
Indri tentu cukup terkejut jika persiapan Haiyan untuk menyerang sangatlah kompleks dan rumit. Dengan semua hal itu tentunya mudah bagi Haiyan menggertak tentara untuk tidak bertindak macam-macam.
Namun ada hal yang mengganggu pikiran Indri setelah mendengar semua ini.
“Kamu seakan-akan mengetahui semuanya dengan sempurna. Aku mulai bertanya-tanya dari mana semua ini berasal.” Tatapan Indri bergeser ke arah Mona. “Monyet pengamat itu takkan sanggup menguak semua ini.”
Singkatnya kemampuan analisis Mona hanya dapat bekerja setelah menemukan jejak dari tindak tersebut. Seandainya tidak ada apapun yang dia temukan, maka tidak akan ada hasil apapun.
“Kamu banyak bertanya meski tidak dalam posisi melakukannya. Namun, biarlah ... .”
Arthur menjelaskan jika Haiyan menghubungi pihak militer dengan cara mengirimkan beberapa video para tawanan. Pesannya disampaikan langsung oleh Haiyan.
Ringkasnya pesan itu menyatakan jika tentara nekat menerobos masuk hingga bermain kasar maka mereka takkan sungkan membunuh pejabat ataupun orang penting satu-persatu.
Dengan adanya risiko konflik dari luar negeri, tentara tentunya tidak berani bertindak sembarangan. Bahkan pemimpin tertinggi negara ini ikut menjadi tawanan. Situasi tentara sama sekali tidak menguntungkan.
“Fu fu, ha ha ha!”
Indri tertawa dengan lantang, tindakannya membuat Arthur serta rekannya sedikit tersinggung.
Mau bagaimanapun dia tak bisa menahannya, segalanya menjadi cukup jelas.
“Yah, ini lebih rumit dari perkiraanku. Aku pikir kamu berusaha menarik kami untuk mencegahku menjadi bidak Ray, tetapi kenyataannya tidak seperti itu, ya?”
“Apa maksudmu?” tanya Ben, jelas belum memahami situasinya.
“Ini lebih rumit dari asumsi kita, Ben. Arthur menarik kita bukan untuk menghajar Ray, tetapi untuk mencegah kita memperburuk keadaan.”
Situasi yang dibuat oleh Haiyan jauh lebih rumit dari yang Indri harapkan. Masalah yang dibuat olehnya tidak hanya mencakup monas, tetapi mungkin saja seluruh wilayah ibukota.
“Jika kita berbuat ulah dan menjalankan rencana kita, aku yakin bahkan tokoh utama kita ini takkan sanggup mengatasinya. Fu fu, bahkan Degree yang luar biasa seperti itu memiliki kelemahan.”
Indri mendapatkan banyak informasi berguna dari berbicara dengan Arthur. Meski sedikit kesal dirinya seperti menjadi tahanan, tetapi hasilnya sepadan.
“Jadi begitu,” Ben tertawa kecil dan menatap mengejek. “Meski begitu tampaknya orang-orang ini salah memilih target mereka, benar, kan?”
“Ya, para anjing gelandangan ini tidak belajar dari pengalaman.”
Indri dan Ben sudah lama bersama, mereka memahami pemikiran satu sama lain tanpa konsultasi. Terlepas apakah mereka memiliki rencana atau tidak, untuk sekarang mereka perlu memojokkan Arthur meski hanya sedikit.
“Apa maksudmu?” tanya Mira, menggebrak meja. “Selain itu, bisakah kamu hentikan penggunaan bahasa yang menyebalkan itu? Kamu membuatku kesal!”
Indri tidak peduli dengan tanggapan Mira, dia hanya ingin mendengar apa yang akan Arthur katakan dan bagaimana orang itu akan bereaksi.
“Katakan dengan jelas maksudmu, Indri,” ujar Arthur.
Indri tersenyum, “Tidakkah kamu sadar bahwa Ray mampu memperburuk situasi lebih dari yang kamu bayangkan. Apa kamu sudah lupa saat terakhir kali?”
Insiden besar sebelum mereka pergi keluar tentunya masih segar dalam benak mereka. Terutama Arthur yang bisa dikatakan menjadi korban besar.
Tidak mungkin ada yang akan melupakan insiden besar tersebut, bahkan Indri sampai saat ini masih tak habis pikir tentang itu.
“Orang itu berada di garis terdepan dalam mengacaukan banyak hal. Mungkin saja sekarang ini dia sudah memikirkan sesuatu yang tidak terduga.”
Bisa dikatakan tidak ada yang benar-benar mengerti jalan pikiran Ray. Bahkan mungkin orang terdekatnya, Terumi tidak mengerti apapun tentang pria itu.
Indri belum bertemu Ray ataupun mendapat kabar darinya, tetapi dia yakin jika Ray ada di tempat ini.
“Bahkan jika dia mampu melakukannya, aku yakin bisa mengatasinya.”
Tentunya Arthur harus memiliki kepercayaan diri setinggi itu. Indri tidak tahu seberapa besar dampak dari Degree pemeran utama milik Arthur. Namun jika saja Degree-nya berasal dari rasa percaya dirinya, maka itu kekuatan yang tak terkalahkan.
“Kamu yakin akan mampu melakukannya?” tanya Ben, suaranya penuh ejekan.
Indri tidak tahu apa yang coba dilakukan Ben, tetapi untuk saat ini secara tak langsung dia memberitahu Ben untuk melakukan apapun yang bisa menguntungkannya.
“Apa maksudmu? Aku yakin bisa menanganinya. Tak peduli seberapa pintar dia atau sekuat apapun Degree-nya, dia takkan bisa mengambil banyak tindakan sekarang ini.”
Arthur sungguh percaya diri, Indri tidak menyalahkan hal itu mengingat dia memilikinya juga.
“Degree? Itu lelucon yang tidak lucu. Apa kamu tahu satu fakta yang sulit dipercaya? Orang itu, sampai detik ini tidak menggunakan Degree-nya.”
“Hah?” Mona tersedak napasnya sendiri.
Indri terlihat datar dan mengejek meski di dalam sebenarnya dia sangat terguncang. Tidak menggunakan Degree? Itu mustahil untuk dipercaya.
Jika itu orang lain yang mengatakannya maka Indri akan menganggap sebagai angin lalu. Namun sayang, Ben tidak akan mengatakan sesuatu tanpa dasar dengan seyakin itu.
“... ada batas untuk membuat kebohongan, Ben. Itu tidak kredibel jika dia mampu bertahan melewati semua itu tanpa Degree-nya.”
“Benar, kan? Fakta sangat sulit untuk diterima,” Ben membuat pernyataan sekali lagi.
Arthur tampak ingin membantahnya namun Mona segera menyela pembicaraan.
“Arthur, aku rasa itu bukan mustahil. Kamu tahu, kan? Aku sudah berusaha menganalisis Ray sejak lama, tetapi tidak ada hasil apapun. Awalnya aku pikir itu karena identitas Degree-nya yang tidak jelas, tetapi mustahil tanpa ada jejak aneh apapun.”
Itu tidak terelakkan karena penganalisis itu sendiri yang mengungkapkan informasi tambahan sehingga mendukung perkataan Ben.
Indri sendiri tidak tahu dari mana Ben mendengarnya namun dia sedikit tertarik membiarkan Ben membawa diskusi ini.
“Fu fu, katakan padanya, Ben. Mari ceritakan tentang berapa besar bahaya yang dimiliki oleh pria bernama Ray Morgan.”
Ben mulai menjelaskan bahwa Ray sendiri yang mengatakan tak menggunakan Degree-nya sampai detik ini. Dan, tak masalah untuk semua orang mengetahui fakta bahwa dia tak menggunakan Degree-nya.
Tidak ada yang tahu alasan khusus Ray melakukan sesuatu seperti itu, tetapi nyatanya dia tetap hidup tanpa menggunakannya adalah bukti bahwa dia sangat percaya diri dengan kemampuannya sendiri.
“Aku tidak tahu pasti alasannya, tetapi mungkin saja ... dia merasa tak ada situasi berbahaya yang mengharuskannya menggunakan Degree.”
Kalimat Ben tentunya cukup mengguncang, lalu didukung fakta bahwa Mona sendiri tidak mendapatkan apapun dari analisanya.
Indri tidak menganggap Ben berbohong, toh, dia tahu apa yang sudah dilalui oleh Ray. Bahkan jika orang lain menganggap mustahil Ray bisa banyak hal, Indri akan tetap berdiri di sisi orang yang percaya.
Terungkap fakta bahwa Arthur berada di sisi militer dan mendapatkan dukungan penuh dari Marshal Ardianto untuk membuat keputusan penting saat dia sedang mengurus beberapa hal.
Indri diberikan pilihan untuk membantu penuh Arthur menyelesaikan ini atau hanya akan menjadi tahanan sampai semua ini berakhir.
Tentunya jika Indri memilih jadi tahanan maka disaat itu juga hidupnya akan berakhir. Terutamanya karena si Marshal besar Ardianto sedikit-banyaknya tahu tentang Degree.
“Huh, ini melukai harga diriku. Baiklah, mari ikuti aturan mainmu.” Indri menyerah dengan egonya dan akan mengikuti Arthur. “Tentunya perlu diingat, kita hanya akan sejalan ketika berurusan dengan bajingan ini. Selain dari itu, aku takkan mengulurkan tangan.”
Indri juga menambahkan kalau dia hanya akan sejalan sampai semua ini berakhir. Setelah semua berakhir maka dia akan memulai pemberontakan dan pergi.
Arthur tampak tidak mempermasalahkannya, tetapi orang lain yang bermasalah.
Mereka dibiarkan pergi ke tenda yang sudah disediakan dan dijaga ketat oleh tentara serta beberapa pengguna Degree. Setelah diberikan waktu berdua, Ben akhirnya mengungkapkan kekesalannya.
“Mengapa kita harus menuruti orang itu, Indri? Aku merasa tak ada kebutuhan tuk melakukannya.”
“Memangnya ada pilihan lain, Ben? Kita perlu menyelamatkan Hiromi dan Hiroshi. Aku tak mau kehilangan rekan lagi pada tahap ini.”
Indri sudah cukup kehilangan tiga orang yang penting untuknya, jika Hiroshi harus gugur saat ini, maka tak ada jaminan dia akan berhasil menyelesaikan tugas terakhir.
Tentu, ada banyak orang yang berada di bawah tangannya, tetapi masalahnya adalah mereka tak bisa menggantikan tempat Hiroshi.
“Itu ... benar, namun bagaimana jika kita harus berhadapan dengan Ray? Untuk memastikan saja, akankah kita mengabaikan atau menyerang dengan anggapan musuh?”
Indri juga khawatir tentang itu. Bukan hal yang mudah baginya mendapatkan kepercayaan Ray dan bermitra dengannya. Bahkan Indri juga mendapat kesempatan untuk mengetahui sedikit masa lalu Ray.
Jika Ray tahu dia bersama Arthur saat ini, sangat mungkin Ray akan memutus hubungan mereka dan menganggap Indri sudah berlainan sisi. Jika itu terjadi maka Indri akan mengalami kesulitan besar karena bermusuhan dengannya.
“Benar, selama dia tidak mengetahui kerja sama kita dengan Arthur maka kita hanya perlu bersikap seperti biasa. Aku yakin orang itu tidak akan menggerakkan pion tidak berguna untuk membatasi kita.”
“Hmm, kamu tidak menyerah terhadap kesepakatan Arthur ataupun Ray, ya?” tanya Ben.
“Menjalin kerja sama dengan Ray adalah sesuatu yang menjadi prioritas utama. Dan, berada di sisi Arthur sekarang lebih menguntungkan untuk situasi ini. Ada hal yang ingin aku ketahui dan hanya bisa kutemukan dari bersamanya.”
Salah satunya adalah rencana negosiasi dengan Haiyan terkait situasi ini. Indri tentunya penasaran dengan apa yang akan ditawarkan pihak negara kepada para ******* ini.
Jika media mengetahui aparat negara mencoba negosiasi maka kecaman keras takkan bisa terhindarkan. Namun kembali ke awal, semuanya tergantung pada isi dari negosiasi itu sendiri.
“Jadi kamu lebih memilih membuang Ray ketimbang Arthur?”
“Tidak,” Indri dengan cepat menjawabnya. “Aku tidak yakin namun Ray terasa sedikit spesial. Mungkin saja dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh protagonis utama.”
“Oleh karena itu, lindungi aku. Untuk memastikan beberapa hal, aku akan pergi tidur.”
Indri segera berbaring dan menempatkan dirinya pada posisi ternyaman. Ben mengangguk tentunya dan duduk di sisinya selagi mulai memakai riasan wajahnya.
Memang Arthur sebelumnya mengambil itu, tetapi setelah diyakini mereka akan menjadi kolega maka dia mengembalikannya.
Dalam waktu singkat Indri tertidur pulas, tidur yang tidak bisa dibangunkan melalui faktor luar.
“Tidak hanya aku, Degree miliknya juga sama merepotkannya,” gumam Ben selagi merias wajah dan menghela napas.
Ben dan Indri memiliki satu kesamaan tentang Degree-nya yakni, membutuhkan syarat tertentu.
Untuk mampu menggunakan Degree-nya, Ben harus menggunakan riasan wajah ala pantomim dan tidak berbicara selama kurang lebih delapan jam agar kemampuannya bisa digunakan.
Bisa dikatakan Ben perlu mendalami pantomim itu sendiri agar mampu mewujudkannya sebagai bentuk Degree miliknya.
Di sisi lain Indri berbeda, syaratnya mungkin tidak serumit milik Ben, tetapi Indri memiliki syarat yang cukup merepotkan.
‘Dia harus tertidur untuk menggunakan Degree-nya.’
Hanya melalui tidur saja Degree milik Indri bisa diaktifkan dan setiap kali dia memasuki tidur untuk menggunakan Degree-nya, Indri akan begitu kelelahan juga menderita saat bangun.
“Tidur pada umumnya adalah kegiatan mengisi tenaga dan mengistirahatkan otak, tetapi tidur Indri untuk mengaktifkan Degree berkerja terbalik.”
Saat Indri memilih menggunakan Degree-nya dan tertidur dengan cara tertentu, bukannya istirahat, otaknya justru bekerja semakin cepat begitu juga sirkulasi darah yang meningkat.
“Terkadang Indri akan berkeringat dingin, gemetar, takut, berteriak, tertawa dan berbagai hal lainnya yang bisa dirasakan manusia.”
Ben telah mengamati Indri menggunakan Degree-nya untuk waktu yang tidak sebentar sehingga dia sangat memahaminya.
Saat dalam menggunakan Degree-nya, Indri tidak mampu dibangunkan dari luar. Bahkan jika Ben menyiramnya dengan air dingin atau memukulinya, tindakan tersebut akan berakhir sia-sia.
“Meski begitu Degree-nya sungguh luar biasa. Aku mungkin terkejut dengan kehadiran protagonis utama, tetapi milik Indri tak kalah mengejutkannya. Ha ha ha, ini seperti dunia fantasi saja.”
Degree Indri tidak bisa diremehkan, terutama tentang bagaimana caranya dia memanfaatkannya dengan baik.
Alasan Indri bisa muncul di situasi yang begitu tepat meski sangat mendesak, bahkan dia bisa menemukan Ray yang mengapung di tengah laut dengan mudah.
Hanya dengan sedikit informasi yang dimilikinya, Indri dapat menguak sesuatu yang 'belum terjadi dan akan terjadi'.
‘Benar, Degree-nya sesuatu yang tidak bisa diterima dengan mudah. Itu adalah ... ramalan masa depan.’
Kemampuan yang mampu melihat dan meramalkan masa depan yang akan terjadi, itulah Degree milik Indri.
Seperti sebutannya yakni, ramalan. Melalui informasi yang dimiliki Indri, dia bisa memprediksi masa depan apa yang akan terjadi melalui mimpinya.
Jika analisis milik Mona adalah mengumpulkan data dan membentuk sebuah jawaban paling memungkinkan, maka milik Indri adalah memanfaatkan informasi yang ada dan menciptakan situasi paling mungkin terjadi di masa depan.
Melalui mimpinya, prediksi masa depan ditayangkan. Berkat hal itulah otak Indri bekerja dengan sangat keras sehingga saat sadar kembali Indri akan menjadi sangat lemah dan begitu menderita.
“Meskipun hanya sekedar prediksi tentang masa depan, sejauh ini tidak banyak yang meleset.”
Ramalan Indri yang paling Ben ingat adalah saat sebelum mereka dibebaskan dari fasilitas. Insiden terakhir kali yang membuat sosok Arthur dikenali buruk oleh banyak orang.
Indri sebelumnya telah mendapatkan gambaran tentang itu. Dan, berbagai hal lainnya yang membuat dia sangat ingin bergabung dengan Ray.