
Ray tengah berada di kereta dan menuju ke tempat Terumi berada. Dia beruntung berhasil lepas dari biaya tagihan yang ditinggalkan Ben dan Indri.
Meski begitu bukannya Ray memilih melarikan diri tanpa membayar ataupun mencuci piring. Dia memang kekurangan uang untuk membayarnya, tetapi dua pilihan itu tidak dipilihnya.
Ray mengambil opsi ketiga yakni, meminta pertolongan orang lain.
“Terima kasih karena kamu telah menolongku. Jika tidak, mungkin aku berakhir dipukuli atau menjadi pegawai dadakan.”
“Ha ha ha, bahkan kamu juga bisa berakhir ceroboh seperti ini, ya? Aku tak mengharapkan kamu lupa membawa barang sepenting yang dan kartu kredit.”
Ray tidak terbiasa membayar barangnya sendiri, sebelum dia menghancurkan fasilitas ayahnya dan pergi ke dunia luar, Ray belum pernah pergi sendirian. Paling baik dia akan pergi ke tempat tertentu seperti institut pembelajaran.
Bahkan setelah pergi dari fasilitas, Ray tak melakukan banyak hal yang memanfaatkan uang. Bahkan tak jarang dia bepergian tanpa membawa banyak.
“Aku tetap manusia biasa. Ada banyak hal yang terkadang aku lewatkan karena tak memiliki kebiasaan itu, Roid.”
Orang yang menolongnya adalah Roid Floch, pria berkebangsaan Rusia yang juga memiliki darah dari AS. Ray bertemu dengannya empat bulan lalu setelah melakukan duel dengan kelompok sebagai taruhannya.
“Awalnya aku pikir kamu pria yang serba bisa,” ujar Roid. “Kamu bisa mengalahkanku yang seorang profesional dan didukung Degree di dalam ring. Aku pikir kamu seorang monster yang bisa segalanya.”
Pertarungan keduanya berlangsung sengit, Ray bahkan babak belur oleh Roid karena kemampuannya yang sangat cakap dalam hal itu. Bahkan Ray sendiri pesimis akan kalah awalnya, tetapi pada akhirnya dia menang.
“Aku yakin kamu menahan diri dan tak mengandalkan Degree. Jika kamu benar-benar serius saat itu, harusnya tak ada cara bagiku melakukan KO.”
Roid hanya tertawa kering karena rahasianya telah diketahui oleh Ray.
“Ketahuan, ya? Sejujurnya aku meremehkanmu pada awalnya karena kamu tak terlihat seperti orang yang bisa bela diri. Oleh karena itu aku memutuskan tak menggunakan Degree namun nyatanya itu blunder dariku.”
Roid tentunya bisa menganggap kesepakatan untuk mengakuisisi kelompok tak pernah ada, tetapi tidak terduga dia adalah pria yang memegang kata-katanya.
Ray cukup bersyukur karena Roid meremehkannya, jika tidak maka Ray saat ini akan menjadi bawahannya.
Ada alasan mengapa Ray ingin merekrut Roid, itu karena namanya juga tercantum di catatan pemberian Ryouma. Roid Floch, pria yang ahli dalam pertarungan fisik dan bisa dibilang dia tak terkalahkan di bidang yang ia kuasai dengan bantuan Degree-nya.
Sungguh, entah berapa kali Ray merasa bersyukur karena Roid tidak memanfaatkan Degree-nya kala itu sehingga Ray berkemungkinan menang melawannya. Meski begitu, dia memang lawan yang tangguh. Entah berapa kali Ray nyaris di jatuhkan olehnya dalam pertarungan itu.
“Jika dilihat lagi, aku rasa bukan hal buruk bergabung denganmu. Aku senang karena tampaknya para keparat itu jadi lebih hidup sejak kita bergabung.”
Ada banyak anggota yang dimiliki Roid, bahkan saat bertemu dengan para pengguna Degree itu, kebanyakan adalah otak otot. Mereka adalah orang-orang yang hidup bersama kekerasan.
Saat Roid mengenal orang-orang itu di Open World dan Asgardian, mereka seperti anjing liar yang akan mengacau jika dilepaskan.
Namun sekarang ada perbedaan yang signifikan sejak Roid dan kawan-kawannya mengenal Ray.
“Orang gagal tetap punya masa depan. Aku tak melakukan apapun, mungkin karena Terumi dan orang itu memegang peran besar menjinakkan anjing liar itu.”
Ray tak merasa dirinya telah melakukan apapun kepadanya, semuanya diatasi oleh Terumi, Erina dan yang lainnya. Berkat hal itu entah bagaimana mereka menjadi seorang idol di kelompok besar yang mereka bangun.
“Kamu benar. Terlepas dari semua itu, aku bersyukur kita menyelesaikannya diantara kita berdua.”
Ray tersenyum tipis dan mendengus, “Ya. Aku sangat setuju tentang ini.”
Jika saja keduanya memilih menguasai kelompok dengan cara kasar, maka pertempuran besar yang memakan korban jiwa akan pecah. Entah seberapa besar dampaknya namun beruntung keduanya bisa berunding dan menyelesaikannya di ring.
Keduanya diam dan menunggu sampai ke stasiun, tetapi mendadak orang-orang di dalam kereta menjadi ribut karena sesuatu.
“Lihat di sana!”
“Apa yang terjadi? Mungkinkah kebakaran?”
“Asapnya sungguh hitam.”
“Itu ... bukankah arahnya dari monas?”
Ray dan Roid menatap tempat yang menjadi perhatian semua orang. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi, tetapi keduanya memiliki pemikiran yang serupa.
“Apa mungkin ... para pengguna Degree?” tanya Roid dengan wajah yang tercengang.
Ray sendiri tak yakin tentang itu, tetapi ada spekulasi masuk akal.
“Aku berpikir begitu. Tak ada banyak orang gila yang melakukan serangan seperti itu. Bahkan jika itu bukan pengguna Degree, kemungkinan besar *******.”
******* adalah paling mungkin menjadi dalang serangan selain para pengguna Degree. Kejahatan di negeri ini tak banyak yang berskala besar mengingat kepemilikan senjata api begitu sulit dan bahkan tak banyak penyelundupannya.
Jika itu berhubungan dengan senjata api dan lainnya, maka kemungkinan paling besar adalah pengguna Degree.
“Apa yang harus kita lakukan? Apa kamu mau menghampirinya ke sana?” tanta Roid dengan tenang memandang Ray.
Di sisi lain Ray juga memandangnya dan menunjukkan senyum dengan tenang, “Menurutmu?”
Tentunya Roid paham akan hal itu, keduanya mungkin orang berbeda, tetapi memiliki beberapa kemiripan di beberapa hal termasuk sekarang ini. Pada akhirnya, Roid tersenyum dan dengan percaya diri menyampaikan:
“Sudah lama sejak adrenalinku tak terpacu. Mari kita lihat Kekacauannya.”
Keduanya sepakat untuk pergi ke arah sana. Di butuhkan waktu yang tak sebentar ke sana mengingat jalan raya mulai di tutup.
Ray dan Roid akhirnya memutuskan untuk membegal pengendara sepeda listrik dan memberikannya beberapa uang tunai.
“Kamu sungguh baik hati memberikannya uang,” ujar Ray, mengenakan topeng wajah dan mengendarai sepeda.
“Aku tak ingin jadi buronan karena pencurian seperti ini. Yah, bisa dibilang ini langkah penanganan.”
Ray tak begitu peduli namun dia tidak berniat mendebat keputusan Roid yang tidak sepenuhnya salah karena itu uangnya, merupakan haknya untuk menggunakannya untuk apa.
Saat mereka mulai membicarakan tindakan yang akan dilakukan setibanya nanti, jam di tangan berdering. Hanya ada satu hal yang membuatnya terjadi, yakni munculnya tugas.
— Boleh berpartisipasi dalam tugas ini dan boleh juga tidak.—
—Partisipan akan mendapatkan sejumlah Degree. Jumlah akan diakumulasikan setelah tugas darurat berakhir.—
—Pergi ke monas dan berpartisipasi dalam tragedi pencurian emas monas yang sedang terjadi.—
—Tak ada konsekuensi dari kami tentang tugas ini namun tidak termasuk dari luar zona kami.—
—Partisipan yang berhasil meredam dan mencegah kekacauan akan diberikan hadiah khusus.—
—Partisipan yang berhasil selamat dan mencuri emas monas akan diberikan hadiah khusus.—
—Hadiah dibagikan kepada orang-orang yang berpartisipasi.—
Pemberitahuan yang tentunya mengejutkan karena insiden tersebut berada di lokasi yang Ray tuju.
“Ini kriminal besar ... seperti yang di duga, pengguna Degree adalah dalang semua ini,” ujar Ray.
“Ya, aku penasaran orang gila macam apa yang melakukannya,” Roid mengerutkan alisnya dengan tidak senang. “Bukankah ini sama artinya mereka mendeklarasikan perang melawan negara?”
Emas di puncak monas memiliki sejarah yang panjang bersamanya dan juga sebuah penghargaan bagi para pejuang pada masa mempertahankan kemerdekaan.
Tugu itu bisa dibilang sangat berharga bagi negara dan juga identitas dari kota Jakarta. Harta berharga milik negara, siapapun yang berani mencurinya sama dengan pernyataan perang melawan negara.
“Terlepas dari hal itu aku justru penasaran mengapa Secret membuat aturan ambigu seperti itu,” ujar Ray saat membaca runtutan pesannya. “Tugas ini terkesan mendukung pencegahan mencuri emas, tetapi juga mendukung pencuriannya berhasil.”
Secret secara jelas memberitahukan bahwa mereka memiliki tiga pilihan yang dapat diambil. Pilihan pertama adalah bisa absen tanpa ikut berpartisipasi ke dalamnya, sementara dua pilihan lainnya adalah membantu pencurian atau menghentikannya.
“Ini sungguh membingungkan,” Roid menggaruk kepalanya dengan kesal. “Apa yang akan kita lakukan, Ray?” tanya Roid.
Ray tanpa berpikir dan langsung membuat pernyataan dengan jelas. “Kita sudah menuju lokasinya, tidak logis bagiku secara pribadi untuk berputar dan tak berpartisipasi.”
“Yah, kamu ada benarnya. Toh, cepat atau lambat pertempuran besar para pengguna Degree sudah semestinya ditakdirkan. Kalau begitu, kepada siapa kita akan berpihak?”
Itulah masalahnya, Ray masih memiliki perdebatan jelas di pikirannya tentang pihak mana yang akan dia dukung.
Ikut mencuri atau tidak, pada akhirnya Secret akan memberikan mereka hadiah yang tidak diketahui apa itu.
Namun ada satu hal yang sudah jelas di sini. Jika mereka membantu pencuriannya agar berhasil, setidaknya Ray yakin akan mendapatkan bagian dari emas itu sendiri ataupun dari penjualannya.
Meski begitu tidak peduli mendukung ataupun tidak, keduanya akan memiliki risikonya masing-masing. Oleh karena itu Ray tak bisa membuat keputusannya. Selain itu, Ray juga membuang pilihan tidak berpartisipasi karena tak mau menyesal andaikata hadiah yang ditawarkan Secret sesuatu yang menguntungkan.
“Yah, aku tak yakin bisa membuat keputusannya sekarang,” ujar Ray.
Hal itu membuat Roid tercengang dan sedikit kesal, “Apa? Jadi kita pergi tanpa alasan jelas akan mendukung atau tidak?”
“Begitulah. Aku berencana mengambil tindakan setelah melihat situasinya. Bergantung bagaimana situasinya, kita mungkin akan mendukung pencurian.”
Roid paham bahwa mereka tak bisa asal memihak sebelum mengetahui keadaan di lapangan. Andaikan mereka langsung memilih mendukung pencurian namun tak terduga bahwa pihak negara jauh lebih unggul, maka mereka sama artinya bunuh diri. Tentunya, hal itu juga berlaku untuk sebaliknya.
“Kamu ada benarnya, namun entah mengapa aku memiliki keyakinan kuat akan ada banyak yang mendukung pencurian. Manusia tetaplah manusia, mereka akan meninggalkan kebaikan demi harta.”
Bohong jika Roid bilang tidak tertarik dengan emas tersebut, jika harus jujur, baginya mendukung pencurian tersebut lebih menguntungkan ketimbang berusaha menghentikannya.
Dengan mereka yang diharuskan menjaga kerahasian Degree, maka mereka takkan bisa tampil begitu saja ketika membantu pemerintah menghentikan pencurian tersebut.
Selain itu, tak ada jaminan pemerintah akan mau menerima bantuan orang asing seperti mereka. Akan sulit untuk memberikan tangan demi menghentikan pencurian.
“Aku tak yakin tentang itu. Dari sudut pandangku kemungkinan dua pihak berimbang— tidak. Mungkin saja pihak negara lebih diuntungkan.”
Selain dukungan persenjataan dan militer yang kuat, pencurian dilakukan di dalam negara, tak mungkin mereka akan bisa melepaskan para kriminal ini dengan mudah.
Pencurian ini sendiri terbilang mustahil untuk dilakukan karena tak ada cara apapun bagi mereka untuk keluar hidup-hidup. Meski begitu, amat disayangkan bahwa para pencuri ini adalah pengguna Degree. Yang mana hal mustahil bisa jadi tidak mustahil.
“Apa yang membuatmu sangat yakin jika pihak negara lebih unggul dari para pencuri yang juga pengguna Degree?” tanya Roid karena dia masih tak menanggap maksud Ray.
Diantara banyaknya orang yang dikenal Ray, hanya ada satu orang yang memiliki idealisme kuat untuk menolongnya orang banyak. Pria yang sungguh tak cocok dengan lingkungan Secret, orang yang mungkin saat ini memiliki kebencian luar biasa kepada Ray.
“Mau bagaimanapun di situasi besar seperti ini, pahlawan akan selalu hadir untuk menyelesaikannya dan melindungi banyak nyawa orang dengan caranya sendiri.”
“Maksudmu?” Roid mulai mengerti apa yang coba disampaikan Ray. Diantara pengguna Degree, hanya satu orang yang dekat dengan kata ‘Pahlawan’ ini.
“Ya, mau bagaimanapun aku sangat yakin, protagonis utama kita akan berpihak kepada negara dan mencegah pencurian ini. Dia adalah Retsuji Arthur.”
Ray tidak mengenal Arthur secara mendalam, tetap mudah memahami karakternya yang memiliki idealisme kuat dan rasa tolong menolong luar biasa. Pria dengan Degree tak masuk akal yang membuatnya memiliki keberuntungan maksimal juga plot armor dari takdir buruk.
“Aku pernah dengar tentangnya, bahkan aku melihat perseteruannya denganmu. Dia adalah bajingan yang menembak mati seorang gadis dan melarikan diri. Namun bahkan jika dia menolong dan berada di pihak negara, aku tak yakin Degree-nya sungguh kuasa sampai mempengaruhi segalanya.”
Jika Degree sungguh dapat melakukan itu, maka Secret bisa dibilang sebagai dewa yang menciptakan alat untuk melawan takdir manusia yang sudah ditentukan.
“Semuanya pasti berbeda dengan saat kita di Asgardian. Aku tidak tahu apa yang dilakukan bajingan itu enam bulan terakhir ini, tetap ingatlah bahwa dia bukan orang yang bisa diabaikan.”
Setengah jam perjalanan untuk mereka sampai ke tempat kejadian, meski belum mencapai pusat kekacauannya namun terdengar baku tembak di mana-mana.
Ray juga dapat menemukan polisi militer sedang bersiaga di berbagai tempat selagi mengungsikan banyak orang. Diantara orang-orang yang diungsikan, beberapa menggunakan jam yang sama dengan Ray. Sangat jelas bahwa para pengguna Degree telah menyusup ke dalam warga sipil. Hanya saja taj diketahui apa posisi mereka. Mendukung, menentang, atau bahkan tidak keduanya.
“Tampaknya sulit bagi kita untuk masuk dan melihat sumber kekacauannya. Evakuasi telah dijalankan dan kepolisian jelas mengosongkan wilayah beberapa kilometer ke depan,” ujar Roid selagi mengamati situasinya. “Apa yang harus kita lakukan?”
Ray memandang sekitarnya dan memikirkan beberapa hal sampai dia mendapatkan sebuah ide.
“Kita akan menyusup, aku memiliki rencana, kemarilah.”
Ray mulai membisikkan rencananya, Roid tentunya mendengarkan dengan seksama. Meski dia merasa rencana itu cukup kasar namun tak ada pilihan lain.