The Degree

The Degree
Tipu Muslihat



‘Kami?’ pikir Ray.


Dua suara yang seiras dan tentunya dari dua gadis itu.


Ray tak memiliki banyak kenalan di sini namun ia tahu siapa pemilik suara kembar ini. Benar saja, ketika membuka pintu Ray menemukan dua gadis kembar dengan rambut pendek. Rani dan Rina.


“Kami datang menjengukmu, tampan.”


“Apa kamu merindukan kami?”


“Langsung saja katakan apa mau kalian.” Ray tak berniat berlama-lama dengan kedua remaja ini, ia juga tak ingin mempersilahkan keduanya masuk karena khawatir akan meletakkan sesuatu yang tak perlu.


“Tenang saja. Kami tidak merencanakan hal yang buruk.” Rani segera menyela seakan mampu membaca pikiran Ray.


“Kedatangan kami untuk menagih hutang.” Rina melanjutkannya.


Hanya satu hutang yang Ray miliki kepada keduanya yakni tentang pencucian otak Erina. Ray tahu cepat atau lambat mereka akan menagihnya namun ia tak menyangka akan secepat ini.


“Lalu, apa yang kalian inginkan sebagai bayarannya?” tanya Ray dengan sedikit enggan, “Aku bisa memberikan DP kepada kalian jika itu yang kalian inginkan.”


Rani dan Rina saling menatap satu sama lain. Keduanya tersenyum dan mengangguk disaat yang sama. Mereka mulai berbicara secara bergantian.


“DP tak ada gunanya bagi kami karena mudah untuk mendapatkannya dengan berbagai cara.”


“Ya. Meski uang ini masih tidak diketahui manfaat penuhnya, untuk sekarang kami tidak membutuhkannya.”


“Kami lebih menginginkan hal lain yang sudah lama kami penasaran dengannya.”


Rani mulai tersipu, “Itu benar. Sebagai remaja dalam masa pertumbuhan, kami memiliki keingintahuan yang besar.”


“Hanya saja hal itu tidak bisa dikatakan di tempat seperti ini.”


Keduanya mulai menggeliat dengan aneh, untuk beberapa alasan saling menatap dan menggandeng tangannya sebelum menatap Ray kembali.


Ray cukup curiga tentang tindakan dua bocah ini karena gelagatnya mencurigakan. Tampaknya pembicaraan yang akan mereka lakukan amat penting sehingga perlu kerahasiaan tinggi.


Sebelum mempersilahkan keduanya untuk masuk Ray melihat sekelilingnya dan tidak menemukan siapapun di sana, ia kemudian tanpa banyak bicara memberikan tanda agar Rani dan Rina masuk.


Ray tak lekas menutup pintu, ia diam selama beberapa menit di luar sebelum akhirnya masuk ke dalam.


“Kamu terlalu waspada, tampan.”


“Ya. Tenang saja, kami sudah memastikan tak ada yang mengikuti. Semua pembicaraan ini akan aman.”


Bahkan jika saudari kembar itu berusaha meyakinkannya, Ray hanya akan percaya dengan dirinya sendiri. Mempercayai orang lain sama saja bunuh diri baginya.


“Jadi, apa yang kalian inginkan?” Ray melompat langsung ke topik utamanya.


Tangan Ray pergi ke belakang punggungnya untuk bersiap mengambil pisau tersembunyi yang ia miliki. Jika saja tujuan bocah kembar ini adalah menyerangnya, maka Ray tak ragu membunuh keduanya dengan cepat.


“Yah, tidak perlu terburu-buru,” Rani tampak khawatir dan sedikit merona, “Untuk sekarang bagaimana keadaanmu tampan?”


“Ini sudah seminggu lebih sejak kita tiba. Dan, tampaknya pemulihan tanganmu berjalan dengan cepat,” lanjut Rina yang sama meronanya.


Namun seperti yang disampaikan Secret bahwa Serum D tidak hanya memberikan penggunanya Degree, umur panjang dan awet muda. Serum D juga meningkatkan kemampuan penyembuhan manusia beberapa kali lipat.


“Ini memang sembuh dan hebatnya tidak meninggalkan bekas apapun,” Ray menaikkan lengan bajunya dan menunjukkan kebenaran kata-katanya.


“Syukurlah. Awalnya aku sangat terkejut ketika pertama kali kita bertemu di dekat air terjun.”


Hal itu terjadi sesaat nuklir belum diaktifkan. Memang benar bahwa Ray sedang menuju ke sana dan berniat mengaktifkan nuklirnya untuk menjalankan rencananya, tetapi ia tak menduga ada variabel seperti Indri dan kelompoknya yang memiliki tujuan serupa.


Pertemuan tersebut seakan sudah diramalkan dan Indri mengajukan bantuannya dengan cuma-cuma.


“Kamu memang sangat pintar seperti kata nona, tampan. Bahkan saat itu juga kamu membuat rencana hebat dengan mengkambing hitamkan kami,” ujar Rina yang duduk di kasur tanpa izin.


Rani mengangguk setuju selagi ikut duduk, “Ya. Bahkan kamu berani melukai dirimu sendiri tanpa keraguan sama sekali. Aku sempat khawatir soal itu sebelumnya.”


Ray membuat seolah-olah dirinya bertarung dengan orang yang mengaktifkan nuklir. Hal itu jelas akan menghilangkan kecurigaan kepadanya karena secara akal sehat tidak ada orang yang cukup gila melukai dirinya sedemikian parah.


‘Aku berani melakukan itu dengan premis bahwa Secret tak berbohong soal pemulihan. Ini rencana yang sangat kasar, tetapi juga amat berguna untuk dilakukan.’


Ray tidak berpikir bahwa ini akan menjadi terakhir kalinya ia melukai dirinya sendiri, tetapi Ray juga berpikir tidak ingin melakukannya lagi. Bahkan jika ia tak masalah dengan rasa sakit, Ray tetap tidak akan bisa terbiasa.


“Aku lelah dengan ini semua. Kutahu bahwa tujuan kalian tidak ingin berbasa-basi seperti orang bodoh.” Ray menghela napas panjang dan menjadi lelah.


Alasan utama Ray tak mau basa-basi adalah kemampuan saudari kembar ini sangat merepotkan. Salah langkah sedikit akan membuat Ray masuk ke dalam permainannya.


Karena hal itulah berbicara dengan mereka lebih menguras mental dan tenaga.


Rani dan Rina mulai menggeliat sekali lagi, sampai keduanya saling berpegangan tangan dan menganggukkan kepala untuk meyakinkan satu sama lain.


“Kami adalah remaja dalam masa pertumbuhan. Seperti yang aku sampaikan sebelumnya, kami memiliki rasa penasaran yang tinggi.”


“Ya. Ini dimulai sejak pelajaran biologi sebelum kami menerima undangan dari organisasi.”


Rani menenggak air liurnya, ia membuka resleting jaketnya dan memperlihatkan bahwa dirinya hanya menggunakan pakaian dalam di baliknya. Rina tampak enggan namun ia juga melakukannya meski tidak seterbuka Rani.


Ray terkejut melihat mereka, ia menjadi berwaspada karena adanya kemungkinan tipu muslihat. Meski begitu, Rani telah sampai di depannya dan meletakkan tangan Ray ke dadanya.


“Tentunya, kami memiliki selera dan pilih-pilih soal ini. Meski kami sudah menggunakan mencuci otak banyak pria untuk melihat bagian-bagian tertentu, namun kami hanya ingin melakukannya dengan orang yang sesuai selera kami.”


“S-saat itulah kami bertemu kamu. Kamu tampan dan seksi. Jadi, kami memutuskan, pengalaman pertama harus dengan kamu.”


Keduanya semakin memerah seperti tomat saat menempelkan badannya kepada Ray.


“Bisakah kamu melakukan hal itu? Aku dengar yang pertama rasanya luar biasa.”


“Ya. Sudah sejak lama kami penasaran dengan itu.”


Ray tentunya tidak mempercayai apa yang ia dengar dan apa yang mereka katakan. Mereka masih amat muda namun sudah memiliki pemikiran untuk melakukan hal-hal berbau dewasa.


Ray tentu tidak membencinya namun jika dihadapkan dengan gadis SMA mengajaknya demikian ia akan mencurigainya dan mungkin saja menolaknya. Belum lagi, di tempat ini setiap tindakan akan selalu memiliki tipu muslihat.