The Degree

The Degree
Kekhawatiran Ray



Saat persiapan besar dilakukan, Ray pergi menemui Erina yang menginginkan pembicaraan secara empat mata dengannya.


Mein yang pada awalnya ada di sana lekas pergi setelah menemukan kehadiran Ray. Wanita itu, sejak semua peristiwa ini tak lagi menyimpan kewaspadaan kepadanya.


Terlepas dari Ray yang sebenarnya berada di bawah kendali Erina harusnya tak ada masalah, namun Mein bukan orang rendahan yang akan menurunkan kewaspadaan karena hal itu.


Awalnya Ray merasa terbatasi karena pengawasan yang diberikan Erina, namun setelah semuanya menghilang ia jadi lebih leluasa dalam bertindak.


Aku khawatir awalnya jika aku takkan bisa menyelesaikannya, tetapi syukurlah ia berubah dengan alami. Pikirnya.


“Maaf karena telah membuatmu repot selama beberapa waktu ini, Ray. Aku merasa bersalah padamu dan ingin mengatakan namun waktu baru datang sekarang.”


Dikarenakan banyaknya petinggi Redwest gugur selama kekacauan ini, Ray dan Mein dibebani oleh beberapa hal yang merepotkan. Misalnya, melakukan penghitungan terhadap korban jiwa dan mengkonfirmasi identitasnya.


Meski terlihat sepele namun tindakan tersebut diperlukan untuk mengetahui siapa saja yang meninggal demi mencegah kemungkinan penyusup menyamar menjadi orang yang telah gugur.


Ada lebih dari tujuh ribu anggota Redwest termasuk generasi kedua yang sama dengan Ray. Secara spesifik korban jiwa diyakini hampir mencapai tiga ribu jiwa.


Meskipun Blueeast membentuk aliansi dengan mereka namun mereka hanya akan mengurusi hal-hal teknis, sementara internal Redwest bukanlah tempat mereka untuk meletakkan tangan.


Tentunya ada beberapa petinggi kompeten yang membantu namun sejauh ini Ray dan Mein menerima beban paling berat.


Ray memicingkan matanya, “Aku tak keberatan karena ini memang tugasku sebagai anggota Redwest.” Ray mengakui meski ia benci bergabung pada awalnya karena belenggu Erina namun setelah tinggal beberapa lama di kediamannya Ray tak menyesali pilihan untuk bergabung.


“Selain itu, aku juga tidak bisa membiarkanmu yang terluka sedemikian rupa menanggung banyak hal. Setidaknya ini adalah caraku membantumu, Erina.” Ray tersenyum tipis.


Erina mengangkat alisnya karena tak menyangka Ray memiliki pemikiran seperti itu. Ia juga terkejut bahwa Ray memanggil namanya dengan penuh ketulusan.


Awalnya ia yakin bahwa Ray lambat laun akan melakukan pemberontakan karena tidak terima ia menggunakan Degree padanya.


Meski begitu Erina nekat membuat taruhan dengan dirinya sendiri untuk menjinakkan Ray dan membawanya ke sisinya. Selain kagum dengan bakat dan kemampuannya, Erina jujur menyimpan perasaan padanya.


Fakta bahwa Ray tak lagi menyimpan dendam padanya membuat ia berpikir taruhannya berhasil dan lambat laun Erina yakin akan mengambil hatinya juga.


“Terima kasih untuk itu. Luka ini memang sangat menyedihkan dan jika bisa aku tidak ingin menunjukkannya padamu,” Erina tersenyum pahit selagi melihat Ray. “Tidak ada wanita manapun ingin memperlihatkan kondisi ini kepada pria yang penting baginya.”


Ray sejujurnya tidak peduli dengan apa penampilan dari lawan bicaranya. Baginya tampilan menyedihkan apapun tidak akan mempengaruhi penilaiannya tentang bagus-tidaknya seseorang.


Ray tentunya sadar bahwa kesimpulan miliknya bisa dibuat seperti itu karena Ray tak pernah mengalami asmara apapun selama hidupnya. Ia bahkan jarang bersosialisasi dengan orang lain sebelum memasuki tempat ini.


“Kamu tak perlu menyembunyikan apapun dariku seperti saat kamu tak menahan diri tentang ambisimu menginginkanku. Bahkan kamu tak ragu menyampaikan secara tersirat bahwa aku benar-benar spesial untukmu.” Ray tersenyum masam akan hal itu.


Erina mulai cekikikan dan merasa bangga karena Ray menyadarinya namun ia juga senang dengan hal lainnya.


“Kamu mungkin ada benarnya. Sejak saat aku terluka seperti ini, setiap kali kamu berbicara denganku ada lebih banyak senyuman tumbuh di bibirmu. Padahal, biasanya kamu lebih terlihat patung.” Erina cekikikan dan sedikit mengejek Ray.


Ray tak mengambil hati oleh ejekannya dan hanya menghela napas. Memang itu ada sebuah fakta bahwa sekarang Ray lebih banyak tersenyum.


Setelah beberapa saat mereka melakukan percakapan ringan Erina menyadari bahwa Ray tampak sedikit khawatir tentang satu hal. Awalnya Erina berniat memilih diam namun tampaknya kekhawatiran tersebut bukan satu hal yang ringan.


“Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”


Ray sedikit mengangkat bibirnya namun tak mengatakan apapun. Ray mengatakan bahwa tak ada apapun namun Erina bisa melihat jelas kebohongan tersebut.


Berkat sikapnya yang aneh membuat Erina mengerutkan alisnya sedikit curiga, “Ada apa denganmu? Katakan saja, Ray. Aku tahu bahwa kamu bukan orang yang akan menunjukkan kebocoran seperti itu.”


Erina belum lama mengenal Ray sehingga tak bisa mengatakan sangat memahami dirinya namun Erina sudah mengetahui karakter orang seperti Ray.


Umumnya orang seperti itu tidak akan memperlihatkan kekhawatirannya dan akan mampu berbohong semudah bernapas. Namun saat ini Ray tak memegang hal tersebut sehingga patut dipertanyakan. Antara ada masalah besar yang bahkan tak bisa ia atasi atau terdapat hal-hal yang ganjil namun tak ia temukan jawabannya.


Ray akhirnya menghela napas dan menyerah menahannya kemudian bersandar dan menatap langit-langit selagi memijat keningnya.


“Kepalaku terasa sangat kacau dan terbebani sehingga tidak mampu memikirkan banyak hal. Seperti ucapanmu, kalau ada satu hal yang menggangguku namun tak bisa aku ungkapkan padamu.”


Sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan ... . Pikirnya.


Erina mampu menebak beberapa hal namun untuk saat ini setidaknya ada satu yang ia yakini jawabannya.


“apa mungkin ini terkait Ordo dan serikatnya?”


Ray mengangkat alis selama beberapa detik sebelum menjelaskannya secara rinci bahwa ia memiliki kecurigaan kemungkinan Ordo adalah seorang pengkhianat meski terlihat seperti Messiah di luar dan kakak yang peduli pada adiknya.


Dengan semua perbuatan yang ia lakukan sampai kini menunjukkan kebaikannya sehingga semua orang merasa yakin namun Ray tak terpengaruh oleh apa yang terjadi di permukaan.


Ray selalu teguh pada keyakinannya bahwa tak ada orang yang benar-benar baik serta suci di dunia ini. Orang seperti itu hanya akan ada di dalam cerita dongeng.


“Kamu ingat bahwa rencana perang Virgo tepat dengan selesainya persiapan kita? Meski mereka bisa memilih menyerang sekarang namun karena tujuannya adalah membuat pertunjukan besar maka mereka memilih waktu di mana kita siap.”


Persiapan sepenuhnya dilakukan oleh serikat Blueeast dengan Arthur yang tak tergabung dalam serikat manapun mengawasinya. Meski pria itu tak sepatutnya terlalu dipercaya namun fakta bahwa Endruid kala itu coba membunuhnya mampu menjadi bahan penyangkalan.


“Menghancurkan kita selagi belum siap adalah pilihan terbaik menyelesaikan tugas bonus sekaligus ujian kelima. Namun, aku tidak mengerti mengapa mereka memilih menunda dan memberikan waktu yang sungguh bertepatan dengan kesiapan kita.”


Erina mulai memikirkannya dengan serius karena ia yakin bahwa Ray selalu menemukan sesuatu yang tidak bisa ia lihat seperti jawaban tugas kelima.


“Kamu menolak bahwa ini hanya kebetulan belaka, ya?” Erina bertanya, melihat Ray mengkonfirmasi dengan anggukan membuatnya memikirkan hal lain. “Jika begitu kita akan melihatnya dari sisi yang lain. Andaikan ini hanya skenario yang disusun oleh Ordo ... .”


Erina merasa geram saat membayangkan bahwa kata-kata Ordo tentang ia hanya ingin berdamai nyatanya hanya kebohongan. Andaikata itu kenyataan maka sampai mati Erina takkan memberikan pengampunan.


Namun sulit bagiku mempercayai bahwa orang itu akan melakukannya. Aku sudah sejak lahir mengenalnya dan dia bukan orang seperti itu. Pikirnya.


“Bisa jadi selama dua tahun belakangan Virgo sudah mencapai Ordo dan membuat kesepakatan dengannya. Setelah mengetahui alasan kalian saling bermusuhan, aku memahami bahwa Ordo memiliki keinginan kuat mendapatkan hadiah utama dari tugas bonusnya.”


Hadiah utama dari tugas bonus membangun serikat terkuat di Open World bukan main-main karena itu sesuatu yang sangat penting dan diyakini mampu membuat orang lolos semua tugas yang akan datang nantinya.


Bisa dibilang orang yang mendapatkannya akan jadi kandidat utama yang akan lolos hidup-hidup.


“... kamu benar. Dua tahun belakangan aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Ia bahkan lebih banyak berubah.” Erina mengernyitkan alisnya.


Selama dua tahun permusuhan mereka, bisa saja Ordo berubah dan tak lagi menjadi kakak laki-laki yang ia kenal dahulu. Lagi pula Erina tak menyangkal bahwa tempat ini mengubah banyak sifat seseorang.


Bahkan itu terjadi kepadanya. Erina dulunya bisa lebih ceria dan tidak pernah merendahkan siapapun yang ia temui namun sejak mendapatkan Degree dan paham penggunaannya dia berubah dan bersikap seperti penguasa yang memerintah seperti diktator.


“Apa mungkin bahwa Ordo mendapat kesepakatan bisa memiliki hadiahnya sementara Virgo mendapatkan hal lainnya?” ujar Terumi dengan nada berbisik.


Ray menatap lurus ke mata Erina, “Aku juga memikirkan hal yang sama namun aku tak bisa tahu apa yang Virgo coba dapatkan dari mengorbankan hadiahnya. Ini pemikiran bodoh namun aku berpikir bahwa dua orang ini mungkin orang yang sama.”


Ray menjabarkan bahwa Ordo datang dengan persiapan penuh dan secara misterius tepat pada waktunya. Meskipun ia menempatkan mata-mata namun sulit membayangkan seseorang bisa mengirimkan informasi saat penjuru wilayah timur jatuh dalam kekacauan.


Lalu didorong fakta bahwa benar-benar ada penyusup di dekat mereka meski Ordo dan orang-orangnya melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mereka juga membuat pernyataan bahwa tidak ada penyusup.


Erina menjadi semakin yakin saat mendengar penjelasan Ray. Meskipun ia masih sulit menerima kemungkinan bahwa Virgo adalah Ordo itu sendiri namun ia tidak bisa segera memberikan penyangkalan.


“Kamu ada benarnya juga, Ray ... berapa banyak orang yang kamu bagikan hal ini?” tanya Erina penuh penasaran dan khawatir. Jika orang lain mengetahuinya ada kemungkinan bocornya informasi yang akan membuat Ordo curiga dan mempercepat pergerakannya.


“Kamu adalah orang pertama yang mengetahui keraguanku. Aku tentu tak cukup bodoh menyampaikannya ke sembarang orang.”


Erina hampir lupa bahwa Ray tipe orang yang berhati-hati dan takkan bertindak sembarangan yang mana bisa membahayakannya. Erina merasa senang bahwa ada orang cerdas seperti Ray didekatnya.


Ia kemudian meminta Ray untuk diam pasal ini sampai Erina menemukan pencerahannya. Ray tentunya akan melakukannya dan tak lupa meminta Erina membagikan temuannya kepadanya.


Setelah berbincang beberapa topik ringan lainnya Ray undur diri saat Mein datang untuk mengganti perban dan membersihkan tubuh Erina. Sebelum Ray meninggalkan ruangan Erina menyampaikan:


“Aku akan senang saat kamu menjadi orang yang melepaskan pakaian dan membasuh tubuhku, Ray. Mungkin semua lukaku akan lebih cepat sembuh.” Erina tersenyum mengejek dan sedikit merona, meski begitu ia sungguh-sungguh bersedia membiarkan Ray melakukannya.


Ray menatap Erina dengan tatapan yang aneh, “Tidak akan ada siapapun yang percaya oleh kebohongan tidak logis seperti itu.”


Serum D memang diyakini meningkatkan penyembuhan seseorang karena faktanya luka bakar yang Ray alami sudah pulih. Bahkan Arthur yang memiliki luka lebih baru sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa.


Namun sangat tidak mungkin luka seseorang akan cepat sembuh hanya dengan dimandikan. Ray tak bisa menerima alasan tidak logis tersebut.


Erina mulai tertawa dengan senang, “Kamu terlalu kaku sampai-sampai tidak menyadari bahwa aku hanya menggodamu!”


Ray baru kali ini melihat Erina tertawa sedemikian rupa dan ia meninggalkan ruangan tanpa banyak bicara.


Dalam perjalanannya Ray mengubah rute dari yang menuju ruangan kerjanya menjadi ke alun-alun kota. Di tengahnya ada air mancur yang indah harusnya namun semuanya telah menjadi reruntuhan.


Sama sekali tidak ada orang di sekitarnya dan kota itu sekarang jadi benar-benar mati karena tak lagi ada yang meninggalkannya.


Hal itu disebabkan oleh kekhawatiran bahwa Virgo akan menargetkan kota dengan misil yang mungkin mereka miliki.


Ray berpikir kecil kemungkinannya terjadi namun ia tidak ikut mengambil pendapat soal pemindahan tersebut.


“Jika harus berperang habis-habisan maka perkotaan adalah tempat terbaik. Selain memahami medannya dengan baik, ada bangunan dan tempat untuk berlindung serta bersembunyi. Jika bukan di sini maka kita akan dirugikan. Yah, meski aku tak peduli.”


Tidak peduli di manapun mereka akan melakukannya tetap saja situasinya akan merugikan. Korban jiwa tidak akan bisa dihindari baik perang ataupun tidak. Fakta bahwa tugas kelima menuntut mereka menghancurkan Open World jelas menyiratkan bahwa akan ada banyak kematian.


“Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Tidak peduli seberapa banyak orang yang akan mati nantinya, selama bukan aku, itu cukup.”


Ray tidak akan peduli dengan orang-orang yang tidak ia kenal sama sekali. Bahkan berduka saja tidak akan. Selama nyawanya sendiri aman Ray takkan mengeluh.


Secret menciptakan lingkungan yang seperti ini. Lingkungan di mana mereka harus mempertahankan nyawanya sekalipun mengorbankan milik orang lain.


“Aku sudah menebarkan benih terakhir untuk rencanaku. Sisanya hanya menunggu waktu dan tindakan mereka. Jangan harap bahwa situasi ini ada di bawah kendalimu, Virgo. Pada kenyataannya kamu mungkin takkan menyadari bahwa dibalik rencanamu, ada skenario besar yang sudah berjalan.”


Ray takkan membiarkan dirinya menjadi mainan orang lain dan mengisi peran yang disediakan orang lain.


Ia akan selalu menjadi orang yang menggerakkan boneka, menyusun skenario, dan membuat para boneka di tangannya untuk menari. Seperti yang pernah ia tegaskan sebelumnya. Ray benci digunakan oleh orang lain.


“Yah, aku harap tidak ada sesuatu yang menghancurkan semuanya. Jika itu terjadi, aku tidak punya pilihan selain ikut andil dalam perang habis-habisan ini.”


...[****]...


Note.


Yo, kali ini saya tak menggunakan fitur pesan mengingat terbatasnya kalimat. Di sini saya ingin mengatakan beberapa hal tentang cerita ini dan juga pengumuman kecil.


Meskipun pembaca cerita ini bisa dihitung jari namun antusiasme kalian membuat saya senang. Selama masih ada yang membaca cerita ini, itu sudah cukup.


Ada banyak teori dan tebakan yang kalian buat, tak ada yang saya lewatkan. Namun mulai dari titik ini saya takkan mengatakan apapun. Seperti benar atau tidaknya itu.


Kalian mungkin sangat penasaran dengan Degree Ray. Seperti yang pernah saya katakan, bahwa clue terbesar tentang Degree-nya ada di Arc Open World ini.


Itu akan menuntun kalian menuju jawabannya, namun sayang bahwa saya memutuskan takkan mengkonfirmasi apakah tebakan kalian benar atau tidak. Saya hanya akan membacanya dan memberikan like. Kebenarannya akan saya ungkapkan saat akhir kisah ini, yang mana saya sendiri bingung tentang harus membuat tema seperti apa untuk tugas kesepuluh.


Lalu, mengenai pengumuman kecil adalah tentang karya baru. Bisa dibilang hanya promosi.


Saya mencoba berpegang teguh bahwa saya ingin membuat karya dengan tema unik. The Degree, Creator Hero, bahkan kalian mungkin telah membaca beberapa bab Tujuh Kunci Pleiades. Yang meski saya menyimpan hampir 30-bab namun tak melanjutkan dan justru menariknya.


Cukup sampai sini. Karya baru ini akan mengangkat tema dari sisi penjahat. Memang sesuatu yang umum, namun keunikannya mungkin terletak dari kesulitannya.


Judulnya akan menjelaskan lebih banyak hal daripada tulisan ini.



Yap!


Bro, Jadi Penjahat Itu Gak Mudah!


Sedikit cerita. Ini tentang seorang pria yang ditabrak truk-kun dan berharap menuju isekai. Namun tahu apa? Pria ini berakhir di rumah sakit dan tidak mati lalu mengunjungi dunia lain. Ia pergi ke dunia lain pada akhirnya, namun dengan cara berbeda.


Seperti judulnya. Kehidupan penjahat tidak mudah. Mungkin akan lebih banyak komedi. Yah, tergantung bagaimana perkembangannya nanti.


Kemungkinan malam ini akan terbit. Saya menantikan kehadiran kalian di sana!