The Degree

The Degree
Persiapan Arthur



Setelah Secret meninggalkan tempat, Arthur dan Mona lekas melakukan rapat strategi. Mereka tentunya akan mencari tempat yang sepi dan duduk bersandar di pojokan.


Dengan mudah Arthur mengambil kesimpulan dari tugas terakhir yang disiapkan oleh Secret dan membagikannya kepada Mona. Bagian terpenting adalah tentang D Point.


“Manfaatnya selama ini samar-samar, aku tak menyangka bahwa akan ada waktu di mana harus benar-benar menggunakannya.”


Arthur menatap DP miliknya yang hampir tak berguna sama sekali. Alasannya sederhana, itu karena dia tak ingin terlalu bergantung dengan sesuatu yang mencurigakan.


‘Aku tak pernah percaya pada sesuatu seperti D Point. Memang faktanya aku membeli pistol dan peluru dari sana awalnya.’


Dia juga menggunakannya untuk membeli makanan seperti ransum dan hal lainnya. Arthur tak menyangkal keberadaan D Point, dia hanya berwaspada kepadanya.


“Apa saat itu kesalahan besar karena aku membelanjakannya untuk banyak hal?” tanya Mona dengan wajah sedih.


Arthur tentunya menggelengkan kepala, “Tidak. Justru itu pilihan yang tepat bahwa kita menampilkan sosok boros di muka umum.”


Sejak saat itu Arthur selalu memiliki perasaan tak menyenangkan, dia kemudian melakukan berbagai hal seperti penyelidikan dan pemborosan. Dia awalnya hanya ingin orang melihatnya bermain-main saja meski kenyataannya Arthur menyelidiki tempat sekitar.


Beberapa kali dia menemukan Ray berkeliaran tak jelas seperti mencari Terumi dan hal lainnya. Selain itu, tak jarang juga Arthur bertemu dengan Guren yang berbicara dengan beberapa orang. Dia tampak seperti salesman yang menawarkan produk mencurigakan.


“Itu, apa kamu sudah mencurigai orang itu sejak awal?” tanya Mona dengan wajah terkejut.


Dia tak bisa langsung menyebutkan namanya karena Degree Erina yang melarang hal tersebut. Tidak memungkinkan menyebut namanya, bahkan diantara mereka berdua saja.


Meski begitu, larangannya lebih kuat jika mereka coba membicarakannya dengan orang lain.


“Aku hanya melakukan tindakan tanpa rencana. Bahkan aku bukan orang cerdas seperti itu. Hanya saja ... .”


Kecurigaan Arthur pada Ray bermula dari melihatnya bercakap-cakap dengan orang asing. Awalnya Arthur akan mengabaikannya karena wajar bertemu dan berkenalan dengan orang asing.


Namun pada suatu waktu dia menemukan orang asing itu berbicara dengan Indri, mereka tampak saling mengenal. Dari hal tersebut Arthur menjadi curiga. Dia juga telah beberapa mengunjungi kamar Erina yang telah lama mengurung diri namun tak pernah bisa mendapat kesempatan berjumpa langsung.


Arthur menarik rambutnya, ia merasa sangat frustasi menjadi orang tidak berdaya seperti saat ini.


“Harusnya aku sudah mengetahuinya sejak awal! Berkat kebodohanku ini semua terjadi, sial!”


Pengkhianatan dari orang yang ingin ia anggap sebagai teman dekat amatlah menyakitkan. Padahal awalnya Arthur berencana membangun kolega terpercaya dengan Ray dan yang lainnya.


Dia sudah yakin akan mampu melewati situasi apapun jika bersama-sama. Namun siapa duga? Orang yang ia ingin akui namun melakukan siasat keji yang membuat posisinya terpuruk seperti ini.


“Arthur,” ujar Mona, ingin meraih tangan Arthur untuk menenangkannya namun berhenti sebelum melakukannya.


Dia sadar dirinya juga bodoh, jika bukan karena ia mau mendengarkan Erina. Maka Mona takkan pernah melakukan penembakan terhadap Terumi.


‘Saat itu aku tak tahu harus apa karena hanya bisa melihat Terumi dan Leo bertarung melindungiku. Saat Erina muncul, dengan bodohnya aku bersyukur dan berterima kasih dengan harapan dia akan membantu. Namun kenyataannya, rasa terima kasih dan hutang budi itu berbalik menyerangku ketika Erina memerintahkan untuk menembak Terumi.’


Hal yang lebih kejinya lagi adalah kemungkinan bahwa Erina juga terhipnotis atau semacamnya. Begitulah yang Arthur simpulkan dan nyatanya Ray adalah dalang terbesar semua kejahatan ini.


“U-untuk sekarang sebaiknya kita pikirkan apa yang ada di depan kita,” ujar Mona. “Penyesalan bisa kita terima secara perlahan. Yang terpenting adalah jangan terlarut dalam penyesalan dan membuat penyesalan lainnya.”


Terlalu tenggelam dalam lautan penyesalan sampai tak memperhatikan hal yang harus dilakukan di depan mata hanya akan membawa lautan penyesalan lainnya. Membuat seseorang semakin terjebak, tenggelam, tenggelam lalu menghilang.


Arthur menghela napas panjang, alasan ia tak ingin sesuatu menimpa Mona adalah hal ini, setiap kalimatnya terkadang mengandung makna yang membuatnya selalu bangkit.


“Jangan membuat penyesalan lainnya, kah. Kamu menyelamatkanku lagi, Mona. Terima kasih.”


Mona tampak sedikit merona saat mendengar ucapan syukur Arthur. Meski begitu pria tersebut tak mengejarnya lebih jauh dan lompat ke permasalahan utama.


“Sekarang kita harus paham bahwa besar kemungkinan semua orang di sini memusuhi kita. Panggung yang bajingan itu siapkan membuat kita terlihat seperti pemeran jahat. Tak sedikit orang akan menjauhi kita.”


Hal tersebut menjadi kerugian besar bagi keduanya karena mereka akan kesulitan mencari kolega. Teman akan berkurang dan musuh bertambah banyak. Bisa dibilang kali ini Arthur dan Mona terpojok.


“Belum lagi kita berdua adalah ketua dari suatu kelompok. Aku tak bisa bergabung denganmu jika tida menyerahkan posisi ini,” ujar Mona dengan wajah pahit.


Pemindahan ketua kelompok dimungkinkan dengan pembayaran DP yang telah ditentukan. Jumlahnya bukan sesuatu yang murah ketika makna DP itu sendiri berubah menjadi sesuatu yang amat penting.


Mona memiliki DP yang lebih dari cukup untuk memindahkan posisi ketua. Bahkan jika itu menguras banyak DP, Mona masih memiliki sisa yang memuaskan.


Di sisi lain, Arthur sungguh kaya raya. DP-nya tidak berada di kisaran puluhan ribu, tetapi ratusan ribu. Nominal yang luar biasa untuk dimiliki satu orang.


“Tidak, kita tak perlu menyerahkan posisimu untuk sekarang tentunya. Menjadi ketua kelompok bukanlah hal buruk sepenuhnya.”


Arthur mulai berpikir kritis. Dia coba menilai kemungkinan baik dan buruk dari hal tersebut. Tentunya Mona akan bisa melakukan dengan baik penilaian terhadap hal itu berkat kemampuan analisisnya.


“Cara terbaik bagi kita memegang kendali adalah dengan mengakali aturan itu sendiri,” Arthur tersenyum percaya diri. “Kita akan pergi keluar, kan? Maka ada banyak hal yang bisa kita gunakan juga.”


Mona paham maksud mengakali aturan namun ia belum mengerti bagaimana caranya. Dia bisa menganalisis aturan namun dia tak tahu cara memanfaatkannya. Namun jika membahas tempat di luar, Mona tahu jawabannya.


“Kamu benar! Kita bisa melakukan banyak hal dengan itu. Terutama kamu adalah orang kaya!” Mona berseru senang layaknya anak kecil mendapatkan mainan baru.


Arthur tersenyum masam. Perkataan tentang orang kaya adalah hal bermasalah namun ia takkan mengejarnya lebih jauh.


“Ya. Uang tunai, dua ketua, dan juga perebutan kunci. Ada satu strategi besar yang bisa kita manfaatkan. Kita memiliki keunggulan soal DP dan kemampuan analisismu. Aku yakin orang itu akan memikirkan hal yang sama.”


Arthur tahu bahwa Ray juga akan coba mengakali aturannya. Bahkan rencana paling efektif untuk digunakan kemungkinan besar juga sudah ditemukan oleh Ray.


Oleh karena itu, ini tentang kecepatan dalam membangun dan kemampuan bersiasat.


“Di luar tempat ini, ada kekuatan yang justru lebih kuat dari Degree dalam arti tertentu.”


Pada tahap ini Arthur tak bisa mengatakannya karena perlu proses panjang untuk melakukannya. Entah apakah Ray akan memikirkan hal yang sama atau tidak.


Saat keduanya berniat mendiskusikan hal lain lebih lanjut, seorang pria dengan rambut hitam yang cukup panjang menghampiri. Arthur dan Mona menatapnya dengan curiga, menunggu apa yang akan dikatakannya.


“Maaf, bisakah kita bicara sedikit hal?” tanya pria itu.


Arthur mulai berdiri dengan acuh tak acuh, “Jika kamu ingin bergabung denganku maka lupakan saja. Aku tak yakin akan menerima orang yang tak dikenal dalam waktu dekat.”


Mona mungkin diam namun sikapnya sendiri menunjukkan bahwa dia akan ada di sisi Arthur dan mengikutinya. Meski begitu, pria itu tampak tidak mundur.


“Sayangnya aku tahu itu dan untuk sekarang aku tak berniat mencalonkan diriku untuk bergabung,” ujar pria itu dengan senyuman tipis.


‘Untuk sekarang, ya?’ pikir Arthur. Jika orang itu berkata demikian, maka mungkin di masa depan dia akan melakukannya.


“Jadi, apa keperluanmu?” tanya Arthur, langsung ke poin penting tanpa basa-basi.


“Aturan yang dibuat oleh Secret mengharuskan setiap orang di sini berpartisipasi dalam tugas terakhir termasuk orang-orang yang bernasib sial dari bencana belum lama ini.”


Orang-orang yang bernasib sial pastinya mereka yang terluka. Baik itu ringan atau sangat parah namun beruntung masih tetap hidup. Meski begitu keberuntungannya diiringi kesialan yang lebih besar, mereka harus turut andil menjalani tugas akhir.


“Hanya ada beberapa jam waktu yang diberikan Secret untuk bergabung ke dalam suatu kelompok. Mereka yang tak bergabung saat waktunya habis akan tereliminasi. Meski ada kemungkinan orang yang terluka menjadi ketua, hanya akan butuh sedikit waktu sampai keberadaannya diburu.”


Pria itu menjelaskan bahkan jika orang-orang yang terluka berhasil menghindari eliminasi karena tak bergabung ke dalam suatu kelompok, pada akhirnya mereka akan mati jika ketua kelompok kehilangan kuncinya.


Dari hal tersebut Arthur memahami apa yang coba pria ini sampaikan padanya.


“Kamu ingin aku merawat mereka dengan bergabung ke kelompokku?”


“Kamu memang cerdas. Pembicaraan kita akan cepat,” ujarnya. “Meski tampak merepotkan namun kamu harus tahu bahwa merawat mereka bukanlah kerugian sepenuhnya.”


Tak ada orang yang mau membawa orang tak berguna. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang pasti. Faktanya tidak ada satupun orang berusaha mendekati mereka yang terluka. Banyak yang berpikir membawa orang terluka hanya akan menghambat saja.


Namun Arthur berbeda. Dia dengan cepat memahami maksud pria itu.


“Memang benar kalau ada keuntungan dari melakukannya. Namun aku bertanya-tanya mengapa kamu membeberkannya padaku?” tanya Arthur dengan nada yang tajam.


Dia masih tak bisa menanamkan kepercayaan pada siapapun. Setelah dikhianati baru-baru ini, Arthur mengalami kesulitan dalam meletakkan kepercayaannya.


Terutama pada pria ini yang membimbing pikirannya untuk menyadari betapa pentingnya melakukan hal tersebut. Orang ini jelas tajam dan berpandangan dengan luas. Justru orang seperti inilah yang sulit dipercaya.


“Tentunya aku bisa membeberkan hal ini dan akan melakukannya jika kamu tidak bersedia.” Dengan santai memiliki jawaban yang samar, Arthur semakin sulit untuk percaya.


“Jadi, mengapa kamu memilihku di tempat pertama?”


“Mudah saja. Degree-mu adalah tokoh utama. Secara logika tokoh utama adalah sosok yang tak bisa mengabaikan orang kesulitan. Yah, bisa dibilang kamu serupa dengan pahlawan atau semacamnya. Dan, aku tahu besar kemungkinan kamu tidak akan mengabaikan mereka, kan?” dia menunjukkan tatapan yang misterius.


Kata-kata dan alasannya sangat masuk akal dan juga telah dipikirkan dengan sangat baik baik. Arthur menjadi tertarik dan juga curiga. Jika ada pria seperti itu di tempat ini, mengapa selama ini dia tak mengetahuinya?


‘Apa mungkin ... tidak. Tidak berguna memikirkannya sekarang.’


“Kamu seakan-akan mengenalku dengan baik, ya.”


“Entahlah. Kita mungkin sahabat di kehidupan sebelumnya. Yah, aku tak memiliki hal lain untuk disampaikan. Jadi, sampai jumpa.” Pria itu melambaikan tangannya dan berjalan pergi.


“Aku lupa mengatakan ini. Kamu harus ingat bahwa musuhmu bukan hanya orang-orang di sekelilingmu dan juga Ray Morgan. Berhati-hatilah, Retsuji Arthur. Ujian akhir adalah malapetaka sebenarnya, dan puncak dari kekacauan.”


“Meski mungkin kamu tak percaya setiap kata-kataku, setidaknya kamu tak mengalami kerugian dari berwaspada. Itu saja, selamat tinggal.”


“Apa artinya kamu juga kelak akan menjadi musuhku?” tanya Arthur, setengah bercanda dan sepenuhnya waspada.


“Ha ha ha, itu memang hal yang menarik namun aku akan pass untuk saat ini. Tergantung pada bagaimana situasi ke depannya akan berlangsung, mungkin aku harus pergi untuk melawanmu. Mungkin juga aku akan pergi ke pihakmu, Arthur. Namun aku memiliki harapan besar untuk tetap netral dan menjadi pengamat.”


Pria itu berusaha menyampaikan kalau ‘Jika aku tidak terdesak maka aku akan netral. Jika aku terdesak, mungkin aku akan melawanmu atau menjadi temanmu’ sesuatu seperti itu.


Orang yang tidak tertarik menyelesaikan atau memenangkan tugas akhir, berniat menjadi pengamat untuk kenyamanan dirinya sendiri. Justru orang ini adalah jenis yang mungkin lebih berbahaya dari Ray.


Arthur menatapnya dengan penuh penasaran, siapa pria itu dan apa yang coba ia lakukan di sini. Jika memenangkan tugas bukanlah akhir dari tujuannya, lantas apa yang berusaha ia dapatkan?


“Dia orang yang cukup aneh menurutku.” Mona yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.


“Setuju namun di sisi lain dia adalah jenis orang yang mengerikan. Ada baiknya kita tak membuat permusuhan dengannya.”


Arthur sudah memiliki banyak musuh dan jika harus menjadikan orang berbahaya lainnya sebagai musuh maka dia akan pergi ke tiang gantung tak lama kemudian.


“Tentang perkataannya, apa kamu serius akan melakukannya?” tanya Mona dengan sedikit bermasalah.


Orang-orang yang terluka tidak sedikit sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengatasinya begitu saja. Tak hanya memperhatikan kondisi setiap individu, kemungkinan penyusupan sangatlah mudah dengan banyaknya orang.


“Aku tak bisa meninggalkan mereka. Bahkan jika tak ada keuntungan yang aku dapatkan, aku tak mampu melakukannya. Ini berbeda dengan Open World.”


Di Open World Arthur merelakan hati nuraninya untuk meninggalkan orang-orang yang terluka. Kala itu ia tak dapat melakukan banyak hal karena situasinya sangat mendesak.


Selain itu, orang-orang yang ditinggalkan adalah mereka yang terluka sangat parah seperti kehilangan kaki dan berbagai hal yang menyulitkan untuk bergerak. Bahkan jika mereka selamat dari hari itu, pada akhirnya mereka akan mati di hari lain.


Arthur tak ada pilihan lain untuk dipilih selain meninggalkannya. Tentu hatinya sangat terluka, idealismenya adalah menyelesaikan uji coba dengan sebanyak mungkin orang yang selamat.


Namun sekarang situasinya berbeda. Ada orang-orang terluka yang memiliki kemungkinan hidup lebih besar dari pada di Open World kala itu. Arthur kesulitan mengabaikan mereka.


Selain itu ini adalah tahap terakhir dari uji coba, hanya satu langkah lagi saja mereka akan bebas.


“Mona, jika kamu merasa—” Arthur ingin menyampaikan sesuatu dengan sedikit ragu namun Mona menyela dengan senyuman.


“Aku mengerti. Jadi, apa yang akan kita lakukan untuk mengatasinya?”


“Eh?” Arthur sedikit terkejut. “Kamu tak harus membantuku melakukannya. Ini bukan pekerjaan mudah, loh.”


Arthur akan memberikan Mona pilihan untuk tidak melakukan hal ini bersamanya. Jika mereka membantu orang-orang ini, maka ada banyak pekerjaan di tangan mereka. Sejujurnya Arthur tak mau melibatkan Mona hanya karena keegoisannya.


“Tak masalah, Arthur,” ujar Mona, memukul pelan bahu Arthur. “Justru sikapmu yang seperti ini aku menyukainya! Kamu tak mengabaikan orang yang membutuhkan dan bisa kamu selamatkan.”


Arthur cukup terkesima, ia bersyukur bahwa Mona adalah wanita yang seperti itu. “Jadi kamu secara tidak langsung menyatakan suka padaku?” Arthur mengejek, meski dia sudah tahu perasaan Mona padanya sejak dulu.


Mona merona dan berusaha memberikan penyangkalan namun Arthur hanya tertawa lembut dan mengabaikannya.


‘Bahkan jika semua orang adalah musuhku, selama bersamanya aku yakin akan baik-baik saja.’


Arthur telah memantapkan tekadnya sekali lagi untuk bergabung ke dalam pertempuran di garis depan. Meski ada banyak musuh yang berniat memenggalnya, hal yang perlu Arthur lakukan adalah membuat perisai yang kuat untuk menanganinya.


...****...


Mereka pergi menemui orang-orang yang terluka. Mudah menemukannya karena mereka seakan minder dan menjauhkan diri dari kerumunan lain. Bahkan dari kejauhan Arthur bisa mendengar keputusasaan mereka.


“Sudah pasti tak ada yang mau merekrutku. Aku kehilangan tangan dan kakiku patah. Ini akhirnya.”


“Siapapun, biarkan aku masuk kelompok. Aku akan rela melakukan apapun!”


“Tolong aku!”


“Aku tidak mau mati! Biarkan aku bergabung dengan kelompok!”


Beberapa masih memohon dan memiliki tekad kuat untuk tetap hidup, beberapa menyerah; pasrah bahkan putus asa akan kehidupannya. Meski begitu ada juga sedikit orang yang memilih diam menunggu perkembangan situasinya.


“Ini lebih buruk dari dugaanku,” gumam Arthur, ia sudah menduga situasi serupa namun tak menyangka akan separah ini.


“Ya. Ada sangat banyak yang terluka.”


Mungkin ada sekitar hampir seribu orang yang terluka jika dihitung secara kasar. Mayoritas adalah orang yang mengalaminya patah tulang, kulit terbakar, bahkan kehilangan anggota tubuhnya.


Ada juga dari mereka yang masih terbaring dengan lemah, luka yang dimilikinya bukan sesuatu yang akan cepat sembuh bahkan dengan bantuan pemulihan dari Serum D.


Di sisi lain orang-orang yang hanya memiliki luka ringan telah dengan aktif mencari kelompok. Sejak awal, mereka yang mendapat luka ringan takkan membebani jika masuk ke kelompok tertentu.


“Batas maksimal kelompok adalah dua ratus orang. Bahkan jika kita menampung sampai batas maksimal, kurang lebih hanya bisa membawa 40% dari mereka,” ujar Mona dengan wajah kesulitan.


“... ya. Ini adalah masalah besar.”


Arthur tak mengharapkan ada sebabnya ini orang-orang yang memerlukan perawatan. Dia berharap setidaknya ada kurang dari empat ratus yang terluka cukup parah.


“Apa yang akan kita lakukan, Arthur?” tanya Mona dengan khawatir. “Kita tak bisa hanya membawa empat ratus. Besar kemungkinan kekacauan akan terjadi.”


Mereka pasti akan mulai berlomba-lomba untuk mendapat kesempatan bergabung dengan Arthur dan Mona. Jika itu terjadi, kekacauan takkan terhindarkan.


“Aku tahu itu. Jangan khawatir, jika berjalan lancar semuanya akan selamat.”


Arthur mulai mendekati mereka dan berkata dengan cukup keras.


“Semuanya tolong dengarkan aku. Ada sebuah cara di mana semua orang bisa mendapatkan kelompok!”


Perkataan Arthur menarik beberapa dari mereka yang memiliki harapan kuat untuk tetap hidup. Sementara orang-orang yang sudah menyerah dan putus asa sama sekali tak bereaksi.


“Aku dan rekanku adalah ketua kelompok. Kami bisa membawa sekitar 40% dari kalian. Namun sisanya harus berjuang. Dari hal ini, aku memiliki sebuah usulan bagi mereka yang tersisa!”


Arthur mulai menjelaskan dengan keras tentang betapa berharganya DP di tugas terakhir. Mereka yang awalnya kurang memperhatikan kini menjadi tertarik untuk mendengarkannya.


“Singkatnya DP adalah pemeran penting yang akan membantu kalian untuk selamat! Namun sebelum itu aku ingin memastikan. Selain aku dan rekanku, adakah diantara kalian yang menjadi ketua?”


Menunggu jawaban dan pengakuan namun setelah beberapa menit tak ada siapapun yang mau mengakuinya. Meski hanya ada lima puluh kelompok, Arthur setidaknya yakin ada satu atau dua yang menjadi ketua diantara orang-orang terluka.


“Kumohon, siapapun itu! Kami membutuhkan orang tambahan untuk menampung lebih banyak!” Kali ini Mona memohon bersama Arthur.


Keduanya diam cukup lama, sampai pada akhirnya seseorang mengangkat tangannya.


“Ano ... aku kebetulan menjadi ketua dari kelompok lima puluh.”


Seorang gadis dengan rambut pendek yang kehilangan mata kiri dan tangan kanannya patah menghampiri Arthur.


Arthur tersenyum senang dan meminta wanita itu menunjukkan buktinya.


“Kamu sungguh ketua kelompok. Syukurlah, terima kasih karena telah mau menunjukannya! Maukah kamu membantu kami menyelamatkan mereka semua?” tanya Arthur dengan penuh harapan.


“Y-ya. Aku b-bersedia.”


“Terima masih banyak. Bagaimana dengan yang lainnya?”


Arthur mencari orang lain, sampai kemudian dia menemukan seorang bocah mendekat. Ia cukup terkejut, Arthur baru tahu bahwa bahkan anak kecil juga ada yang ikut dalam uji coba ini.


Mona menghampiri bocah itu dan menepuk lembut kepalanya, “Ada apa nak? Apa kamu ketua dari suatu kelompok?”


Bocah itu mengangguk sedikit ragu, “Ya. Aku ketua nomor empat puluh.”


“Begitu. Omong-omong apa kamu berhasil bertahan sendirian selama ini?” tanya Mona, tentunya ia tertarik tentang itu.


Saat Mona bertanya hal itu, bocah tersebut mulai menangis keras. Mona merasa bersalah, ia kemudian memeluknya dengan lembut.


“A-aku sebelumnya bersama ayah dan kakak laki-lakiku. N-namun, m-mereka-!”


“Jadi begitu. Aku mengerti, pasti berat untukmu.” Mona memeluknya dengan penuh kasih sayang.


Bocah itu pastinya bertahan karena berlindung di balik ayah dan kakak laki-lakinya. Namun karena insiden ini, dia harus kehilangan keduanya. Bocah yang sungguh malang.


‘Namun dengan ini aku bisa menjalankan rencanaku.’


Ada delapan ratus orang yang dipastikan aman, maka sisa dua ratus lagi adalah pertaruhan yang bisa ia lakukan.