
Menyewa slot anggota adalah kerugian tergantung pada berapa lama tenggat setiap pembayaran dan tergantung pada harganya juga. Tak masalah jika itu cukup mahal selama waktu tenggatnya cukup lama.
“Aku telah memeriksa fitur tambahan yang diberikan Secret. Secara garis besar ada cara untuk mengeluarkan anggota sesukaku.”
Arthur tak perlu khawatir kalau secara tak langsung dia akan memperkuat Indri dengan menambahkan kelompoknya dan bahkan memberikannya biaya. Hanya saja tak ada jaminan Indri akan menepati setiap kata-katanya.
“Sungguh sulit melakukan kesepakatan semacam itu di tempat ini. Ada kemungkinan kamu akan mengabaikan mereka yang membutuhkan pengobatan lebih lanjut, ada juga kemungkinan kamu menggunakan mereka untuk kepentingan pribadi dan membuat mereka melakukan hal buruk. Bahkan, ada kemungkinan kamu menelantarkan mereka begitu saja.”
Arthur bisa menyebutkan lebih banyak kemungkinan lainnya jika ia mau. Singkatnya, tak ada satupun yang bisa memberikan jaminan. Lisan pada akhirnya hannyalah lisan, sangat mungkin untuk dilupakan dan Arthur takkan bisa menggunakannya sebagai aju banding dalam arti lain.
Indri mendengus dan tersenyum kecil, “Kamu benar, itu pemikiran yang wajar dimiliki. Bahkan aku takkan melakukan kesepakatan di tempat seperti ini. Hanya saja ...”
Tatapan Indri bergeser ke arah rekannya yakni, Guren. Seseorang dengan Degree anehnya yakni pembohong.
“Kamu tahu bahwa Guren selalu mengatakan hal-hal yang sebaliknya karena kekurangan dari Degree-nya. Dia menjaga lisannya karena tidak tahu apakah setiap kalimatnya akan berefek atau tidak. Kewaspadaan diutamakan karena belum ada aturan jelas untuk mengetahui apakah Degree selalu aktif atau bisa dikendalikan.”
Sama seperti Arthur yang tak bisa menggunakan Degree-nya sesuai keinginannya, Guren juga mengalami kesulitan yang sama. Bahkan mungkin semua orang juga mengalaminya.
Arthur mulai memahami tujuan Indri, meski ada hal yang ia ingin tanyakan terkait Degree Guren namun saat ini dia tak dalam posisi meminta lebih.
“Aku mengerti, kalau begitu kamu bisa melakukannya.”
Arthur tak menyangka bahwa akan tiba waktu di mana ia akan lebih mempercayai kata-kata dari si pembohong. Degree sungguh mengubah banyak hal.
“Fu fu, aku merasa aneh. Di mana kata-kata Guren yang seorang pembohong dapat lebih dipercaya ketimbang kata-kataku sendiri.” Indri tertawa geli, memikirkan hal yang sama dengan Arthur.
Guren sedikit tertawa dan menyampaikan, “Yah, aku tak bisa jujur tentang apapun sebenarnya. Mengenai nona, dia adalah pembohong besar. Selalu gagal dalam menepati janji dan kalimatnya. Selain nona mungkin tak mempedulikan kredibilitas tentang dirinya.”
Perkataan Guren cukup untuk Arthur, memang perlu untuk meragukan validasinya namun untuk sekarang tak ada pilihan yang bisa ditempuh.
“Baiklah. Kalau begitu berapa yang perlu kami bayarkan?” tanya Arthur, tak berniat menjadikan negosiasi ini berjalan lambat.
“Benar juga, bagaimana dengan lima puluh ribu per lima puluh kursi dan pembayaran dilakukan setiap tujuh hari?”
Mona ingin mengumpat marah kepada Indri. Bagaimana tidak? Harga yang ditawarkan jelas berlebihan.
“Kamu—”
“Hentikan itu, Mona,” ujar Arthur selagi menahannya. “Kita sedang melakukan negosiasi, dan pasti ada yang namanya tawar-menawar.”
Masuk akal jika Indri akan mematok harga yang tinggi di awal demi keuntungan dirinya sendiri. Mungkin ini menjadi salah satu cara baginya untuk mengurangi perkembangan kekuatan kelompok yang akan Arthur bangun.
‘Menampung orang-orang yang terluka adalah tugas merepotkan, namun kekuatan kelompok yang akan kumiliki nantinya sangat besar.’
Hampir semua orang di tempat ini membencinya karena tragedi yang dirancang Ray. Maka dari itu yabg Arthur perlukan adalah membangun koleganya sendiri.
“Setidaknya aku bersyukur bahwa otakmu tak sebesar biji kacang seperti wanita itu, Arthur.”
Perkataan Indri memancing kemarahan Mona namun Arthur menghentikannya lagi. Sampai pada akhirnya Mira memberikan tangannya untuk menggantikan Arthur mengurus Mona.
“Lima puluh ribu untuk satu minggu, itu melebihi apa yang kami sanggupi. 25.000 DP untuk lima puluh kursi, pembayaran setiap satu minggu.”
“Empat puluh lima ribu.”
“Aku menawarkan harga yang tetap yakni 25.000.”
“Dan, aku keberatan tentang itu. Bagaimana dengan empat puluh ribu?”
“Itu masih terlalu besar bagiku.”
“Kamu cukup keras kepala. Tidakkah kamu khawatir bahwa aku akan meninggalkan negoisasi ini?”
“Maka kamu akan melepaskan kesempatan untuk melemahkan kelompokku meski sedikit.”
“... .”
Itu pemikiran kecil yang ada dalam benak Indri. Menembak dua burung dengan satu batu. Dia berusaha meraup keuntungan selagi tidak membiarkan kelompok Arthur bertambah semakin kuat di tahap awal.
“Kamu memang tokoh utama. Baiklah, aku setuju dengan harga itu.”
“Negosiasi selesai. Kalau begitu, aku ingin kamu menunggu selama beberapa waktu karena ada persiapan yang diperlukan.” Arthur mulai melangkah pergi ke orang-orang yang coba ia selamatkan saat ini.
Indri tidak masalah dengan menunggu beberapa menit bahkan mungkin jam. Lagi pula dia sudah akan menerima keuntungan besar dari hal ini.
“Gunakan semua waktu yang kamu miliki,” ujar Indri, tatapannya melirik ke arah lain.
“Meski begitu aku terkejut dia tak coba menghentikannya,” gumam Indri.
Orang yang dia maksud adalah Ray, pria yang membuat Arthur terpojok. Indri awalnya yakin bahwa Ray akan muncul cepat atau lambat untuk mengganggu jalannya negosiasi, bahkan mungkin dia akan melakukan hal yang membuat Arthur semakin sulit di masa depan.
Namun nyatanya Ray tak pernah datang memperlihatkan batang hidungnya. Indri tak berpikir dia adalah tipe orang yang akan takut menerima hujatan.
‘Pasti ada sesuatu yang ...’
Ketika dia akhirnya memperhatikan, Ray jelas sedang berbicara dengan seseorang. Indri tak tahu siapa itu namun tampaknya mereka juga melakukan diskusi penting.
Entah siapa orang itu namun tampaknya dia cukup diwaspadai oleh Ray. Kenyataannya, Ray tak membiarkan rekan-rekannya mengintervensi percakapan.
‘Apa dia berusaha membangun relasi lain? Tidak. Ray bukan jenis orang yang akan meletakkan kepercayaan dengan mudah. Bahkan meski aku telah banyak membantunya, dia tetap tak seratus persen yakin padaku.’
Indri yakin tahu cukup banyak tentang Ray karena dia banyak mengamati pria itu. Dia bukan tipe orang yang akan mau mempersulit dirinya dengan membangun kerjasama bersama orang yang tak ia kenal sama sekali.
Meski begitu Indri semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya Ray lakukan.
‘Aku ingin pergi ke sana sesegera mungkin namun itu tak memungkinkan. Jika aku menghilang dan diketahui bertemu dengan Ray, maka Arthur sepenuhnya curiga.’
Arthur juga bukan orang yang bisa ia tipu dengan mudah. Pria itu mungkin sama berbahayanya dengan Ray, bahkan mungkin lebih merepotkan. Karena hal itu juga alasan Indri tak ingin membuat perkembangan Arthur lebih cepat dari ini.
Bajingan satu ini sangat cepat dalam urusan bangkit dari keterpurukan. Mungkin faktor Degree sungguh memiliki peran penting.
“Aku harap dia mau memberikan rinciannya padaku nanti.”
...****************...
“Yo, ini pertama kalinya kita bertemu seperti ini, Ray Morgan.”
Ray menatap pria itu dengan waspada. Kemunculannya begitu tiba-tiba dan di waktu yang sama sekali tidak tepat.
Tentunya begitu karena dikejauhan dia melihat Arthur saling berhadapan dengan Indri. Situasinya masih samar namun sedikit-banyak Ray mengerti.
‘Besar kemungkinan Arthur merangkul orang-orang yang terluka untuk membangun kekuatannya sendiri. Aku tak tahu apa tujuan Indri namun tidak mungkin orang itu ingin membantunya, kan?’
Ray ingin memikirkannya secara mendalam, jika memungkinkan dia ingin mengintervensi percakapan mereka.
Akan tetapi, kemunculan orang di depannya saat ini mungkin lebih mendesak. Dia telah meminta Erina untuk menjauhkan Terumi dan yang lainnnya. Tak lupa Ray meminta mereka untuk tetap berwaspada akan segala kemungkinan.
Pria itu membuat senyuman yang sama, “Sayangnya itu tidak bisa. Jika kulakukan maka Arthur akan semakin terpojok.”
Ray sedikit terkejut karenanya. Secara tidak langsung orang itu menunjukkan bahwa dirinya mendukung Arthur.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”
“Aku tidak bodoh. Bahkan aku tahu kalau Indri akan mendekati Arthur untuk melemahkannya secara perlahan. Dia sudah cukup, jika kamu memberikan intervensi maka semuanya akan membosankan.”
Ray sekali lagi tertarik oleh perkataan pria ini. Posisinya sekarang jadi tidak jelas.
“Apa artinya kamu tak ingin rekanmu itu semakin kesulitan?” tanya Ray yang kini kehilangan senyumannya.
“Rekan? Aku tak menganggapnya rekan dalam aspek apapun. Di tempat ini aku akan mengambil sikap sebagai pengamat selagi menjaga kunciku tetap aman. Tentunya semua akan bergantung pada situasi.”
Jika situasinya menjadi sangat kacau dan buruk, dia secara tak langsung menyampaikan kalau dirinya akan memihak nantinya. Ray tak tahu situasi macam apa yang dia maksud namun orang ini patut diwaspadai.
“Itu artinya kamu tak tertarik memenangkan tugas akhir?” tanya Ray.
“Apa gunanya?” Pria itu justru bertanya balik. “Secret tidak memberikan tanggung jawab bagi semua orang untuk berusaha menyelesaikannya. Bahkan aku telah bertahan dengan melewati hari-hari sebagai pengamat. Baik Open World ataupun Asgardian yang diselesaikan lebih cepat dari seharusnya.”
‘Omong kosong apa yang ia katakan?’ pikir Ray.
Ada beberapa hal yang jelas mengganggunya. Perkataan orang ini semakin misterius di telinganya.
“Kamu berbicara seakan-akan mengetahui seluk-beluk tugas yang harusnya hanya diketahui oleh Secret.”
Seakan-akan sudah menunggu pertanyaan tersebut, dia tersenyum dengan senang.
“Tentu saja. Itu karena aku sangat spesial.”
Ray akan mengabaikan perkataan tersebut karena berkemungkinan besar membawa pikirannya tersesat. Namun perkataan lainnya membuat Ray harus membuat pertimbangan lain.
“Apa kamu sudah membacanya? Buku kecil yang aku hadiahkan untukmu.”
Hanya ada satu orang di tempat ini yang mengetahui keberadaan buku itu. Buku yang mungkin cuma Ray miliki. Orang yang mengetahuinya adalah Ray, dan pelaku yang memberikannya.
Pada akhirnya, Ray memahami siapa pria di depannya. Sejak awal mungkin dia sudah berencana mengungkapkan identitasnya.
“Jadi begitu. Hanya orang yang memberikan ini padaku yang mengetahuinya. Tidak kusangka kamu akan muncul tanpa topeng menyebalkan itu lagi, Ryouma Hisatsu.”
Pria dengan rambut panjang dan diikat, wajah lembut dengan mata tajam yang cukup menyeramkan. Selain itu, dia menggunakan hiasan seperti bedak berwarna merah di kantung matanya.
“Bagaimana?” tanya Ryouma. “Apa kamu terkejut melihat wajahku?”
Ray hanya memejamkan mata dan menghela napas kecil, “Biasa saja. Aku lebih terkejut kamu membagikan informasi itu padaku. Yah, meski aku meragukan kebenaran informasinya.”
Ryouma tertawa senang meskipun tidak ada yang lucu. Tawanya cukup keras sampai Leo, Terumi dan Eric penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Dari luar keduanya tampak dekat namun mereka jelas tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Entah sengaja atau tidak namun Ray curiga kalau Ryouma sengaja bertindak demikian. Tujuannya mungkin membuat Ray sulit beralasan pada rekannya.
“Maaf-maaf. Yah, aku tak menduga bahwa kamu sangat hati-hati. Jika aku memberikannya pada kera bodoh, mereka pasti akan mempercayainya cuma-cuma,” ujar Ryouma selagi menyeka air matanya.
“Jadi benar kalau ini hanya tipu daya, ya.” Ray mengambil kesimpulan tersebut namun Ryouma juga bertentangan.
“Tidak. Semua itu benar. Murni seratus persen hasil observasi yang telah aku lakukan. Kamu pikir mengapa aku menuliskan namamu juga? Itu bukti bahwa pengamatanku bukan kebohongan.”
Ray belum membacanya menyeluruh namun ia telah melihat deskripsi tentangnya di buku itu. Meski ada beberapa hal yang aneh menurutnya namun pengamatan tersebut cukup dekat dengan Degree-nya.
Tentunya jika Ryouma tidak menambah faktor keberuntungan pada pengamatannya maka mungkin dia sudah sampai pada jawaban. Selain itu yang membuat data di buku cukup meyakinkan adalah Degree Arthur dan Erina yang nyatanya tepat sasaran.
“Tak ada jaminan bahwa isinya semua adalah benar. Sayangnya aku menolak mempercayai apa yang tidak ingin aku percayai.”
Ray tak ingin mempercayai sepenuhnya isi dari buku karena ia tak tahu seberapa besar dampaknya di masa depan. Ada kemungkinan terselip informasi palsu yang akan menyesatkan nantinya.
“Kamu orang yang penuh perhitungan. Yah, karena itulah aku menyukaimu, Ray. Oleh karena itu, kamu tak kuizinkan mengganggu Arthur sekarang.”
Ray sedikit mengerutkan alisnya, “Kamu tertarik padaku namun datang untuk menolongnya? Kontradiksi yang terlalu jelas, Ryouma.”
Ryouma hanya tersenyum kecut dan mengangkat bahunya, “Mau bagaimana lagi, kan? Jika orang itu hancur sekarang maka kesenangannya akan hilang. Aku yakin kamu setuju tentang ini.”
“Aku tak tahu apa yang kamu maksud,” ujar Ray, semakin mewaspadai Ryouma meski samar-samar.
“Yah, nantinya kamu akan mengerti sendiri,” Ryouma menolak memberikan penjelasan sampai ia memicingkan matanya. “Omong-omong apa kamu tahu, kalau Secret memiliki kaki tangan diantara para pengguna Degree?”
Ray diam beberapa waktu, ia tentunya tak terkejut karena perubahan topik yang tiba-tiba, tetapi ia terkejut dengan topik yang diangkat oleh Ryouma.
“Kaki tangan, kah? Aku pernah memikirkan bahwa itu mungkin saja.”
“Dari mana kemungkinan itu berasal?” tanya Ryouma yang jelas tertarik.
Ray sejujurnya enggan membagikan informasi apapun bahkan jika hanya spekulasi belaka, tetapi untuk beberapa alasan cukup menarik bertukar pikiran dengan Ryouma.
“Aku ingat bahwa diantara generasi pertama ada pada pedagang cacat, konon mereka adalah percobaan gagal karena mencoba menerima Serum D dua kali. Beberapa mengalami cacat kulit, lumpuh, dan paling buruk adalah meledak.”
Itu ingatan yang dekat namun terasa begitu jauh, Ray juga sedikit lupa. Mungkin ia mendengarnya dari Erina atau Mein di masa lalu.
Ryouma untuk beberapa hal tersenyum dengan sedikit misterius, “Seperti yang diharapkan darimu. Faktanya memang ada orang yang memiliki dua Degree. Dan, orang-orang itulah kaki tangan Secret.”
Ray perlu mempertanyakan kebenarannya namun sebelum tiba pertanyaannya, Ryouma berjalan pergi selagi menyampaikan kalimatnya.
“Orang-orang itu bukanlah kawan atau lawan. Mereka adalah pengamat. Para pengamat ini bisa saja menjadi temanmu, dan bisa juga menjadi musuhmu. Pengamat selalu dekat dengan orang-orang unik. Bahkan tak terkecuali dirimu, Ray Morgan.”
“Kamu mengatakannya seakan-akan kamu mengenalnya dengan baik, ya.”
“Seperti yang aku katakan. Pengamat selalu ada di dekatmu. Dia menyelam dengan baik, menyembunyikan kepribadiannya yang gila dan liar. Bahkan tak hanya dirimu, ada banyak sekali mata yang tertipu olehnya. Yah, aku bicara terlalu banyak. Saat waktunya tiba, aku akan menemuimu kembali. Entah sebagai kawan ataupun lawan.”
Ray hanya menatap punggung Ryouma yang semakin jauh. Perkataannya mengundang misteri yang awalnya Ray tak tertarik menyimpannya di dalam pikiran.
“Meski aku ragu namun perkataannya tak bisa diabaikan. Jika si pengamat ini dekat denganku maka ... .”
Hanya ada segelintir orang yang selalu bersama Ray. Tentunya Indri dan kelompoknya memiliki kemungkinan yang rendah mengingat mereka m
kebanyakan mengambil gerakan secara independen.
“Itu artinya ada salah satu pengamat diantara kelompokku. Selain itu.” Ray mengingat kata-kata terakhir Ryouma sebelumnya.
‘Entah sebagai kawan atau lawan.’
Hanya ada satu makna yang bisa disimpulkan dari sebuah kalimat tersebut. Seperti yang diharapkan, salah satu pengamat sengaja mengungkapkan keberadaannya.
“Kawan atau lawan, kah? Jadi kamu salah satu darinya, Ryouma. Kini aku mengerti maksudmu. Tugas terakhir ini jauh lebih mendebarkan dari yang pernah ada.”