The Degree

The Degree
Tujuan Arthur



Indri sadar betul jika pertarungan dengan Arthur pecah di sini maka mereka akan lekas tertangkap. Di tengah tentara yang berkumpul, membuat keributan sama seperti seekor belalang mengacau di sarang lebah.


“Benar juga, itu mungkin ide bagus,” Arthur mendekat dengan santai dan tersenyum tipis. “Anggap saja sebagai balas dendam atas kematian orang-orang yang aku percayakan kepada kalian.”


Indri tak mampu mengatakan apa-apa, alasan hubungan keduanya sangat buruk sekarang adalah karena hal itu.


Dulu dia pernah bekerja sama dengan Arthur untuk menampung orang yang terluka, tetapi tidak terduga seseorang berhasil membunuh Rani dan Rina. Dari hal itu tentu saja anggotanya juga mati karena telat mendapatkan kelompok baru.


Indri telah melakukan pertemuan tidak langsung dengan Arthur untuk membahasnya, tetapi alasannya tidak diterima.


“Jangan pikir hanya kamu yang mendapatkan kerugian dari hal itu,” ujar Indri dengan sedikit kesal saat kembali mengingatnya. “Pihakku juga mengalami kerepotan karena ini.”


“Percuma menjelaskannya, dia takkan mendengarkan!” seru Ben saat menarik pisaunya.


Berharap pertempuran akan pecah namun tak terduga Arthur cukup banyak diam dan tak bertingkah. Indri tidak merasa Arthur akan memulai perkelahian, tetapi dia mesti terus berwaspada.


‘Aku sangat yakin jika Arthur orang yang sama berbahayanya dengan Ray. Jangan sampai aku salah bertindak,’ pikir Indri.


“Itu hanya alasan kalian untuk menutupi rencana busuk melemahkanku, bahkan mengambil keuntungan dariku,” ujar Arthur, “atau begitulah yang aku percaya pada awalnya.”


Indri dan Ben sama-sama terkejut dengan pernyataan buatan Arthur.


“Situasi saat ini sudah semakin jelas. Ada keparat lain yang baru menunjukkan taringnya dan membuat ulah. Aku yakin, setidaknya kita memiliki musuh yang sama sekarang ini.”


Bisa disimpulkan bahwa Arthur juga mengalami kesulitan oleh orang yang sama dengan yang membunuh Guren.


Indri tentu takkan memaafkan orang yang membunuh tiga rekannya, bahkan sekarang mungkin Hiromi dan Hiroshi tidak aman nyawanya.


“Dari perkataan itu tampaknya kamu memiliki urusan tersendiri dengan bajingan ini, ya?” ujar Ben, berniat menyerang tetapi Indri menghentikannya.


“Sekarang bukan waktunya untuk saling bermusuhan,” ujar Indri, membuat Ben berhenti dan menatapnya.


“Apa yang ingin kamu lakukan?” bisik Ben.


Indri hanya menatap Arthur dengan keyakinan tersendiri. Tentu ada keraguan, tetapi tidak ada pilihan lain yang pantas.


“Katakan apa yang kamu mau, Retsuji Arthur.”


‘Kita memiliki musuh yang sama’ katanya, hanya ada satu kesimpulan yang bisa diraih melalui kalimat tersebut.


Indri merasa tidak enak karena seakan dirinya mencampakkan Ray, tetapi untuk saat ini dia tak bisa pilih-pilih.


“Kebutuhan kita berbeda, tetapi tujuan untuk menghancurkan orang ini tetap sejalan. Berikan aku kontribusi kalian menghentikan ini, gantinya akan kuberikan Informasi yang telah terkumpul.”


Hal itu sedikit mengganggu, Indri tahu jika Arthur memiliki seseorang yang ahli menganalisis data, tetapi harusnya tidak sampai membuatnya sangat percaya diri seperti ini.


“Jika berbicara tentang kebutuhan lainnya tentu saja akan berbeda. Aku tidak tahu apa yang ingin kamu dapatkan dari menghancurkan bajingan ini. Namun, aku akan ikut jika itu menghancurkannya.”


“Tentu saja, kondisi yang kamu tawarkan masih jauh dari kata cukup,” ujar Indri.


“Informasi memang berguna, tetapi bisa saja itu sesuatu yang tak mengejutkan kami,” Ben menambahkan.


Bisa saja Arthur hanya memiliki informasi yang sudah Indri dan Ben ketahui. Jika begitu adanya maka tak ada gunanya kerjasama ini.


“Tenang saja. Aku yakin kalian sama sekali tidak mengetahui informasi ini. Tentang mengapa tentara hanya mengepung tempat ini, mengapa tidak ada pergerakan berarti. Dan, mengapa segalanya semakin tambah rumit.”


Mengapa para tentara hanya diam menunggu? Mereka sama sekali tidak melakukan pergerakan seperti mencoba menyusup atau apapun caranya.


Ada banyak tentara elite datang dari negara ini, mereka adalah sekelompok orang yang sudah dilatih untuk berbagai situasi. Mustahil harusnya jika mereka tidak bisa menangani situasi ini.


“Kamu berkata seolah-olah kamu mengetahuinya, ya,” ujar Ben. “Bahkan jika kamu mengetahuinya, selama sumbernya tidak jelas maka validasi informasinya perlu dipertanyakan.”


Kebohongan mudah dibuat dan diucapkan, lisan tak dapat dipercaya tanpa adanya sebuah jaminan.


Mereka perlu mengetahui posisi Arthur saat ini dan apa yang membuatnya bisa memiliki kepercayaan diri untuk membagikan informasi miliknya.


“Bisa dibilang posisiku adalah tempat terbaik mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Selain itu—” Arthur menjentikkan jarinya dengan santai, “—kalian tidak memiliki pilihan untuk menolak.”


Delapan tentara dengan persenjataan lengkap segera mengepung Indri dan Ben dalam waktu singkat.


“Sejak kapan?!” jerit Indri karena terkejut.


Keduanya tak mampu bertindak lebih jauh lantaran posisi mereka jelas terpojok. Arthur seakan-akan sudah mengetahui bahwa mereka akan melakukan pertemuan di sini.


“Jangan salah, aku takkan longgar seperti sebelumnya,” ujar Arthur, menatap dingin, “Sayangnya kita takkan menjalin kerja sama setara. Pilihan kalian saat ini adalah mematuhiku.”


Indri dan Ben tidak bisa memilih sejak awal karena Arthur tak memberikan opsi selain menurutinya.


Kini dia mulai merasakan perbedaan besar antara Arthur saat ini dengan sebelumnya. Dia memiliki aura yang seakan ingin menelan segalanya.


Meski begitu Indri sama sekali tidak takut akan ancaman Arthur saat ini.


“Fu fu fu, memang benar bahwa kamu berbeda dari sebelumnya. Namun bukan berarti aku akan langsung menurutimu begitu saja.”


Indri tetaplah Indri, dia takkan pernah gentar bahkan jika dihadapkan oleh kematian. Selain itu, Indri memiliki keraguan jika Arthur akan bertindak untuk membunuhnya.


Seandainya Arthur sudah tahu sejak awal bahwa Indri dan Ben menyusup, maka mengapa dia tak segera melakukan perburuan. Arthur justru keluar dari jalan dan datang untuk berbicara.


“Kamu bilang kita tak bisa menjalin kerja sama yang setara? Fu fu, kera berbicara sangat tinggi namun kera tetaplah kera. Mereka takkan diagungkan bahkan jika cerdas.”


“Aku rasa tidak bagus memprovokasinya saat ini, Indri,” ujar Ben dengan sedikit khawatir.


Meski begitu Indri tidak terlihat peduli kepada peringatan Ben.


“Kamu datang dan coba berbicara. Jika aku jadi kamu, tentu saja aku akan langsung membunuh daripada bertele-tele.”


“Apa yang coba kamu katakan?” tanya Arthur, sedikit menahan emosinya.


“Mudah. Ada sesuatu yang ingin kamu dapatkan dariku, oleh karena itu kamu tak membunuhku.”


Indri tidak ragu akan kesimpulan yang dia buat. Ada satu hal yang paling mungkin menjadi jawabannya, dan Indri tahu dengan jelas.


“Benar, jika harus menebak ... kamu ingin menggali apapun tentang Ray dari kami, kan?” ujar Indri dengan mengejek.


Dia bisa melihat bahwa Arthur sedikit berkerut karena nama Ray disebutkan. Indri kemudian yakin bahwa tebakannya tidaklah salah.


“Kamu pasti ingin mengalahkan Ray di sini, kan?” tanya Indri, menuju poin utama mengapa Arthur datang kepadanya.


Baik Indri maupun Arthur tahu dengan jelas bahwa Ray bukan pria yang akan mengabaikan situasi ini.