
Selepas berjalan beberapa menit Ray tiba di kediaman Erina.
Siapa yang akan menduga bahwa tempat tinggalnya begitu mirip dengan sebuah istana kecil?
Halamannya cukup luas dan di sekitar kastilnya terdapat benteng yang menutupinya.
Ray tak mengerti apakah dia membangunnya sendiri sesuai seleranya atau memang sudah sejak awal seperti itu rupanya.
Meski begitu Ray tak ingin menanyakan hal-hal yang tidak perlu kepadanya.
“Selamat datang di istanaku. Bagaimana tampilannya? Bukankah sangat indah?” Erina tersenyum senang seakan-akan menantikan pujian dari Ray.
Ray sendiri tak begitu mempedulikannya dan sikap cueknya membuat Erina menggembungkan pipinya.
Tak peduli semanis apa wanita itu, Ray takkan pernah terperdaya oleh sebuah kecantikan. Jika dia selemah itu maka sampai saat ini tidak sepantasnya dia hidup.
Saat Ray dengan acuh mengikuti Mein dan Erina, dia terkejut bahwa ada banyak orang sesama partisipan di kastil miliknya. Orang-orang tersebut dengan anehnya berbaris selagi membungkuk dengan hormat.
Itu tampak memalukan karena di era modern masih ada orang yang menyukai formalitas unik bangsawan inggris di masa lalu.
Sekali lagi Ray tak ingin mengomentari apapun tentang tempat itu. Namun tentunya ada beberapa hal menarik untuk diperbincangkan.
“Sepertinya mereka sangat tunduk kepadamu. Itu mengejutkan sekaligus menakutkan ketika berpikir seberapa hebat Degree-mu hingga mampu menundukkan banyak orang.”
“Mungkin mereka tunduk oleh kecantikanku yang luar biasa, kan? Sejujurnya di tempat ini tidak ada yang lebih cantik dariku. Mein berada di bawahku sementara tidak ada yang lainnya menyetarai.”
Entah hanya kesombongan belaka atau apa, namun Ray tak bisa membantahnya karena dia belum melihat yang berada di atas Erina.
Tentunya ada Terumi. Jika soal wajah dia akan berada di puncak namun aset tubuhnya takkan mengimbangi Erina.
Aku tak yakin bahwa bermodalkan kecantikan dapat menaklukkan semua orang hingga wanita. Pikirnya.
Dunia hanya adil kepada orang cantik dan tampan, kenyataan tersebut tak bisa terbantahkan.
Ray menyimpan pemikirannya tentang Erina untuk saat ini dan meningkatkan kewaspadaannya.
“Kamu tak perlu menjadi sewaspada itu. Aku berjanji takkan menyuruh siapapun untuk melukaimu. Lagipula aku takkan mau menyakiti wajah indah itu.”
“Meski begitu bukan berarti aku tak boleh waspada terhadap apapun. Aku tak mau memilih penyesalan karena telah mengurangi kewaspadaan.”
Ray memiliki prinsip bahwa dia takkan menyesal kepada apapun pilihannya. Dan karena tak menginginkan sebuah penyesalan dia takkan melakukan hal-hal yang bisa membuatnya menyesal.
Orang yang menyesali keputusannya adalah orang akan akan lebih mudah mengalami kegagalan di masa depan.
Ray bukanlah orang gagal dan takkan ingin menjadi orang gagal.
“Fu fu, kamu memang orang yang menarik. Kita memiliki satu kemiripan lain rupanya.” Erina mulai cekikikan dengan riang, “Kamu tahu? Aku juga tak menurunkan kewaspadaanku sama sekali biasanya. Namun hanya kepadamu saja aku tak bisa menunjukkannya.”
“Aku tidak tahu itu hal yang baik atau buruk.”
Di dalam kastil tersebut sangat megah dengan berbagai lukisan yang tentunya Ray tidak mengerti.
Lantai berhiaskan karpet merah yang indah dan pilar-pilar kokoh menopang kastil untuk tetap berdiri dengan tegak.
Ray kagum bahwa masih ada orang yang membangun tempat rumit seperti kastil yang mana membutuhkan biaya yang tidaklah sedikit.
Erina segera menuntunnya ke ruangan yang memiliki meja persegi untuk dua orang. Bagian mengejutkannya adalah kursi tersebut baru saja disediakan oleh Mein dengan kecepatan dan kecakapan yang luar biasa.
“Itu mengejutkan karena ada seseorang yang mau menjadi pelayan meski tempat ini menuntut kita menyelesaikan semua tugas.”
Ray sama sekali tidak mengerti tentang Open World dan mengapa Erina bisa begitu santai. Selain itu semua orang yang sudah lama tinggal juga hidup tanpa beban.
Hampir seakan-akan mereka tak menemukan tugas berbahaya apapun untuk ditangani.
Erina menolak untuk menjawab Ray sebelum makanan datang. Mein membawa sepotong steik daging untuk keduanya dan sebuah wine yang terlihat mahal.
“Mari kita bicara sambil makan. Aku tahu kamu sudah menderita selama empat tugas terakhir.”
Erina menjamunya dengan ramah namun Ray tak menanggapinya dengan segera. Kemudian Mein datang membawa pisau dan garpu untuknya sendiri.
“Maaf atas kelancanganku.” Mein memotong bagian daging milik Ray dan memasukkannya ke mulutnya.
Melihat dia mengunyah dan menelan tanpa masalah sudah cukup meyakinkan Ray bahwa makanannya tak diracuni.
“Kamu terlalu waspada, sayangku. Tak ada orag yang cukup bodoh untuk meracuni orang lain ketika Degree-nya tidak diketahui sama sekali.”
“Mengapa kamu tak mencobanya? Siapa tahu kamu akan mengetahui Degree apa yang aku miliki.”
“Itu cara yang bagus namun aku tak bisa melakukannya karena kamu adalah kelemahanku.”
Ray sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan Erina. Entah dia benar-benar jatuh cinta pandangan pertama atau hanya coba menyanjung Ray untuk suatu tujuan.
Ini daging pertama sejak aku memasuki tempat ini. Selama ini aku hanya membeli paket makanan murah.
Ray membutuhkan protein untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.
Walaupun dia masih tidak yakin tentang apakah daging tersebut benar-benar aman untuk dimakan.
“Kamu harus makan, sayang. Aku tidak tahu apakah kamu telah menggunakan Degree-mu atau tidak. Namun perlu kamu ketahui bahwa menggunakan Degree membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.”
“Apa maksudmu?” Ray menghentikan tangannya dan menatap serius Erina.
“Pikirkan saja, apa kamu yakin kita menggunakan Degree tanpa pernah kehilangan sesuatu sebagai gantinya? Ini hanya spekulasi saja. Untuk menggunakan Degree dibutuhkan stamina yang tidak sedikit dan mungkin juga memerlukan sedikit darah setiap penggunaannya.”
Mengorbankan darah dan stamina jika ingin menggunakan Degree. Ray paham bahwa segala sesuatu memiliki sumber energinya sendiri namun dia tidak mengerti mengapa darah menjadi sumber energi bagi Degree.
Meskipun Erina mengatakannya atas dasar spekulasi belaka namun pastinya ada suatu peristiwa yang membuatnya bisa mengambil kesimpulan tersebut.
“Aku pernah melihat seseorang benar-benar menjadi kering karena terus-menerus menggunakan Degree-nya. Kesimpulanku berasal dari sana. Toh, walaupun begitu tampaknya ada hal lain yang menjadi sumber tenaga Degree.”
Erina menyantap makanan dan segelas wine yang telah disediakan dengan begitu anggun. Ray ikut melakukannya karena telah memastikan keamanannya.
Manis gurih daging segera membanjiri lidahnya. Di dunia ini memakan makanan enak adalah kebahagiaan yang bisa dicapai seseorang.
“Ada banyak hal tentang Degree, Secret dan segala hal yang berhubungan dengannya masih menjadi misteri. Bahkan kami yang berasal dari generasi pertama tak bisa mengungkapkan lebih jauh tentangnya.”
Itu artinya Secret benar-benar mampu menyembunyikan banyak hal tetap berada di dalam bayang-bayang.
Ray ingin menanyakan hal lain dan membahasnya secara serius, tetapi untuk saat ini prioritasnya adalah memahami situasinya terkini.
“Aku sudah penasaran sejak datang ke Open World ini. Selain suasananya yang begitu damai, orang-orang yang terlihat tanpa beban dari tugas. Seakan-akan tugas tidak lagi ada. Lalu ... aku tidak mengerti maksudmu menempatkan beberapa orang yang memiliki niat untuk membunuhku.”