
“Begitulah. Wanita itu mencoba menggunakan diriku yang mana aku tidak pernah menyukai hal-hal seperti itu. Selain itu—” Ray mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah botol kaca kecil berisi cairan kuning, “Tidak aku sangka racun kobra bekerja cukup lama. Sepertinya Serum D memiliki peran tentang itu.”
Tyson terkejut bukan main, bahkan Misa yang merasakan sakit karena tangannya tertembak sama terkejutnya.
“Sejak ... kapan?” tanya Misa.
Tak perlu bagi Ray menjawabnya, Tyson dengan cerdik menyadari sejak kapan Ray melakukannya. Tidak, sebenarnya Ray melakukannya bahkan sebelum rencana pengkhianatan keduanya terungkap.
“Kamu ... mengoleskan racun di perbannya?”
“Pintar. Tidak hanya perban, tetapi betadine yang digunakan untuk membersihkan lukamu telah aku campurkan dengan racun ini.”
Itu terjadi ketika Ray dan Misa melewati lorong yang sedikit gelap. Ketika dia mengakses Market dan menggunakan fitur pencarian, Ray terkejut bahwa Market juga menjual racun cobra. Ray mau tidak mau harus membelinya dan membuatnya memiliki 25DP tersisa.
Seperti sebelumnya, barang dikirimkan dengan cepat. Ketika Misa tergesa-gesa berlari disitulah Ray memanfaatkan sedikit waktunya untuk mengolesi racun kepada perban dan mencampurkannya dengan betadine.
“Sejak awal ... kamu sudah curiga? Namun apa jadinya jika ternyata kami tak berkhianat?” Tyson bertanya, suaranya kian melemah seiring dengan kondisi fisiknya.
“Itu kontradiksi. Aku tak pernah memikirkan hal lain yang tidak mungkin akan terjadi. Jika aku menganggap kalian pengkhianat, maka aku akan membereskannya tanpa ragu. Sekalipun kalian bersih dan aku salah, itu tak masalah karena aku tetap mendapat keuntungan darinya.”
Tidak perlu menjelaskannya secara detil, sistem DP menjadi hal yang mengubah segalanya. Sekalipun Ray salah sasaran dia akan dapat keuntungan karena keberadaan DP.
“Kamu ... bukan manusia!” Misa mengumpat dengan menyakitkan.
Ray berjalan mendekati keduanya dengan wajah dingin yang tidak seperti biasa, “Ya, aku tak pernah dibesarkan untuk menjadi manusia. Baik kalian, ataupun Secret tidak akan pernah mengerti tentangku.”
Ray menendang Tyson tepat di wajah dan membuatnya terhempas cukup jauh. Misa meneriakkan namanya dan berniat menghampirinya namun Ray dengan keji menginjak kakinya dengan kuat.
“Kyaah!”
“Misa!”
Tyson merangkak menghampiri Misa namun tubuhnya juga sudah lemah sehingga gerakannya lebih lambat dari sebelumnya.
“Tolong ... lepaskan Misa. Ambil saja ... nyawaku!”
Ray berjongkok dan menarik rambut Misa dan membuat Tyson melihat kekasihnya tersiksa juga menangis akan rasa sakit. Ray juga tak lupa untuk mengambil DP yang dimiliki oleh Misa.
“Katakan padaku, berapa DP yang kalian dapatkan dari tugas.”
“Argh! Itu sakit ...” Misa menjerit ketika Ray berdiri dan mulai berjalan selagi menyeretnya dengan menarik rambut Misa.
Tyson tak kuasa melihat gadis tercintanya menderita, dia menggigit bibirnya, menangis dan hanya bisa menuruti Ray.
“Kami menerima 100DP dari tugas pada awalnya, namun tiba-tiba ada tugas bonus di mana kami harus menunjukkan adegan erotis pasang kekasih dan menerima 50DP tambahan.”
“Maka kalian memiliki 150DP, ya. Jika milik Misa ada 200DP sebelumnya, maka kamu masih memiliki sisanya, kan? Berikan semua kepadaku.”
Meski Ray memintanya, Tyson tampak enggan dan lama memikirkannya. Ray menghela napasnya, dia mengambil pisau yang disimpannya, lalu menarik kuat rambut Misa tubuhnya terangkat. Ray kemudian menggunakan pisaunya untuk membuat pakaian Misa terlepas sepenuhnya dan menampilkan tubuh bagian atasnya.
Ray pria normal dan tentunya memiliki nafsu namun untuk saat ini ada hal lain yang lebih menarik minatnya ketimbang hubungan seperti itu. Sebuah rasa keingintahuan yang lama dia miliki.
“Kau tahu? Aku selalu penasaran dengan apa yang ada di dada wanita. Di beberapa kesempatan, aku ingin membelah dan mengetahui seperti apa bagian dalamnya. Kuyakin sekarang mungkin waktunya.” Ray tanpa ragu menancapkan pisaunya di bagian dada, secara perlahan menyeretnya dengan lembut.
Tyson tak mampu mendengar atau melihatnya dan berteriak memohon, “Aku mengerti! Jadi tolong hentikan!”
Tyson mengulurkan jamnya, Ray mendekatinya selagi tetap menyeret Misa dengan tetap menarik rambutnya. Segera setelah selesai mengambil DP, Ray mengangguk puas.
“Tolong ... aku mohon biarkan Misa tetap hidup!”
Tyson teramat sadar bahwa dirinya takkan bisa diselamatkan karena racun sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Namun setidaknya dia ingin kekasihnya tetap hidup.
Ray menatapnya seakan terkejut, “Untuk apa aku melakukannya? Jika itu artinya aku melepaskan anjing yang kelak pasti akan menggigitku, aku lebih memilih tidak pernah melepaskannya.”
Dalam diam dan wajahnya yang tidak peduli, Ray mencabut dan secara perlahan menancapkan pisaunya ke tenggorokan Misa hingga menembus ke tengkuknya. Dalam beberapa detik yang penuh rasa sakit dan menyakitkan, Misa mati kemudian.
Tyson berteriak keras dan merangkak, semakin banyak dia bergerak semakin cepat racunnya bekerja. Dalam prosesnya dia mengumpat dan mengutuk Ray yang menjadi pelaku.
“Racun itu akan membunuhmu kurang dari dua menit lagi. Aku tidak mau menyia-nyiakan peluru untuk orang yang sudah pasti akan mati. Jadi, terima kasih atas point dan waktunya, selamat tinggal.”
Ray berjalan pergi, di kejauhan dia berbalik dan menatap keduanya dengan rendah.
“Menurutku, cinta adalah kutukan yang dimiliki manusia. Yah, aku tidak akan pernah mengerti cinta. Hatiku sudah lama mati.” Ray melanjutkan perjalanannya tanpa peduli pada apapun lagi.
Dia memiliki beberapa kenangan masa lalu terlintas dalam benaknya. Itu cukup menyakitkan jadi dia segera membuangnya.
Tyson menangis dan menyeret tubuhnya, dia sampai di tempat Misa— mayatnya yang mulai mendingin. Mengelus lembut wajahnya yang tak lagi hangat, Tyson mulai menyesalinya.
“Maafkan aku, Misa ... andai saja ... andai saja aku tak memaksakan diri untuk menerima undangan ini ... nasib kita takkan seperti ... ini.”
Di menit terakhir dalam hidupnya, Tyson meraih mayat Misa, mencabut pisau yang tertancap dan memeluknya. Dengan wajah menyakitkan dan berlinang air mata, Tyson tersenyum selagi mengacungkan pisaunya.
“Tunggu aku di sana, Misa. Aku akan segera menemuimu.” Tyson tidak berencana menunda kematiannya, dia kemudian menusuk lehernya sendiri dan mati dalam kondisi memeluk Misa yang sudah pergi lebih dulu.
Di tempat lain, Ray memilih duduk dan beristirahat di ruangan sebelumnya, tempat di mana ada tiga pintu. Dua pintu jelas terhubung dengan tempat Ray datang dan tempat Misa juga Tyson berada.
“Pistol ini menampung dua puluh peluru, aku menembakkannya satu, jadi ada sisa 39 peluru termasuk cadangannya.”
Ray tak ingin membuang-buang peluru hanya untuk hal yang sia-sia. Selain harganya yang terbilang mahal, ada masalah lain karena Ray tidak mengetahui apakah D Point memiliki kegunaan lain selain membeli sesuatu.
“Aku khawatir harus membayar untuk pergi ke stage selanjutnya atau ada tugas tertentu yang membutuhkan DP untuk menjalaninya.”
Ray memiliki 225DP. Dia juga memiliki perlengkapan kecil seperti pistol dan sisa racun King Cobra. Dilihat dari manapun perlengkapannya masih terbilang cupu dan dia membutuhkan hal lainnya.
Tidak ada yang tahu masa depan, sehingga Ray khawatir dengan apa yang akan dia temukan selanjutnya.
“Sampai sini sudah jelas bahwa Secret menciptakan lingkungan yang keras untuk hidup. Tugasnya juga tidak bisa diremehkan, ke depannya aku perlu lebih siap. Untuk sekarang, aku harus istirahat dan pergi dengan kondisi sebaik mungkin.”
Ray membeli kemeja hitam dan jubah putih untuk pakaiannya. Dia terkejut bahwa Market menyediakan makanan. Dikarenakan Ray berniat menuju tempat selanjutnya dengan kondisi terbaik sebisanya, tidak ada keraguan bahwa dia membutuhkan makanan dam minuman.
“Baiklah. Mari lihat hal menarik seperti apa yang akan kita temui.”
Selesai melakukan hal-hal seperti makan dan tidur, Ray akhirnya melangkah menuju pintu yang belum dia kunjungi dan menuju tempat selanjutnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ray merasa berdebar-debar untuk menemukan apa yang akan dia temukan.