The Degree

The Degree
Persiapan Ray



Ray pergi ke kota tua untuk melakukan sesuatu. Awalnya Terumi dan rekan-rekan Ray yang belum lama bergabung berencana menemaninya, tetapi Ray menolaknya.


Itu karena pertemuan yang akan dia lakukan begitu penting, meski Ray telah mengungkapkan pada Terumi bahwa ke depannya dia akan bertindak keras, tetap saja Ray tak bisa membeberkan beberapa hal.


“Banyak hal terjadi dalam enam bulan termasuk tentang The Degree.”


Aturan tambahan telah dibeberkan yang mana seseorang bisa absen dari tugas terakhir, bisa dibilang orang itu tak perlu ikut bertempur memperebutkan kunci.


Ada tidak sedikit pengguna Degree yang mengambil kesempatan itu. Tampaknya, peran DP sebenarnya ada di bagian tersebut. Awalnya Ray berpikir peran DP akan lebih luar biasa, tetapi rupanya asumsi itu salah.


Sekali lagi Ray menyatakan dalam dirinya bahwa Secret tak bisa ia tebak begitu saja jalan pikirannya. Entah sudah berapa banyak Ray bertanya-tanya tentang sejauh apa rencana organisasi itu tentang semua ini.


‘Situasi mendorong agar semua ini selesai secepat mungkin. Bahkan Secret mulai melakukan pergerakan agresif di permukaan, jelas ada hal besar yang akan segera terjadi.’


Secret yang menyamar menjadi seorang penemu teleportasi dan hal lainnya, mulai menyampaikan kepada publik bahwa dia sedang membuat serum yang akan membuat manusia berevolusi.


Teknologi terus berkembang, peradaban terus bertambah maju dan manusia sama sekali tak berubah. Secret menyatakan ambisinya untuk membawa manusia ke titik di mana mereka akan meningkat seperti halnya peradaban dan teknologi.


Jika teknologi dan peradaban berada di angka tujuh, maka manusia masih berada di angka satu. Ambisi besar tersebut tentunya membuat banyak pro dan kontra sehingga beberapa spekulasi mulai bermunculan.


‘Terlepas dari situasinya yang mulai memanas ini, aku masih belum menemukan Leo dan Eric.’


Empat bulan lalu harusnya menjadi pertemuan mereka seperti yang sudah dijanjikan, tetapi nyatanya dua orang itu sama sekali tak muncul. Bahkan sejak mereka tiba di kota, Ray sama sekali belum melakukan kontak apapun pada mereka.


Ray yakin jika Leo dan Eric baik-baik saja karena kelompok Leo sejauh ini belum dihancurkan ataupun terakuisisi oleh kelompok lainnya.


Tidak ada pemberitahuan apapun dari Secret sehingga kelompok itu bisa dikatakan aman. Mungkin saja Leo tersesat atau semacamnya, meski begitu Ray memiliki satu spekulasi yang ia tak ingin percayai.


‘Sudah ada satu kelompok yang memiliki kunci emas bersamanya, teka-teki telah terungkap pada mereka.’


Berkat hal itu situasinya mendorong mereka untuk bertindak lebih cepat. Ray telah mengumpulkan empat kunci dan tinggal mengakuisisinya saja. Mengenai keanggotaan tak ada kekhawatiran karena Secret telah menyampaikan aturan lainnya.


—Kelompok yang bergabung dengan sukarela dan terdapat lima kelompok, saat penukaran kunci maka jumlah keanggotaan akan digabungkan sehingga tak ada pengurangan apapun.—


—Hanya ada satu orang yang menerima teka-teki yakni pemilik kunci emas. Teka-teki dapat dibagikan sesuka hati yang mendapatkannya.—


—Kunci emas akan berguna untuk mendapatkan takhta.—


—Kunci emas dapat direbut, tetapi tidak dengan teka-teki.—


—Penjelasan lebih lanjut akan diberitahukan secara berkala.—


Ray tak perlu khawatir tentang anggota. Meski dia enggan mengurusnya dan menyerahkannya kepada yang lainnya.


‘Meski begitu kunci emas dapat direbut, ya?’


Tampaknya The Degree lebih luar biasa, proses eliminasi yang sungguh berbelit-belit dan panjang. Ray sedikit-banyaknya memahami aturan, karena mau bagaimanapun untuk mendapatkan keuntungan dari tugas terakhir, memahami tugas itu adalah kunci penting.


Sejauh ini hanya ada satu kelompok yang memiliki kunci emas, tidak diketahui siapa itu. Ray memiliki dua orang yang kemungkinan memilikinya.


“Yang paling mungkin adalah Arthur dan bajingan peniru itu.”


Arthur sudah memiliki empat kunci sejak awal karena dia menggandeng orang-orang terluka bersamanya. Selain itu, Ray sudah tahu bahwa orang itu pastinya akan mendapatkan kunci emas cepat atau lambat.


Lalu tentang bajingan peniru yang sampai saat ini belum tertangkap identitasnya mungkin saja orang pertama yang mendapatkannya. Ray tidak punya bukti, tetapi kemungkinannya lebih dari lima puluh persen.


“Mari singkirkan semua itu. Mereka sungguh lama.”


Ray memandang sekitarnya dan belum menemukan orang yang akan ditemuinya. Sudah lewat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan, sampai akhirnya setelah beberapa menit lagi Ray menunggu mereka datang.


“Apa kamu lama menunggu?” tanya Indri dengan senyuman tipis.


“Sangat lama. Setidaknya aku berharap kamu mentraktirku makan siang.”


“Ha ha ha, yah aku akan melakukannya sebagai permintaan maaf.” Ben menggaruk kepalanya selagi tersenyum masam.


“Pada akhirnya kamu akan meninggalkan tagihan untukku,” ujar Ray dengan sinis, dia kemudian menatap kaki Ben. “Tampaknya kamu telah terbiasa dengan kaki barumu.”


Ben memiliki luka yang parah di kakinya sehingga dia memerlukan alat bantu agar bisa bergerak dengan lebih leluasa.


“Aku belum berniat menggunakan tangan palsu untuk saat ini. Rasanya mungkin cukup tidak nyaman.”


Ray tidak menggunakannya karena biaya yang dibutuhkan tak sedikit, dan juga dia khawatir justru akan menghalanginya.


Hanya memiliki satu tangan memang merepotkan, tetapi akan jauh lebih merepotkan jika dia tak bisa terbiasa.


“Yah, itu pilihanmu,” ujar Indri.


Untuk beberapa alasan luka bakar di wajah Indri meninggalkan bekas yang cukup dalam di pipi kirinya. Tampaknya bahkan kemampuan Degree tak bisa menghilangkan bekas luka seperti itu.


“Dari pada membahas hal itu mari kita mulai pembahasan utamanya,” ujar Ray mengganti pembicaraan.


Mereka berkumpul untuk satu tujuan sama yang belum terselesaikan. Selama enam bulan terakhir mereka membuat persiapan masing-masing untuk melakukan pembalasan dendam terhadap keparat yang membuat mereka hampir mati.


“Kamu ada benarnya namun sebaiknya kita mencari tempat yang bagus dulu.”


Mereka pindah dan berjalan mencari restauran untuk berdiskusi. Dalam perjalanan tersebut mereka saling berbicara satu sama lainnya tentang hal-hal yang sudah disiapkan.


Ray tentunya tidak begitu terbuka tentang hal itu karena Indri masih bisa dibilang sebagai musuhnya.


Sesampainya di restauran dan memesan beberapa makanan, mereka lanjut memulai diskusi dengan bahasa Inggris. Mau bagaimanapun, tak banyak orang di sekitarnya yang bisa memahami mereka.


Tentunya, jika itu para pengguna Degree maka mereka akan bisa mengerti.


“Ya, langsung saja tanpa basa-basi. Kita akan menghancurkan keparat itu dan membuatnya membayar berkali-kali lipat.” Ben terlihat menahan emosinya saat membahas hal itu.


“Ya. Keparat ini sudah mengambil tindakan beberapa langkah di depan kita. Oleh karena itu, dia tak bisa dibiarkan begitu saja.”


Ray tentu akan berpartisipasi dalam rencana itu. Dia takkan melepaskan pelaku yang membuatnya kehilangan tangan kiri hingga bahkan beberapa luka permanen di tubuhnya.


“Jika kalian bisa mengatakan hal itu, maka artinya kalian telah mengetahui identitas orang ini atau setidaknya telah menemukan kandangnya, kan?”


Mendengar pertanyaan Ray membuat Ben dan Indri tersenyum sinis.


“Ya. Kita bisa menghancurkan semua yang dia miliki.”


Indri terlihat yakin akan hal itu, maka validasi perkataannya mungkin tak perlu dipertanyakan lagi.


Selama enam bulan belakangan Indri mengaku telah membangun kekuatannya lagi karena diantara kelompoknya hanya Ben dan Hiroshi yang tersisa. Kematian Guren dan si kembar jelas memberikan kerusakan yang tidak kecil bagi mereka. Berbicara tentang Hiroshi sudah lama sejak terakhir kali Ray melihatnya.


“Ke mana rekan kalian seorang lagi? Aku tampaknya belum melihatnya dalam waktu lama meski sering berkontak dengan kalian,” tanya Ray.


Ben dengan santai menjawabnya, “Dia sedang melakukan sesuatu yang penting. Memang sedikit berbahaya namun aku yakin dia baik-baik saja.”


Tak hanya Ray, tetapi pihak lain tidak mengungkapkan banyak hal yang mereka lakukan. Ray tidak berharap jika mereka akan terbuka, hanya mengetahui bahwa Hiroshi melakukan sesuatu saja sudah cukup.


“Tentang keparat ini, dia tampaknya memiliki banyak orang bersamanya. Orang-orang itu juga berbahaya. Kita tak bisa bergerak dengan sembarangan,” ujar Indri.


Jika tentang kekuatan jumlah maka jelas mereka akan dirugikan andaikan tak coba menggabungkan kekuatan mereka.


“Aku memiliki sekitar empat ratus orang pengguna Degree di sisiku. Bagaimana dengan kalian?” tanya Ray.


Empat ratus orang tentu bukan jumlah keseluruhan dari orang-orang yang bisa Ray kumpulkan. Ray bisa menggerakkan orang biasa jika dia mau, tetapi untuk sekarang dia akan merahasiakannya dari Indri.


“Di pihak kami juga tidak ada bedanya denganmu. Kita masih kekurangan jumlah yang jauh dari kekuatan tempur bajingan ini.”


“Berapa banyak perbandingannya?”


“Mungkin dua atau tiga kali lebih banyak dari kita.”


Jumlahnya terlalu besar, apalagi jika mayoritasnya adalah pengguna Degree. Mereka akan jadi orang yang merepotkan untuk ditangani.


Indri mulai menjelaskan bahwa keparat itu memiliki mafia dan pengguna Degree. Tempat tinggalnya di sebuah hotel yang entah bagaimana dikuasai olehnya.


“Itu memang merepotkan. Dengan adanya mafia maka mereka memiliki banyak orang dengan koneksi ke dunia bawah. Bahkan mereka bisa membeli banyak senjata melalui pasar gelap.”


Meski begitu bukan berarti mereka tak bisa melakukan apapun untuk mengatasinya. Ada beberapa rencana yang telah Ray pikirkan, tetapi masalahnya adalah pengeksekusiannya membutuhkan banyak biaya dan usaha.