The Degree

The Degree
Kemarahan Ray



“Pria pilihanku memang hebat. Seperti dugaanmu bahwa aku adalah pemimpin serikat besar di blok Barat, Redwest.”


Erina menjelaskan bahwa dua tahun sebelumnya ketika dia mencoba memecahkan teka-teki untuk membuka tugas ke lima, tugas bonus muncul di mana mereka harus membuat serikat.


Tugas bonus tersebut mengharuskannya membuat serikat besar dan menjadi ketua dari serikat tersebut. Alasan Erina begitu menginginkannya karena hadiah utama dari tugas bonus tersebut tidak bisa dia tolak.


Dia berhasil mengumpulkan anggota sedikit demi sedikit namun siapa yang akan menduga bahwa ada satu orang lain yang akan menerima tugas bonus yang sama.


Alhasil keduanya mulai bersaing untuk menjadi serikat besar dan berusaha menyabotase satu sama lainnya.


Sampai pada titik di mana keduanya benar-benar imbang dan menghentikan segala tindakan mereka untuk fokus memperkuat diri masing-masing.


“Saat ini kami masih berada dalam perang dingin di mana kedamaian singkat ini bisa pecah kapanpun.” Untuk pertama kalinya Erina benar-benar memasang wajah seriusnya dan meletakkan kedua tangan di meja untuk sandaran kepalanya.


“Jadi, bagaimana? Apa kamu ingin bergabung dengan serikatku? Aku akan menjamin kenyamananmu di sini. Selama kamu meminta hal yang bisa aku berikan maka permintaan itu akan terkabul.”


Ray memejamkan mata dan mulai bermain dengan pikirannya.


Dia tidak pernah membayangkan bahwa situasinya akan jadi sesulit ini. Tak ada sekalipun pemikiran bahwa para partisipan akan saling bermusuhan dalam kelompok besar.


Seandainya bisa Ray tidak ingin terlibat apapun dengan hal tersebut namun dia membutuhkan teka-teki dari Secret untuk membuka tugas ke lima.


Meski begitu tampaknya bukan tidak ada cara apapun untuk menyelesaikannya. Pasti ada cara lain yang sengaja Erina tak beritahukan.


“Sayangnya untuk saat ini aku harus menolak. Ada banyak hal yang perlu aku lakukan sebelum memutuskan untuk bergabung dengan pihak manapun.”


Erina menghela napas sedikit kecewa, “Sangat disayangkan namun aku tak bisa memaksamu lebih dari ini.”


Erina hanya tersenyum masam dan tidak memaksa Ray untuk bergabung.


Itu memang mengejutkan namun Ray bersyukur bahwa dia tak perlu menghadapi keras kepala wanita.


“Ya. Ini memang tidak tahu diri namun tolong izinkan aku tinggal di sini selama beberapa waktu selagi memikirkan tawaranmu.”


“Ya, sejak awal aku ingin memintamu tinggal di sini, bersamaku, di satu ka~mar~.”


Erina membuat suaranya dengan menggoda, meski begitu Ray sama sekali tidak tergerak olehnya.


“Apapun itu tolong biarkan aku memiliki ruangan pribadi.”


“Fu fu, baiklah jika itu maumu. Dengan ini kamu memiliki hutang budi yang cukup besar kepadaku, kan?”


Ray sudah dibantu oleh Erina sejak awal tugas ke tiga. Mulai dari memberikan DP secara cuma-cuma, sengaja melalui jalan lebih awal untuk Ray mengamati jebakan di tugas ke tiga.


“Ya, aku berhutang besar kepadamu. Suatu saat aku akan membalas hutang budi ini.”


Ray bersungguh-sungguh dalam kata-katanya. Dia tidak pernah ingin meninggalkan hutang kepada siapapun dan suatu saat pasti dia akan membayarnya.


“Tidak. Aku ingin kamu membayar hutang budinya sekarang juga.” Senyuman Erina menyimpan misteri yang tidak dimengerti oleh Ray.


“Apa itu? Selama bukan sesuatu yang mustahil aku akan melakukannya.”


“Kalau begitu kamu akan menjadi kekasihku dan terus di sisiku selamanya.”


“Ya, akan aku lakukan.”


Ray mengatakannya selancar bernapas. Meski dia yang berbicara namun Ray terguncang karena kata-katanya.


Itu tentu saja karena Ray tak pernah ingin mengatakannya secara pribadi. Kata-kata itu keluar dengan sendirinya seakan ada orang yang mengendalikannya.


“Fu fu, kamu terlambat menyadarinya.”


Tanpa kata-kata lagi Ray mengangkat meja dan menyingkirkannya. Dia mengulurkan tangan kanannya dengan tujuan mencekram lehernya.


Disaat itu juga Mein muncul dan menahannya namun kekuatan Ray lebih besar dari yang dia harapkan.


Mein menahan tangan Ray yang berusaha meraih leher Erina. Di saat itu juga Ray mencengkram jari-jari Mein dengan segenap kekuatannya.


Cengkramannya cukup kuat sampai-sampai Mein terlihat sedikit kesakitan.


Tak lama tiga orang lainnya datang membantu. Ray mengenal satu orang pria itu karena berada di tugas yang sama.


Meski ada empat orang yang menahannya mereka masih tampak kesulitan untuk menahan kekuatan Ray yang begitu besar.


“Kamu masih memiliki kekuatan sebesar itu. Entah kamu yang terlalu kuat atau anak buahku yang terlalu lemah.


Ray terlihat benar-benar marah. Di dunia ini tidak ada hal apapun yang dia benci selain digunakan orang lain.


Melepaskan tangannya dari genggaman Mein dan yang lainnya, Ray menatap Erina dengan dingin dan menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya.


“Suatu saat kamu akan menyesali pilihanmu menggunakanku.” Meninggalkan kata-kata itu Ray berjalan pergi.


“Sebagai kekasihku, aku mewajibkanmu pulang sebelum gelap.”


Ray diam tanpa mengatakan apapun lagi dan pergi.


Disaat itu juga Erina memegang tangan kanannya yang sejak tadi gemetar. Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya dan dia tertawa kering.


“Ha ha ha, siapa duga dia bisa jadi semenyeramkan seperti itu.”


Mein melihat telapak tangannya yang merah karena dicengkeram oleh Ray sebelumnya.


“Kekuatannya benar-benar tidak masuk akal. Jari-jariku patah olehnya hanya dengan satu cengkraman.”


Erina menatap jari-jari Mein yang terlihat menyedihkan. Dia kemudian menatap langit-langit dengan diam.


“Aku tidak yakin apakah ini keputusan yang tepat atau tidak untuk melakukannya.”


“Aku terkejut bahwa dia bisa terlepas dari Degree-mu seperti itu, Nona Erina. Biasanya orang yang sudah terjebak akan bersikap seperti Ronald ini.”


Umumnya orang yang sudah berada di genggaman tangan Erina tidak akan bisa memegang kembali kendali atas dirinya sampai Erina sendiri yang melepaskannya.


“Ya, itu karena ada beberapa faktor tertentu sehingga dia tidak bisa aku kendalikan sepenuhnya. Ada beberapa hal yang di luar kendaliku.”


Erina kemudian bangun dari kursinya dan berjalan menuju jendela. Dia melihat Ray yang berjalan keluar dari kediamannya.


“Seandainya dia bukan pria yang menarik minatku, aku tidak akan seberusaha ini untuk memilikinya sepenuhnya. Kamu harusnya bersyukur karena aku benar-benar berusaha untuk menjadikanmu milikku. Aku tak sabar menantikan malam yang akan kita lalui bersama.” Erina merona selagi tersenyum dengan lembut.


Dia memiliki beberapa kekhawatiran tentang tindakan Ray namun segala pemikirannya telah dihilangkan.


Alasannya sangatlah sederhana dan juga konyol. Wanita yang telah dimabuk cinta akan benar-benar buta akan segala hal termasuk bahaya dan malapetaka yang mungkin menimpanya.


Erina tak pernah memahami apapun tentang Ray. Seorang pria yang tidak memiliki belas kasih apapun kepada siapapun.


Seandainya ada sesuatu yang Ray benar-benar tidak dia sukai, maka ... yah, mari lihat apa yang akan terjadi nantinya.