
Ray menatap Arthur dengan mengamati, bahkan dia sekalipun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Meski tak melihat kejadiannya sejak awal Ray tahu bahwa Arthur berada di dalam gedung yang sebelumnya terbakar dan meledak.
Dengan ledakan sebesar itu tak seharusnya dia selamat hanya dengan luka bakar saja. Memangnya seberapa tinggi keberuntungan yang dimilikinya?
“Retsuji Arthur?”
“A-apa dia orangnya?! Orang yang diminta bos untuk kita waspada kepadanya?!”
“S-salah satu dari sepuluh rookie berbahaya-!”
“Jadi dia orangnya?!”
Entah apa yang mereka katakan namun satu hal yang bisa Ray simpulkan, orang-orang itu memiliki pengetahuan tentang hal yang belum Ray ketahui.
“Aku tak tahu apa yang kalian lakukan dan apa yang membuat kalian berdebat namun ...,” Ray mengambil langkah mendekati orang-orang tersebut dan mencabut pisaunya dari sarung, “... aku tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja kamu katakan. Tampaknya, kalian tahu siapa dalang dari semua ini.”
Sebelum orang-orang itu bisa mengatakan sesuatu Ray segera melesat menusuk bahunya.
Ada enam orang dan bukan perkara mudah mengatasinya. Ray mampu menangani dua dalam sekejap namun sisanya tak cukup bodoh untuk diam saja.
“Dia juga berbahaya, berhati-hatilah!”
“Sial! Bagaimana bisa dia bergerak secepat itu?!”
Ray tak membuang-buang waktu dan menuju target selanjutnya.
Orang berbadan besar yang menjadi tujuan Ray selanjutnya. Dikarenakan tubuhnya tersebut pergerakannya jauh lebih lambat dari orang pada umumnya.
“Kurang ajar!” Pria gemuk mengayunkan tangan besarnya kepada Ray namun gerakannya lambat sehingga Ray mudah menghindar.
“Selamat tinggal!” Ray dengan dingin menyampaikannya dan menusuk perut pria gemuk itu.
Pisaunya masuk namun Ray benar-benar terkejut karena dia tak merasa telah menusuk daging. Bahkan tidak ada darah apapun yang keluar.
“Orrraaa!!” Pria menyatukan kedua tangannya dan berusaha menyerang kepala Ray.
Tindakannya mampu memaksa Ray meninggalkan pisaunya dan menjaga jarak pasti darinya.
“Rasanya hampir seperti aku menusuk karet yang sangat licin, tebal namun elastis.”
Ray tak bisa menjelaskannya karena selain perasaannya samar dia juga sulit mengungkapkannya dengan kata-kata.
“Fu fu fu fu, kamu takkan bisa melukaiku karena lemakku seperti karet sehingga tidak ada benda tajam yang bisa melukaiku! Omong-omong pistol juga tak berpengaruh padaku, loh.”
“Entah Degree macam apa yang kamu miliki namun kamu tetap manusia.”
Ray tidak peduli dengan apa yang dikatakan pria itu dan tetap menembaknya. Empat peluru ditembakkan sekaligus dan peluru tersebut hanya berhasil melubangi bajunya.
“Pria bodoh! Aku sudah bilang bahwa itu takkan berpengaruh!” Pria gemuk mengusap perutnya dan membuat peluru yang gagal melubanginya.
Ray melihat itu dengan tertarik. Tak hanya tubuhnya saja yang penuh lemak namun tampaknya isi kepalanya juga hanya ada lemak.
Tindakan pria gemuk itu secara tidak langsung memberikan Ray pemahaman tentang sedikit kemampuannya, hal itu menumbuhkan senyuman kecil di bibirnya.
“Bahkan jika pisau dan peluru tak mampu menembusnya, setidaknya kamu masih merasakan sakit. Bahkan kamu masih merasakan panasnya peluru itu.”
“Geh!”
“Jadi benar, ya. Bagiku kamu sangat sial karena mati terbakar adalah cara paling menyakitkan untuk terbunuh.”
Ray ingin melakukannya namun dia bukan manusia super yang mampu mengangkat pria besar itu.
Cara terbaik yang bisa dia lakukan hanyalah terus menembak dan membuatnya kesulitan.
Namun segalanya tidak semudah itu.
“Hey, dia tahu kelemahanku! Cepat datang dan lindungilah aku!”
“Ya!”
“Serahkan saja pada kami!”
“Geh, takkan kubiarkan kamu melukai ketua lebih dari ini!”
Jika mereka adalah kelompok kecil yang cukup kuat maka setidaknya dia telah melihat atau bertemu dengan dalang dari semua hal ini.
“Aku takkan diam saja! Sejak awal lawan kalian adalah aku!”
Arthur meski terluka tampaknya masih memiliki banyak kekuatan untuk melawan. Nyatanya dia melawan satu orang kekar yang tampak berbahaya dari dua lainnya.
“Ray! Serahkan si gendut ini kepadaku, aku bisa mengalahkannya dengan satu cara!”
Melihat Terumi yang begitu yakin, Ray memiliki pemikiran bahwa ia memiliki satu rencana untuk mengalahkan si gemuk itu.
Ray mengakui bahwa saat ini selain melemparkan orang itu ke gedung yang terbakar dia tak memiliki cara lain. Memang sangat disayangi karena Ray menggunakan DP dan bom miliknya untuk hal lain.
“Kalau begitu baiklah. Aku juga tak bisa memesan apapun dari Market karena tidak berada di ruang bawah tanah.”
Ada tempat tertentu untuk membeli barang dari Market. Teknologi teleportasi yang dimiliki Secret hanya berlaku di dalam ruang bawah tanah dan tempat-tempat tertentu.
Di tempat dunia luar seperti Open World bahkan teknologi canggih Secret belum mampu melakukan teleportasi di dunia luar.
Pengetahuan Ray sedikit tentang ini namun ia pernah berteori tentang teleportasinya dan tampaknya teori itu benar adanya.
Ray segera meninggalkan pria gemuk di bawah pengawasan Terumi. Selain itu ini juga sebuah kesempatan bagus untuk melihat apa yang bisa dilakukannya.
“Gadis kecil sepertimu bisa mengalahkanku? Ha ha ha, jangan bercanda, bahkan jika kamu cantik, aku takkan bisa ditundukkan. Cantik dan bahenol saja tak bisa menaklukkan semua pria.”
“Aku tak tahu apa yang kamu maksud namun aku akan mengalahkanmu dengan kelemahanmu.”
Terumi mengambil sesuatu dari kantungnya. Sebuah botol besar dengan cairan kuning di tangan kiri dan sarung tangan di bagian kanan.
“Apa yang coba kamu lakukan?” Pria gemuk menyipitkan matanya dengan curiga.
Dia cukup penasaran dengan apa yang ada di botol tersebut namun tak berani mendekat karena khawatir ada sesuatu yang dia siapkan sebagai jebakan.
“Aku akan mengalahkanmu dengan ini.” Terumi meletakkan botolnya dan membakar sarung tangan kanannya dengan korek.
Sarung tangan tersebut terbakar. Selagi terbakar Terumi bergerak cepat dan mengambil kembali botolnya.
“Gadis ini cukup gila!”
Dengan sarung tangannya yang terbakar Terumi mencoba melukai pria gemuk namun dia cukup cepat dalam bergerak sehingga mampu menghindarinya.
Terumi justru tersenyum dan mulai meminum cairan yang ada di botolnya.
“Itu, kan ...,” Ray tahu apa yang coba dilakukan oleh Terumi karena dia pernah melihatnya satu kali.
Terumi kemudian mengangkat tangannya di depan mulutnya dan mulai menyemburkan cairan yang dia simpan di mulut.
Api di tangannya menyebar dan seakan-akan dia menyemburkan api dari mulutnya.
Harusnya hal itu sangat berbahaya untuk dilakukan oleh orang awam karena memiliki risiko yang sangat besar namun Ray tahu hal apa yang membuatnya menjadi mungkin.
“Fanatik Budaya, jadi ini adalah bagian dari kemampuannya. Mampu melakukan apapun yang berhubungan dengan budaya,” gumam Ray selagi mencekik pria di tangannya.
Dengan semburan api tersebut si gendut tak bisa menghindarinya dan sebagian tubuhnya terkena semburan api tersebut.
“Argh! Panas, panas, tubuhku terbakar!” Si gendut mulai berguling-guling karena rasa sakitnya.
“Ini belum seberapa, kamu bisa merasakannya lebih banyak jika masih mau bertahan!” Terumi segera meminumnya kembali.
Cairan yang ada di botol itu tak diragukan lagi adalah minyak tanah. Terumi menyemburkannya sekali lagi dan membuat pria gemuk tersebut semakin kesakitan.
...[***]...
Nama: Sakura Terumi.
Umur: 20 tahun.
Asal: Jepang.
Degree: Fanatik Budaya.
Mampu melakukan hal apapun terhadap budaya yang telah dipelajari atau dilihat. Memungkinkannya menguasai setiap budaya yang dia lihat dan pernah pelajari
Informasi lainnya belum terungkap tentang kemampuan Fanatik Budaya.