
Ray telah berdiri di bloknya selama hampir satu jam dan tak ada apapun yang terjadi. Baik orang ataupun teriakkan sama sekali tidak ada.
Ini mungkin waktu yang terkesan sia-sia untuk dilakukan namun untungnya ada hubungan timbal balik dari hal ini.
Ray takkan mau melakukan hal ini jika ia tidak mendapatkan balasan apapun. Ini tidak lebih seperti menghabiskan waktu dengan sia-sia.
“Masa lalu Arthur, kah. Harusnya aku tidak akan tertarik dengan sesuatu yang tidak akan bisa diubah dengan cara apapun. Namun entah mengapa hanya orang ini saja yang berbeda.”
Ray merasa bahwa ada benang tak terlihat yang menghubungkan antara dirinya dengan Arthur. Ini perasaan yang asing, Ray belakangan ini merasa sedikit gelisah karena pergerakan Arthur tampaknya mulai serius.
“Mereka tak lagi bergerak di siang hari untuk beberapa alasan. Dan, tentunya Arthur tidak lagi selembut dulu.”
Mengalihkan pikirannya, Erina seharusnya sudah bersembunyi di tempat yang Ray tentukan sesuai dengan rencananya. Selain itu, harusnya Indri dan kelompoknya juga mulai bergerak.
Dengan adanya bantuan tambahan maka Ray bisa menciptakan situasi yang dia harapkan. Ray telah berkomitmen pada rencana ini bahwa setidaknya harus ada satu kelompok yang jatuh.
“Aku juga harus menentukan ulang siapa saja yang akan kubawa untuk tetap bersamaku.”
Terumi sudah dipastikan akan tetap ikut bersama Ray karena dia berguna dan tujuh puluh persen bersih tanpa tanda pengkhianatan. Erina juga akan bersamanya karena dia saat ini adalah boneka Ray.
‘Awalnya Leo juga ingin aku bawa, tetapi aku telah cukup lama mencurigainya dan kecurigaan ini semakin kuat sejak mendengar pernyataan Eric sebelumnya.’
Eric mungkin saja berbohong untuk mengacaukan kelompok Ray. Akan tetapi, tak ada manfaat baginya melakukan itu sehingga kecil kemungkinan dia berbohong.
Saat Ray sibuk dengan pemikirannya, ia mendengar siulan yang cukup keras datang dari tempat Leo. Itu adalah tanda yang telah ditentukan sebelumnya jika mereka menemukan sesuatu.
Ray tidak berniat untuk diam dan lekas berlari ke arahnya. Jika Leo menemukan si pembunuh itu, maka bagus. Segalanya akan mulai berjalan dengan sendirinya.
Ray mengeluarkan senter kecil dari saku jubahnya dan menyala dan mematikannya beberapa kali ke arah taman. Dia menunggu beberapa waktu sampai mendapatkan dua kali kedipan cahaya dari taman.
Selain itu, Ray juga mengeluarkan kertas dan pulpen. Ia menuliskan sesuatu sebelum melemparkannya dengan sembarangan karena tahu seseorang telah mengawasinya sejam yang lalu.
Awalnya Ray tahu ada dua orang yang mengamatinya dari tempat jauh. Satu pengamat lainnya telah pergi tiga puluh menit lebih cepat sementara yang satu ini memiliki pendirian kuat.
Ray bisa menebak dari mana asalnya dua orang pengawas ini namun dia tak bisa memastikan siapa yang bersikukuh untuk mengawasinya sampai sekarang. Jika taruhannya tidak salah maka catatan yang ia buang barusan akan jatuh ke tangan yang tepat.
“Tampaknya Terumi sudah tiba di tempat Leo mengingat jaraknya tidak sejauh dengan tempatku. Kemungkinan besar Eric juga ada di sana.”
Ray mulai berlari tanpa tergesa-gesa ke lokasi kejadian. Entah ada apa di sana namun berdasarkan firasatnya datang terlalu awal bukanlah pilihan yang bagus.
...****************...
Leo saat ini sedang berwaspada, di depannya terdapat seorang pria berperawakan tegak dan wanita dengan pakaian ketat. Mereka memiliki wajah yang disembunyikan, pedang dan pisau di tangan juga pistol yabg tersembunyi.
Hal yang membuatnya tertarik bukan hanya keberadaan dua orang asing tersebut, tetapi sosok yang mengejar keduanya.
“Arthur? Mona? Dan kamu adiknya Eric?” tanya Leo.
“Leo?” seru Arthur dengan wajah terkejut. Dia tentu tidak mengharapkan kehadiran Leo di sini.
“Ada apa, Leo?!” Terumi tiba di tempat beberapa detik kemudian. Dia juga memiliki wajah terkejut yang sama dengan Arthur. “Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Terumi? Justru aku yang harusnya bertanya!” Mona sendiri tidak menduganya dan terkejut.
Chelsea kemudian berdecak kesal karena hal-hal tidak terduga ini. Ia mendengar Leo mengetahui dirinya, Chelsea dapat dengan mudah mencapai kesimpulan kalau Eric meminta bantuan mereka untuk sesuatu.
“Abaikan reuni kalian. Para pembunuh ini jauh lebih penting!” bentak Chelsea.
Semuanya kembali berwaspada dan menodongkan senjata ke arah dua orang yang terkepung dari dua sisi.
Dua orang itu awalnya diam dan hanya saling menatap sebelum mengangguk. Mereka mengangkat tangannya dengan patuh dan tanpa perlawanan.
Arthur tidak menurunkan kewaspadaannya, “Aku tahu siapa kalian. Jadi, cepat buka topeng itu!”
Tentunya keduanya tidak menurut dan hanya diam melihat Arthur seakan mengejeknya. Meski begitu, Leo dan Terumi tidak bisa diam saja saat mendengarnya. Mereka ingin bertanya, tetapi orang lainnya datang.
“Chelsea! Syukurlah kamu baik-baik saja!”
Eric datang dari belakang Terumi, dia tampak terengah-engah dan wajahnya sangat panik. Keringat dingin bahkan tampak muncul di keningnya. Dia jelas berlari kencang saat datang ke sini.
“Kakak ...,” gumam Chelsea, terdapat nada kesedihan dari suaranya.
Eric awalnya hanya memperhatikan keberadaan Terumi, Leo dan Chelsea. Sampai akhirnya ia menyadari keberadaan dua orang asing yang menutupi wajahnya dengan topeng dan orang lainnya yang cukup akrab.
Eric mengerutkan alisnya dengan tidak senang saat melihatnya, “Arthur? Apa yang kau lakukan dengan adikku?” tanya Eric dengan dingin.
Arthur mengangkat alisnya, ia tentu tidak mengharapkan kehadirannya, “Eric? Aku memang berencana menemuimu namun tidak kusangka secepat ini.”
“Mari kesampingkan dulu hal ini. Mengungkap bajingan ini adalah tugas utama,” Arthur mengalihkan pembicaraan. “Kalian harus tahu kalau bajingan ini sebenarnya mengkhianati kita. Mungkin juga dia dalang dari peristiwa tak menyenangkan di Open World.”
Terumi memiringkan kepalanya karena Arthur menatap lurus ke arahnya, “Apa maksudmu dua orang asing ini bagian dari kita?”
Mona mengangguk menggantikan Arthur. Ia menatap Terumi dengan pahit dan penuh makna, meski enggan untuk mengatakannya namun Mona menguatkan tekadnya.
“Ya. Keduanya adalah dalang utama yang menyebabkan pembunuhan berantai. Mereka adalah Ray dan Erina.”
“Hah?” Terumi tersedak napasnya sendiri, tentunya karena perkataan Mona sangat mustahil untuk terjadi. “Jangan berbicara omong kosong! Ray ada bersama kami menjaga blok lain!”
“Ya! Aku tidak tahu apa-apa tentang Erina namun satu hal yang pasti Ray tak mungkin melakukannya!”
Terumi dan Leo jelas tidak menerima omong kosong itu. Ray ada bersama mereka untuk membantu Eric menemukan adiknya.
Arthur menatap keduanya berganti sebelum menatap Eric yang memandang dengan tidak masuk akal.
“Mengapa kamu pikir itu dia?” tanya Eric dengan wajah aneh.
Arthur sedikit diam selama beberapa waktu sebelum menjawabnya.
“Aku selalu melakukan patroli sendirian setiap malam karena firasatku sangat buruk belakangan ini. Selagi dalam perjalananku, tak sengaja aku melihat dua orang.”
Arthur menjelaskan kalau dua orang itu berpenampilan persis seperti orang yang dicurigai Ray dan Erina ini. Ia juga mengungkapkan kalau keduanya mengetuk pintu kamar orang lain, masuk selama beberapa menit sebelum akhirnya keluar.
Tentunya Arthur bisa mengabaikan hal tersebut namun satu yang membuatnya curiga adalah penampilan tersebut. Tidak ada orang bodoh yang tidak akan mencurigainya.
“Aku mengintip pada saat itu. Kamu tahu apa yang membuatku terkejut? Si wanita itu membuka bajunya dan membiarkan buahnya dilihat.”
Hal tersebut tentunya memancing nafsu pria yang dihampiri kedua orang tersebut. Arthur berpikir bahwa mungkin diam-diam ada yang melakukan prostitusi di tempat ini namun nyatanya dia salah.
“Bukan untuk menjual tubuh namun hal yang sangat aneh terjadi.”
“Sangat aneh? tanya Eric, memiringkan kepalanya. “Aku tidak mengerti apa hal aneh yang bisa terjadi dari hal itu.”
Jika ada, maka hanya ada pria dan wanita saling bersentuhan. Namun karena Arthur menyangkalnya, tampaknya hal tersebut tidaklah terjadi.
“Tentunya itu jika kamu menggunakan akal sehat. Degree berada di garis antara yang masuk akal dan juga tidak,” Arthur menatap dua orang yang ia curigai tersebut. “Pada saat wanita itu membiarkan orang melihat dadanya, dia mulai membisikkan sesuatu ke telinga targetnya.”
“Kamu tahu apa yang terjadi?” Arthur mengerutkan alisnya dan terkesan marah. “Pria yang ia targetkan langsung jadi penurut seperti seekor anjing.”