
Ray menginstruksikan bahwa untuk membuka pintu tersebut dia harus menekan tombol yang ada di dalam mulut elang, namun untuk menemukan tombol tersebut tidak mudah. Mereka membutuhkan tombol lain untuk menemukannya.
“Begitu, dan kamu ingin aku mencarinya?” tanya Indri.
Ray mengangguk, “Ya, hanya saja aku sendiri tidak tahu pasti di mana lokasinya.”
Untuk membuka pintu tersebut biasanya ada sistem tertentu, namun karena tempat itu pernah terbakar sehingga alatnya telah hancur. Tentunya ada cara manual seperti yang sedang dia lakukan saat ini.
Ada dua tombol yang harus ditekan bersamaan untuk Ray bisa menarik tuasnya dan membuka pintu tersebut. Ray tak tahu di mana tombol keduanya dengan pasti, namun setidaknya dia yakin itu ada di sekitar sini.
“Ini pasti tidak mudah untuk mencarinya,” ujar Indri, menghela napas dengan lelah dan mulai melakukan pencariannya.
“Seingatku tombol itu berada di tempat yang mudah untuk ditemukan.”
Ray mulai mencoba mengingat kembali dan memejamkan mata, itu ingatan yang usang di masa kecilnya. Dia tidak begitu mengingatnya dengan jelas. Hal yang dia ingat tombol itu berada di tempat yang mudah ditemukan karena tempat paling aman adalah yang tidak akan terpikirkan oleh orang lain.
Hal itu terjadi saat pertama kali Ray diperkenankan memasuki ruang rahasia tersebut untuk dikenalkan dengan beberapa hal agar ia tak begitu terkejut di akhir. Saat itu usianya sekitar tujuh tahun.
Entah apa yang terjadi saat itu namun sistemnya sedang mengalami gangguan dan mereka harus melakukannya secara manual. Cukup disesalkan bahwa Ray kurang memperhatikannya dan tidak mengingatnya dengan baik saat itu.
‘Bagiku dulu tak ada hal lain yang akan aku temui selain lembaran kertas yang aku harus mengisi jawaban di atasnya dengan sempurna. Berkat hal itu banyak hal yang telah aku lewatkan.’
Mulai dari melewati waktunya untuk bermain di usia seharusnya, meninggalkan semua hal berharga itu hanya untuk memenuhi ambisi besar dari ayahnya.
Ray sudah lama tidak menghitung berapa kali dan berapa banyak dia berharap untuk tidur tanpa pernah bisa membuka matanya lagi. Tak jarang percobaan bunuh diri ia lakukan namun terus saja berhasil digagalkan. Sampai akhirnya tiba diwaktu ketika Ray putus asa dan mulai mendedikasikan waktunya untuk menjalani kehidupan menyedihkannya.
Manusia dituntut untuk bebas. Andaikan kebebasan tersebut direnggut darinya, maka mereka akan bergerak untuk memberontak dan merebut kembali hak yang mereka miliki.
Saat puncak dari perasaan terpenjara itu, Ray bergerak untuk merebut kembali kebebasannya dengan mengandalkan pengetahuan yang diberikan ayahnya; yang harusnya digunakan untuk memenuhi ambisinya.
Saat Ray membuka matanya, dia menembak Indri sudah mulai meraba ke berbagai tempat dan mengeluh lantaran kesal usahanya tidak membuahkan hasil apapun.
“Persetan dengan yang membangunnya! Ini bukan fiksi ilmiah atau semacamnya? Apa orang yang membangun ini memakai obat terlarang dan memikirkan semua ide konyol ini?”
Indri adalah Indri, sudah ciri khasnya untuk mengatakan hal-hal yang merendahkan. Diantara pengguna Degree dia mungkin satu-satunya orang yang pandai bersilat lidah dan beracun.
Semakin lama mencarinya dia semakin frustasi dan Indri mulai menendang tembok dengan telapak kakinya.
“Sial!”
Saat tendangannya menghantam tembok, dindingnya sedikit mengeluarkan bunyi yang aneh. Indri menyadari hal tersebut, dia menendangnya sekali lagi ke tempat yang lain dan menemukan suaranya berbeda.
Tendangan pertamanya menghasilkan bunyi yang cukup keras, sementara tendangan lainnya tak mengeluarkan suara yang sama.
“Mungkinkah ...”
“Ada apa?” tanya Ray yang menatap bingung karena Indri hanya menendang sejak tadi.
Ada sesuatu, Indri mendekatkan wajahnya dan melihatnya baik-baik. Ada garis persegi seukuran kepalan tangan di dinding, meski ada banyak garis yang membentuk seperti itu, hanya satu yang memiliki suara berbeda saat dipukul.
Indri menarik pisaunya dan dengan presisi menusuk tepat diantara garis tersebut. Hal itu membuat lubang di dinding dan sedikit percikan api dari dua logam yang berbenturan.
“Sudah kuduga,” Indri tersenyum dan mulai berseri-seri selagi mencongkel dinding tersebut, “Ada di sini!”
Bagian persegi itu penyok dan terbuka, memperlihatkan sebuah tombol merah bersembunyi di baliknya. Tak ada lagi keraguan, itu adalah tombol yang mereka cari.
“Kamu hebat bisa menemukannya.” Ray memberikan pujiannya, ia pikir Indri akan senang namun justru sebaliknya.
“Oi, yang benar saja? Kamu bilang ada di tempat mudah ditemukan namun ini sudah bukan mudah lagi namanya!”
“Maaf,” ujar Ray. “Itu ingatan yang sangat usang sehingga aku tak bisa mengingat dengan jelas.”
Indri tampak tak lagi mempermasalahkannya namun sekarang ada hal lain yang mengganggunya.
‘Sebenarnya siapa Ray? Mengapa rumahnya memiliki sesuatu yang tak masuk akal seperti ini? Orang tuanya pasti bukan sosok yang bisa disepelekan.’
Indri cukup tertarik dengan latar belakangnya. Bagaimana tidak? Harusnya hanya tempat-tempat seperti istana negara atau semacamnya yang memiliki ruangan rahasia.
Bahkan jika ada orang tertentu memiliki ruangan rahasia sampai seperti ini, maka orang itu mestinya memiliki hal penting yang disembunyikan.
“Untuk sekarang mari tekan bersamaan dan atur timingnya. Ini tahap yang sangat penting, lewat sedikit saja akan membuat kita kehilangan nyawa.”
Indri tertegun, “Kehilangan nyawa ... apa maksudmu?”
Ray tidak begitu mengetahui segala hal tentang rumahnya meski dibesarkan di sana. Ada banyak hal yang harus dia pelajari dan lakukan sehingga tak ada waktu untuk memahami berbagai hal tersembunyi di rumah.
“Meski aku tak bisa menjaminnya namun aku yakin tempat ini akan meledak jika kita melakukan kesalahan kecil saat membukanya.”
Ruang bawah tanah yang menjadi ruangan rahasia di tempat itu memiliki banyak sekali hal penting seperti dokumen rahasia kenegaraan dan beberapa kasus tak terselesaikan yang sudah terkubur oleh waktu.
Ray tahu betul bahwa hal-hal yang ada di tempat tersebut tidak boleh sampai diketahui secara umum dan untuk melakukannya dibutuhkan langkah pencegahan.
“Dari mana kamu tahu bahwa hal itu bisa saja terjadi?” tanya Indri dengan penasaran.
Jawabannya begitu sederhana sehingga Ray sangat malas untuk menjawabnya. Meski begitu, dia tidak berniat menutupinya karena mungkin Indri akan jadi banyak bertanya atas hal-hal tidak berguna tentang ini.
“Mudahnya ... karena aku adalah anaknya.”
Jawaban paling simple namun tak ada yang ingin membantahnya. Sederhana, di dunia ini hubungan antara orang tua dan anak adalah hal yang sensitif.
Meski benci mengakuinya namun jika Ray menjual hubungan antara orang tua dan anak terlepas apakah dia memiliki ikatan darah atau tidak. Dengan mengatakan hal seperti itu, ke depannya dia tak perlu menjawab hal merepotkan.