The Degree

The Degree
Jawaban Teka-teki II



“Apa maksudmu?” Ordo bertanya, meminta sebuah penegasan.


Wajar saja membingungkan bagi siapapun karena satupun orang takkan mencapai kesimpulan tersebut.


Mungkin saja hanya Leo dan Terumi yang tahu apa maksudnya. Lagi pula hanya keduanya yang mengetahui kehadiran benda berbahaya yang tersembunyi di Open World.


“Yah. Mari mulai dari jawaban teka-teki. Apa ada papan tulis atau semacamnya?”


Saat Ray menanyakannya, Sebastian segera pergi untuk mengambilkannya. Ia tentu sadar bahwa mungkin akan sulit menemukannya. Namun setidaknya ia perlu yang lebih baik.


Setelah beberapa menit kepergiannya ia kembali dengan membawa sebuah TV LED besar bersamanya. Karena ukurannya tersebut ia juga membutuhkan bantuan dua orang lainnya.


“Ini mungkin berbeda, namun jika yang kamu butuhkan adalah papan untuk menjelaskan. Seharusnya benda ini bisa.”


“Ya. Tak masalah.”


TV tersebut memiliki fungsi yang sama dengan papan tulis. Bedanya hanya di bagian kemajuan teknologinya saja.


Ray mengambil pen digital yang disediakan Sebastian dan mulai menuliskan dua teka-teki yang dimilikinya.


“Teka-teki pertama dari serikat Redwest. Hutang adalah neraka. Cinta untukmu. Riasan kematian. Terakhir, absurdnya neraka.”


Itu adalah kalimat-kalimat tak berkesinambungan yang sulit untuk ditemukan apa maknanya. Entah sejauh mana penelitian Erina terhadapnya, namun jika ia tak memperhatikan hal mendasar maka semuanya sia-sia.


Lalu, Ray menuliskan teka-teki lainnya yang ia dapatkan dari Terumi. Teka-teki yang hanya ada di serikat Blueeast.


“Teka-teki lainnya. Tempat untuk gagal atas semuanya.” Selesai menuliskan semuanya Ray memutar pen digitalnya dan menatap semua orang.


Ia hampir seperti seorang dosen yang sedang memberikan kuliah kepada mahasiswa bermasalah lainnya.


Meski mereka tak bodoh, namun kesalahan dalam penyampaian mampu memberikan efek yang buruk. Dan, mungkin saja, tindakan yang benar-benar salah akan diambil.


“Dari dua teka-teki ini aku tak tahu apa yang sudah kalian, generasi pertama dapatkan. Ini hanya pemikiranku yang didukung oleh beberapa aspek menjanjikan.”


Tak pernah ada jawaban yang benar-benar pasti. Untuk mendapatkan kepastian tersebut diperlukan aspek pendukung yang menjadikannya mungkin.


Ray memperhatikan bahwa Arthur mengangkat tangannya sedikit. Ia tak bisa mengangkat terlalu tinggi lantaran tubuhnya sendiri penuh dengan perban, bahkan ia lebih terlihat seperti mumi andai wajahnya ikut mendapatkan perban. Gerakan kecil mampu menyakitinya sehingga ia harus berhati-hati.


“Ada apa, Arthur?”


“Aku ingin menanyakan beberapa hal,” Arthur menurunkan tangan dan memejamkan mata sebelum melihat Ray lagi. “Ini adalah teka-teki tak terpecahkan selama dua tahun oleh generasi pertama. Kamu mengatakan bahwa telah menemukan jawabannya. Bagaimana caramu melakukannya?”


Jadi itu pertanyaannya. Memang patut dipertanyakan bahwa soal yang dua tahun tak memiliki jawaban tiba-tiba saja ditemukan oleh orang baru seperti Ray.


Tampaknya Ordo dan Sebastian juga ingin menanyakan hal yang sama karena mereka mulai mengangguk-angguk.


“Entah bagaimana dengan yang lainnya, namun cara memecahkannya lebih sederhana. Caraku berpikir adalah mulai dari mencari solusi dari langkah paling mudah sebelum ke langkah sulitnya.”


Cara berpikir algoritma selalu seperti itu. Mencari jalan keluar dari hal paling mudah adalah sebuah pilihan wajib.


Ray tentunya juga penasaran dari prespektif mana Ordo ataupun Erina coba menyelesaikannya.


“Jadi begitu. Selama ini aku selalu meneliti makna setiap kalimatnya. Lagi pula ini organisasi semacam itu. Aku tak pernah membayangkan mereka membuat sesuatu yang mudah,” ujar Ordo. Menyilangkan tangannya dengan angkuh, meski wajah bonyoknya menghancurkan citranya.


“Disitulah masalahnya. Saat seseorang ditimpa hal-hal sulit dan berat, mereka akan lupa bahwa penyelesaian masalah sungguh mudah.”


Sama seperti ketika seorang saling bertatap-tatapan dengan pria lainnya. Hal itu akan dianggap tidak sopan dan pria akan menganggapnya sebagai tantangan untuk bertarung.


Padahal solusi mudah untuk menghindarinya adalah memalingkan wajah ataupun berhenti melihatnya. Bertarung bukanlah sebuah solusi.


“Jawaban teka-teki dapat terlihat jelas. Lihat, jika mengambil huruf pertama setiap kalimat, akan muncul kalimat baru.”


Ray menjabarkannya dan menuliskan ulang teka-tekinya dalam huruf kapital di setiap awal kalimatnya. Teka-teki pertama menghasilkan kata:


Hutang Adalah Neraka. Cinta Untukmu. Riasan Kematian. Absurdnya Neraka.


Jika digabungkan maka akan menghasilkan kata Hancurkan'.


Lalu untuk teka-teki selanjutnya:


“Tempat Untuk Gagal Atas Segalanya. Jika digabungkan akan membentuk kata 'Tugas', ya?” Arthur berkata dengan kejutan di wajahnya.


Semua orang segera mengerutkan alisnya. Perasaan marah, tak mengerti dan hal lainnya menjadi campur aduk.


Itu karena dua kalimat yang dihasilkan amat berbahaya dan tak terpikirkan sama sekali.


“Jika menggabungkan dua kalimat ini ... maka kalimat yang terbentuk adalah 'Hancurkan tugas'. Meski sangat sederhana dan terkesan bodoh, faktanya ini yang coba dilakukan Virgo bersama Rebellion.”


Sebuah kejutan besar bahwa hal tersebut benar-benar akan terjadi.


“Entahlah. Pastinya kita kembali diingatkan bahwa organisasi ini tak mempan dengan akal sehat.” Ordo tak terlihat ragu dengan jawaban teka-teki yang Rau temukan.


Selain itu, ia justru tampak malu karena tak mampu memecahkannya dalam dua tahun ini. Ordo mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang ia lakukan selama ini?


Selain tidur ... hampir tak ada gerakan intensif yang ia lakukan terhadap tugas.


“Mungkinkah ini alasan Secret membawa kami, generasi kedua untuk ikut andil karena yang pertama tak menyelesaikan tugasnya?” tanya Mona dengan takut-takut.


“Itu ... aku tak bisa membantahnya. Faktanya kami memang tak melakukan apa-apa selain menjalani tugas remeh sekedar untuk mengumpulkan DP dan bertahan hidup,” ujar Ordo dengan wajah pahit.


“Jika harus jujur. Alasan kami generasi pertama tak mengalami kemajuan. Pastinya disebabkan oleh Ordo dan Erina.”


Persaingan keduanya memungkinkan mereka tak mampu mencapai jawaban ini dengan segera. Itu karena generasi pertama terpecah menjadi tiga bagian.


Kubu Erina, kubu Ordo, dan lainnya netral. Kubu yang memilih netral pada akhirnya mereka meninggalkan posisi tersebut dan mulai ikut dalam persaingan.


“Jadi, andaikata Virgo ini orang dari generasi yang sama dengan kalian. Ia mungkin muak dengan tingkah kalian dan memilih bertindak agresif,” Arthur menjatuhkan bom terakhir untuk menekan Ordo.


Mereka yang dari generasi kedua cukup penasaran tentang ini. Apakah ada konspirasi lain di balik permusuhan mereka? Habisnya sulit membayangkan keduanya mempertahankan status quo selama itu.


Jika kedua pihak menunggu pihak lain untuk melangkah, maka takkan pernah ada kemajuan.


Ordo tersenyum masam dan terlihat sedih, “Tampaknya pertengkaran kecil kami menyebabkan ini terjadi, ya? Ini memalukan. Sepertinya aku memang harus menyudahinya.”


Apakah pertengkaran kecil ini benar-benar penting sampai keduanya membawa kekacauan ke Open World. Yah, Ray yakin akan segera mengetahuinya.


“Untuk saat ini, apa kita anggap ini selesai?” tanya Ray karena ia ingin segera melompat ke topik lain sebelum—


“Tunggu,” Arthur menatap tajam Ray dan menghentikannya, “Kamu belum mengatakan aspek apa yang membuatmu yakin bahwa jawabanmu adalah kebenaran.”


—sebelum seseorang menanyakannya.


Sejujurnya Ray tak ingin menyampaikannya. Ini adalah sesuatu yang ditemukan oleh Leo. Ray tak ingin mengatakannya sebelum ia memastikannya dengan mata kepalanya sendiri.


Pria ini tak bisa dikelabui. Tampaknya selain Ordo dan Virgo. Arthur mungkin akan jadi ancaman bagiku. Pikirnya.


“Kamu tak bermaksud menyimpannya sendiri, kan?” Arthur kembali menegaskan karena Ray diam dalam waktu yang lama.


“... tentu saja tidak,” Ray menyerah pada keinginannya sendiri dan memutuskan angkat bicara. “Leo, kamu bisa menceritakannya, kan?”


Leo sedikit tertegun awalnya, namun ia segera mengangguk.


Ordo menatap tajam Leo, Ray dan Terumi secara bergantian.


“Tampaknya banyak hal terjadi diantara kalian tanpa sepengetahuanku, ya? Yah, biarlah.”


Ray tak mengatakan apa-apa tentang itu. Andaikata tak ada penyerangan Virgo. Ray bermaksud menggunakan Leo dan Terumi untuk menghancurkan Ordo. Dan, membuatnya seolah-olah Erina yang melakukannya.


Namun apa daya. Situasinya berubah dan berjalan lebih cepat. Berubahnya situasi tersebut membuat Ray mengubah pendiriannya di situasi ini. Dari mengorbankan segalanya ke memanfaatkan segalanya.


“Aku akan menceritakannya dari awal ...”


Leo menjelaskan saat ia menyelesaikan tugas bersama Terumi di sekitar air terjun. Saat itu karena udara sangat panas Leo memilih berenang dan menyelam.


Ketika itu pula ia menemukan sebuah gua tak alami di dasar air terjun yang tampaknya terhubung ke satu tempat. Awalnya ia ingin segera menyusuri, namun dirinya tak bisa meninggalkan Terumi dalam waktu yang lama.


“Aku memutuskan untuk menjelajahinya nanti dan kembali waktu malam.”


Leo kembali untuk menyelidiki gua tersebut dan sampai akhirnya ia menemukan sebuah tempat yang tersembunyi.


“Itu tempat besar yang tentunya dibuat Secret. Selain sangat dingin, tempat itu juga menyimpan satu hal yang tak bisa diabaikan.”


Leo terlihat takut saat mengingat kembali kala itu.


Bagi manusia modern seperti mereka, benda itu sesuatu yang sangat umum di telinga siapapun. Benda— senjata yang bahkan mampu memusnahkan umat manusia.


“Apa yang kamu temukan di sana?” tanya Sebastian karena tak menyukai suasana tegang.


Leo mengangguk penuh keyakinan, “Itu benda yang kita semua ketahui ... bom hidrogen.”


“Hah?!” Serempak semua orang tersedak napasnya karena kejutan.


Senjata yang mampu memusnahkan umat manusia dan hal yang paling ditakutkan andaikan perang dunia terjadi.


Ray tahu akan seperti ini jadinya. Kekhawatiran besar yang Ray miliki adalah orang-orang di sini akan mulai bersaing untuk menguasainya dan menggunakannya sebagai ancaman.


Tak ada siapapun yang tinggal di Open World akan mau merasakan ledakan besar dari senjata termonuklir.