
Untuk saat ini semuanya dialokasikan ke sebuah tempat yang seperti hotel berbentuk lorong panjang yang tiada akhir dan di tengahnya terdapat sebuah aula besar yang indah.
Aula besar tersebut dihiasi oleh tanaman seperti bunga, pepohonan teh dan bangku taman yang menambahkan keindahannya. Kupu-kupu juga tampak menghiasinya dan bagian luar biasanya adalah ketika malam tiba.
Hewan yang telah dianggap punah muncul setiap malam yakni kunang-kunang. Di kemajuan zaman di mana malam tak lagi menakutkan, hewan cantik yang menjadi penerang pertama manusia mengalami kepunahan, namun entah bagaimana Secret mendapatkannya.
Mungkin mereka mengembangbiakannya, atau menemukannya di tempat tertentu yang tak terjangkau manusia di mana hewan ini bertahan.
Meski begitu sebenarnya malam tak benar-benar datang ke tempat ini. Seperti tahap tutorial, para peserta tak diizinkan melihat keluar pada tahap ini. Selama dua bulan mereka akan berada di sini untuk mengistirahatkan tubuh dan mental.
Dalam masa pemulihan tersebut Secret juga menyediakan berbagai hiburan lain seperti bioskop, wahana dan hal-hal lain yang tidak memungkinkan untuk menghubungi dunia luar. Segala macam hiburan tersebut bisa diakses melalui DP.
‘Ini seperti negara yang mengisolasikan diri dari dunia luar.’ Begitu pikir Ray saat pertama kali tiba.
Sekarang sudah tiga hari sejak ia datang dan bisa dibilang dirinya beradaptasi dengan baik. Semua orang mendapatkan kamarnya pribadi secara terpisah, meski tak ada penempatan khusus asrama seperti khusus pria dan wanita.
Selama tiga hari ini Ray tak melakukan apa-apa selain menyendiri di kamarnya untuk beristirahat. Ia tak khawatir soal makan dan minum karena Secret menyediakannya secara gratis meski pilihannya terbatas pada ransum tentara.
Jika mau Ray bisa membelinya di mall namun ada beberapa hal yang membuatnya tak melakukan itu. Masalahnya ada beberapa hal yang tidak jelas pada tahap ini.
— DP: 10.545 —
Ray memiliki banyak DP dari menjarah orang dan mencuri sisa poin milik Erina. Harusnya ada lebih banyak yang dimiliki wanita itu namun tampaknya perang yang gagal di Open World menyebabkan semuanya sia-sia.
“Aku tak bisa menggunakannya dengan sembarangan. Sampai saat ini tidak pernah ada penjelasan fungsi sebenarnya DP.”
Sejauh ini semua orang memiliki stigma bahwa DP adalah mata uang khusus yang diberikan Secret untuk membantu mereka untuk membeli barang apapun yang tersedia di fitur Market.
“Mudah berasumsi bahwa DP memang hanya digunakan untuk Market. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa DP berperan besar pada tugas yang akan datang.”
“Selain itu, tempat ini sendiri cukup berbahaya. Dari serangan Rebellion sebelumnya, sama sekali tak ada keraguan mereka ada di sini.”
Saat Virgo dan serikatnya menyerang, Shelter terdekat hanyalah Shelter yang sedang di tuju oleh Ray dan kelompoknya. Mereka diyakini masih hidup, maka dipastikan orang-orang itu membaur dengan baik.
Fakta bahwa mereka menyembunyikan wajahnya adalah untuk hal ini. Tentu ada pengecualian seperti Sebastian namun bukan hal yang sulit untuk tetap mengurung diri seperti Ray.
“Mulai dari titik ini aku harus serius menetapkan siapa saja lawan dan kawan."
“Virgo dan yang lainnya jelas lawan beratku. Mereka beberapa kali mengacaukan rute yang sedang aku pikirkan. Perang adalah salah satunya.”
“Awalnya aku ingin dengan sengaja memicu perang dengan menyabotase kematian Mein atau bahkan dari pihak Ordo. Namun aku tak menduga pengkhianatan Sebastian dan serangan terhadap Redwest.”
Rencananya selalu berantakan setiap kali ingin dijalankan. Ray bisa meramalkan masa depan dengan kecerdasannya yang memasukkan berbagai kemungkinan, tetapi dengan banyaknya variabel yang muncul cukup sulit membayangkan rencananya.
Ray tak pernah tahu seperti apa Rebellion akan bergerak, mereka adalah variabel terbesar yang harus disingkirkan. Meski begitu ada beberapa orang lain yang mengkhawatirkan.
“Untuk saat ini aku masih bisa menggunakan Leo dan Terumi sehingga tak ada kebutuhan menyingkirkan mereka pada tahap ini. Sementara Arthur dan Mona ...”
“Keduanya menyusahkan.”
Sementara Arthur masih misteri, bisa dipastikan pria ini memiliki dewi keberuntungan di pihaknya karena selalu selamat dari situasi terburuk.
“Lalu, orang yang merepotkan lainnya adalah Indri dan kelompoknya. Wanita itu jelas berbahaya mengingat orang dengan Degree luar biasa berada di bawah telapak tangannya.”
“Tujuannya masih tidak diketahui. Mereka tak bisa dipercaya. Belum lagi, fakta bahwa Erina telah menjadi boneka penurutku dengan bantuan si kembar bisa menjadi ancaman bagiku.”
Mereka bisa saja mengancam Ray dengan hal itu dan membuatnya melalui situasi buruk. Awalnya Ray tak ingin menerima kesepakatan ini. Sebagai ganti menyelamatkan rekan dan mencuci otak Erina, Ray harus bergandengan tangan dengan kelompok itu.
Bahkan, Ray memiliki hutang yang harus dibayarkan kepada dua bocah kembar itu.
“Aku yakin mereka takkan gegabah pada tahap ini. Maka selama waktu yang damai tersebut ... beberapa variabel harus disingkirkan.”
Retsuji Arthur. Mona. Virgo dan kelompoknya. Indri. Guren. Ben. Rani. Rina. Hiroshi. Leo. Dan, terakhir adalah Terumi.
Diantara nama-nama tersebut bisa saja mereka menjadi variabel yang akan mengganggu jalannya rencana Ray di masa depan. Ia membutuhkan rekan, tetapi tidak membutuhkan mereka yang bisa mengganggu.
Setidaknya untuk saat ini posisi Terumi, Leo dan Erina terbilang aman mengingat mereka tak ada tkau-tkau mencurigakan.
Namun orang lainnya berbeda terutamanya Ray dan Mona. Ray mungkin harus memfokuskan perhatiannya kepada dua orang ini mengingat mereka ada selalu di dekatnya.
“Yah, untuk saat ini mari selesaikan pemikirannya. Ada hal yang jauh lebih penting untuk saat ini.”
Ray berniat untuk pergi keluar namun sebelum ia bergerak pintunya diketuk. Itu bukan Secret mengingat orang itu hanya menggunakan sistem untuk menyampaikan atau memberikan sesuatu.
Terumi, Leo dan lainnya juga bukan karena mereka takkan muncul selama seminggu untuk pemulihan. Mereka takkan datang sampai waktu itu, bahkan tugas takkan muncul selama dua bulan ini.
Maka kemungkinan yang bisa terjadi adalah keberadaan variabel lain yang mengganggunya.
Ray berjalan dan tak langsung membuka pintunya, ia hanya berdiri diam dan berbicara.
“Siapa di sana?”
“...”
Tak ada jawaban sama sekali meski Ray yakin ada orang di sisi lain pintu ini.
“Jika kamu berniat diam dan menungguku untuk keluar, sayangnya hal tersebut langkah sia-sia. Aku tidak berencana untuk keluar dalam waktu dekat.”
“Dan, aku takkan membukakan pintu untuk tamu yang tak mengatakan apa-apa.”
Ray membuat gerakan untuk meninggalkan pintu. Orang di sisi lain pintu tampaknya menyadari gerakannya dan mulai berbicara.
“Kamu terlalu waspada.”
“Takkan ada insiden apapun. Tidak ada rencana apapun sehingga tak perlu khawatir seperti itu.”
“Ini kami.”