The Degree

The Degree
Seekor Monster



“Begitu. Lalu, apa yang diperintahkan serikatmu untuk dilakukan?”


“Itu ... .” Gilbert terlihat bermasalah dan enggan untuk mengatakannya. Raut wajahnya sangat jelas ia tunjukkan.


Bukan hal sulit memaksanya namun dorongan kecil hanya akan berpengaruh sementara kepadanya dan nantinya Ray akan perlu melakukannya.


Itu merepotkan dan karena itu tak perlu melakukan tindakan setengah-setengah.


“Terumi, beri aku pisau.”


Tanpa banyak bertanya Terumi mengambil pisau dan memberikannya. Dia tidak mencoba menanyakan alasan ataupun melihat hal apa yang akan dilakukan Ray selanjutnya dengan pisau itu.


“Hei, Gilbert. Apa kamu tahu seberapa hebatnya seorang dokter?”


Ray mulai memainkan pisaunya. Dia memoles tepi bilahnya dengan jari telunjuk sampai sedikit melukainya ketika menekan ujung lancip dari pisaunya.


“Y-ya, mereka menyembuhkan orang sakit.” Gilbert menjawab dengan takut ketika melihat wajah dingin Ray selagi memainkan pisaunya.


“Ya ... mereka mampu menyembuhkan orang sakit. Namun tidak sampai disitu. Mereka juga mampu melakukan transplantasi organ tubuh yang mana bagian rentan dari manusia.”


Ray mulai mengarah pisaunya ke tubuh Gaston, dari dada hingga ke perutnya.


“Aku sangat kagum dengan mereka, bahkan ada bagian dari diriku ingin menjadi seperti mereka. Meski begitu aku tak bisa melakukannya.”


Menyelamatkan nyawa orang tidak pernah menjadi suatu hal yang cocok untuknya. Bagian cocok untuk ia miliki adalah hal sebaliknya yakni mencabut nyawa orang.


“Meski tak bisa menjadi seorang dokter namun setidaknya aku ingin coba mengeluarkan organ tubuh manusia untuk kepuasan keingintahuanku. Belajar yang paling baik adalah dengan mengalaminya langsung.”


Ray sedikit menusuk perut Gaston, alhasil sedikit darah mulai keluar dari bajunya.


Melihat itu Gilbert tak kuasa menahannya lagi dan pada akhirnya menyerah atas ancaman tersebut.


“Ketua serikat memerintahkan kami untuk menebarkan bom dan membuat kekacauan sesuka hati! Kami bisa melakukan apapun yang kami inginkan, begitulah perintahnya!”


Ray segera menarik pisaunya dari perut Gaston.


“Lebih bagus jika kamu mengatakannya sejak awal. Lalu siapa yang mengepalai semua ini?”


“Ketua serikat kami yang memberikan perintah, Arga—”


“Tidak. Bukan itu. Aku yakin seseorang mengendalikan ketua serikatmu atau ada orang lain yang bersembunyi di balik bayangannya.”


“Apa maksudmu?”


Gilbert tertegun. Cukup mudah menebak bahwa ia tidak tahu apapun soal dalang yang sedang bermain.


Ray tak bisa mendorong pertanyaan lebih jauh. Akan menyebalkan memiliki banyak pikiran tentang hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan.


“Begitu, terima kasih atas kerja samanya.” Ray tanpa keraguan menusuk leher Gilbert dengan pisaunya sementara dia menembak tenggorokan Gaston.


Terumi dan Mein terkejut karena Ray melakukannya tanpa berkedip sama sekali.


“Mengapa kamu membunuh mereka ... .” Terumi lebih terguncang dengan fakta bahwa Ray memilih membunuh tanpa melepaskan.


“Mereka adalah penjahat, sudah sepantasnya untuk dihukum.”


“Tapi! Bisa saja mereka mau bertaubat dan menjadi orang yang lebih baik—”


Mein kemudian menyela perkataan Terumi yang sesungguhnya tak masuk akal.


“Kamu pikir ini tempat yang membiarkan hal semacam itu ada? Di sini kita dituntut untuk bertarung satu sama lain.”


Terumi masih tampak tidak bisa menerima kenyataan. Dia tetap yakin dengan pemikirannya bahwa membunuh orang secara sembarangan merupakan tindakan salah.


“Terumi, ingatlah bahwa mereka tanpa ragu menyerang Mein yang seorang wanita. Kamu bisa menyimpulkan dari hal itu bahwa mereka tak memiliki hati dan sudah pernah membunuh setidaknya satu nyawa.”


Ray berjalan mendekati Terumi yang tertunduk sedih. Dengan wajah yang tak biasa dia buat, Ray tersenyum penuh kelembutan dan menepuk kepala Terumi.


Terumi yang melihat Ray tersenyum kemudian merona, terutama ketika rambutnya diacak-acak seperti anak kecil.


“Setidaknya anggap kematian dua orang ini sebagai bentuk balas dendam atas orang-orang yang pernah mereka bunuh.”


“B-baik.”


Terumi mengangguk dan tunduk terhadap Ray.


Mein yang melihat pemandangan itu menatap Ray dengan ketakutan dalam arti tertentu. Dalam diam ia menyimpulkan satu hal tentang Ray yang takkan dia bagikan dengan yang lainnya.


Tak hanya Nona Erina namun dia berhasil menaklukkan wanita ini dalam sekejap mata, yang benar saja?! Pria ini ... pastinya pembunuh wanita! Pikirnya.


Berkat orang ini rencana yang sudah Ray siapkan selama dua minggu musnah dan berakhir dengan sia-sia.


Siapapun akan jengkel ketika apa yang sudah dipersiapkan dihancurkan oleh situasi tidak terduga.


“Kamu mau ikut aku atau tetap di sini menjaganya, Terumi?”


Jika Terumi tidak ikut maka gerakannya akan lebih leluasa dan tak ada keraguan baginya untuk bertindak.


Namun jika Terumi ikut serta maka dia mungkin akan jadi guardian yang sangat kuat dan cocok untuk melindunginya.


Ray tak bisa menggunakan Degree-nya karena dia sendiri tidak tahu bagaimana kekuatannya, karena itu keberadaan orang yang mampu menggunakan Degree di sisinya akan sangat membantu.


“Tentu saja aku akan ikut namun apa tidak masalah meninggalkannya sendirian?” Terumi khawatir dengan Mein.


Meninggalkan gadis yang terluka di medan perang sama seperti meninggalkan berlian di kampung pencuri.


“Tenang saja, meski kekuatanku sudah mencapai batas penggunaannya, aku masih bisa menjaga diriku.”


Mein dengan cepat menghilangkan kekhawatiran yang tidak diperlukan tersebut.


Meski situasi ini merugikan namun aku selalu mendapatkan informasi tak terduga. Jadi, bisa kusimpulkan bahwa Mein hanya bisa memainkan beberapa peran dalam satu waktu. Tampaknya ada semacam cooldown tertentu dari Degree-nya. Pikir Ray.


“Itu bagus, mari pergi, Terumi.”


“Ya!”


Ray pergi ke arah yang ditunjukkan Mein sebelumnya. Ada banyak mayat dan pertarungan. Dikarenakan Ray sendiri tak tahu mana kawan atau lawan jadi dia memilih meninggalkannya dan terus berjalan.


Terumi terus gelisah selama beberapa waktu namun dia tidak mengeluhkan apapun dan mengikuti Ray.


Dia sadar betul bahwa sekarang bukan waktunya mengatasi pertarungan kecil. Seandainya mereka menemukan pemimpin pemberontak maka kekacauan ini akan berakhir.


“Tempat ini benar-benar telah hancur. Orang kejam macam apa yang membuat situasi macam ini.”


Terumi tak bisa menahan keluhannya karena kacaunya situasi yang dia temukan.


Rumah dan toko hancur yang mana untuk membangunnya membutuhkan DP yang amat tidak sedikit.


“Ya, karena itu mari kita segera menuju ke pusatnya untuk menghentikan ini semua.”


Ray dan Terumi melewati sebuah bangunan besar yang tak hancur. Saat mereka coba melewatinya, tiba-tiba saja gedung tersebut meledak saat keduanya lewat.


Baik Ray atau Terumi terhempas oleh kekuatan ledakannya. Tubuh mereka sedikit lecet karena bebatuan yang beterbangan namun untungnya tidak ada yang fatal.


“Apa ... yang barusan itu?”


“Tampaknya ada bom di dalam sana.”


Ray dan Terumi mencoba bangkit di saat itu juga ada beberapa orang muncul dari belakangnya.


“Ku ha ha ha, sepertinya orang itu mati.”


“Ya! Tak mungkin ada yang bisa hidup jika terjebak di tengah ledakan tersebut.”


Ray tak tahu siapa orang yang dimaksud, ia juga tidak benar-benar peduli dengannya. Namun hal yang membuatnya tertarik adalah seseorang tampak berjalan keluar dari dalam gedung yang hancur dan terbakar.


Orang itu memangkul seorang gadis di punggungnya, ketika keluar Ray tak asing dengan wajahnya.


“Kalian benar-benar melakukannya, ya. Aku terkejut, sangat terkejut sampai membuatku marah.”


Orang-orang yang menjadi tersangka peledakan tampak tak percaya, bahkan satu dari mereka jatuh berlutut karena kakinya lemas.


“Mustahil! Seharusnya tidak ada yang bisa selamat dari ledakan tersebut!”


“Memang tidak, sangat mustahil manusia hidup ketika terjebak di tengah malapetaka seperti itu. Hanya saja kalian sangat sial karena aku yang ada di dalamnya.”


Dia meletakkan tubuh gadis yang penuh luka dan tak sadarkan diri. Terumi segera menghampirinya bahkan tanpa diminta, hal itu karena dia memiliki rasa kemanusiaan yang besar.


Pria itu segera jatuh berlutut, sebagian pakaiannya terbakar bersama kulitnya namun hal itu tak berpengaruh banyak padanya.


“Seandainya bukan aku yang ada di sana maka kematiannya pasti dijamin.”


“Dasar monster!


“S-siapa kau sebenarnya?!”


Wajahnya tertunduk saat dia dengan terhuyung-huyung dan perlahan berdiri, “Aku ... Retsuji Arthur.”