The Degree

The Degree
Kejutan Tak Menyenangkan



Arthur pada akhirnya menghentikan langkahnya. Mona menatap Arthur dan menemukan pria itu tercengang, sangat terkejut oleh kata-kata Indri.


Pria ini bukan jenis orang yang akan membiarkan emosinya keluar melalui wajah, Arthur adalah jenis orang yang cukup baik memainkan poker face miliknya.


Namun pada suatu kasus tertentu, seperti sekarang ini salah satunya, kemampuan memainkan wajah itu sama sekali tidak berguna dan terkadang kelepasan.


“... apa maksudmu?” Arthur berhasil bertanya dengan datar dan tak menimbulkan kecurigaan apapun.


Andaikan Indri tahu wajah apa yang ia buat sekarang, maka wanita itu akan menemukan informasi tanpa perlu melakukan pembicaraan lebih lanjut.


“Itu seperti yang kamu pikirkan. Tenang saja, aku tidak tertarik denganmu dalam banyak hal.” Indri tertawa geli dan berbalik menatap punggung Arthur juga Mona. “Sekarang bagaimana jika kita bicara?”


Arthur tidak bisa menolak lagi karena beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan. Bahkan Mona sendiri tahu betul bahwa mereka takkan bisa lewat dari percakapan dengan orang ini.


“Apa yang kamu inginkan?”


Indri berjalan ke sisi taman dan duduk di kursi, ia merentangkan tangannya untuk menunjukkan bahwa kursi itu untuk dirinya sendiri.


“Yah, topik akan muncul dengan sendirinya. Untuk sekarang bagaimana kabar kalian? Aku lihat kalian baik saja karena pergi berkencan.” Indri berkata dengan nada yang mengejek.


“Sungguh lucu bagi orang yang mengajukan pertanyaan dan menjawabnya sendiri,” ujar Mona dengan jengkel dan tak senang.


“Ya. Ini kesenangan untukku.” Indri tidak membantah perkataan Mona.


Provokasi murahan sekelas itu tidak akan membuatnya marah, Indri hanya akan menganggapnya seperti angin lalu.


Arthur menghela napas dengan lelah, ia ingin lekas meninggalkan tempat ini namun tidak bisa. Indri menginginkan informasi secara transparan darinya dan Mona, maka Arthur juga harus mencari kesempatan mendapatkannya.


“Kamu terlihat sangat santai meski harusnya ini waktu yang tepat bagimu melebarkan sayap untuk memperkuat kelompok kecil itu.”


Arthur tahu bahwa meski kecil Indri memiliki orang-orang berbakat dan dengan Degree luar biasa di sisinya. Faktanya dengan kelompok kecil tersebut mereka berhasil mengusir Virgo dan yang lainnya.


Hal itu jelas sangat luar biasa bahkan Indri serta kelompoknya memiliki kewaspadaan tertinggi dari Arthur untuk saat ini.


“Mengumpulkan tikus kecil yang hanya akan mati terinjak tidaklah berguna. Jumlah tidak berarti jika kemampuannya tanpa arti.” Indri menatap Mona dan Arthur bergantian dengan tertarik.


“Jika harus menambah pelayanku, maka lebih baik bagiku menarik babi hutan seperti kalian. Bahkan jika itu tidak menarik, setidaknya babi hutan lebih melukai ketimbang tikus.”


Jumlah bukanlah yang terkuat di dunia ini, terutama jika itu berhubungan dengan Degree. Hal ini sama seperti yang ada di banyak kisah tentang murim.


Seratus orang tidak akan berguna menghadapi satu orang pendekar hebat. Hukum Degree juga serupa dibeberapa tempat.


“Selain itu, kebanyakan tikus kecil bodoh dan mudah terpengaruh. Andai aku sembarang mengumpulkan mereka, bukan tidak mungkin taringnya akan diarahkan padaku.”


Meski sedikit tidak terima dengan perumpamaan yang dia ambil, Arthur lebih memilih mengabaikannya ketimbang mendebat.


“Begitu. Kamu takut ditikam dari belakang. Bahkan pawang kera tetap khawatir digigit kera.”


Indri sedikit cekikikan mendapati provokasi tidak terduga dari Arthur karena sepengetahuannya pria ini bukan tipe seperti itu.


“...”


Arthur menjadi sangat diam. Perkataan tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa Indri tidak membesarkan dan mempertahankan kelompoknya sendirian.


‘Diantara kelompok kecil yang berisikan orang-orang kuat miliknya ... ada sosok yang mengendalikan mereka,’ pikir Arthur.


Sejak awal Arthur merasa aneh karena semua orang di kelompoknya sangat mematuhi Indri yang hanya seorang wanita. Entah apa Degree yang dimilikinya, tetapi orang-orang itu bukannya memiliki Degree lemah.


Sangat tidak mungkin mereka tunduk begitu saja jika bukan karena takut atau dikendalikan.


‘Namun aku tidak bisa mempercayainya. Ada kemungkinan bahwa ia sengaja mengatakannya untuk mengacaukan pikiranku.’


Meski sulit juga menyingkirkan hal tersebut dari pikirannya, Arthur tidak akan memakannya dengan segera.


“Bagaimana kabar yang lainnya? Aku lihat hanya kalian berdua yang berkeliaran dengan bebas sekarang,” Indri mendadak bertanya dan mengubah arah pembicaraan.


“Itu bukan urusanmu, terserah mereka mau melakukan apa dan akan melakukan apa!” Mona menjawab dengan nada mengancam.


“Aku hanya bertanya,” Indri mencibir, “Selain kalian aku hanya menemukan bocah macan itu berkeliaran ke sana-sini seperti orang gila. Ah, dan juga wanita jepang itu tampaknya bingung tentang hal yang ingin dibelanjakan.”


Arthur mengerutkan alisnya. Sekali lagi ia harus mengakui tentang cepatnya Indri mendapatkan informasi. Ia yakin bocah macan yang dimaksud Indri adalah Leo, sementara wanita jepang adalah Terumi.


“Dengan berakhirnya tugas Open World, tampaknya serikat besar telah dibubarkan dan kembali ke kelompok kecil. Meski tampaknya ada beberapa yang masih bersama dalam skala kecil.”


Arthur tak menyangkalnya, lagi pula dugaan yang ia miliki memang seperti itu. Bersamaan dengan berakhirnya tugas ke lima, serikat dibubarkan dan sistem serikat telah dihapuskan.


Meski begitu memang bukan hal yang mengejutkan jika orang-orang yang saling mengenal selama itu tetap bergandengan tangan.


“Kredibilitas dari informasimu patut dipertanyakan,” ujar Arthur.


“Aku memiliki caraku sendiri dalam mencarinya. Apa yang kuketahui, apa yang tidak kamu ketahui. Dan, apa yang aku lihat, sesuatu yang tidak kamu lihat.”


Indri bangkit dari kursinya dan berjalan melewati Mona dan Arthur. Saat ia bersebelahan dengan Arthur, Indri menyampaikan.


“Berbeda dengan para monyet yang bermain-main tanpa tahu dunia itu. Kamu sedang merencanakan sesuatu tentunya,” Indri kemudian membisikkan hal yang hanya bisa di dengar Arthur dan Mona, “Lagi pula kamu adalah ... ***.”


Arthur mengerutkan alisnya tanpa coba berbalik badan. Mona menatap punggung Indri dan wajah Arthur secara bergantian.


“Arthur ... barusan—”


“Ya,” Arthur memotong perkataan Mona karena ia tahu apa yang ingin disampaikan Mona, “Wanita itu mengetahui Degree-ku entah bagaimana caranya.”


Meski Arthur tidak menyampaikan putih atau hitamnya perkataan Indri, namun tidak peduli apa yang akan ia katakan untuk kebohongan. Indri secara tidak langsung menyampaikan bahwa ia percaya diri informasinya tidak salah.


‘Sejauh ini hanya Mona yang mengetahui Degree-ku. Mona jelas takkan buka mulut tentang itu. Entah trik macam apa yang digunakan untuk mengetahuinya, yang jelas wanita itu berbahaya.’


Fakta lain yang mengejutkan adalah Indri mengetahui bahwa Arthur sedang merancang rencananya diam-diam yang bahkan tak ia bagikan dengan siapapun selain dirinya sendiri.