
Dengan kondisinya yang kacau Ray berjalan menuju ke tempat selanjutnya, dia menduga akan ada tugas lainnya namun ternyata tidak. Ada tiga jalan, satu tempatnya keluar sementara dua lainnya masih belum diketahui.
“Apa Tyson dan Misa akan berkumpul kembali?”
Ray tak memiliki jaminan apakah mereka akan kembali bertemu atau tidak, meski begitu keadaannya saat ini tidak baik. Bahkan jika tidak ada kesempatan untuk bertemu keduanya lagi, Ray memutuskan untuk menunggu dan memulihkan tenaganya.
Dia mulai mengakses Market untuk menelitinya lebih jauh lagi karena organisasi ini memiliki lebih banyak hal yang sulit untuk dipahami.
“P3K juga ada, haruskah aku membelinya? Namun, harganya cukup disayangkan.”
Ray harus mengeluarkan 50DP untuk membeli satu kotak P3K, itu artinya dia hampir kehilangan setengah poin yang dia dapat dari menyelesaikan tugas. Meski ada tambahan dari milik Justina, tetap saja 50DP bukan harga yang murah.
Ada masa depan tidak pasti yang Ray harapkan, kekhawatiran akan sesuatu muncul di kepalanya. Ketika dia berniat membelinya Ray dihentikan oleh suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa.
Dari pintu lain Misa keluar, wajahnya bersimbah darah dan dia tampak sedikit terluka. Wajahnya yang cantik itu menangis dan begitu melihat Ray dia menjadi riang.
“Ray! Tolonglah Tyson, dia dalam bahaya!” Tanpa mengidahkan bahwa Ray terluka sedemikian rupa, Misa meminta pertolongannya.
Ray segera menghampirinya dan memintanya untuk mengatur napas agar bisa menjelaskan situasinya lebih jelas.
“Tyson, mengorbankan dirinya agar aku bisa lari! Kami tidak sengaja menginjak jebakan dan membuat robot petarung aktif. Saat ini Tyson sedang bertarung dengan robot-robot itu. Aku mohon, tolong selamatkan dia, Ray!”
Sepertinya Misa dan Tyson mengalami rintangan serupa namun tempat yang mereka ambil lebih berbahaya dari jalan pilihan Ray. Menatap Misa yang begitu tersedu dan menangis, Ray tidak yakin bahwa dia berakting atau sejenisnya.
“Apa kamu sudah menyelesaikan tugas yang diberikan setelah melaluinya?”
“Y-ya. Tempat ini adalah tujuan akhir dari tugas yang kami miliki, sebagai keberhasilannya aku baru saja mendapatkan 200DP.”
Ray menyipitkan matanya selama beberapa waktu, dia terkejut karena perbedaan DP yang diterima begitu jauh.
“Kalau begitu bisakah kamu membaginya 100DP kepadaku? Seperti yang kamu lihat, aku juga melalui hal sulit di sini, bahkan Justina gugur dalam perjalanannya. Aku perlu senjata dan P3K untuk lukaku.”
Misa terlambat menyadari bahwa Ray memiliki luka bakar dan tangan yang berbalut pakaian berdarahnya, selain itu dia sangat terkejut tentang kebenaran dari Justina, “Jadi Justina sudah ...,” Misa segera menggelengkan kepala dan menolak mengatakannya, dia harus menjaga perasaan Ray yang mungkin lebih kehilangan, “Selama itu bisa menyelamatkan Tyson, aku tidak masalah bahkan jika harus menyerahkan tubuh!”
Tanpa keraguan Misa menempelkan jamnya dengan milik Ray dan memberi setengah poin miliknya. Ray kemudian coba memesan P3K dan sebuah pistol, dia cukup penasaran bagaimana barang itu akan di kirim. Ini pembelanjaan yang cukup mahal mengingat P3K seharga 50DP dan pistol serta pelurunya seharga 150DP. Ray berharap DP dan Market bukanlah sebuah pembodohan.
Secara mengejutkan cahaya redup mulai berkumpul di depannya dan mulai berubah wujud menjadi P3K dan sebuah pistol serta peluru cadangannya.
“Itu ... bagaimana?” Misa tidak bisa menahan keterkejutannya dari hal itu.
“Itu pasti teleportasi kuantum atau sejenisnya. Dengan merombak informasi kuantum suatu barang dan memecahnya menjadi partikel kecil sehingga mampu berpindah dengan cepat. Organisasi ini semakin misterius mengingat teleportasi kuantum hanya berhasil memindahkan zat tak kasat mata dan bukan benda.”
Di pertengahan abad saat ini manusia baru menemukan cara memindahkan partikel ke tempat lainnya dengan merombak informasi kuantum partikel tersebut.
“Jadi bagaimana mereka melakukannya?” Misa berkata bingung selagi meraih kotak P3K dan membalut luka Ray.
Ray melihat Misa dengan salut karena dia bertindak semudah bernapas terlepas situasi Tyson yang mungkin terdesak. Mungkin hal itu didorong olehnya yang terbiasa berbuat baik. Entah itu kebenaran atau kedok belaka, sejak kejadian dengan Justina, Ray memegang teguh tak mempercayai siapapun di tempat ini.
“Entahlah. Bahkan jika teleportasi kuantum masih tampak mustahil, aku yakin fasilitas ini bukan tempat biasa. Jika dugaanku benar, setiap tempat di sini memiliki mekanisme tertentu yang memungkinkan teleportasi kuantum jadi seratus persen berhasil.”
Ray tidak yakin jika teorinya salah karena saat ini hal itulah yang paling besar kemungkinannya.
“Kamu sangat pintar, Ray. Apa yang sebelumnya kamu lakukan sebelum datang ke tempat ini?” Misa terlihat penasaran tentang hal itu.
Ray tidak memikirkannya, jika dia mengingat kembali hari-hari itu, dia terlambat menyadari bahwa sebenarnya hal ini cukup ironis.
“Aku hanya seorang remaja biasa-biasa saja sepertimu dan Tyson.”
Selesai Misa memberikan Ray pengobatan, dia segera menuntunnya ke tempat Tyson berada dengan sedikit tergesa-gesa. Lorong yang mereka telusuri sedikit gelap namun keduanya tidak membutuhkan cahaya karena masih bisa melihat jalan dengan jelas.
Karena tampaknya akan membutuhkan waktu untuk sampai ke tempatnya, Ray mulai mengakses jamnya dalam diam selagi mengikuti Misa.
“Sunyi sekali.” Ray tidak menemukan apapun selain lorong dengan sedikit pencahayaan. Di ujung lorong dia bisa melihat cahaya dan secara samar terdapat suara rintihan seseorang.
“Tyson!” Misa dengan khawatir segera berlari meninggalkan Ray di belakangnya.
Ray tidak perlu tergesa-gesa, ini adalah kesempatan, dia membuka kotak P3K di tangannya dan melihat apa saja yang tersisa di dalamnya.
“Setidaknya ini cukup untuk mengobatinya jika terjadi sesuatu.” Ray mengangguk puas selagi melakukan sesuatu kepada P3K dan kembali mengemasnya.
“Tyson! Tyson! Tetaplah bersamaku!”
Ray dapat melihat Misa mulai menangis selagi memangku Tyson. Keadaannya sangat memprihatinkan, bahu kirinya terluka sedemikian rupa sampai darah membasahi seluruh tubuhnya.
“Coba sini.” Ray mengecek pernapasan dan denyut nadinya, Tyson tampaknya baik-baik saja. Ray juga menyentuh sedikit luka Tyson dan meyakini bahwa dia benar-benar terluka oleh tembakan, “Ini bekas tembakan, ya? Tyson mungkin pingsan karena syok. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, cepat obati dia.”
Misa yang berlinang air mata mengangguk kuat dan mulai melakukan pengobatannya.
Ray menuju sisi lain ruangan yang tampaknya menjadi bekas pertarungan antara Tyson dengan robot yang dimaksud. Entah bagaimana sepertinya tak ada satu robot yang dikalahkan Tyson, Ray mengacungkan pistol dan memegang pisau di tangan lainnya.
“Berhati-hatilah, Ray!” Misa memperingati selagi membalut tubuh Tyson dengan perban.
Mengangguk kecil, Ray mendekati lokasi yang menjadi bekas pertarungan dengan hati-hati. Dari bekas hangus hitam yang berserakan di lantai, dinding dan langit-langit, Ray sangat yakin bahwa para robot menggunakan sejenis tembakan.
“Peluru seperti apa yang digunakan robot-robot di sini? Aku sama sekali tidak menemukan bekas atau lubang dari hasil tembakannya.”
Abaikan soal lubang karena mungkin tempat ini terbuat dari logam kuat sampai peluru tak mampu menembusnya.
“Para robot ... menggunakan peluru cahaya.” Tyson yang telah sadarkan diri berkata demikian, wajahnya menyakitkan sedemikian rupa dan dia memaksakan diri untuk bangun.
Misa dengan khawatir membalut lukanya dan menghentikan Tyson, “Kamu sebaiknya jangan banyak bergerak karena lukamu bisa terbuka kapan saja!”
”Peluru cahaya, katamu. Hebat juga kamu bisa menghindarinya dengan hanya sedikit terluka.” Ray tampak salut kepada Tyson yang memiliki kemampuan.
Meski pelurunya cahaya namun kecepatannya tak secepat cahaya, tetap saja bukan perkara mudah menghindari banyak darinya. Itu akan mengejutkan bagi siapapun yang melihatnya.
“Kamu bilang robot itu muncul karena kalian memicu jebakan? Lebih tepatnya, di mana jebakannya?”
Ray mencari di sekitar, mulai dari menginjak kuat lantai dan meraba dinding karena berharap menemukan sesuatu yang mungkin tidak pernah ada.
“Tombol itu ada di bagian pojok ruangan ... terus saja, kamu akan menemukannya.” Tyson mulai berdiri bersama dengan Misa yang mengulurkan tangan kanannya.
Tangannya mulai bersinar dan mengumpulkan cahaya, kemudian cahaya yang berkumpul tersebut ditembakkan tepat kepada Ray dan hampir mengenainya.
“Berbalik secara perlahan dan jatuhnya senjatamu.” Ucapan Tyson terdengar dingin sedemikian rupa.
Ray terlihat gemetar dan melemparkan pistol juga pisaunya dengan patuh, kemudian dia berbalik untuk melihat keduanya.
Wajahnya terlihat tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, “Apa maksud kalian dengan ini?”