
“Bagaimana bisa ini menjadi dia?” gumam Ray dengan tidak percaya.
Ray ingat jelas bahwa wanita itu telah mati di tangannya sendiri. Bahkan Ray telah memastikan tubuhnya terbakar oleh api sehingga takkan ada kesempatan baginya selamat.
‘Apa mungkin karena Degree-nya?’
Degree Mein memungkinkannya memiliki kemampuan dari peran tertentu yang ia mainkan. Dan, bukannya tidak mungkin ada peran tertentu yang membuatnya bisa memalsukan kematiannya sendiri.
Jika benar begitu maka ini bukan situasi yang bisa diterima dengan baik oleh Ray.
“Apa kalian yakin ini benar dia?” tanya Ray. “Satu dari sejuta kemungkinan, wanita ini harusnya benar-benar mati.”
Indri mengangkat alisnya, “Aku yakin kalau wanita ini orang yang sama dengan wakil serikat Redwest. Selain itu, mengapa kamu sangat percaya diri mengatakannya?”
“Aku tahu bahwa saat hutan mulai terbakar korban mulai berjatuhan termasuk wanita itu. Akan tetapi, hal tersebut memang patut dicurigai keasliannya.”
Indri bisa mengatakan demikian karena ia tidak mengetahui kisah sebenarnya. Cerita tentang Mein mati terbakar tidak sepenuhnya salah. Hanya saja kisah itu sedikit dibengkokkan.
Faktanya Mein mati terbakar setelah ditikam oleh seseorang dan dilemparkan ke api menyala. Dan, orang itu adalah Ray, orang yang sama dengan yang membengkokkan cerita aslinya.
“Itu tentu saja aku yakin,” Ray menatap langsung mata Indri. “Karena aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
Indri terbelalak, matanya gemetar dan sedikit keringat menetes di pelipisnya. Itu karena ia tidak menduga kalau Ray akan mengakui dosanya semudah itu.
“Kamu selalu diluar harapan, Ray.” Indri bahkan kehabisan kata-kata terhadap Ray.
“Kamu selalu main-main dengan berbagai hal, ya?” Guren berkata dengan sedikit cemooh.
Orang ini bukan bermaksud merendahkannya, tetapi karena kemampuannya itu ia harus mengatakan hal-hal berlawanan dari seharusnya. Mungkin itu untuk mengurangi risiko terjadinya sesuatu yang tak mengenakkan.
“Kembali ke topik. Aku meragukan identitasnya,” Ray menegaskan. “Ada kemungkinan bahwa orang ini palsu.”
“Namun bagaimana cara seseorang memalsukan bentuk tubuh, hingga bahkan suara? Aku tak percaya ada sesuatu seperti itu bahkan jika berkaitan dengan Degree,” Hiroshi menolak pendapat Ray.
“Dia benar, tampan,” Rani menambahkan. “Sangat masuk akal jika Virgo adalah Mein.”
“Ini menguatkan alasan mengapa orang itu menggunakan pengubah untuk suaranya.” Rina juga menyampaikan hal yang masuk akal.
Itu memang benar. Ray juga mengingat kembali kejadian di Open World. Virgo dan Mein mungkin tak pernah berada di tempat yang sama.
Ray menggaruk kepalanya dan menghela napas dengan lelah, “Huh~, mari lupakan hal ini. Sekarang tidak ada gunanya dengan mengetahui hal itu.”
“Lebih dari itu, mari bahas apa yang sesungguhnya ingin kalian katakan.”
Topiknya berubah namun Ray tahu tujuan awal Indri bukan untuk menyampaikan kasus Virgo yang adalah Mein.
“Ya, ini tentang persiapanmu untuk mengeliminasi banyak orang.”
Ray mengangguk, “Jika tugas yang aku berikan ke Ben sudah dilaksanakan, maka semuanya beres. Sisanya adalah menghancurkan tempat ini.”
...****************...
Film mulai memasuki kisah akhirnya. Ray tentunya mengambil kesempatan untuk menyimak beberapa bagian.
Itu adalah kisah fantasi yang menarik, bercerita tentang seorang pangeran pemalas yang melakukan rutinitasnya untuk tertidur setiap waktu.
Ray tak menyimak bagian selanjutnya karena percakapannya serius. Namun bagian tengah kisah tersebut mulai mengungkapkan sesuatu yang menarik setelah si pangeran itu mengungkapkan dirinya dengan berbagai macam kepribadian.
“Rekan yang mana?” tanya Ray.
“Leo,” Indri menjawab cepat. “Orang itu sama sekali tidak terlihat di manapun belakangan ini. Apa kamu memintanya melakukan sesuatu?”
Ray sendiri belum melihat Leo sama sekali. Sejak rehat ini dimulai, Ray mulai jarang melakukan kontak dengan siapapun. Ia melakukan kontak lebih sering dengan Terumi dan Erina.
“Tidak. Aku bahkan belum bertemu dengannya sejak awal.”
“Begitu. Kamu harus berhati-hati dengannya, Ray. Aku selalu memiliki kegelisahan tentang orang itu.”
Indri tidak perlu memperingatinya karena Ray tidak membutuhkannya. Bahkan jika itu orang terdekatnya, Ray akan selalu memiliki rasa kecurigaan. Di tempat ini, seseorang tidak boleh mengenal hati atau sejenisnya.
“Ya.”
Film habis diputar dan percakapan berakhir. Ray pergi lebih awal sementara Indri dan kelompoknya akan menetap sampai tulisan kredit film selesai.
Ray tak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan bioskop, Indri berbicara sendiri. Ia berbicara cukup keras seakan ingin Ray mendengarnya.
“Aku yakin dia akan mulai memainkan kartunya dengan benar. Ini akan menjadi pertunjukkan yang sangat menyenangkan untuk dilihat.”
Ray tak menjawab apapun. Biarkan dia menjadi liar dengan harapannya. Mau bagaimanapun, bahkan jika Indri tidak mengharapkan pertunjukan, hal tersebut akan tetap ada. Di tempat ini, Ray akan mulai membuat langkah serius.
“Dia pasti berpikir kartuku adalah Erina yang belum kugunakan sama sekali. Dia tidak salah, sama sekali tidak.”
Pemikiran tersebut benar adanya. Ray menyimpan Erina sampai hari ini adalah untuk senjata rahasianya. Bahkan jika Degree-nya hanya berlaku untuk orang yang berhutang budi kepadanya.
Fakta bahwa Erina sendiri sangat atletis dan kuat sebagai seorang wanita tidaklah terbantahkan. Ray pernah melihatnya beraksi sekali dan membuatnya kagum.
‘Indri tidak salah jika menganggap Erina adalah kartuku. Namun, jika ia menganggap hanya Erina kartuku maka itu baru kesalahan besar.’
Ray masih memiliki sebuah kartu kuat yang bisa ia gunakan. Hanya saja masalah terbesarnya adalah ia belum memahami cara menggunakannya.
Ya, kartu terbaiknya adalah Degree-nya sendiri. Sejauh ini, orang-orang yang memiliki Degree dengan kesan tak berguna nyatanya adalah yang paling berbahaya.
Pesulap, pembohong, pantomim bahkan seorang fanatik budaya. Mereka sekelompok orang dengan Degree kuat yang Ray kenal. Bahkan milik Erina sendiri tidak bisa diabaikan.
Ray penasaran seperti apa Degree-nya jika akhirnya ia berhasil menggunakannya. Sekarang, selagi menunggu waktu untuk eksekusi rencananya Ray akan memanfaatkan waktunya untuk mempelajarinya.
“Aku juga harus mengumpulkan DP. Ini benar-benar sangat pemborosan, mungkin satu-satunya rencanaku yang memiliki modal sebesar ini.”
Ray pergi kembali ke penginapan namun ia tidak pergi ke kamarnya, tetapi pergi ke tempat lain. Blok yang berada cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Ray mengetuk pintu beberapa kali dan menyampaikan, “Biarkan aku masuk, Erina.”
Pintu mulai terbuka dan menampilkan sosok gadis dengan kantung mata hitam serta tatapan layu. Ia terlihat lemas dan kurus meskipun pola makannya terjaga.
Ray juga telah memeriksa kondisinya secara berkala. Tampaknya, cuci otak si kembar itu memiliki dampak negatif.
“Apa kamu merasa tidak enak di tempat tertentu? Kita harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan DP yang hilang.”
Erina menggelengkan kepalanya untuk memberitahu Ray bahwa dirinya baik-baik saja. Ray kemudian mengangguk.
“Mari kita merampok beberapa orang.”