
Butuh beberapa waktu untuk Terumi kembali menenangkan dirinya. Selain itu, Ray perlu mendengarkan beberapa ceramah darinya karena terluka sampai kehilangan tangannya.
Meski Ray merasa tak nyaman dengan situasi tersebut, tetapi dia tetap diam dan menunggu sampai Terumi puas dengan amarahnya. Butuh lebih lama dari yang diperkirakan, tetapi itu bagus karena Terumi akhirnya kembali tenang.
“Sekarang pertama-tama ... ada apa dengan Erina?” tanya Ray selagi menatap tajam wanita yang hanya mengintip di pintu.
Saat Ray menatapnya, Erina tertegun dan mulai bersembunyi, dia seakan-akan bisa melompat kapanpun ke dalam lubang agar tak bertemu dengan tatapan mata Ray.
“Ah, itu ceritanya panjang,” ujar Terumi dengan wajah yang rumit. “Sejujurnya aku sendiri tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi.”
Terumi menjelaskan bahwa saat pertama kali tiba di dunia luar, hanya selang beberapa menit berlalu Erina mendadak kaku dan kehilangan ingatannya. Pada akhirnya dia tak sadarkan diri selama dua hari penuh sehingga Terumi harus merawatnya.
Tak hanya ingatan dan lupa dengan identitasnya, Erina menjadi tidak berguna karena dia menjadi orang payah dalam segala hal. Seringkali dia merobek pakaian saat berusaha menggunakan pakaian, terjatuh saat berjalan atau bahkan masalah seperti seperti menggigil lidah sendiri ketika makan.
“Itu waktu yang sungguh berat bagiku untuk merawatnya. Aku seperti sedang merawat bayi besar.”
Ray mulai berpikir sedikit tentang hal itu. Jika Erina sungguh lupa ingatan, maka wajar bahwa sikapnya sungguh berbeda dari yang Ray ketahui. Namun antara lupa ingatan itu asli atau palsu adalah masalah lain.
‘Ada kemungkinan ketika kematian Rani dan Rina terjadi, Erina mendapatkan kembali kontrol atas dirinya. Namun dia mungkin berencana menusukku dari belakang dan pura-pura lupa ingatan.’
Meski hanya asumsi namun Ray cukup khawatir itu terjadi. Hanya orang bodoh yang tidak mengkhawatirkan variabel yang bisa menghancurkannya.
Selain itu Ray tak bisa membiarkan kanker berada di sekitarnya jika tak mau bagian lain tertular. Ray juga telah membuat ketetapan untuk terjun langsung ke medan tempur dan tak lagi memanipulasi berbagai hal dari balik layar.
“Jadi, bisa disimpulkan kalau Erina kehilangan ingatannya tanpa sebab jelas? Hal itu terjadi ketika kalian tiba di Jakarta. Untuk memastikan saja, apa ada benturan atau apapun yang kalian alami kala itu?”
Terumi sedikit berpikir sebelum menjawabnya. Dia kemudian menggelengkan kepalanya.
“Aku rasa tidak, bahkan aku sendiri tidak merasa bergerak atau apapun saat di dalam kapsulnya. Saat aku membuka mata, aku sudah ada di toilet umum.”
Terumi takkan berbohong, setidaknya Ray yakin bisa memegang kalimat itu. Hanya saja Erina hal lain. Apakah amnesianya asli atau tidak, Ray tak yakin.
‘Yah, sebaiknya kita tangguhkan dulu masalah ini. Biar waktu yang membuktikannya.’
Jika hilang ingatannya hannyalah kepalsuan, Ray cukup yakin akan mampu membaca gerak-gerik tak alami yang dibuat Erina. Tidak peduli apakah Erina adalah aktor yang hebat, pada akhirnya akan tiba suatu masa dia kelelahan dan membuat kesalahan.
Bahkan jika masa itu tidak terjadi, pada akhirnya Ray bisa membuangnya kapanpun jika sudah tak diperlukan. Sudah hal yang wajar untuk membuang sampah yang tak berguna lagi ataupun bisa membusuk nantinya, kan?
“Mari sudahi ini, kita ubah haluan,” ujar Ray. “Apa kamu sudah mendapatkan kabar dari Leo dan Eric?”
Terumi kini terlihat semakin khawatir, mungkin setelah melihat kondisi Ray yang lumayan menyedihkan membuatnya memiliki pemikiran buruk tentang Leo dan Eric.
“Aku juga tidak tahu. Meski telah mengunjungi kantor pos secara berkala sesuai yang kita sepakati, mereka masih belum mengabarkan apapun.”
Itu cukup mengkhawatirkan, tetapi Ray yakin kedua orang itu takkan bernasib buruk. Untuk beberapa hal Ray merasa kalau Leo memiliki keberuntungan yang lumayan besar. Jika perasaannya itu tepat maka harusnya tak terjadi hal buruk apapun.
“Omong-omong jika kamu tak keberatan ... bolehkah aku tahu rincian mengapa ini semua bisa terjadi?” tanya Terumi dengan sedikit bermasalah.
Dia mungkin mempertimbangkan perasaan Ray saat menanyakannya, tetapi tetap saja sulit menahan perasaan ingin tahu akan hal itu.
Sejujurnya Ray sendiri tahu kalau Terumi akan menanyakan rinciannya. Meski ada beberapa keraguan dalam hatinya karena tak tahu bagaimana cara paling baik untuk menyampaikannya.
“Aku juga penasaran mengapa kamu juga terlibat dengan orang-orang itu,” ujar Terumi. “Tak masalah jika kamu tak mau membicarakannya ... .”
“Yah, ini terjadi tiba-tiba saja,” ujar Ray selagi memejamkan matanya. “Jujur saja, aku membuat kerja sama dengan Indri dan yang lainnya. Ini sesuatu yang penting dan berkaitan dengan pengguna Degree.”
Terumi tampak terkejut dengan hal itu, tetapi tampaknya fokusnya tidak ke dalam hal itu.
“Apa mungkin ... mereka coba membunuhmu dengan ledakan itu?” Terumi mendadak naik pitam, tetapi Ray segera melanjutkan perkataannya.
“Tidak mungkin, mereka tak cukup bodoh untuk bunuh diri bahkan sampai mengorbankan Guren si pembohong itu.”
Berkat ledakan besar tersebut Guren harus menerima kematiannya dengan menyedihkan. Hal itu sudah dikonfirmasi karena tak mungkin ada orang yang bisa selamat dari ledakan dengan jarak sedekat itu.
“Alasanku berkerja sama dengan mereka adalah karena bajingan ini. Di kelompok Indri, gadis kembar itu tampaknya telah terbunuh entah bagaimana. Bahkan bajingan itu berani menampakkan dirinya saat memberikan bom itu pada kami.”
Ray masih ingat jelas hal itu seakan-akan baru saja terjadi kemarin, meski sudah dua minggu berlalu, Ray masih bisa merasakan ketegangan dan kemarahan hari itu.
“Jadi artinya kamu sudah mengetahui pelakunya? Siapa dia?” tanya Terumi dengan tergesa-gesa.
Ray membuka matanya dan menatap Terumi dengan datar, “Pelakunya adalah kamu.”
Wajah yang memberikan bom tersebut bersama dengan Guren yang babak belur adalah wajah Terumi.
Terumi tentunya terguncang karena hal itu dan tersedak napasnya sendiri, reaksinya itu natural, cukup bagi Ray untuk mengkonfirmasi bahwa dia tidak terlibat.
“Lebih tepatnya, si pelaku ini menggunakan wajahmu saat melancarkan aksinya. Selain itu, keparat ini juga menggunakan wajahku untuk membunuh gadis kembar itu.”
“Aku sejujurnya tak peduli jika dia membuat kekacauan di sana-sini, tetapi jika menggunakan wajahku saat melakukannya, maka itu tak bisa ditoleransi.”
Ray menerima kerja sama secara langsung dengan Indri karena wajahnya disalahgunakan untuk melakukan tindak kejahatan. Bahkan sekarang orang itu mungkin menggunakan wajah Terumi untuk bertindak.
“Itu ... bagaimana bisa sesuatu seperti itu terjadi? Apa dia menggunakan trik untuk melakukannya?”
“Aku tak yakin namun itu pastinya disebabkan oleh Degree. Aku harap tak ada hal buruk lainnya terjadi.”
...[*****]...
Di tempat lain, di sekitar monas yang indah dan menyenangkan untuk dipandang. Terdapat dua orang pria sedang memandangnya dalam diam.
Dua orang itu adalah Leo dan Eric yang wajahnya terlihat begitu lelah dan depresi.
“Ini kota yang keras untuk hidup,” ujar Leo, menghela napas sangat panjang.
“Kamu benar. Mengapa Ray tak memberitahukan hal semacam ini lebih awal?” ujar Eric dengan sedikit kesal.
Mereka berhasil bertahan dari keterpurukan saat pertama kali tiba, meskipun harus menginap di kantor polisi karena keduanya terlihat mencurigakan dan mengganggu pejalan kaki.
Beruntung karena aparat kepolisian cukup baik dan ada beberapa yang fasih berbahasa inggris. Keduanya entah bagaimana berhasil membuat identitas dan rekening.
Hal pertama yang keduanya lakukan adalah membeli smartphone untuk memanfaatkan fitur translate karena keduanya tak fasih berbahasa Indonesia.
Berkat hal itu mereka berhasil bertahan di kota tersebut, namun naas baru-baru ini keduanya dirampok saat melakukan perjalanan menggunakan kereta.
Memang kesalahan menaruh barang berharga seperti handphone dan uang cash di tas. Mereka beruntung membawa kartu kredit tetap dalam saku.
“Meski begitu ini menyakitkan karena uang hasil penukaran DP sebagiannya adalah cash. Kita harus berhati-hati lain kali dan memanfaatkan dengan bijak.”
DP amat berharga, uang juga sama namun nilainya tak sebanding dengan DP. Mereka hanya memiliki sedikit uang karena hanya menukarkan sedikit DP saja.
“Ini mungkin di luar rencana, tetapi bagaimana jika kita segera berkumpul dengan Terumi ataupun Ray?” ujar Eric. “Kita tak bisa hidup melarat seperti ini. Bisa-bisa kita bangkrut karena dicuri terus.”
Leo mulai memikirkannya dengan baik. Sebenarnya dia akan menentang gagasan tersebut, tetapi di sisi lain Eric ada benarnya. Keduanya jelas tidak bisa hidup di negeri yang asing bagi mereka.
“Kita cukup beruntung awalnya karena berhasil memenangkan game bonus,” ujar Leo.
Game bonus yang muncul tiga minggu lalu adalah permainan unik dari Secret di mana mereka harus melindungi titik poin yang mereka temukan.
Saat itu Eric dan Leo sedang berjalan-jalan untuk mencari pertolongan, saat permainan itu muncul tak terduga bahwa salah satu titik poin tersebut muncul di dekat mereka.
Titik poin yang dimaksud nyatanya adalah sebuah monolit seukuran tempat sampah yang terbuat dari tanah liat. Keduanya harus tidur di trotolan untuk menjaganya dan sampai dianggap gila. Ketika akhirnya batas waktu yang ditentukan berakhir, monolit tersebut hancur dan meninggalkan flashdisk yang akan dihubungkan ke jam dan mentransfer DP yang dijanjikan
“Meski begitu aku tak menyangka tindakan kita mengganggu banyak orang sampai akhirnya aparat hukum membawa kita karena menganggap kita gelandangan. Apakah mungkin semua nasib jelek itu terjadi karena kesialanmu, Eric?” ujar Leo dengan setengah bercanda.
“Yah, jika dipikir-pikir lagi aku tak pernah bagus dalam gacha ataupun hal yang bergantung pada keberuntungan.” Eric dengan santai mengakuinya.
Diluar dugaan bahwa Eric menanggapinya dengan serius dan mengungkapkan kenyataan kalau dia pembawa sial.
Jika dipikirkan kembali Eric jatuh di tempat yang tak menyenangkan saat pertama kali tiba, tampaknya pernyataan bahwa dia orang yang sial adalah benar adanya.
“Kamu ... luar biasa masih tetap bertahan hidup setelah semua itu.” Leo kagum dan simpati di waktu yang sama.
“Oi-oi, apa maksud—” Eric menghentikan kalimatnya karena merasakan kehadiran seseorang mendekati mereka.
“Tidak kusangka kita akan bertemu di sini.”
Suara yang tidak asing bagi keduanya, tentunya itu di luar dari harapan siapapun bahwa mereka akan bertemu secepat itu.
“Huh, padahal kami sebelumnya berencana untuk berkumpul denganmu,” ujar Leo dengan nada masam.
Eric juga tertawa kecil untuk melengkapi kalimat Leo, “Itu benar, namun siapa yang menduga jika kita akan bertemu di sini, Terumi.”
Orang yang datang ke pada mereka adalah gadis cantik berkelahiran Jepang, dia adalah Terumi. Salah satu rekan yang bisa diandalkan.
“Yah, aku juga tak berharap kita akan bertemu secepat ini. Bagaimana kabar kalian belakangan ini?” tanya Terumi dengan senyuman senang.
Leo menghela napasnya, “Ini bukan hal mudah. Kami mengalami banyak sekali masalah sampai sekarang. Bahkan kami sampai harus menginap di kantor polisi.”
Terumi hanya tertawa kecil, “Ha ha ha, aku jadi penasaran tentang apa saja yang kalian alami sampai harus datang ke kantor polisi.”
“Yah, ada banyak hal,” ujar Eric. “Omong-omong, apa kamu sudah bertemu dengan Ray?”
Saat Eric membahas itu, wajah Terumi sedikit sedih.
“Ada apa?” tanya Leo. “Kamu tampak murung.”
“Ya. Ini tentang Ray.”
“Ada apa dengannya?” tanya Eric.
“Dia ... mengkhianati kita. Dan, berusaha membunuhku.”
Eric dan Leo terkejut di waktu yang sama, mereka tak berharap kalau Terumi akan menyampaikan berita tak terduga itu.
“Untuk itulah aku mencari kalian ... kita harus memikirkan cara untuk membunuhnya sebelum dia menjadi gila.”