu pernah dengan tentang one inci punch?”


Dengan cepat tangan Terumi membentuk tinju dan memukul perut Mona dari jarak yang dekat.


“Ini pukulan terkenal Bruce Lee yang menghancurkan lawan dari dalam.”


Dalam pukulan itu Mona memuntahkan isi perutnya. Terumi segera mengunci tubuh Mona dan mencekik lehernya untuk membuatnya tidak sadarkan diri.


Terumi segera mencari pistolnya dan menembak Mona yang tak lagi sadarkan diri. Tangannya bergetar, dia mulai menangis.


“Maaf, Mona!”


Dor!


Terumi berlutut lemas dan menangis. Ini adalah pengalaman pertamanya membunuh teman.


Saat Terumi menangis hingga terisak, seseorang datang dari arah lain dan melihat pemandangan di sekitarnya.


“Hmm, pertarungannya sudah berakhir. Apa bisa dikatakan aku datang terlambat? Tidak, mungkin sebenarnya nyaris tepat waktu.”


Terumi memandang pria itu yang tersenyum lembut dan menghampiri mayat Ben.


“Kamu ... Ryouma?” Terumi bangkit dan menodongkan pistolnya.


“Ho? Kamu mengenaliku rupanya,” Ryouma dengan santai terus berjalan tanpa khawatir. “Aku tidak berencana bertarung denganmu. Sejak awal aku hanya ingin mengamati.”


Ryouma memandang dingin tubuh Ben dan gadis di sisinya.


“Tertembak di kepala, bahkan Secret tidak bisa mengembalikan nyawanya. Sementara wanita ini kehilangan cukup banyak darah dan sekarat. Sebaiknya aku membawanya.”


Ryouma mencari kayu dan dengan cepat membakarnya. Dia membuat luka tusuk di tubuh Indri melepuh karena terbakar demi mencegah pendarahan lebih lanjut.


“Apa tujuanmu?!” Bentak Terumi.


Ryouma dengan santai membopong Indri dan tersenyum lembut kepada Terumi.


“Daripada berurusan denganku yang tidak mau bertarung, bukankah kekasihmu lebih membutuhkan bantuanmu?”


“R-ray bukan kekasihk!” Terumi tidak mengerti mengapa dia merona dan tergagap. Namun perkataan Ryouma membuatnya berhenti.


“Ray Morgan, Retsuji Arthur, dan Maa Dong Wok sedang berhadapan satu sama lain.”


****


Di tempat lain ada seorang pria berbadan besar sedang menghadapi pria yang terlihat kecil di hadapannya.


“Jadi itu kamu orang dengan Degree Tokoh utama, Retsuji Arthur.”


“Maa Dong Wok. Tidakkah kamu berkenan mengungkap Degree-mu?” tanya Arthur.


Tepat ketika percakapan mereka dimulai, orang lain datang dari balik pohon.


“Bolehkah aku bergabung dengan percakapan ini?”


Arthur menatapnya dengan penuh kebencian sementara Maa Dong Wok terlihat tertarik.


“Ray Morgan.”


Pertarungan penentuan akan dimulai.