The Degree

The Degree
Hiroshi VS Sung Jin



“Apa kamu sungguh akan menjalankan rencana itu, Ray?” tanya Indri, dia masih sedikit tidak percaya. “Ini tidak seperti kamu. Tidak kusangka bahwa kamu akan menggunakan hal sederhana seperti itu.”


Indri berharap bahwa Ray akan menjalankan rencana yang lebih kompleks dan juga rumit seperti biasanya. Dia akan melakukan berbagai hal yang bisa berjalan sendirinya tanpa perlu baginya turun tangan langsung.


Sekarang berbeda, Ray justru bisa dibilang menggunakan cara yang kasar untuk menghancurkan kelompok itu.


“Aku yakin tentang ini. Bahkan jika caranya begitu mencolok, ini salah satu yang meyakinkan.”


Ray menjelaskan bahwa mereka tak bisa menggunakan serangan frontal karena besar kemungkinan kalah dalam jumlah dan kekuatan keseluruhan.


Selain itu tempat orang-orang itu tidak memungkinkan untuk melakukan penyerangan terang-terangan mengingat aparat kemanan bisa datang kapanpun. Jika itu terjadi maka mereka akan berada dalam kesulitan untuk menghindari perburuan dari kepolisian.


Beruntung jika berhasil meloloskan diri, tetapi bagaimana jika tidak? Mereka mungkin akan mati karena dugaan terorisme.


“Selain itu, kita akan menggunakan kekacauan tersebut untuk menghabisi orang-orang yang meloloskan diri. Bahkan jika mungkin aku ingin merenggut kuncinya.”


Setidaknya keparat itu harus memiliki dua kunci atau lebih mengingat dia juga mengambil milik Rani.


Ben bersandar ke kursinya dan menghela napas panjang, “Kita akan menggunakan pesawat untuk menghancurkan gedung itu, ya? Ini mengingatkanku dengan kejadian di masa lalu. Tentang pesawat yang menabrak Empire state.”


Itu terjadi sudah sangat lama, bahkan Ray dan yang lainnya belum lahir. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah mengingat banyak konspirasi dan berbagai hal yang belum diketahui hingga saat ini.


“Kita akan membuat tragedi yang sama untuk kedua kalinya, ya?” gumam Indri.


Ray berencana meruntuhkan gedung itu dan menghabisi siapapun di dalamnya. Tentunya akan repot jika pemilik kunci tertimbun di dalamnya namun Ray tak terlalu memikirkannya.


Orang yang bisa meniru dan menyamar itu adalah ancaman, selama bisa menguburnya maka tak ada masalah. Selain itu, Secret harus melakukan sesuatu tentang itu. Tidak lucu jika hanya ada empat kunci emas karena kunci abu-abu hilang.


“Ya. Aku tidak cukup bodoh untuk berhadapan langsung dengan anjing dunia bawah. Bahkan jika mereka tak hancur, kehancuran gedung itu sudah cukup.”


Ray tidak tahu siapa nama kelompok tersebut dan seperti apa pemimpinnya. Menghadapi lawan yang tidak diketahui informasinya secara mendetil adalah cara yang buruk untuk bertarung.


“Tunggu sebentar,” Indri mengeluarkan ponselnya yang berdering dan pergi keluar untuk melakukan panggilan.


Ray tentu tak coba menghentikannya karena itu bukan urusannya. Sekarang hanya tersisa dirinya dan Ben saling memandang.


Keduanya tak memiliki apapun yang bagus untuk dibicarakan, suasananya terasa canggung. Ben mungkin tidak tahan tentang itu sampai akhirnya dia memulai percakapan.


“Hey, Ray. Aku ingin tahu, apa yang akan kamu lakukan setelah semuanya berakhir?”


“Apa yang akan aku lakukan ... aku tak memikirkannya sejauh itu.”


Ray hanya fokus pada apa yang ada di depannya sampai dia tak memikirkan jauh ke masa depan. Tentunya, prioritas utama Ray adalah tetap hidup sampai uji coba Secret berakhir. Setelah itu dia tak tahu harus apa.


“Aku tidak pernah memiliki tujuan besar seperti mimpi ataupun cita-cita untuk diraih. Bagaimana denganmu?”


“Benar juga,” Ben tersenyum. “Besar kemungkinan bahwa Degree akan melekat padaku sampai akhir hayat. Aku tak tahu bagaimana ini akan berakhir, tetapi setidaknya aku ingin menampilkan pantomim ke seluruh dunia.”


Ben tampak begitu mencintai pantomim, hal itu sudah jelas adanya mengingat dia memiliki Degree itu.


Sekali lagi, Degree adalah bentuk dari mimpi, cita-cita, harapan dan segala hal yang dilakukan seseorang. Degree seperti alat untuk mewujudkan identitas sejati dari seseorang ataupun mimpinya.


“Dengan Degree-mu itu aku rasa mimpimu bisa segera terwujud ”


“Ya, harap saja aku tetap hidup sampai mewujudkannya,” Ben tertawa kecil sebelum memandang Ray penuh makna. “Bagaimana denganmu? Apa kamu sungguh tidak memiliki apapun untuk dicapai? Bagaimana jika kamu mengikuti alur dari Degree yang kamu miliki.”


Jika berbincang tentang Degree maka Ray tak bisa menjawabnya dengan yakin. Degree-nya bukan sesuatu yang bisa dia ikuti sebagai jalan hidup seperti halnya Ben.


“Entahlah, sejujurnya aku ragu apakah Degree-ku benar-benar mewujudkan jati diriku atau tidak. Bahkan aku tak mengerti bagaimana itu berfungsi.”


Ray tahu bahwa dirinya mengungkapkan informasi yang tak harusnya dikatakan kepada Ben, namun untuk beberapa hal dirinya merasa harua membicarakannya.


“Kamu tak bisa menggunakan ... Degree-mu?” Ben tercengang karenanya. “Apa itu artinya ... kamu bertahan sejauh ini ... tanpa menggunakannya?”


Ray hanya memandang dengan wajah yang mengatakan itu bukan hal mengejutkan.


“Apa ada masalah?”


Ben menenggak air liurnya, tanpa sadar punggungnya berkeringat dingin. Ray mungkin berpikir itu bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi pada nyatanya dia benar-benar sesuatu.


‘Orang gila macam apa yang bisa bertahan dari banyak insiden mengerikan itu tanpa Degree-nya?’


Semua orang bertahan dengan mengandalkan dan bergantung kepada Degree-nya. Bahkan Ben tak cukup percaya diri mengatakan bahwa dia bisa selamat sampai hari ini andaikan tak mengandalkan Degree-nya.


‘Itu artinya orang ini amat berbahaya, dia bisa melampaui mukjizat Degree.’


Ben kini memahami mengapa Indri tak ingin bersebrangan dengan Ray. Sebuah pilihan tepat untuk tak mencoba datang untuk menantangnya.


“Kamu benar-benar sesuatu ... sejauh ini hanya kamu yang aku ketahui tidak bisa menggunakan Degree.”


“Yah, itu karena aku tak pernah bercerita banyak tentang Degree-ku,” ujar Ray, mulai tersenyum tipis. “Apa kamu penasaran dengan Degree seperti apa yang aku miliki? Dan, kamu pastinya ingin tahu mengapa aku tak bisa bertindak sejalan dengan Degree-ku.”


Melihat reaksi Ben sudah cukup jelas, dia memiliki keingintahuan yang besar akan itu. Alasan Ray tak berbicara banyak tentang Degree-nya karena itu menguntungkan.


Memang menyembunyikannya adalah sebuah pilihan, tetapi Ray sendiri tak merasa akan menimbulkan banyak masalah hanya dari membeberkannya untuk situasi saat ini.


“Aku memang penasaran tentang itu, hanya saja untuk mengetahuinya aku yakin kamu akan meminta sesuatu sebagai timbal balik. Jadi, aku akan lewat untuk saat ini,” Ben tersenyum masam, dia merasa seperti melewatkan sebuah kesempatan emas.


“Begitu, sangat disayangkan. Yah, aku sendiri tidak begitu peduli jika Degree-ku terungkap luas. Namun untuk keamanan aku memang memilih menyimpannya dengan diriku sendiri.”


Ray tidak serius ingin mengatakan tentang Degree-nya, tetapi andaikan Ben mau mengetahuinya maka Ray takkan sungkan. Seperti yang dipikirkan Ben, Ray akan meminta hal lain sebagai gantinya. Misalnya adalah Degree milik Indri.


Meski dengan adanya catatan milik Ryouma, Ray masih tidak memiliki gambaran jelas tentang Degree-nya.


‘Catatan itu hanya memberitahu bahwa Indri akan tertidur dan mulai mengigau bahkan mengalami hal aneh lainnya seperti kelelahan sampai ketakutan.’


Ray tidak tahu apa yang dilakukan Indri dalam tidurnya itu namun pastinya dia sedang menggunakan Degree-nya. Hanya saja, hal seperti apa yang bisa dilakukan orang saat tidur?


Beberapa menit kemudian Indri kembali dengan tergesa-gesa, dia segera membisikkan sesuatu kepada Ben. Entah apa itu namun wajah Ben segera memburuk dan dia berniat pergi bersama Indri.


“Maaf atas ini, Ray. Kami harus pergi untuk mengurus beberapa hal. Kita akan melanjutkan pembicaraannya lain waktu,” ujar Indri berjalan pergi. “Ayo Ben!”


“Ya!”


Ray ingin mengatakan sesuatu, tetapi keduanya pergi dengan cepat, meninggalkan Ray sendirian di restauran tersebut.


Dia tidak senang dengan situasinya saat ini dan memandang mejanya.


“Sial, aku terjebak lagi. Para bajingan itu ... apa mereka memiliki kebiasaan meninggalkan tagihan kepada orang lain?”


Itu jadi kedua kalinya Ray harus membayar tagihan makan Ben dan pertama kalinya membayar milik Indri. Bagian paling mengejutkannya adalah keduanya memesan makanan yang tak murah, bahkan memiliki nafsu makan yang besar.


Ray merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya, dia mulai mengerutkan alisnya.


“Parahnya lagi aku tak membawa kartu kredit. Aku tak yakin sanggup membayarnya dengan uang yang kumiliki.”


Sekarang, hanya ada dua hal yang bisa saja terjadi pada Ray.


Pertama, dia mungkin harus mencuci piring di restauran karena tak mampu membayarnya, atau yang kedua. Pergi dan melarikan diri tanpa membayar.


...****************...


“Sial! Kenapa baterainya habis disaat seperti ini?!” Hiroshi mengumpat kesal. Tentu saja, itu karena saat dia menelepon Indri dan meminta pertolongan, Hiroshi awalnya ingin menyampaikan penemuannya namun tak sempat karena handphonenya mati.


Ada beberapa orang botak dan gemuk menggunakan jas hitam sedang berlarian. Mereka adalah para pengejar yang saat ini sedang berusaha untuk menangkapnya.


Hiroshi kembali bersembunyi dan menghela napas panjang.


“Sial, ini jadi semakin sulit,” gumam Ryouma.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang wanita seumurannya, rekannya yang juga dikejar oleh orang-orang itu.


Wanita itu adalah seseorang yang memiliki Degree sepertinya, seorang Chuunibyou. Wanita yang entah bagaimana sangat mengidolakan kunoichi karena menonton anime bertemakan ninja.


Indri awalnya tak berniat mengakuisisi kelompok wanita itu karena berurusan dengan Hiroshi sendiri menyebalkan, tetapi jika berbincang tentang kemampuan maka wanita itu tak bisa diremehkan.


“Kita hanya harus bersembunyi dulu sampai Ben dan nona datang. Aku tak yakin bisa melarikan diri dari mereka mengingat tempat ini sudah dikepung.”


Orang-orang itu telah disebar luaskan dan bersembunyi di jalan-jalan untuk mencegat mereka melarikan diri. Singkatnya mereka telah terjebak dan hanya perlu waktu sampai keduanya tertangkap.


“Di mana dua bocah itu? Apa sudah ketemu?!”


“Belum! Mereka seperti tikus yang lincah!”


“Sial! Jangan sampai melepaskan mereka. Kita tak boleh membiarkan rencana kita terungkap!”


“Apa yang harus kita lakukan, Hyung?”


“Apa yang harus dilakukan? Tentu saja cari terus, bodoh! Kita sudah mengepung tempat ini sehingga bajingan kecil itu tak bisa lolos!”


Hiroshi menggertak giginya, situasinya sudah semakin jelas bahwa mereka takkan lolos tanpa ketahuan.


“Setidaknya salah satu dari kita harus ada yang selamat untuk menyampaikan penemuan kita,” Hiroshi memandang gadis di sebelahnya. “Hiromi, kamu harus kembali dengan selamat dan memberitahu nona juga Ben tentang ini.”


“Apa?” Hiromi tercengang karena keputusan Hiroshi. “Apa yang akan kamu lakukan?”


Jawabannya sudah jelas, untuk membiarkan satu orang kabur dari kejaran banyak serigala, maka seekor domba harus berkorban untuk menyelamatkan domba lainnya.


“... aku akan mengalihkan perhatian mereka dan coba membuat keributan. Kamu manfaatkan itu dan pergilah.”


Hiromi menentang keputusan yang dibuat Hiroshi karena itu sama saja dengan dia menumbalkan dirinya sendiri.


“Aku tak bisa menerima itu! Jika kamu tertangkap maka itu sama artinya dengan kematian!”


Tanpa perlu diberitahu Hiroshi telah memahaminya dengan jelas. Cara terbaik untuk membungkam rencana yang bocor adalah dengan mengeliminasinya. Itu hal yang sederhana dan akan dilakukan siapapun.


“Tenang saja, aku tak berniat mati di sini. Setidaknya, aku yakin mereka takkan membunuhku.”


“Dari pada rencana, lebih tepatnya disebut dengan taruhan.”


Hiroshi sendiri ragu untuk melakukannya atau tidak mengingat kemungkinannya memenangkan taruhan itu kecil. Meski begitu dia tak bisa banyak membuang waktu karena tak memiliki banyak pilihan.


“Semua ini akan bergantung padamu, Hiromi. Jika kamu berhasil meloloskan diri maka seharusnya semua akan berjalan sebagaimana harusnya.”


Hiroshi tidak berniat membeberkannya, tak ada waktu baginya untuk menjelaskan secara terperinci.


“Ingat, hanya ada satu kesempatan untukmu. Jangan sia-siakan!”


Meninggalkan kalimat itu Hiroshi lekas keluar dari persembunyiannya dan melarikan diri. Hiromi ingin mengatakan sesuatu tetapi tak sempat karena para pria botak mulai mengejar Hiroshi.


Dengan pahit hati Hiromi hanya bisa menyampaikan, “Mohon baik-baik saja!” Hiromi mulai berjalan pergi dengan hati-hati.


“Itu dia! Bocah itu berlari ke arah barat, cepat kejar dia!”


Hiroshi berlari dengan gesit melalui gang-gang kecil yang sepi akan orang. Banyak yang mulai menembakinya namun sejauh ini belum ada satupun mendarat di tubuhnya.


“Tertangkap kau, bocah!” Sung Jin mencegatnya dari depan dan menembak Hiroshi, akan tetapi dia juga cekatan.


Hiroshi dengan cepat menarik katananya dan menangkis pelurunya dalam satu gerakan.


“Apa?!” Sung Jin tercengang.


Hiroshi tersenyum kecil sebelum menendang dinding di sebelahnya, dia kemudian lompat dan menjadikan kepala botak Sung Jin sebagai pijakan. Kepungan dua arah itu dilewatinya seakan bukan apa-apa.


Para mafia itu terkesima akan aksinya yang luar biasa.


“Apa itu kekuatan super seperti yang dimiliki Tuan Muda dan Haiyan kecil?”


“Luar biasa. Aku juga menginginkannya.”


Sung Jin merasa kesal dan benar-benar marah. Tak hanya berhasil melewatinya, tetapi Hiroshi juga menginjak kepalanya yang bagi Sung Jin sendiri hal itu seperti harga dirinya diinjak.


“Apa yang kalian lakukan cepat kejar bocah keparat itu!”


“Ah— baik, hyung!” Anak buah Sung Jin langsung tegap dan berlari mengejar Hiroshi karena takut oleh murka Sung Jin.


Di sisi lain Sung Jin tak bergerak dan menatap arah tempat Hiroshi melarikan diri. Sung Jin mengambil ponselnya dan mencari kontak anak buahnya yang berjaga di sisi lain.


“Kalau tak salah bocah brengsek itu memiliki satu teman lagi. Maka artinya dia hanya umpan,” gumam Sung Jin.


Saat panggilannya diangkat Sung Jin langsung memerintahkan, “Jaga sisi timur sebaik mungkin!”


“Apa? Bukankah bocah itu lari ke barat?”


“Itu hanya umpan. Bajingan cilik ini tidak bodoh, dia mengorbankan dirinya agar rekannya berhasil melarikan diri.”


“Baiklah!”


Panggilan diakhiri, Sung Jin tersenyum puas. Dengan itu hanya tinggal menunggu waktu sampai Hiroshi tertangkap.


“Rusa kecil takkan pernah bisa membohongi harimau hutan yang pandai berburu.”


Sebagai orang yang hidup di dunia gelap, Sung Jin tidak naif ataupun bodoh. Pola seperti itu akan mudah dibaca olehnya. Kunci untuk mengetahui polanya adalah tetap berkepala dingin tak peduli semarah apapun dia saat ini.


Di sisi lain Hiroshi terus berlari selagi mengulur waktu, dia membuat kekacauan seperti menjatuhkan kotak-kotak sampah dan hal lainnya untuk menghambat para pengejar.


Jika beruntung dia mungkin bisa meloloskan diri, tetapi jika tidak maka dia harus memenangkan taruhannya.


Meski begitu, Hiroshi merasa aneh karena para pengejar itu tak sebanyak yang dia harapkan. Firasatnya menjadi buruk, kemungkinan besar mereka telah menyadari rencananya.


“Tch! Ini lebih cepat dari yang aku harapkan!”


Hiroshi sadar bahwa para anjing dunia bawah itu akan menyadari dirinya hanya umpan, tetapi dia tidak berharap akan secepat ini. Tak ada waktu untuk mengganti rencana apalagi memberitahu Hiromi tentang ini.


“Aku harus membuat kekacauan yang besar!”


Hiroshi memegang sakunya, awalnya dia tak berencana menggunakan benda itu karena tidak sesuai dengan samurai, tetapi Indri terus memaksanya untuk membawa.


Keadaan sekarang darurat, Hiroshi takkan membiarkan Hiromi tertangkap. Oleh karena itu dia harus memancing kemarahan besar para mafia.


Saat berada di persimpangan gang Hiroshi meningkatkan kecepatan larinya.


Para mafia melakukan hal yang sama meskipun tak sanggup mendekatinya.


“Sial! Seberapa besar stamina bocah ini?!”


Para mafia mulai kehabisan napas, saat mereka tiba di persimpangan dan berbelok, sebuah benda bulat bergelinding. Mereka tahu benda itu tentunya, sebuah benda akrab yang berbahaya.


“KEPARAT!”


DUAR!


Ledakan besar menelan mereka dan menciptakan kematian singkat.


Hiroshi terus berlari selagi mengabaikan ledakan di belakangnya. Setidaknya dia berhasil menghentikan para pengejar itu dan kini dia mengubah arah ke timur.


Di depannya terdapat seorang mafia yang buru-buru menarik pistol dari sakunya, tetapi Hiroshi bergerak lebih cepat.


“Dasar tikus kecil!”


Pelatuk ditariknya dan menembakkan beberapa peluru. Hiroshi mulai berlari zig-zag dengan cepat dan menghindari semua serangan itu.


“Maaf, matilah dalam damai!” Hiroshi menarik pedangnya dan memotong kepala mafia selembut memotong tahu.


Tanpa menghiraukan darah yang mengalir, Hiroshi berlari cepat untuk membuat keributan yang lebih besar.


“Ada tersisa satu bom lagi, dan aku memiliki pistol dengan tiga peluru saja. Aku harus menggunakannya dengan bijak.”


Saat Hiroshi berlari dan keluar gang, dalam sekejap mata tangan besar berada tepat di depan wajahnya. Dia tak sempat merespon dan harus menerima benturan keras di wajahnya.


Hidungnya berdarah, pandangannya kabur dan berkunang-kunang. Sedetik dia hampir kehilangan kesadaran, tetapi pada akhirnya Hiroshi berhasil bangkit.


Dia berdiri selagi terhuyung-huyung dan menemukan pria botak yang memimpin mafia menjadi pelakunya.


“Kamu cukup tangguh untuk seukuran tikus kurang ajar.”


Itu adalah Sung Jin yang memberikan pukulan tepat di wajah Hiroshi. Orang itu sudah menebak bahwa Hiroshi akan berputar arah. Meskipun ledakan sebelumnya mengkhawatirkan namun dia tak sia-sia menunggu di sana.


Hiroshi meletakkan tangannya di gagang katananya dan menjaga jarak. Alasan dia tak menyerang sederhana, pria di depannya jelas bukan orang lemah.


Selain itu, kondisi Hiroshi saat ini cukup parah berkat pukulannya. Oleh karena itu dia berencana mengulur waktu dengan berbicara.


”Aku sudah mendengarnya, bahwa ada sekumpulan manusia dengan kekuatan super atau bakat aneh. Tampaknya kamu menjadi salah satu dari mereka mengingat kecepatan gerak, menghindar dan kemampuanmu tak cocok dimiliki remaja sepertimu.”


Sung Jin mengeluarkan pistolnya dari saku, hal itu membuat Hiroshi semakin berwaspada. Saat ini visinya masih kabur sehingga sulit untuk melihat ke arah mana Sung Jin akan menembak nantinya.


Namun diluar dugaan Hiroshi, bukannya menembak Sung Jin justru membuang pistolnya dan malah mengeluarkan dua pisau lipat.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Hiroshi karena penasaran.


“Apa lagi kalau bukan bertarung,” ujar Sung Jin. “Aku penasaran tentang seberapa kuat manusia super sepertimu. Sebelumnya aku tak bisa menang adu panco dengan Dong Wok karena badan dan fisiknya yang besar. Namun bagaimana jika denganmu?”


Sung Jin penasaran apakah dia yang tak memiliki kekuatan super apapun akan sanggup menandingi mereka yang memilikinya. Meski awalnya sulit dipercaya jika ada manusia yang memiliki kekuatan seperti itu, setelah melihat Haiyan dan Dong Wok, tak ada pilihan bagi Sung Jin untuk percaya.


“Kamu pasti sudah gila. Membuang keuntunganmu hanya untuk hal sia-sia.” Hiroshi perlahan mendapatkan kembali pengelihatan dan ketenangan dirinya.


“Ini tidak sia-sia. Kamu mungkin sadar bahwa kami telah menyadari bahwa dirimu hanya umpan sementara rekanmu melarikan diri. Untuk alasan itu kamu memutar arah dan membuat kekacauan agar kami fokus padamu.”


Hiroshi kehabisan kalimatnya, dia mengerutkan alis karena Sung Jin berhasil menebak semuanya. Seperti yang diduga bahwa tak mudah membodohi bajingan yang hidup di dunia kotor.


“Kamu naif bocah. Kamu hanya ikan besar di kolam yang kecil dan tak mengenal luasnya samudra.”


Sung Jin tahu semua siasat Hiroshi berkat pengalamannya berhubungan dengan para sampah di dunia yang kotor.


“Jangan khawatir pada apapun, rekanmu akan segera tertangkap. Sekarang kamu telah mendapatkan kembali fokusmu, maka bertarunglah dengan serius.” Sung Jin mulai memasang kuda-kudanya selagi tersenyum.


“Jangan menyesali apa yang sudah kamu putuskan.” Hiroshi mau tak mau harus menghadapinya jika ingin segera menyelamatkan Hiromi.


“Jangan khawatir. Aku sudah memiliki banyak penyesalan sehingga takkan ada yang bisa memperburuknya lagi.”


Keduanya diam selama beberapa waktu, sebelum akhirnya Sung Jin mengayunkan tangan besarnya secara horizontal.


Hiroshi sedikit menunduk dan menghindarinya, tetapi serangan lainnya datang secara vertikal. Sekali lagi dia menghindarinya namun sekarang tendangan kuat datang ke arahnya.


Tanpa sempat merespon Hiroshi harus menerima tendangan tersebut. Dia mulai bertanya-tanya satu hal. Meski Sung Jin memiliki badan yang besar namun dia bisa bergerak secepat itu.


Hiroshi kemudian membetulkan posturnya dan menerjang dari depan. Pisau dan katananya saling beradu sampai menimbulkan percikan.


Jika berurusan dengan beradu senjata seperti ini, Hiroshi tentu akan keluar sebagai pemenang. Sung Jin jelas mulai kewalahan dan harus menerima beberapa goresan di lengannya.


Sung Jin mulau mengayunkan tangannya ke arah Hiroshi dengan tujuan menusuk kepalanya, tetapi Hiroshi menahan lajunya dengan katananya. Meski begitu tujuan Sung Jin sebenarnya adalah hal itu.


Dia membuat Hiroshi harus menahan pisau di tangan kirinya tersebut, sementara dia mengayunkan tangan kanannya yang terluka secara asal. Tindakannya tersebut membuat darah di tangannya mengenai mata Hiroshi dan membutakannya.


“Kena kau!” Sung Jin memberikan tendangan yang kuat di dada, Hiroshi terbentur ke tembok kemudian.


“Kuakui kamu kuat, tetapi sangat naif.” Sung Jin menendang kepala Hiroshi ke dinding dengan cukup kuat.


“Kamu ... curang!” Hiroshi mengumpat saat kepalanya mulai berdarah.


“Tak ada curang dan jujur dalam pertarungan hidup-mati bocah. Hanya ada pemenang dan pecundang.”