The Degree

The Degree
Pertemuan Ray & Virgo



Beberapa menit dibutuhkan untuk mencapai puncak. Ray dan Terumi saling mengangguk. Tanpa saling bertukar kalimat keduanya paham tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Meski hidungnya masih merasakan sakit namun Ray berusaha tak peduli.


“Amati situasi. Jaga dirimu dan jangan asal menyerang.”


Ray memberikan peringatannya. Dalam satu banding sejuta kesempatan sangat mungkin bagi orang-orang di atas menyiapkan perangkap.


Terumi mengangguk dengan penuh kepastian. Ia mungkin merasa canggung dan gugup namun perasaan tersebut harus ditekan. Hal semacam itu hanya akan mengganggu langkah yang akan dia buat nantinya.


“Aku mengerti ... kalau begitu ... mari mulai-!”


Tanpa menunggu waktu Terumi naik dengan cepat, kepalanya sedikit mengintip situasi di sekitarnya dan menemukan empat orang berdiri menghadap bawah.


Jauh di belakang mereka ada seorang gadis. Gadis dengan rambut merah darah dan kulit seputih salju. Kecantikan yang tiada tara itu dinodai oleh pakaian yang hampir mengekspos semua bagian tubuhnya. Dan, tanah serta memar di tubuhnya menghancurkan image tentang gadis cantik.


Mereka lengah. Pikir Terumi.


Dia memberi tanda dengan tangannya. Tanda berupa jempol yang menghadap ke atas sebagai isyarat untuk naik.


Terumi melompat keluar dengan hati-hati. Dia juga memegang dua kunai di tangannya.


Ray awalnya bingung apakah Kunoichi termasuk kategori budaya atau tidak. Andaikan Degree milik Terumi mampu memasukkan hal tersebut sebagai bentuk kemampuannya maka dia lebih berbahaya dari yang diperkirakan.


Orang ini tidak boleh dijadikan musuh dalam hal apapun. Akan merepotkan nantinya. Ray meyakini diri bahwa dia takkan membuat Terumi marah lagi padanya.


Ray melangkah naik. Empat orang berdiri di tepi gedung selagi menatap kekacauan yang mungkin dibuat Leo.


“Kalian lebih cepat dari dugaanku. Tampaknya para Rookie ini tak bisa diremehkan sama sekali. Yah, aku tak pantas mengatakan hal itu.”


Ray merasa bodoh karena telah berwaspada sejak awal. Tentunya orang-orang itu sudah pasti akan mengetahui bahwa ada pembunuh yang dikirim.


Kekacauan di luar adalah umpan belaka. Pemeran utamanya adalah orang yang memanfaatkan kekacauan tersebut untuk menyusup ke dalam.


“Sepertinya kalian cukup senang bermain-main, ya?” Ray berkata dengan nada sarkasme.


Apa kata yang tepat saat mereka tahu seseorang menyusup dan hanya diam tanpa melakukan tindakan apa-apa?


Tindakan tersebut cukup menyebalkan ketika dipikirkan namun tak ada apapun yang bisa mereka lakukan.


“Tampaknya kalian juga sama bersenang. Membunuh para anak buahku tercinta dan datang ke sini setelah melalui rintangan monyet yang sengaja aku tinggalkan.”


Orang itu membalasnya dengan nada yang sama dengan Ray. Dia jelas bukan sosok yang akan terganggu oleh provokasi rendahan seperti itu.


“Sakura Terumi, dan kamu ... aku tahu kamu. Walaupun Degree-mu hampir tidak bisa diketahui, namun kekuatanmu jelas bukan main-main. Bahkan setelah si Retsuji, kamu adalah orang kedua setelahnya.”


Jika dia menyampaikan bahwa Ray adalah orang kedua setelah Arthur untuk diwaspadai. Itu artinya yang dia maksud adalah Delapan Rookie Berbahaya.


Endruid tidak membual soal informasi ini. Kebenarannya sudah bisa dijamin, namun hal itu tak membantunya keluar dari situasi ini.


“Ray Morgan ... aku tak menyangka bahwa di tempat ini akan ada orang sedingin dirimu. Kamu sebaiknya hati-hati, Sakura Terumi. Orang ini tidak mengenal kasih sayang sehingga mampu membuang apapun tanpa kesulitan.”


Ray mengernyitkan alisnya. Dia cukup penasaran apa maksud dari kata-kata tersebut. Seakan-akan dia coba menyampaikan pesan tersirat. Bahwa, dia tahu sedikit atau banyak hal tentang masa lalunya.


“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud. Bahkan jika tahu, takkan pernah aku mempercayai apapun yang keluar dari mulutmu.” Terumi mengacungkan senjatanya. Dia sudah meyakini bahwa apapun yang akan dikatakan orang itu adalah kebohongan.


“Ha ha ha ha, yah, kamu akan mengerti di masa depan. Andaikan sesuatu terjadi. Aku, pemimpin serikat Rebellion, Virgo selalu terbuka untuk kedatangan siapapun. Terutama orang berbakat sepertimu.”


“Tak akan pernah!” Terumi menolak mentah-mentah tawarannya. “Lagi pula apa tujuanmu melakukan ini semua? Kamu bahkan tidak ragu mengorbankan rekanmu sendiri!”


Peristiwa di mana Endruid, anggota mereka ditembak mati oleh rekannya masih membekas di benaknya.


“Rekan? Aku tak punya rekan. Yang aku punya adalah bidak catur. Pion adalah bidak yang sangat mudah dan tak berpengaruh apapun bila dikorbankan. Aku yakin kamu akan sepakat denganku, Morgan.” Virgo beralih menatap Ray. Dari balik topengnya, Ray tahu orang itu mungkin tersenyum.


Jika mengibaratkan semua ini adalah papan catur dan Ray adalah orang yang menggerakkan semua bidak. Tentu saja, pion takkan berperan penting karena mereka bisa digantikan.


Namun para menteri, kuda, benteng, Ratu dan lainnya adalah penggerak penting dalam menentukan kemenangan dan kekalahan.


Pion hanya akan menyediakan jalan sementara yang bertarung adalah para menteri.


Ray sepakat dibeberapa aspek namun di kasus ini ada hal yang tak bisa ia setujui.


“Ketimbang membuangnya untuk mati sia-sia. Aku akan mengumpulkan pion untuk membentuk strategi dan menggunakan mereka sebaik mungkin sehingga posisinya tak lebih lemah dari benteng.”


Semakin banyak pion di tanganmu, maka semakin banyak rintangan untuk mencapai raja.


Semakin banyak pion di tanganmu, maka semakin besar kesempatan mencapai checkmate terhadap lawan.


“Sayang sekali bahwa visi kita berbeda. Meski begitu aku yakin ada bagian dari dirimu yang memiliki kerelaan mengorbankan banyak hal. Lagi pula kamu adalah manusia yang tidak dibesarkan untuk jadi manusia.” Ucapannya mengandung tawa cekikikan saat dia menyampaikan kalimat akhir.


Kali ini tak hanya mengernyitkan. Ray mengerutkan alis, membuatnya lancip berhias kemarahan.


“Tidak dibesarkan ... menjadi manusia?” gumam Terumi, menatap Ray dengan penuh penasaran.


Orang itu banyak bicara. Jika ia mengungkapkan lebih banyak hal tak perlu lagi maka takkan ada jalan pengampunan.


“Aku tak tahu dari mana kamu mendengarnya, namun sebaiknya tutup mulutmu. Tak peduli siapa kamu, aku takkan ragu membunuhnya.”


“Tanpa perlu dikatakan aku juga tahu. Lagi pula, kamu ... telah membunuh Ayahmu.”


Ray mengambil langkah cepat dengan tujuan menyerang Virgo. Kepala dinginnya tiba-tiba hilang dan hanya berisikan kemarahan.


Virgo hanya diam dan tak coba menghindar. Salah satu orang dengan badan terbesar datang menghadang dan menahan pisau Ray dengan tangan kosongnya.


Hal itu membuat Ray terkejut dan melakukan akrobatik salto ke belakang.


“Kamu sangat mengerikan, Morgan! Tampaknya kamu tak suka saat seseorang mengetahui masa lalu yang coba kamu kubur.”


Ray berdecak kesal. Ia mulai kehilangan pikirannya karena semua kemarahan dalam dirinya.


“Dari mana kamu menemukan informasinya?!”


Virgo hanya cekikikan selagi merentangkan kedua tangannya. Bersamaan dengan itu suara baling-baling mengepak dapat terdengar dengan jelas.


“Entahlah, kamu bisa menanyakannya kepada Secret. Atau, datang dan hancurkan aku dengan tanganmu. Sayangnya, aku telah kehabisan waktu. Semuanya, kita kembali.”


Orang-orang yang melindunginya mulai menaiki helikopter. Sementara ada satu dari mereka menggunakan jet pack untuk pergi.


“Ini semua belum berakhir! Kalian akan melihat bagaimana neraka menghiasi tempat ini. Di tanah terkutuk ini. Open World akan hancur. Peperangan besar akan dimulai saat hari bulan purnama! Persiapkanlah diri kalian! PASUKAN MUNDUR!”


Meninggalkan hal tersebut helikopter segera membawanya pergi ke satu tempat bersama pasukan serikat Rebellion yang menuju hutan.


Entah ke mana lokasi dan tujuan mereka. Tak ada siapapun yang bisa mengejar setelah semua kelelahan ini.


Bahkan Ray memiliki beberapa hal yang perlu dibenahi. Namun, untuk pertama mari bereskan sesuatu yang ada di depan matanya.