The Degree

The Degree
Tipu Muslihat II



“Mengapa harus aku?” Ray terlihat acuh tak acuh meski sebenarnya kondisi pikirannya kacau. “Dengan kemampuan kalian bukan hal yang sulit mendapat satu atau dua pria.”


Awalnya Ray memiliki pemikiran bahwa saudari kembar tersebut akan meminta sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal mengenai tugas, tetapi nyatanya mereka meminta sesuatu yang tidak muncul dalam kepalanya.


“Memang ada banyak pria di tempat ini, tetapi seleraku cuma kamu.” Rani dengan cekatan menjawabnya dan mendekatkan dirinya lebih jauh.


Ray mengambil langkah mundur sedikit demi sedikit dan tak menyadari ia telah mencapai dinding. Terpojok.


“Ya. Lalu, kami tak ingin berhubungan intim dengan orang yang bahkan tidak memegang kesadarannya sendiri.” Rina ikut memojokkan Ray dengan mendekatinya.


Keduanya tampak keras akan permintaan tersebut. Memang Ray takkan rugi atas hal tersebut namun hatinya jelas menolak melakukannya.


“Aku bukan seorang lolicon. Silahkan lakukan permintaan yang lain, aku akan mendengarkannya dengan baik.” Ray memberikan penolakannya dengan tegas.


Meski begitu Rani dan Rina tampak tak menyerah dengan permintaan mereka. Keduanya saling mengangguk seakan sudah menduga situasi ini.


“Lolicon hanya berlaku untuk anak di bawah umur saja. Sementara aku dan Rina sudah tujuh belas tahun. Remaja. Secara hukum dan peraturan kami legal, bahkan sudah memiliki hak memiliki kartu tanda pengenal.”


Apa yang ia katakan tidaklah salah, umur tujuh belas tahun ke atas sudah bisa dikatakan dewasa. Namun tetap saja ada peraturan tak tertulis untuk tidak menjalin hubungan dengan orang yang terlalu muda.


“Umur kita terpaut jauh. Bagiku kalian masihlah anak-anak yang baru merasakan sakitnya tangga kedewasaan.” Ray mendorong kedua gadis itu untuk menjauh darinya.


Meskipun mudah memenuhi keinginan keduanya, Ray yakin bahwa ada tipu muslihat di balik ini semua. Setidaknya, itu yang masih ia yakini.


“Aku tahu kamu bukan pria yang mudah tunduk dan keras kepala tentang pendirianmu. Justru karena hal itulah kami menginginkanmu.” Rani tampak semakin bersemangat.


Rina mengangguk, kali ini ia tidak mengambil langkah untuk mendekati Ray. “Aku bersumpah kalau kami tidak memiliki tipu muslihat apapun, tampan.”


“Ya, kami tidak cukup bodoh untuk coba melakukannya kepadamu. Orang yang bahkan nona tidak mau menjadi musuhmu.”


Pendapat mereka seperti pisau bermata dua. Jika Ray melihat itu putih, maka akan putih. Namun jika sebaliknya, maka akan menjadi sebaliknya juga.


“Siapa yang akan percaya omong kosong itu ketika dua gadis SMA menawarkan tubuhnya tanpa keuntungan yang nyata?”


Bahkan jika ada yang menerimanya tanpa mencurigainya sedikitpun, bisa dipastikan itu orang berhidung belang dan idiot.


“Kami mendapatkan keuntungan dari melakukannya!” Rani menaikkan suaranya.


“Dengan melakukannya kami akan mencapai surga!”


Ray hanya diam dan menatap keduanya dalam diam selama beberapa menit. Tatapannya jelas mengkhawatirkan bagi keduanya namun untuk beberapa hal mereka mengangguk satu sama lain dan tersenyum.


“Kami akan membayarmu!” Serempak mereka menyampaikannya.


Tanpa persetujuan Ray, Rani menempelkan jamnya dan memberikan lima ribu DP kepada Ray secara cuma-cuma. Ray tahu bahwa keduanya memiliki lebih banyak dari itu karena berani membuang lima ribu secara mudah.


Pada akhirnya tidak ada lagi jalan untuk keluar. Bahkan jika mereka memiliki tipu muslihat, Ray perlu bersiap menghadapinya dan menyiapkan jebakan yang lainnya.


Ray kemudian mendorong kedua gadis itu menuju kasur dan mulai membuka kancing bajunya dengan tatapan datar, “Kalian akan menyesalinya.”


Rani terlihat canggung, “... Ya. Kami mengharapkan permainanmu ... tampan.”


...****************...


Di tempat lain, Mona dan Arthur sedang berjalan-jalan di taman. Tak hanya mereka berdua namun ada juga peserta lain yang melakukan hal sama.


Bahkan di lingkungan seperti ini, orang-orang masih berusaha untuk tetap tersenyum dengan bahagia.


“Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, tempat ini sangat luar biasa.” Mona bergumam dengan kagum ketika melihat taman dan sekitarnya.


“Ya. Mengagumkan mereka bisa membuat sangkar untuk lebih dari lima belas ribu orang.” Arthur disisi lain cukup tidak senang dengan situasinya.


“Aku penasaran dengan seberapa besar anggaran mereka dan seberapa lama mereka menyiapkan ini semua,” ujar Arthur ikut memandang sekitar, “Mau bagaimanapun tempat seperti ini tidak akan cukup dibangun selama satu dekade.”


Meski belum melihat bagian luar tempat ini, Arthur dapat menebak bahwa lokasinya saat ini berada di udara mengingat sebelumnya mereka naik dengan Shelter.


Bahkan dengan teknologi masa kini, cukup sulit membuat tempat besar di udara, apalagi yang menampung lebih dari sepuluh ribu nyawa di dalamnya.


“Ketika kamu mengungkitnya itu benar juga. Secret pasti memiliki anggaran yang luar biasa. Mulai dari pembangunan, persenjataan hingga bahkan perbekalan.”


Bisa dibilang Secret memiliki hampir semua barang-barang yang dibutuhkan, tentunya dalam sistem Market makanan seperti daging tidak disediakan. Meski begitu, di tempat ini ada mall dan restoran.


“Ya. Selain itu, aku tak menyangka bahwa DP ini memiliki manfaat yang jauh lebih penting dan bukan hanya sekedar mata uang belaka.”


Arthur melihat jamnya dan menemukan jumlah DP yang luar biasa.


—DP: 19.555.—


Sejak awal Arthur jarang menggunakannya, bahkan ia hampir tidak mengingatnya karena berpikir DP tidak begitu penting. Dengan Degree dan kemampuannya, Arthur sangat percaya diri mampu bertahan hidup bahkan tanpa persenjataan.


Mau bagaimanapun Degree-nya mungkin yang paling tidak masuk akal.


“Kamu benar. Awalnya aku berpikir DP hanyalah alat untuk memperlancar rencana jahat dan menjalani tipu muslihat. Bagian baik darinya hanya mengisi perbekalan. Namun, setelah tiba di tempat ini, DP memiliki arti yang jauh lebih penting.”


Mona menyampaikan bahwa saat ia berkunjung ke mall dirinya membeli beberapa baju yang mempermudahkan pergerakan dengan DP. Selain itu, Mona dengan malu mengatakan telah membeli beberapa conditioner dan make up.”


Arthur menggaruk kepalanya, “Apa gunanya barang-barang itu? Dengan adanya tugas, pakaian dan alat dandan tidak akan berguna.”


“Meski begitu, sebagai wanita aku harus menjaga tubuhku tetap segar dan harum!” Mona memanyunkan bibirnya selagi sesekali melirik Arthur.


“Aroma wanita tak pernah jadi masalah karena kalian unik. Bahkan jika berkeringat aku selalu penasaran mengapa tak ada aroma tidak sedap yang kalian keluarkan.”


Arthur sudah sering menemukan wanita seperti itu sehingga ia berpikir wanita memiliki beberapa mekanisme tubuh yang berbeda dari pria.


Mona tak mengejar lebih jauh dan keduanya mulai melakukan percakapan kecil sampai akhirnya bertemu dengan seseorang yang tak diharapkan.


“Bahkan di tempat seperti ini, bunga-bunga romansa tumbuh dengan baik.”


Arthur mengerutkan alisnya. Dari banyaknya orang di tempat ini, sebuah kebetulan tidak menyenangkan bertemu dengannya.


“Bahkan di tempat seluas ini, tak pernah disangka kita akan bertemu meski tak ada keinginan untuk berjumpa.”


“Itu benar adanya. Seorang manusia sepertiku tidak pernah berharap untuk menemukan sepasang kekasih monyet di tempat pertama.”


Kalimat sarkasme seperti biasanya, wanita dengan lidah setajam silet dan sangat tahu bagaimana caranya memancing emosi orang lain.


“Apa maumu?” tanya Mona dengan tidak senang.


“Tidak ada. Aku hanya kebetulan melihat kalian dan sedikit berpikir untuk menyapa meski tahu tidak akan berguna dalam aspek apapun.“


“Lalu kami akan pergi.” Arthur segera menarik tangan Mona dan berusaha meninggalkan tempat itu.


Namun Indri tentunya tidak akan membiarkan mereka lewat begitu saja, karena mereka sudah bertemu, maka setidaknya harus mendapatkan sesuatu.


“Yah, tahan dulu. Bukan hal yang buruk untuk sedikit berbicara.”


“Sayangnya itu buruk untuk kami. Kami sedang dalam pemulihan dan berusaha menyegarkan pikiran juga mental,” Arthur berbohong semudah bernapas tanpa coba menghentikan langkah kakinya.


Indri hanya diam di tempat, tersenyum dan menghela napas, “Apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa, tokoh utama?”