The Degree

The Degree
Penyebab Konflik Erina & Ordo



Esokan harinya Ordo kembali bertemu dengan Erina. Setelah bujukan panjang dari Ray dan Mein akhirnya ia mau bertatapan dan berdiskusi langsung dengannya.


Selagi keduanya berbicara empat mata, Ray pergi bersama Mein untuk memastikan tak ada orang yang datang menguping. Meski begitu Ray tentu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“Tampaknya kamu tahu sesuatu tentang hubungan dua orang itu, Mein.” Ray memulai pembicaraan.


“Begitulah. Sejak pertama kali aku datang ke sini, aku sudah bersama Nona Erina. Hubungan kami mungkin bisa dibilang sangat dekat meskipun terkadang ia bersikap dingin.”


Tentunya Ray sudah memiliki gambaran nyata tentang hal itu. Fakta bahwa mereka memahami Degree satu sama lain menjadi aspek pendukung.


“Jadi kamu mengetahui beberapa hal tentang masalah saudara itu, ya?” kata Ray. “Meski begitu tampaknya kamu ditundukkan oleh Degree-nya.”


“Tentu saja tidak. Aku bertingkah seperti ini karena kemauan pribadi.”


Ray menatap Mein dengan bingung dan heran, selama ini ia meyakini bahwa sikap pelayannya adalah pesanan milik Erina. Ia tak pernah membayangkan bahwa itu atas dasar keinginan pribadi.


“Kamu melakukannya bukan karena paksaan, tetapi karena kemauan?” tanya Ray karena tak yakin akan hal itu.


Mein memicingkan matanya, “Tentu saja. Aku mengetahui Degree Nona dan mudah menghindarinya. Kamu tentunya sudah mengetahui Degree-ku. Sikap ini kuambil karena sesuatu yang mengharuskanku.”


Degree yang dimiliki Mein adalah aktris di mana ia bisa mengambil peran apapun dan menjadi serupa dengannya. Andaikata ia menjadi ahli pedang maka Mein akan memiliki kemampuan berpedang yang hebat meski ia tak pernah melakukannya.


Dari hal ini Ray bisa mengambil kesimpulan bahwa setidaknya Mein perlu memerankan satu peran dan takkan bisa menjadi dirinya yang biasa.


“Kalau begitu Erina pasti sangat mempercayaimu sampai berbagi rahasianya. Jika tak keberatan, bisakah kamu menceritakannya sedikit kepadaku? Tentang permasalahan diantara kakak-beradik ini.”


Ray tak mau basa-basi akan hal itu. Selain itu masalah ini tampaknya tak begitu krusial sehingga pantas untuk disembunyikan. Ray yakin cepat ata lambat akan terselesaikan dan hal ini takkan lagi jadi rahasia.


Mein memejamkan matanya beberapa saat, ia membukanya dan menatap Ray melalui ekor matanya, “Yah, aku rasa tidak akan jadi masalah besar denganmu mengetahuinya.”


Mein menyampaikan bahwa Erina dan Ordo bermusuhan saat beberapa bulan setelah pertama kali tiba di Open World. Itu terjadi ketika tugas bonus membangun serikat besar tiba.


“Saat itu aku, Sebastian, Ordo dan Nona Erina, serta bersama orang lainnya berada dalam satu grup setelah terpisah di tugas ketiga dan empat. Kala itu kami berkerjasama untuk membuat lingkungan tempat tinggal untuk kami. Namun, semuanya berubah sejak tugas membangun serikat besar muncul.”


Saat itu tugas bonus untuk membuat serikat besar dan dengan hadiah utama yang luar biasa, perselisihan mulai terjadi diantara keduanya.


Awalnya Erina dengan bijak mengikuti kemauan Ordo dan melahirkan serikat Blueeast. Namun tak sampai empat bulan kemudian Erina melakukan pemberontakan karena perbedaan visi diantara keduanya.


“Nona Erina menyarankan menggunakan kekuatannya kepada anggota agar tak ada langkah pengkhianatan. Akan tetapi, Ordo menolaknya karena ia menjunjung tinggi kebebasan. Sejak saat itu hubungan keduanya mulai meregang.”


Didukung oleh kenyataan bahwa hadiah utama dari tugas bonus yang membuatnya berpisah dan akhirnya memilih jalan masing-masing. Erina melakukan pemberontakan dan membawa setengah dari anggota Blueeast bersamanya dengan pengaruh Degree.


Mein mengikuti Erina bukan karena pengaruh namun karena ia melakukannya dengan sukarela. Ketimbang mengikat Ordo, Mein lebih dekat dengan Erina dan karena itu ia mengikutinya.


Sampai akhirnya Erina juga bersikap sama. Sampai pihak lain melakukan langkah maka ia takkan melakukan apa-apa. Situasi tersebut stagnan sampai saat ini. Andaikata Rebellion tak melakukan apa-apa, tak ada keraguan bahwa keduanya akan tetap berada di status quo.


“Singkatnya mereka ingin hadiah utama dari tugas bonus jadi milik mereka. Dan, tak terima jika orang lain yang mendapatkannya.”


Selain itu visi keduanya berbeda. Jika Ordo mengutamakan kebebasan maka Erina menginginkan pemerintah mutlak di mana orang-orang akan menurut di bawah telapak tangannya.


“Ya. Itu memang pertengkaran kecil karena keegoisan belaka. Andaikata ini tersebar secara luas maka tak ada keraguan orang-orang akan melakukan tindakan yang bisa dibayangkan.”


Ray bisa membayangkan kekacauan akan terjadi di masa depan. Bisa saja demo dari pihak Blueeast ataupun sabotase.


Andaikan Virgo mengetahui ini maka situasi mereka sudah menemui kebuntuan jika keegoisan mereka tak berakhir. Segalanya akan bergantung pada hasil diskusi Erina dan Ordo.


...[****]...


Di dalam ruangan hanya ada Ordo dan Erina. Pembicaraan diantara keduanya sudah terjadi sejak lama dan sampai pada kesimpulan bahwa Ordo meminta maaf.


Tak sampai disitu, Ordo juga mengajukan sebuah kesepakatan kepada Erina. Tidak menguntungkan keduanya namun jelas ini akan menimbulkan kerugian pada keduanya.


“Bagaimana? Kamu tahu aku tak pernah ingkar terhadap janji-janji yang aku buat. Dan, ini adalah jalan tengah yang bisa kita lakukan jika tak ingin salah satu diantara kita memilikinya.” Ordo kembali menegaskan sarannya.


Erina masih tak benar-benar mempercayainya. Ia bahkan tak mencoba menatap Ordo langsung ke matanya. Meski memikirkan baik-baik tawaran tak menguntungkan tersebut namun ada beberapa hal yang tak bisa ia lepaskan.


“Lalu, kamu akan menyerahkannya kepara Rebellion ini? Jika itu keadaannya maka sudah jelas hanya ada penolakan.” Erina takkan pernah menyerahkan hadiah tugas bonus kepada siapapun. Terutama kepada orang seperti Virgo.


“Tentu saja tidak. Jika kita meresmikan aliansi dan menyatakan kekuatan. Kita akan memulai penaklukan Rebellion dan menyelesaikan tugas yang telah lama berjalan ini.”


Erina untuk pertama kalinya menatap Ordo. Ia jelas baru saja mengetahui informasi tentang ini. Tampaknya baik Mein ataupun Ray belum menyampaikan apapun bahwa teka-teki tugas ke lima sudah terpecahkan.


“Apa maksudmu? Mungkinkah seseorang telah menemukan jawabannya?” Erina cukup penasaran tentang itu.


Ordo mengangguk ringan, “Ray Morgan, pria yang kamu jatuh hati padanya menemukan jawabannya. Ia juga yang membuat situasi sekarang ini terjadi. Sungguh, pria mengerikan yang benar-benar berkemampuan.”


Ordo mengakui bahwa Ray adalah orang yang cakap namun orang seperti itu yang amat dia waspadai.


“Begitu.” kata Erina. “Mengenai kesepakatan itu ... aku akan memikirkannya dulu.”


Erina tidak terlihat menyetujuinya, namun ia juga tidak tampak menolaknya.


“Baiklah. Ini hanya rasa penasaranku. Apa kamu akan memaafkanku? Sejujurnya aku berharap hubungan kita kembali seperti sediakala.” Ordo berkata dengan nada dan wajah yang kesepian.


Erina dalam diam mengangguk dan sepakat akan hal itu. Mereka merindukan hari di mana keduanya tertawa bersama.