The Degree

The Degree
Ray Morgan III



Penjahat utama, Degree aneh lainnya. Diantara sepuluh ribu orang mungkin hanya Ray dan Arthur dengan Degree seperti itu. Unik namun aneh juga, bagaimana bisa ada kualifikasi untuk hal seperti itu?


“Hanya aku yang bisa membunuhmu, ya?” ujar Arthur.


“Begitu juga denganmu. Hanya aku yang memiliki peluang besar mengalahkanmu.”


Protagonis dan antagonis adalah dua hal yang sudah ditakdirkan berhadapan satu sama lainnya. Bukannya tidak mungkin membunuh mereka, tetapi hanya musuh alami saja yang memiliki probabilitas tinggi untuk menang.


Pertarungan diantara keduanya sudah ditakdirkan sejak Ray tahu Degree yang dimiliki oleh Arthur. Oleh sebab itu, saat pertarungannya terjadi maka salah satunya sudah sepatutnya mati.


“Kita sama-sama mengalami hal yang berat namun dengan jalan yang berbeda. Kamu membunuh ayahmu, aku membunuh pamanku namun mengapa tercipta perbedaan sejauh ini?”


Baik antagonis maupun protagonis biasanya memiliki latar belakang yang menyedihkan. Namun diantara mereka ada perbedaan yang begitu mencolok untuk orang mampu membedakannya.


Namun Arthur yakin jika Ray tidak benar-benar tersesat sampai layak menjadi antagonis. Bukannya dia mengatakan Ray orang baik, tetapi dia hanya penasaran apa yang membuatnya seperti ini.


“Kamu bertanya-tanya tentang mengapa aku layak dengan gelar ini?”


Gelar, Degree-nya sebagai antagonis sama sekali layak untuk dirinya. Ray tidak pernah menyangkal bahwa itu tidak seperti dirinya.


Membunuh orang, menipu, memanfaatkan orang-orang yang menganggapnya rekan, berkhianat dan menjatuhkan nama baik orang lain. Bukankah itu semua sudah layak untuk dikatakan antagonis utama?


“Aku dibesarkan untuk mengetahui segalanya. Tidak semua, tetapi aku tahu lebih banyak hal ketimbang engkau.”


Ray dituntut untuk mempelajari apapun yang bisa dipelajarinya. Begitulah cara dia dibina dan dibesarkan. Dia telah mempelajari semua yang ada di fasilitas tempat ayahnya mendidiknya dan itu membuat Ray bosan.


Pada sebuah kesempatan Ray memberontak dan pergi dari sana untuk memuaskan keserakahannya.


“Aku berekspektasi besar pada yang namanya kebebasan. Namun kamu tahu apa yang terjadi setelahnya? Aku merasa bosan.”


Ada aturan yang mengekang masyarakat untuk bertindak, banyak bajingan yang mencegah orang berbakat untuk berguna, dunia yang dikontrol oleh uang dan banyak hal lainnya yang terjadi.


Ray bosan karena dia melihat dunia yang seperti itu. Tidak ada yang menarik untuknya, awalnya dia berharap semua yang dia pelajari bisa diterapkan namun kenyataannya salah.


“Aku benci aturan dan hukum yang dibuat manusia. Itu seakan-akan berusaha membatasi kebebasan yang harusnya aku miliki.”


Manusia dikutuk untuk bebas. Bagaimana bisa makhluk dengan kutukan seperti itu bertahan di bawah belenggu yang bernama aturan?


Tepat pada saat itu juga sebuah undangan misterius datang kepadanya. Itu adalah surat cinta dari Secret yang mengubah segalanya.


“Mungkin ... yang membedakan kita hanyalah pola pikir dan bagaimana cara kita memandang sesuatu.”


Arthur memejamkan matanya, “Kamu mungkin benar. Kita bernasib sama namun melihat dunia dengan cara yang sangat berbeda.”


Perbedaan pandangan kerap membuat seseorang menjadi sangatlah berbeda.


“Cukup bicaranya. Mari kita selesaikan sekarang!”


Ray menarik napas dalam-dalam dan mengangkat pisau yang dia ambil dari tanah.


Pertarungan telah diputuskan dengan segala sesuatu yang mereka miliki. Stamina keduanya telah terkuras habis berkat Maa Dong Wok yang sangat sulit untuk dibunuh.


“Ya. Akan ku akhiri ini sekali untuk selamanya, Ray Morgan!” Arthur menerjang maju sekuat tenaganya.


“Kemarilah, Retsuji Arthur!” Ray menerjang menuju Arthur dengan teriakan yang sama.


Di tengah asap hitam yang menuju langit malam pertarungan keduanya ditentukan.


Arthur dan Ray sama-sama memiliki pisau yang memiliki tugas untuk merenggut nyawa musuh di hadapannya. Pertarungan yang menentukan sedang menunggu kesimpulannya.


***


Terumi berjalan terengah-engah, bersandar pada pohon untuk menopang tubuhnya. Dia ingat bagaimana Ryouma mengatakan bahwa Ray telah berhadapan dengan Arthur.


“Aku harus ... membantu—”


Dia perlu membantu Ray melawan Arthur. Entah bagaimana dengan yang lainnya, namun Terumi merasa yakin bahwa hanya dirinya yang bisa menolong Ray.


“Setelah semua ini ... mari kita beli rumah kecil dan ... tinggal bersama.”


Terumi memiliki impian kecil setelah semua ini berakhir. Dia ingin tinggal di bukit kecil yang memiliki pemandangan setingkat surga. Bersama Ray di rumah kecil itu dia tinggal.


“Akan bagus memiliki bunga dan kucing kecil ... lebih baik lagi seorang anak.”


Apakah itu akan terwujud atau tidak? Terumi tidak tahu. Namun yang jelas hanya dengan membayangkannya sudah membuatnya bahagia.


“Baik-baik saja untukku, Ray.”


Terumi bisa melihat bayangan seseorang dari kejauhan. Dia tergesa-gesa namun tetap waspada menghampirinya dan menemukan sosok itu.


Ray sedang berdiri, dengan Arthur yang bersandar dagu di bahunya dan memuntahkan darah. Terumi bisa melihat pisau yang menembus perutnya.


Itu adalah serangan fatal, hadiah perpisahan dari Ray untuk Arthur.


“Kamu bajingan ... Ray...” Arthur melemah, memuntahkan darah terakhir sebelum jatuh lemah dan tak berdaya. Napasnya kian melemah bersama tatapannya yang hampir pudar.


“Jangan khawatir, Arthur. Mona akan segera menemuimu,” ujar Ray dengan senyuman lembutnya.


Dia tidak tahu kenyataan bahwa Mona telah mati di tangan Terumi. Namun detilnya tidak penting saat ini.


“Terima kasih tentang kunci dan luka indah ini.”


Ray menunjuk luka di dadanya yang memiliki banyak sayatan pisau karena serangan Arthur.


Di detik terpenting dan di napas terakhirnya Arthur tersenyum, “... bertemu lagi ... di ... neraka.”


Sang tokoh utama menghembuskan napas terakhirnya.


Ray bernapas lega dan hampir kehilangan kekuatan untuk berdiri. Namun di waktu dia hampir roboh Terumi menghampirinya dan menopang tubuhnya.


“Kamu selamat ... Terumi.”


“Begitu juga denganmu, Ray! Aku bersyukur kamu tidak apa-apa!” Terumi mulai menangis hingga terisak.


“Ya. Kamu selalu ada di sisiku ... sejak dulu.”


Terumi adalah rekan pertamanya saat mendatangi organisasi ini. Dia memiliki Degree yang sangatlah berguna.


“Namun maafkan aku Terumi ...”


“Maaf? Untuk apa?” tanya Terumi.


Degree-nya sangatlah berguna, pernah pada suatu kesempatan Ray menginginkannya. Namun sangat disayangkan hanya Degree-nya yang berguna.


Hanya Degree-nya, tidak dengan pemiliknya.


“Karena aku tidak membutuhkanmu lagi.”


Cruch!


Terumi memandang perutnya, dia bisa melihat ada pisau yang menusuknya. Pisau yang sama dengan yang melubangi perut Arthur.


Apa ini ilusi atau mungkin Mimpi? Terumi tidak bisa percaya. Dia berniat menjauh namun Ray mendekatinya seakan tidak mau berpisah.


“Apa ... yang—”


“Salahkan dirimu karena tidak berguna, Terumi,” Ray menarik pisaunya dan segera memeluk Terumi. “Berkatmu aku bisa memahami lawan jenis. Namun sayang aku tidak memiliki perasaan khusus apapun.”


Ray mengarahkan pisaunya menuju tengkuk Terumi dan tanpa pernah melihat raut wajah macam apa yang dibuat olehnya, Ray menyayat lehernya.


“Selamat tinggal.”


Selamat tinggal diucapkan dengan lancar. Menyisakan Ray sendirian dengan semua kunci yang dia miliki.


“Mari selesaikan ujian terakhirnya.”


Ray menghubungi Secret melalui jamnya dan segera tubuhnya menghilang, teleportasi yang dilakukan oleh Secret.


***


Sebuah tempat yang benar-benar berbeda dari apa yang pernah Ray lihat. Itu bernuansa sangat modern dengan interior dan design seperti ruang bawah tanah pada paruh awal ujian.


Namun yang anehnya adalah Ray bisa melihat permukaan bumi tepat di bawah kakinya. Apakah dia sedang melayang? Tentu tidak.


“Selamat karena telah menjadi orang yang mengumpulkan kunci dan menyelesaikan ujian ini.”


Sosok yang menggunakan jas dan topeng muncul, wujud yang seakan-akan sudah lama tidak dijumpai, Secret.


“Jadi, apa semua ini?” tanya Ray.


“Tentunya kamu memiliki banyak pertanyaan, kan? Kita memiliki banyak waktu jadi mulailah perlahan-lahan.”


Secret menepuk tangannya dan robot mulai muncul untuk merawat luka-luka Ray.


Secret telah memberikan lampu hijau itu artinya Ray akan mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


“Kalau begitu pertanyaan pertama ... Siapa kamu? Apa tujuanmu melakukan semua ini dan apa itu Degree yang sebenarnya?”