The Degree

The Degree
Paruh Pertama



Jeritan akan kematian dari ratapan banyak orang yang terkena jebakan.


Tangisan akan orang-orang yang kehilangan rekan mereka. Baik yang baru dikenal atau telah lama dikenal.


Ratapan keputusasaan dari mereka yang menyerah dalam perjuangan dan pasrah kepada kematian.


Semangat juang diserukan dari mereka yang menolak kematian dan keputusasaan.


Suara-suara tersebut bergema layaknya paduan suara yang tak pernah seirama. Satu hal yang benar tentangnya adalah seberapa menyakitkannya situasi saat ini.


“Tidak, aku tidak mau mati, tolong!”


“Aku ingin pulang, tolong biarkan aku pulang!”


“Aku menyesal, persetan evolusi, aku hanya ingin hidup damai!”


“Sudah terlambat, sampai jumpa.”


Tiada guna sebuah penyesalan atas pilihan yang telah dibuat.


Jika seseorang menyesali jalan yang mereka pilih maka sejak awal mereka tak sepatutnya membuat pilihan. Berbaring memandang mereka yang terus berjalan maju, sepatutnya mereka seperti itu.


Tak peduli seberapa salah jalan yang telah dipilih, sebagai orang yang memilih mereka harusnya menjalani dan bukan menyesali.


“Di dunia ini tidak ada yang namanya jawaban tepat. Pasti akan selalu ada kesalahan tak peduli mana yang kamu pilih. Sepertinya tidak semua orang berpikir demikian.”


Berbeda dengan orang-orang tersebut. Ray takkan mau menyesali jalan yang dia pilih.


Jika hanya karena sesuatu tak sejalan dengan keinginannya maka tak ada guna membuat penyesalan.


Ketimbang menyesalinya akan lebih baik memikirkannya cara untuk memperbaikinya.


Orang yang menyesali pilihan adalah contoh mereka yang sulit bergerak maju dan mencapai tujuannya.


— Seseorang menduduki kursi. (2/6) —


Ray sedikit terkejut dengan notifikasi yang baru saja muncul.


Menatap kursi dia menemukan seorang pria yang wajahnya tertutupi oleh rambut duduk di kursi.


Dia menjaga jarak yang cukup jauh dari Erina namun entah mengapa wanita itu justru mendekatinya dan mengajakku bicara.


Ray tak bisa mendengar percakapannya mereka dengan banyaknya ratapan dan jeritan. Dia kemudian mulai memfokuskan diri untuk melalui rintangan.


“Sejauh ini aku berhasil mengamati separuh jalan berkat orang-orang itu. Namun ...”


Medannya terus berubah-ubah setiap beberapa menit.


Semakin dekat jalan menuju kursi maka semakin hebat jebakan yang muncul. Bila sebelumnya hanya ada jarum kecil maka sekarang muncul semburan api.


Ray masih memiliki luka di tubuhnya dan itu akan menjadi sedikit penghambat untuknya. Selain itu masalah lainnya adalah orang-orang yang mencapai separuh jalan mulai saling membunuhnya.


Ada berbagai macam Degree, dari yang lemah hingga kuat. Ini menjadi kekurangan besar untukku namun di sisi lain tak ada yang menggunakan senjata apapun.


Ray bersyukur telah memiliki persiapan jauh sebelum Market tidak bisa digunakan. Walaupun begitu dia tidak bisa terlalu mengandalkannya karena Degree tetap berada di dua tingkat lebih tinggi.


“Sekarang ... kita mulai.”


Ray berjalan santai selagi melewati mayat manusia yang tewas di paruh pertama.


Secara pribadi Ray membuat jalan di depannya menjadi tiga bagian. Paruh pertama, tengah dan akhir.


Di paruh pertama hanya ada pilar yang muncul dari kiri dan kanan, atas dan bawah.


Letaknya sama sekali tidak berubah sehingga tidak sulit melaluinya. Selain itu letak mayat dan darah yang ada menjadi petunjuk nyata letak jebakan.


Memang disayangkan aku tidak melihat bagaimana pria itu beraksi namun apa boleh buat.


Dengan semua perangkap yang ada di paruh pertama mudah untuk dilaluinya, justru neraka baru dimulai dari paruh tengah.


Menarik napas dalam dan memfokuskan dirinya pada, Ray mengerahkan seluruh kekuatan kepada kakinya. Kakinya mengambil langkah kuat namun sunyi dan menyelinap diantara kerumunan orang.


“Ho? Dia memang pria yang unik. Tidak hanya begitu tenang dan apatis, dia memiliki kemampuan.” Erina menyaksikan Ray dari kursinya dengan penuh minat.


“Mein, sebaiknya kamu duduk sebelum orang lain menempati.”


“Baik, Nona.”


Di paruh tengah Ray menemukan jebakan pertama yakni laser berbahaya yang memotong apapun.


Dengan kemampuan gerak yang hebat, Ray berguling, salto dan back flip untuk melewatinya dengan sempurna.


Berbeda dengan tugas pertama yang mana laser tersebut tidak dapat dilihat, kali ini laser tersebut mampu dilihat dengan jelas.


“Jebakan pertama berhasil dilalui dengan sukses. Selanjutnya adalah—”


Ketika Ray bersiap untuk jebakan lainnya, dia merasakan langkah kaki mendekat ke arahnya disusul dengan teriakan putus asa.


“Matilah!” Seorang pria yang terlihat hampir gila menghampiri Ray. Dengan tangan kirinya menyerupai bilah pedang, pria itu mengangkat tinggi dan mengarahkannya kepada Ray.


Tanpa rasa panik Ray dengan tenang melangkah maju dan meninju perut pria yang menyerangnya dengan kuat.


Kekuatan tinjunya cukup membuat orang itu merasakan sakit yang hebat dan memuntahkannya cairan.


Ray kemudian menyelinap dan menolong pistol ke kepalanya dari belakang.


“Jika ingin membunuh seseorang maka lakukan dengan sunyi selayaknya assassin.”


Kata-katanya cukup dingin untuk di dengar dan tak lupa Ray mencuri DP yang barang kali dimiliki pria itu sebelum menembak kepalanya.


Tubuh pria itu jatuh lemah berkat timah panas menembus kepalanya.


Ray berniat meninggalkannya begitu saja namun kini dirinya mulai dikepung oleh peserta lainnya.


Itu tak mengejutkan karena suara pistol yang ditembakkan begitu keras dan akan memancing ketertarikan.


“Dia memiliki pistol bersamanya. Pria itu akan menjadi penghalang.”


“Ya ... bisa saja dia menembak kita tanpa disadari.”


“Sebaiknya lenyapkan dia sebelum dia melenyapkan kita.”


“Dia takkan bisa menembak jika kita menyerangnya bersamaan.”


“Maaf, aku tidak tahu siapa kamu namun kami melakukan ini untuk kebaikan kami.”


Lima orang mengepungnya. Tiga orang pria dan dua wanita. Mereka mengepung Ray dalam bentuk lingkaran kecil.


Bahkan bagi Ray sekalipun menghadapi lima orang adalah tantangan sulit. Belum lagi keberadaan Degree adalah masalah besar.


“Kebaikan kalian? Bahkan jika kalian membunuhku takkan ada jaminan jebakan tak membunuh kalian.” Ray berkata dengan nada sarkasme.


“Itu ...” Si wanita pirang ingin menyangkal namun tak bisa karena perkataan Ray adalah fakta.


“Bahkan jika itu benar, dengan membunuhmu kami bisa memperkecil risiko kematian.” Pria rambut coklat memberi penyangkalan.


“Itu cukup lucu mengingat di depan sana ada mesin pembunuh yang jauh lebih berbahaya.” Ray menatap tempat lain di depannya.


Tempat di mana pertarungan antara pengguna Degree kuat terjadi. Tak ada satupun yang bisa bersantai di sana karena banyak pembunuh tengah beraksi liar.


Dengan mengurangi orang sedikit mungkin akan memperbesar kesempatan menduduki kursi. Hal itu pemikiran dasar yang akan segera muncul setelah memahami tugas yang diberikan.


"Duduki satu dari enam kursi, hanya mereka yang memiliki kursi yang akan selamat."


Kalimat yang sebelumnya ditekankan Erina mencipta kekacauan ini lebih cepat dari perkiraan.


Mungkin pemandangan mengerikan inilah yang ingin dilihat wanita itu.