
Dari perkataan Mein, tampaknya dalang di balik penyerangan tersebut adalah serikat kecil yang membentuk koalisi untuk menghancurkan serikat barat yang telah berkuasa selama dua tahun ini.
Tampaknya bukan hanya Erina namun Ordo juga akan menjadi incaran selanjutnya. Mein tidak tahu siapa yang memimpin pemberontakan besar-besaran tersebut.
“Pemberontakan ini telah direncanakan secara sistematis dan efektif. Aku tak tahu apakah ada tujuan lain di balik serangan ini namun singkatnya mereka memiliki pendukung besar di belakangnya atau ada orang tertentu yang memprovokasi mereka.”
Ray tak yakin bahwa belasan serikat kecil tersebut mampu membentuk koalisi dalam waktu singkat hanya karena provokasi belaka.
Jauh lebih bisa dipercaya bahwa ada orang di belakang layar yang menarik benang sebagai dalang yang memainkan cerita.
Meski begitu pertanyaan utamanya adalah siapa yang menarik benang tersebut.
“Apa benar-benar ada orang sehebat itu sehingga mampu memanipulasi banyak orang dalam waktu singkat?” Terumi terlihat bingung dan mulai berpikir keras oleh hal itu.
“Kamu harus membuang semua hal itu. Tempat ini adalah tempat yang dibuat oleh Secret, sebuah lingkungan di mana semakin tersembunyi seseorang semakin berbahaya dia bagimu di masa depan,” ucap Mein selagi membalut kakinya dengan kayu dan perban.
“Bahkan jika koalisi ini terbentuk kemarin malam hal itu masih dimungkinkan karena mau bagaimanapun Degree adalah penyokong besar yang membuat hal sulit seperti menanamkan kepercayaan menjadi sangat mudah.”
Contohnya adalah Degree milik Erina yang mampu memberi belenggu kepada seseorang. Ray sudah mengalaminya langsung dan dia tidak ragu tentang itu.
“Itu benar. Seperti halnya Nona yang memulai serikat dengan mengendalikan orang, adanya sosok tertentu yang memerintah sepertinya benar-benar bukan hal yang mengejutkan.”
Jika Mein mengakui hal itu maka Ray memahami satu hal. Fakta yang tak secara sengaja dia ungkapkan adalah Erina memiliki Degree yang mampu mengendalikan seseorang.
Tentunya ada syarat baginya bisa melakukannya namun aku hanya memiliki gambaran kasar tentang hal itu. Jika ini benar maka ... . Pikirnya.
“Lebih dari itu apa yang dilakukan wanita itu? Di mana Erina?”
Saat Ray mengungkitnya Mein tertegun seakan-akan dia telah melupakan sesuatu.
“Benar ... Nona saat ini seharusnya menuju pusat para pemberontak berada. Aku harus pergi dan membantunya!”
Mein mencoba berlari namun tampaknya dia lupa bahwa kakinya patah dan mustahil baginya untuk memaksakan diri lebih jauh dari ini.
Ray segera memapah Mein yang hampir terjatuh dan membawanya ke tempat sepi dan aman untuk beristirahat.
Mein tampak enggan dan mencoba tetap memaksakan diri namun kekuatannya jauh berada di bawah Ray sehingga dia tidak bisa menentangnya.
“Sebaiknya kamu diam dan beristirahat. Aku tahu bahwa kamu tak lagi memiliki kemampuan apapun yang bisa digunakan untuk bertarung.”
“Apa yang kamu katakan, aku masih memiliki Degree—” Mein awalnya ingin marah namun dia berhenti saat menatap mata Ray.
Tatapannya tajam dan bukan berisikan permohonan tetapi lebih ke perintah. Perintah untuk menurutinya baik-baik ketimbang dengan cara paksa.
“Aku ingat bahwa Degree menggunakan darah sebagai sumber kekuatannya. Selain itu Degree-mu pastinya terbatas penggunaannya meski sangat hebat. Hal itu terlihat sangat jelas karena tubuhmu terlihat lebih kecil.”
Meski menggunakan darah sebagai energi hanyalah spekulasi Erina belaka namun sejauh ini hal tersebutlah yang paling dekat dengan jawabannya.
“Lalu apa yang akan terjadi kepada, Nona?! Meskipun dia hebat, tetapi kekuatannya—”
“Ada apa dengan kekuatannya?”
“Itu—”
Mein segera terdiam karena dia tanpa sengaja akan mengungkapkan Degree yang dimiliki Erina. Ia mengunci mulutnya rapat-rapat dan berusaha yang terbaik untuk tidak bicara lebih banyak.
“Terlepas dari apa Degree-nya, dia bukan orang yang akan kalah dengan mudah.”
Ray tak meragukan hal itu dengan syarat Erina tetap memiliki kepala dinginnya. Seandainya dia lepas kendali bahkan Ray tak bisa menebak apa yang akan terjadi kepadanya.
“Kamu tidak perlu khawatir, aku dan Ray akan menolongnya segera. Jadi kamu bisa beristirahat tanpa khawatir.” Terumi tersenyum senang kepada Mein.
Saat itu juga Ray mendengar erangan dari seseorang yang tampaknya menderita.
“Akhirnya kamu sadar, ya? Itu bagus karena aku memiliki beberapa pertanyaan kepadamu.”
Erangan itu berasal dari dua orang yang diikat oleh Terumi. Salah satunya belum sadar. Bahkan jika satu lainnya sadar dia takkan berguna.
Berkat pukulan kuat Ray rahangnya hancur dan sampai kini mulutnya tak bisa menutup. Membiarkannya hidup tidak berguna namun orang itu bisa sedikit dimanfaatkan.
“Gaston, oy, Gaston! Sadarlah!”
“Jadi pria itu Gaston namanya. Maaf saja, dia takkan sadar dalam waktu dekat. Pukulanku tak hanya menghancurkan rahangnya namun tampaknya juga melukai saraf di otaknya. Kemungkinannya dia sedang koma.”
Terlepas dari benar atau tidaknya hal itu Ray sama sekali tidak peduli. Bagian terpenting adalah kata-katanya memiliki efek kepadanya.
“Keparat kau! Jika sesuatu terjadi kepadanya, aku bersumpah akan membunuhmu!”
“Sadarilah di mana tempatmu.” Ray mengeluarkan pistol dari kantungnya dan menempatkan larasnya di mulut pria bernama Gaston ini. “Aku memiliki tempat untuk membunuh kalian kapanpun aku mau.”
Setidaknya Gaston memiliki nilai di mata pria satunya.
Dia terdiam ketika melihat laras pistol tepat berada di dalam mulut Gaston. Andai Ray menarik pelatuknya, tenggorokannya akan hancur dan memberikan kematian yang menyakitkan.
“Tolong jangan bunuh kami! Aku akan melakukan apapun asal kamu mau mengampuni kami!”
“Kamu menyerah dengan cepat. Itu bagus. Aku akan memperingatimu. Jika mau berkhianat lakukanlah sejak awal atau nasib mengerikan akan menimpamu.”
Pemikiran orang itu pasti sampai pada apa yang Ray maksud. Dalam perang atau situasi krisis senjata terkuat bukanlah nuklir atau senjata api, melainkan informasi.
Takkan ada yang bisa mengalahkan kekuatan bernama informasi.
“Baiklah, aku berjanji!”
Ray mengangguk puas sementara Terumi dan Mein menyaksikannya dalam diam. Keduanya sadar cara terbaik untuk membantu Ray adalah dengan tak mengatakan apa-apa.
“Untuk pertama-tama katakan namamu dalam satu kalimat.”
“N-namaku Gilbert.”
“Apa Degree-mu?”
“Penembak jitu.”
“Dari serikat mana kamu berasal?”
“Southlue.”
“Tunjukkan Name Card-mu.”
“Ya.”
Ray membaca Name Card milik Gilbert dan memastikan bahwa dia tidak berbohong. Untung saja dia telah melucuti semua senjatanya karena Degree-nya cukup merepotkan untuk dihadapi.
“Apa kamu pernah mendengar serikat Southlue, Mein?”
Ray tahu sekedar nama saja karena dia sebelumnya telah menghapal dua puluh serikat yang ada di Open World saat pendaftaran.
Mein mengangguk, “Itu serikat yang bermarkas di utara kota ini. Di kota ini, Southlue berada di nomor dua setelah Redwest.”