
Ray bersiap untuk menyerang Arthur, begitu juga Erina yang sudah memposisikan diri di sisinya. Situasi diantara mereka sangat menegangkan, bahkan Ray tak menutup kemungkinan kalau ia juga tegang.
Degree Arthur telah terungkap dengan megah berkat Virgo. Namun Ray tak menyambutnya dengan baik, itu karena ada hal yang membuatnya terganggu.
‘Aku tak pernah menyangka sesuatu seperti itu akan menjadi Degree.’
Ray tak bisa mengabaikan fakta kalau Degree itu sendiri tidak memiliki batasan dalam mencakup sesuatu. Mungkin saja, ada orang yang memiliki karakter fiksi tertentu sebagai Degree-nya.
“Ray, aku tak ingin bermusuhan denganmu sekarang,” Arthur bersikeras untuk membujuknya. “Mari kita selidiki dulu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Erina ada di lokasi kejadian sejak awal, dia harus tahu apa yang terjadi sebenarnya.”
Memang menyelidiki situasinya agar lebih jelas adalah tahapan penting yang harus dilalui. Jika Ray bertarung dengan Arthur namun tak pernah tahu masalah sesungguhnya, pertarungan mereka akan menghasilkan hal yang sia-sia.
Namun sayangnya bukan berarti Ray sama sekali tidak memahami keadaan saat ini. Ia justru sangat mengerti tentang apa yang terjadi di sini.
“Apa yang terjadi setelah menyelidikinya? Fakta kalau Mona menembak Terumi tak bisa dibengkokkan dengan cara apapun, bahkan Degree-mu takkan berguna untuk mengubah faktanya.”
“Itu memang benar namun tidakkah kamu memikirkan kemungkinan kalau Mona melakukannya karena terpaksa?” ujar Arthur, masih coba meyakinkan Ray.
Ray tahu alasan orang ini bersikeras ingin menghindari pertarungannya. Posisinya saat ini amat tidak menguntungkan karena dia sedang terluka di kaki, serta kalah dalam hal jumlah.
Menghadapinya dan Erina jelas kesulitan terbesar, Arthur tidak akan menjadi sombong dengan mencoba menghadapi Ray bahkan jika ada bantuan dari Degree-nya.
‘Orang ini sungguh luar biasa, dia bahkan tak menjadi terlalu sombong bahkan jika Degree-nya sangat menguntungkannya.’
Ray juga kagum karena Arthur membuang egonya dengan mengatakan tak ingin bermusuhan meski dia telah menuduh Ray sebagai pelaku pembunuhan. Tak memiliki urat malu memang menguntungkan terkadang.
“Mari asumsikan kalau Mona melakukannya dengan terpaksa. Namun, apakah kenyataan kalau dia menembak Terumi akan berubah?” tanya Ray dengan nada datar.
“Aku tak peduli dengan apa alasannya. Yang aku pikirkan adalah dia menggunakan pistolnya untuk menembak Terumi.”
Tentunya Ray tak peduli atas dasar apa Mona melakukan penembakan, ia hanya ingin menghabisi wanita itu saja. Meski begitu, Ray memiliki tujuan lain dari hal ini.
“Tolonglah,” Arthur memohon mengabaikan harga dirinya dan menunduk seperti yang biasa dilakukan orang jepang, “Aku akan melakukan apapun untukmu, dengan syarat Mona akan baik-baik saja.”
Ray dalam hatinya ingin tersenyum karena langkah pertamanya telah berhasil. Tentunya Ray telah mengharapkan sesuatu seperti ini akan tiba karena dia telah meramalkannya.
“Kamu sadar dengan apa yang baru kamu katakan?”
Arthur mengangguk, tidak mungkin dia akan asal bicara begitu saja. Semua ini, apa yang ia katakan mengandung risiko tersendiri untuknya.
“Aku sangat sadar. Tentunya, semuanya tergantung pada apa yang kamu minta. Hal di luar kemampuanku dan sesuatu yang tak masuk akal tidak akan diterima.”
Ray tidak cukup bodoh untuk meminta sesuatu yang mustahil. Bukannya mendapatkan sesuatu, Ray hanya akan berakhir semakin dicurigai. Namun karena hal seperti inilah yang Ray tunggu. Maka sudah waktunya memulai akting.
“Ray,” panggil Erina. “Sebaiknya kita dengarkan lebih dulu apa yang mendorong Mona melakukannya. Aku sendiri tidak begitu mengerti kondisinya. Bukan langkah buruk untuk mendengarkannya.”
“Namun apa gunanya melakukannya? Kemarahanku tertuju kepada kenyataan kalau dia menembak Terumi!” Ray membantah dengan sedikit marah.
“Ya, namun tidakkah kamu berpikir Terumi akan marah atau sedih jika kamu menyerang Mona pada tahap ini? Tetaplah berpikir dingin, Ray. Ini tak seperti kamu yang biasanya.”
Erina mulai menghampiri Ray yang jelas-jelas jauh dari kata berkepala dingin, sementara Arthur hanya mengamati dengan khawatir. Jika ia berbicara satu hal yang salah saja kali ini, Ray jelas akan meledak.
“Aku juga marah karena pengkhianatan adalah sesuatu yang aku benci. Meski begitu bukan berarti kamu berhak menghakiminya begitu saja, Ray.”
Ray sedikit menunduk dan mengepalkan tinjunya dengan erat, dia jelas masih sangat emosional namun perkataan Erina masuk ke dalam pikirannya. Dan, setiap kata yang diucapkan Erina adalah benar adanya.
“Namun, dia tak pantas dimaafkan!”
“Tak perlu memaafkannya. Kamu hanya perlu mendengarkannya. Jika ada situasi yang membuat Mona melakukannya, bukan hal buruk mendengarkannya. Barangkali ada dalang di balik ini semua.”
Ray sedikit tertegun, “Dalang, katamu? Kamu pikir ada orang yang bisa mengendalikan semua ini?!” Tentunya Ray menolak kemungkinan tersebut.
“Kemungkinan adalah kemungkinan. Bahkan penyeranganku, sesuatu yang tampak tak mungkin namun sungguh terjadi. Kita tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi dan apa yang mungkin saja terjadi. Tempat ini adalah sarang kemungkinan.”
Berbagai hal bisa saja terjadi di luar harapan semua orang, bahkan hal yang tidak terpikirkan sekalipun akan terjadi begitu saja.
“Itu ...,” Ray berniat membuat penyangkalannya namun ia kehabisan kata-kata.
Sampai tiba Erina di dekatnya dan memeluk lembut dirinya.
“Kamu tak biasanya sangat marah, ini kedua kalinya aku melihat kamu seperti ini. Tak buruk sesekali menunjukkan emosimu, namun tolong tetaplah berpikir tak peduli seburuk apapun emosimu.”
Ray terlihat bergetar dan sampai akhirnya pesan Erina tersampaikan kepada dirinya, “... ya. Maafkan aku karena keras kepala.”
Melihat Ray berhasil ditenangkan membuat Arthur bernapas dengan sangat lega. Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika mereka memulai pertempuran penuh darah di sini.
Bahkan sekalipun Degree-nya sangat membantunya, Arthur tak yakin bisa keluar dari situasi ini dengan keadaan baik-baik saja. Bahkan memikirkan kemungkinan untuk tetap hidup sungguh sulit.
“Kalau begitu ... mari dengarkan penjelasannya.” Ray memutuskan untuk mendengarkannya dan memimpin jalan.
Arthur sekali lagi menghela napas lega, “Terima kasih sudah mau mendengarkan.”
Dengan jalan yang terpincang-pincang Arthur mengikuti Ray di belakangnya bersama dengan Erina. Dia menoleh kepada gadis itu dan mengucapkan terima kasihnya.
“Aku tak tahu bagaimana membalasmu. Namun untuk saat ini biarkan aku mengucapkan terima kasih lebih dulu. Kamu sangat amat membantuku.”
Erina sedikit tersenyum, “Bukan masalah. Sejujurnya aku tak ingin perpecahan terjadi diantara kita karena kalian orang-orang yang tak bisa ku lepaskan. Tentunya, kamu paham alasanku.”
Arthur tahu dengan jelas, itu karena baik Ray dan dirinya adalah orang berbakat yang bahkan mampu menghadapi pengguna Degree meski tak menggunakannya untuk pertarungan.
“Ya. Sekali lagi aku berhutang budi kepadamu. Lain kali aku akan membalasnya.”
“Kalau begitu aku kelak akan menagihnya di masa depan.”
Ray yang mendengarkan percakapan keduanya dengan diam, sungguh, dia tak bisa menahan senyumannya. Ray tak bisa melihat wajahnya namun dia yakin, bibirnya tersenyum dengan sangat lebar. Hampir seperti sesuatu yang akan dimiliki penjahat.