
Beberapa menit sebelum peristiwa, Sebastian sedang melakukan pembicaraan jarak jauh dengan orang menggunakan radio walkie talkie.
Sebastian awalnya terkejut karena orang itu tiba-tiba membuat panggilan mendadak sehingga dirinya harus membuat alasan untuk pergi.
Padahal harusnya waktu panggilan sudah ditentukan yaitu setiap pagi hari. Dan harusnya orang itu menelponnya besok sesuai rencana.
Sebastian merasa khawatir karena panggilan mendadak seperti ini hanya akan terjadi jika sesuatu terjadi atau ada perubahan besar yang tidak bisa diabaikan.
“Hallo, apa kamu mengalami kesulitan di tugas tertentu?” Sebastian mulai bicara saat ia menjawab panggilannya.
“Ya, ada kesulitan di mana aku sulit untuk kalah.”
Jawaban yang diberikan memang terkesan aneh dan sombong namun nyatanya jawaban itu adalah kata sandi untuk memastikan orang di sisi lain adalah orang itu.
“Apa kamu kesepian?” lanjutnya.
”Ya.” jawab Sebastian selagi memandang sekitarnya. “Aku kesepian sehingga tak ada siapapun yang akan mendengarkan.”
“Bagus. Sekarang kita akan memajukan rencana lebih cepat. Aku sudah mengerahkan pasukan dan akan tiba jam dua belas dini hari.”
Sebastian tertegun karena kabarnya begitu tiba-tiba. Percepatan rencana ini jelas didorong oleh satu hal yang mungkin mendesak.
“Ada apa tiba-tiba, Virgo? Mengapa kamu mempercepatnya disaat seperti ini?”
Sebastian menantikan jawabannya. Barangkali ada tanda-tanda yang merisaukan sehingga Virgo memutuskan melakukan lebih awal.
“Ada berbagai alasan namun yang paling utama adalah keberadaan satu kelompok kecil yang meresahkan. Aku berhasil melacaknya dan meski mereka hanya kelompok kecil namun keberadaannya sangat berbahaya.”
Sebastian mengerutkan alisnya. Seharusnya jika itu kelompok kecil Virgo akan dengan mudah membereskannya tanpa memajukan rencananya. Namun karena tindakannya tak seperti dirinya, Sebastian menyimpulkan bahwa kelompok ini bukan kelompok yang mudah dihancurkan.
“Apa mereka memang sangat berbahaya sampai kamu ingin mempercepat rencana? Dengan kekuatan Rebellion harusnya mudah mengalahkan mereka.”
Untuk beberapa hal Virgo terdengar menghela napas panjang. Ia jelas merasa kesusahan dibuatnya oleh kelompok kecil ini.
Faktanya dia sudah mengirimkan hampir seratus orang namun tak satupun yang berhasil melakukannya. Justru sebaliknya mereka yang dihancurkan.
“Mereka terdiri dari orang-orang cakap dan bukan hal mudah mengalahkannya. Lalu, diantara mereka ada beberapa rookie berbahaya. Aku sudah coba menghancurkan mereka saat melacaknya namun kenyataannya kelompok itu dihancurkan. Alexis yang menjadi pemimpin kelompok tersebut juga terluka parah.”
Sebastian terkejut bukan main karena Alexis harusnya memiliki Degree hebat sehingga tak mudah untuk dikalahkan. Bahkan Sebastian sendiri tak bisa mengalahkannya.
“Lalu apa yang harus kulakukan? Apa ada perubahan dalam rencana?”
“Hanya sedikit. Sebisa mungkin kamu harus membuat Ordo tewas atau setidaknya buat ia tak bisa berpartisipasi dalam penyerangan kita. Orang itulah yang harusnya kita waspadai.”
Sebastian sedikit berpikir sebelum menyetujuinya. Membunuh Ordo bukanlah hal yang mudah karena kemampuannya yang unik. Selain itu Ordo selalu waspada bahkan ketika ia tidur takkan mudah menyerangnya.
“Bagaimana? Apa kamu bisa melakukannya? Jika kamu gagal melakukannya semua akan sulit karena mereka akan mengetahui bahwa kamu adalah pengkhianat sejak dua tahun lalu.”
Sebastian awalnya hanya membimbing Ordo, Mein dan Erina karena ia yakin bahwa ketiganya akan membantunya di tugas-tugas yang akan datang.
Namun pada suatu waktu ketika Sebastian terpisah dengan mereka ia bertemu dengan Virgo. Ia ditaklukkan dengan mudah dan akhirnya memilih bergabung di bawah kepemimpinannya.
Alasan tak ada yang pernah menduga bahwa ia terhubung dengan Virgo adalah Sebastian hampir tak pernah melakukan kontak langsung dengannya sampai akhirnya Virgo membangun Rebellion satu tahun lalu.
Sebastian hanya berhubungan melalui radio seperti sekarang ini.
“Ya, semuanya akan jadi memburuk namun ini adalah situasi yang tepat untuk melakukannya. Tak lama lagi Ordo akan memberikan pidato pesta.”
“Setidaknya, jika gagal membunuhnya aku mampu membuatnya terluka parah dan tak bisa melakukan apa-apa.”
“Begitu. Lakukanlah dengan hati-hati. Lalu, kamu harus waspada kepada Retsuji Arthur dan Ray Morgan. Diantara banyak orang hanya mereka berdua yang tindakannya tidak bisa aku prediksi.”
Sebastian tahu sejak awal bahwa Arthur adalah orang yang berbahaya meski tak pernah memperlihatkan Degree-nya. Namun hal yang tidak dia mengerti adalah satu orang lainnya.
“Ray Morgan, aku tahu ia pria yang cerdas dan berbakat. Namun apa yang membuatnya berbahaya?”
Yang membuatnya tak mengerti adalah selama ini Ray hanya terlihat seperti orang biasa yang pintar. Sebastian tak pernah mencurigainya dan menganggapnya seorang pekerja keras saja.
Namun jika Virgo menyampaikan bahwa Ray berbahaya maka itu mungkin benar adanya.
“Orang itu mungkin terlihat pendiam namun ia memiliki ratusan skenario di kepalanya. Ia mungkin sudah meramalkan bahwa akan muncul kekacauan sekarang.”
“Meramalkan? Maksudmu dia sudah tahu bahwa akan ada penyerangan?”
“Bukannya sudah tahu namun dia sudah memikirkan kemungkinan seperti itu akan terjadi. Aku yakin jika dia sudah menduga kemungkinan penyerangan maka ia akan memiliki jalan keluarnya. Yah, kamu tak perlu ambil pusing soalnya. Dia mungkin takkan bertindak banyak sampai mempengaruhi rencana kita.”
“Begitu.” Sebastian tak mengejarnya lebih jauh dan menghentikan panggilannya.
Ia kemudian mulai menyusun rencananya dan memanggil pasukannya yang lain yang ia selundupkan.
“Mari kita mulai.”
...****************...
Situasinya menjadi kacau seketika, Ray mulai berkumpul dengan Terumi dan Leo untuk menghentikan para penembak.
“Siapa sangka pengkhianatnya adalah orang kita sendiri! Sebastian, kurang ajar kau!” Leo mengumpat geram selagi memberikan pukulan kuat ke salah satu penembak.
Terumi sendiri bertindak sama dan tak ragu membunuh beberapa orang.
Ia tak ingin ada lebih banyak korban yang jatuh sehingga membuang sifat naif dan keraguan dalam pembunuhan.
Wajahnya bersimbah darah dan air mata tampak keluar karena Terumi masih tak bisa terbiasa melakukannya.
“Sebenarnya ada apa ini ... apa yang terjadi.” Ray bergumam dengan sedikit kesal.
Meski ia sudah menduga akan ada serangan semacam ini dan memiliki solusinya namun tetap saja ia terkejut karenanya.
Ray tak menduga tebakan bahwa Sebastian adalah seorang pengkhianat benar adanya.
“Aku curiga karena ketika tahu ada pengkhianat namun Sebastian yang bertugas mencari tak menemukan apa-apa.”
Sejak saat itu Ray tak begitu mempercayai Sebastian. Ray sendiri yakin setidaknya ada beberapa penyusup namun Sebastian, orang yang bertugas mengkonfirmasi menyatakan tidak. Siapapun akan merasa curiga akan hal itu.
Selain itu targetnya adalah Ordo. Itu akan jadi guncang mental besar karena Ordo sudah menganggap Sebastian sebagai kakak laki-laki— tidak. Mungkin ia sudah menganggapnya sebagai seorang ayah.
Aku harus mengubah rencanaku sedikit. Benih yang aku tebarkan pada Erina agar ia mencurigai Ordo menipunya takkan lagi mempan. Selain itu, Arthur juga takkan tertipu lagi. Pikirnya.
Tentunya jika ingin memajukan rencananya Ray akan membutuhkan sedikit waktu. Selain itu ia tidak bisa memastikan apakah orang itu akan bergerak atau tidak.
Ray melihat kondisi Ordo dan Arthur yang sedang menghadapi Sebastian. Kejutan yang Ray temukan ada kepada Mona yang meneriakkan bahwa Degree Sebastian adalah pesulap.
“Apa mungkin ... ia bisa mengetahui Degree seseorang dengan hanya melihatnya?”