
“Tokoh ... utama?” Hiroshi bergumam dengan tak percaya. “Itu sesuatu yang sangat aneh. Tidak, hal itu harusnya tidak mungkin bisa.”
Selama ini Degree mengacu kepada profesi atau bahkan impian. Belum ada kasus di mana Degree mengambil sesuatu seperti tokoh utama dan sejenisnya.
Arthur mungkin satu-satunya anomali yang ada diantara banyaknya pengguna Degree di tempat ini.
“Memang sulit dipercaya namun ini kebenaran,” Virgo sekali lagi menegaskan. “Aku tak mungkin mau membahayakan nyawaku untuk sesuatu yang tidak pasti!”
Virgo bukan orang bodoh, ia sangat percaya diri dengan kesimpulannya. Lagi pula ia memiliki dukungan informasi terpercaya dari Secret. Alasan Virgo menentukan sepuluh orang dengan Degree berbahaya karena data pemberian Secret itu.
Indri tersenyum ketir karena tak ada gunanya Virgo berbohong pada tahap ini, “Kamu memang sesuatu. Aku tak menyangkal kalau sesuatu seperti itu bisa terjadi. Toh, punyaku sendiri sangat aneh.”
Arthur yang sedang jadi bahan pembicaraan hanya bisa diam. Ia tidak mau memberikan penyangkalan ataupun persetujuan karena akan membuat semuanya semakin buruk. Hal terbaik yang bisa ia lakukan hanyalah diam mengamati.
‘Sial, bahkan jika aku tak mengatakannya, orang ini menebak dengan tepat sasaran. Apa boleh buat, mulai sekarang aku akan memiliki banyak musuh.’
Arthur merahasiakan kemampuannya karena khawatir orang-orang akan mulai mengejarnya untuk alasan tertentu yang ia tak ketahui. Merepotkan untuk menghadapi orang-orang seperti itu di masa depan.
Selain itu, Arthur masih membutuhkan rekan terpercaya karena saat ini hanya Mona yang bisa ia percaya sepenuhnya.
‘Terumi juga bisa dipercaya namun masalahnya adalah Ray. Wanita itu takkan mau bersamaku jika Ray tak ada.’
Arthur tahu kalau Terumi memiliki perasaan kepada Ray. Itu bukan hal yang buruk disatu sisi namun cukup menyebalkan sekarang karena Arthur tak bisa menganggap Ray adalah rekannya.
Orang itu mungkin bersikap baik namun Arthur takkan menghapus kecurigaan semudah itu. Siasat di tempat ini luar biasa dan mungkin akan sangat menyakitkan.
“Aku sudah cukup puas dengan ini. Bahkan jika harus berakhir di sini maka semuanya terbayarkan.” Virgo merentangkan tangannya dengan senyuman lembut. “Mungkin ini adalah akhirnya. Namun ...,”
Virgo memicingkan matanya. Kedua rekannya sudah terpojok dan babak belur, bahkan topeng mereka sedikit hancur karena pertarungan sengit yang terjadi.
Saat itu tatapan Virgo tertuju kepada seorang gadis yang terlihat ragu untuk melakukan sesuatu. Ketika itu, Virgo mengulurkan pistolnya ke arah Mona dengan senyuman lebar.
“Setidaknya satu orang harus mati di sini!”
Arthur berniat menghentikannya dan berencana menembak namun ia terlalu lambat. Indri tentunya tidak akan membantunya dalam satu juta kesempatan, hal itu karena Mona hanya orang asing untuknya.
“MONA!” Arthur hanya bisa meneriakkan namanya, berharap wanita itu mendengar dan menghindar tepat waktu.
Namun Arthur tahu hal itu mustahil karena Mona begitu kikuk dan penuh dengan celah. Wanita itu mustahil bisa menghindarinya, bahkan menyadarinya juga tidak.
Saat Virgo hendak menarik pelatuknya seseorang melesat ke arahnya dan memukul tangannya sampai pistolnya terlepas.
“Erina Queen?! Kamu masih hidup rupanya!” Virgo berdecak kesal karena kejutan tak terduga, ia mulai bertanya-tanya apakah kemunculan Erina juga pengaruh dari kekuatan Arthur.
Erina memiliki mata yang bergetar ketika melihat wajah Virgo yang tak asing baginya dan sangat akrab, meski begitu ia tak ragu untuk melukai wajah Virgo dengan pisaunya.
Dia berhasil memberikan luka dari dagu hingga ke keningnya. Namun anehnya tidak ada darah yang keluar sama sekali. Hal tersebut menunjukkan kalau Virgo memalsukan wajahnya dengan beberapa trik aneh.
Bagian yang dilukai Erina tampak terkelupas, wanita itu segera menjauh dari Erina.
“Satu-persatu terus bermunculan.”
Situasinya sungguh tidak baik karena dia kalah dari segi kekuatan, jumlah dan juga keberuntungan karena lawannya adalah Arthur. Virgo memiliki kesialan besar di pihaknya.
“Erina ... terima kasih telah datang,” ujar Arthur dengan napas lega.
Kedatangan Erina menyelamatkan Mona, jika tidak entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Arthur mungkin akan mengamuk karena kematian Mona.
Erina memandang acuh tak acuh kepada Arthur dan yang lainnya.
“Aku akan pergi membantu yang lainnya. Kamu tak membutuhkan bantuanku untuk menghabisi bajingan ini, kan?”
Arthur merasa ada yang aneh karena seharusnya Erina memiliki dendam kesumat dengan Virgo, namun untuk sekarang ini ia bisa mengabaikannya.
Selain itu Arthur juga mengkhawatirkan kondisi Mona dan Chelsea yang tanpa perlindungan. Terumi dan Leo memang diunggulkan
“Ya, sekali lagi aku berterima kasih padamu. Hutang budi ini akan aku bayarkan.”
Erina tersenyum tipis, “Bukan masalah.” Erina dengan cepat berlari menuju tempat Chelsea berada.
“Sekarang mari kita selesaikan masalah ini.” Arthur menatap Virgo dengan dingin. “Tampaknya kamu memiliki Degree yang membuatmu bisa memaksimalkan wajah seperti itu.”
“Aku cukup tertarik mengetahui seberapa buruk wajah monyet yang membuatku gagal menyaksikan hal-hal menarik,” ujar Indri selagi cekikikan.
Arthur berjalan terpincang-pincang mendekati Virgo, dia menyiapkan pistol dan juga pisaunya. Kali ini Arthur tak berencana untuk gagal membunuhnya.
Hiroshi menarik katananya dan berjalan berdampingan dengan Arthur, tentunya ia juga tak menurunkan kewaspadaannya terhadap Arthur.
Di sisi lain Indri mengamati situasi dari tempat yang aman dan menyampaikan.
“Aku akan mengawasi punggung kalian.”
Arthur cukup khawatir timah panas akan menembus punggungnya karena Indri sendirian tak bisa dipercaya. Namun orang ini telah mengetahui Degree-nya.
‘Harusnya dengan mengetahui Degree-ku dia takkan melakukan tindakan bodoh. Degree-ku sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai gertakan.’
“Ku hu hu hu, tampaknya ini adalah akhir dariku.” Virgo tertawa ketir, ia tampak menerima kematiannya dengan lapang dada.
“Alexis dan Seirama sudah tak bisa terselamatkan.”
Di kejauhan Virgo bisa melihat jelas kalau Terumi mematahkan kaki Seirama dan membuatnya tidak bisa berkutik. Sementara di sisi lain Alexis memiliki luka besar di dadanya dan cuma menunggu waktu sampai kematiannya tiba.
Selain itu, Erina sudah berkumpul bersama mereka sehingga tidak ada celah untuk melarikan diri. Keberuntungan juga tidak akan membantu mereka karena keberadaan Arthur yang membuat seluruh keberuntungan di dunia berada di pihaknya.
‘Ryouma telah menyatakan dirinya berkhianat dan pergi tepat sebelum semua ini terjadi.’
Pertikaian internal antara Virgo dan Ryouma terjadi ketika Open World berakhir. Meski Virgo tidak tahu alasan jelas Ryouma melakukannya, orang itu mengatakan kalau dia takkan lagi mengganggunya.
Dengan ini maka Rebellion harusnya akan berakhir.
“Kamu sudah terlalu banyak membuat masalah sampai sekarang, Virgo. Mendapatkan kematian yang cepat adalah keringanan dariku untukmu,” ujar Arthur.
Virgo menatap langit-langit dengan senyuman masam, ia tak peduli lagi pada wajah palsunya yang terkelupas dan akan memperlihatkan wajah aslinya.
‘Toh, aku juga akan mati. Tak peduli lagi dengan wajah terkutuk ini.’
“Apa ada kata-kata terakhir sebelum eksekusi dilaksanakan?” tanya Hiroshi.
“Benar juga, memang harus seperti itu,” Virgo tertawa kecil dan menyampaikan, “Ah, katakan ini kepada Ray Morgan. Aku akan menunggunya di neraka.”
Arthur sedikit bereaksi setelah Virgo menyebutkan nama Ray. Ia bertanya-tanya apakah orang itu ada hubungannya dengan kekacauan ini. Namun untuk sekarang Arthur tak memiliki waktu untuk memikirkannya dengan terperinci.
Namun tembakan tersebut bukan berasal dari senjatanya, tetapi dari tempat lain. Arthur bisa mengabaikannya namun untuk beberapa hal firasatnya dengan keras mengatakan untuk mengetahui apa itu.
“Ha ha ha ha!” dari belakangnya seorang wanita tertawa dengan keras, itu adalah Indri. “Tampaknya di sana juga terjadi hal menarik.”
“Apa-apaan situasi ini ... Mona ...”
Arthur bahkan tidak bisa untuk tak terkejut melihat peristiwa di tempat lain. Ia tak mengerti dengan jelas pemandangan yang dilihatnya tersebut. Seketika ia ingin memahaminya, dua anak panah datang tepat di depan Virgo.
“Apa lagi—”
Panah tersebut meledak dan mengeluarkan asap, Arthur merasakan seseorang melompat ke tempat Virgo.
“Takkan kubiarkan!” Arthur menembakkan beberapa pelurunya dan berhasil mengenai seseorang namun tampaknya hal tersebut tidak membunuhnya.
Saat asap menghilang yang tersisa hanya tetesan darah dan kulit dari wajah palsu milik Virgo yang sudah terlepas. Arthur berdecak dengan sangat kesal karena telah membiarkan Virgo melarikan diri namun situasi di sisi lain lebih memberikan sakit kepala.
“Dia melarikan diri, ya. Seingatku ada orang bernama Ryouma Hisatsu dari kelompok ****** itu. Yah, biarlah.” Indri tidak berniat melakukan pengejaran terhadap Virgo yang berhasil melarikan diri. “Kita tak memiliki urusan dengan sisi lain. Hiroshi, mari pergi ke tempat aman.”
“Ya. Aku tak mau melukai martabatku sebagai samurai lebih dari ini.”
Arthur awalnya ingin menghentikan keduanya namun ia sadar bahwa orang-orang ini tak memiliki urusan apapun lagi. Untuk sekarang, lebih baik ia menghampiri Mona.
Situasinya terlihat sangat anomali karena Mona yang pengecut dan kikuk datang untuk menembak Terumi, sementara di sisi lain Chelsea hanya duduk berlutut dengan wajah tercengang.
Mengenai Leo, ia tampak sangat marah dan berniat untuk melakukan sesuatu kepada Mona namun Erina menahannya.
Arthur mengabaikan rasa sakitnya dan dengan panik pergi ke tempat Mona.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Arthur setibanya di TKP.
“Jalang ini! Dia berniat membunuh Terumi!” teriak Leo dengan marah. “Bajingan kamu! Aku akan membunuhmu!”
“T-tidak! A-aku—” Mona berniat memberikan penyangkalan namun mulutnya terhenti, bibir dan tubuhnya bergetar dengan kuat.
Di sisi lain Arthur menghampirinya dan memeluknya dengan lembut, “Tenanglah, Mona! Katakan dengan jelas apa yang terjadi?!”
“A-aku ... membunuh Terumi ... aku membunuhnya, membunuhnya—” Mona begitu ketakutan dari raut wajahnya sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.
“Tenanglah, Leo,” ujar Erina selagi menenangkannya. “Terumi masih hidup, pelurunya tak merusak titik vitalnya. Cepatlah bawa dia ke tempat aman dan rawat lukanya!”
Leo masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi mendengar Terumi mengerang karena rasa sakitnya membuatnya berhenti.
“Serahkan yang di sini padaku.”
Suara pria datang dari tempat lain, di sana Leo menemukan Ray yang tubuhnya bersimbah dengan darah sedang menatap Arthur dengan dingin.
“... ya.” Leo mau tak mau harus pergi membawa Terumi. Ray dan Erina sudah ada di sini, “Berikan bajingan itu ganjaran yang setimpal!” pesan Leo sebelum menggendong Terumi.
Ray dan Arthur saling bertatapan cukup lama bahkan setelah Leo pergi. Disatu sisi Ray memiliki mata yang tampak berapi-api oleh kemarahan, sementara Arthur memiliki tatapan khawatir dan bingung.
“Jika aku memintamu menyerahkan orang yang menembak Terumi, bisakah kamu memberikannya dengan sukarela?” tanya Rau dengan dingin.
Arthur sedikit diam, ia menggertak giginya dengan kesal, “Sayangnya tidak.”
“Sudah kuduga akan begitu.”
“Tunggu dulu, Ray,” Arthur menghentikan Ray yang tampaknya semakin marah. “Aku sendiri masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi di sini. Mona, mustahil dia berani menembak seseorang.”
Arthur mulai menjelaskan berbagai kejanggalan yang terjadi saat ini.
Pertama, dia sangat mengenal Mona, wanita pengecut yang bahkan tak berani menyakiti seekor tikus dengan tangannya. Mustahil dia berani menembak manusia.
“Selain itu, kamu harusnya tahu, kan? Mona dan Terumi berteman dengan baik, tidak ada permusuhan sama sekali diantara keduanya. Mustahil Mona akan menembaknya.”
“Mari selesaikan ini dengan kepala dingin. Ayo, kita pahami apa yang sebenarnya terjadi, ya?” ujar Arthur, berusaha membujuk Ray.
Saat ini situasinya sama sekali tidak menguntungkan. Tidak ada yang bisa dinilai putih dari tindakan Mona yang menembak Terumi tanpa alasan yang jelas.
Arthur harus dengan bijak menangani situasi ini. Menghadapi Erina dan Ray di sini bukan hal yang bijak.
‘Sial! Ada apa dengan semua ini?! Satu-persatu hal-hal tidak masuk akal terus saja terjadi.’
Arthur memandang Chelsea yang tubuhnya bergetar dan hanya memandang bergantian antara Ray dan dirinya.
“Chelsea, bisakah kamu jelaskan —”
“Tak perlu penjelasan,” Ray memotong ucapan Arthur dan mengeluarkan pisaunya. ““Mona menembak Terumi” adalah fakta yang tak terbantahkan.”
“Bahkan jika mereka berteman baik, itu hanyalah sampul. Di tempat seperti inilah siasat kejam dimainkan.”
Arthur tak memiliki kata-kata untuk membantahnya. Memang faktanya di tempat seperti inilah manusia harus membuang hatinya. Strategi kejam seperti berteman baik dan menusuk dari belakang adalah cara yang ampuh.
Bahkan Arthur tak memiliki argumen apapun untuk membantahnya.
“Ray, kamu orang yang cerdas. Harusnya kamu menyadari keganjilan situasi ini, tolong berpikirlah dengan kepala dingin. Aku tak ingin kita bermusuhan—”
“Tutup mulutmu!” bentak Ray dengan nada yang cukup tinggi. “Tak peduli seberapa aneh situasinya, Mona menembak Terumi tidak akan pernah berubah. Tidak ada ruang untuk negosiasi.”
Arthur menyadari kalau Ray tak lagi bisa diajak kompromi. Pada situasi ini, Arthur tak percaya diri kalau Degree-nya dapat membantunya. Bahkan jika dia berhasil selamat dari ini, mustahil Mona akan lolos.
Tak peduli seberapa hebat Degree-nya, pasti akan selalu ada batasan yang tak bisa dilampaui begitu saja. Selain itu, dia tak lagi memiliki rekan yang bisa diandalkannya.
‘Menghadapi Erina dan Ray bukan perkara mudah!’
Arthur memandang sekitar dan tak menemukan siapapun. Dia mungkin melihat Eric di kejauhan yang masih mengobati kakinya, meminta bantuannya takkan berguna sekarang.
“Chelsea,” panggil Arthur, menyadarkan wanita itu dari rasa takutnya. “Bawa Mona menjauh dari sini. Aku akan menangani keduanya.”
Chelsea tampak ingin mengatakan sesuatu namun bibirnya begitu bergetar sehingga tak ada kalimat yang bisa diucapkan. Arthur kemudian menepuknya lembut selagi menyerahkan Mona.
“Jangan khawatir, aku akan menahan mereka berdua sehingga meraka takkan mengejarmu.”
Chelsea masih tergagap, dia ingin mengatakan sesuatu lagi namun tidak bisa. Alhasil Chelsea hanya bisa menuruti permintaan Arthur dan pergi.
“Jika kamu menginginkan Mona, maka lewati aku dulu, Ray.”
Pertarungan diantara keduanya, Ray dan Arthur tampak sudah ditakdirkan. Selain itu, ada juga keberadaan Erina yang akan membuat Arthur semakin sulit menang dan lolos dari situasi ini.