
Sebastian mengeluarkan pisau kecil dari lengan bajunya dan melemparkannya ke Ordo. Tentunya serangan tersebut mudah dihindari namun Ordo hampir kesulitan melakukannya.
“Dengan luka seperti itu, memaksakan diri menggunakan Degree, kamu takkan selamat!” Sebastian memberikan tendangan kuat saat melihat celah.
Namun ia ceroboh karena celah itu sengaja dibuat oleh Ordo yang segera menangkap tendangannya, “Bahkan jika harus mati, setidaknya akan kubawa kamu bersamaku!”
Sebastian menggertak giginya karena Ordo mencengkram kakinya dengan sangat kuat. Cengkramannya mampu menghancurkan kakinya dan untuk menghindari situasi tersebut Sebastian menembakkan pistol.
Ordo melompat menjauh dan memuntahkan darah. Bukan karena ada tembakan yang mengenainya tetapi luka yang ada di perutnya menjadi penyebabnya.
Luka tersebut masih sangat baru, meskipun sudah mendapatkan perawatan tetap saja jahitannya akan terbuka ketika Ordo melakukan aktivitas fisik seperti bertarung.
Ia berlutut dan memegang perutnya yang sekali lagi mengeluarkan darah. Kepalanya sedikit terasa pusing dan berkunang-kunang.
Hidupku takkan lama lagi ... setidaknya ... Erina berada dengan orang-orang yang tepat. Pikirnya.
Ordo tak pernah takut akan kematian dirinya, yang ia takutkan hanya ketika ia mati masih ada penyesalan yang belum terselesaikan.
Untungnya ia sudah memperbaiki hubungan dengan Erina dan memastikan bahwa adik semata wayangnya akan aman selama tugas-tugas yang akan datang.
Kepercayaan diri itu datang karena Erina telah memiliki rekan-rekan yang kuat bersamanya. Ordo tak lagi memiliki keraguan untuk meninggalkannya.
“Kamu sangat memaksakan dirimu. Harusnya kamu sadar menggunakan Degree-mu selama dan sekuat ini akan mendekatkan dirimu menuju kematian.” Sebastian berkata menyakitkan saat ia jalan sedikit terpincang-pincang.
Ordo tersenyum kecut, “Akh tak ingin mendengarnya dari seorang pengkhianat!”
“Selain itu aku tahu betapa berbahayanya kamu dan kelompokmu. Jika kematianku akan menyelamatkan Erina, maka itu sudah cukup. Aku tidak lagi punya penyesalan!”
Ordo cukup puas dengan kehidupannya. Meskipun ada beberapa hal yang belum ia lakukan namun itu bukan sesuatu yang benar-benar ia inginkan.
Hal terakhir yang ingin ia selesaikan adalah membunuh Sebastian. Jika hal tersebut berhasil ia capai maka takkan ada penyesalan saat kematiannya tiba.
“Kamu pria yang menyebalkan. Aku tahu bahwa kamu tidak pernah memiliki rasa takut akan kematian, dan karena itulah mengatasi dirimu menjadi prioritas saat ini.” Sebastian mengisi ulang pelurunya dan kembali mengambil ancang-ancang.
Ordo perlahan bangkit dan menebang pohon dengan kedua tangannya. Hal yang baru saja ia lakukan tentunya akan mengundang pertanyaan besar bagaimana ia bisa melakukannya.
“Aku menggunakan seluruh kekuatanku di hari-hari yang akan datang. Tentunya sudah jelas setelah semua ini mustahil aku hidup.”
Prediksinya Ordo mengambil energi enam bulan dirinya di masa depan untuk pertarungan ini. Entah apakah dia masih bisa bertahan setelah ini, kemungkinannya sangatlah kecil. Untuk itulah Ordo amat bertekad membawa Sebastian bersamanya.
“Kamu benar-benar ingin mati, ya? Kalau begitu baiklah!” Sebastian menembakkan pistolnya.
Ordo menahannya dengan batang pohon di tangannya selagi berlari cepat mendekati Sebastian. Setiap meter yang diambil Ordo untuk mendekat, setiap meter diambil Sebastian untuk menjauh.
Keduanya saling kejar-kejaran di tengah hutan. Suara tembakan yabg menghantam pohon menggema. Setiap kali pohon di tangannya hancur Ordo akan mengambil yang lainnya.
Pertarungan mereka hanya menunggu waktu sampai salah satu kelelahan atau kehabisan peluru.
“Kamu sangat keras kepala!” Sebastian berhenti menembak dan menggunakan pisaunya untuk menyerang.
“Seharusnya kamu sudah tahu hal itu!” Ordo dengan pohon di tangannya menyapu apapun yang ada di depannya.
Sebastian melompat untuk menghindarinya namun ia tak menduga itulah yang Ordo incar.
“Kena kau!” Seluruh urat di tubuhnya keluar, Ordo mengerahkan tenaganya dan mengubah ayunannya menjadi ke atas bertepatan dengan Sebastian melompat.
Sebastian memutar gelang di pergelangan tangannya dan menembakkan kabel di pepohonan, kabel tersebut menariknya kembali ke darat dengan selamat.
Saat ia hendak mengambil napas lega, firasatnya memburuk, Sebastian menoleh ke belakang untuk menemukan tinju Ordo tepat di depannya.
Sebastian dengan sigap menghindar, pukulan Ordo menghantam pohon di belakangnya dan membuatnya hancur. Andaikan ia tak menghindar maka kepalanya sudah pasti hancur.
“Matilah di sini!” Sebastian menikam jantung Ordo namun gagal karena Ordo menggunakan tangannya untuk menahannya.
Pisaunya menembus telapak tangannya, Ordo terlihat menderita karena rasa sakit luar biasa tersebut, namun ia tak berhenti sampai di sana. Tangannya yang bebas segera meraih tangan Sebastian yang coba melarikan diri karena serangannya gagal.
“Aku mendapatkanmu!” Ordo tersenyum sinis dengan sangat lebar, wajahnya itu membuat Sebastian bergetar.
Sesaat kemudian ia menyadari bahwa genggaman Ordo semakin kuat. Hanya butuh beberapa detik bagi Sebastian memahami tujuannya, tetapi sayangnya ia sudah terlambat.
CRUCH!
Tangan yang digenggam Ordo retak, patah, lalu putus dengan mengerikan. Dari pergelangan sampai ke sikunya, tangan tersebut melayang di udara dengan dramatis.
Sebastian segera mengambil jarak yang cukup jauh dari Ordo. Ia memegang tangannya dengan wajah yang menyakitkan dan penuh kemarahan.
“Kurang ajar... .” Sebastian sudah cukup lama tidak merasakan sakit seperti ini sehingga ia benar-benar tidak sanggup mengatasinya.
Darah segar mengalir deras, beruntung pakaiannya hitam sehingga darah yang membanjiri lengannya tidak terlihat. Andaikan ia menggunakan pakaian putih maka kepalanya akan pusing melihat darah sebanyak itu.
Sebastian ingin menghentikan pendarahannya segera namun tidak bisa karena keberadaan Ordo. Jika ingin melakukannya setidaknya dia harus mundur sekarang juga.
“Jangan pikir ... kamu ... bisa pergi, keparat ... .” Ordo merintih selagi merangkak mendekati Sebastian.
Terlepas dari darah yang ia muntahkan. Terlepas dari napasnya yang yak lagi beraturan, dan terlepas dari kesadarannya seakan mau menghilang. Ordo masih memasang wajah gila dan penuh niat untuk membunuh.
Sebastian tahu pria ini takkan bertahan lebih lama lagi. Andaikata ia bersikeras melawannya maka hanya akan ada hal yang lebih buruk nantinya.
“Dengan darah sebanyak itu ... kamu takkan pernah selamat. Bahkan ... keajaiban takkan menolong.” Sebastian mengambil kayu di dekatnya, ia kemudian bangkit dan berjalan pergi dengan kaki pincangnya.
“Jangan pergi ... pecundang! Kemarilah ... biarkan aku, membunuhmu!” Ordo melakukan yang terbaik untuk bangkit dan mengejarnya namun tak bisa.
Kepalanya terasa sangat sakit, pandangannya goyah dan kesadarannya benar-benar memudar. Sudah terlalu banyak anggur merah darah meninggalkan tubuhnya.
Ordo hanya bisa menatap Sebastian menghilang diantara pepohonan dan gelapnya malam sebelum berakhir terkapar lemah menunggu ajal menjemput.
“Inilah ... akhirnya... .”
“Tak ada penyesalan ... meski gagal membunuhnya ... setidaknya, aku dapat lengan.”
“Ini menyakitkan tidak bisakah kematian datang ... lebih cepat?”
Disaat-saat terakhir kehidupan segala kenangan muncul dalam benaknya. Bagian terakhir yang muncul itu adalah kenangannya bersama adik kecil tercintanya.
“Baik-baiklah ... tetaplah hidup ... untukku ... Erina ... .” Cahaya di matanya menghilang, napasnya berhenti dan seluruh anggota tubuhnya berhenti bekerja.
Ordo akhirnya menjumpai kematiannya. Ia tak takut mati, yang dia khawatirkan adalah meninggalkan penyesalan. Jika ada penyesalan yang tertinggal, mungkin hanya satu yaitu tidak dapat melindungi adiknya lagi.