
Ray menarik napas panjang dan mengambil ancang-ancang, saat Edward mengangguk dan memberikan tanda untuk rekannya, Steve juga mulai bersiap.
“Dalam hitungan tiga ... 1, 2, 3-!”
Steve melompat cepat selagi sedikit berlari, diikuti Jane yang berusaha sebaik mungkin untuk tak melambat.
Bagian depan berjalan baik sampai Edward melompat ke kubus kedua.
Kubus pertama perlahan turun dan sebelum benar-benar jatuh Ray melangkah lalu pindah ke kubus dua dengan cepat.
Cukup lancar pada awalnya namun ketika tiba di kubus ke lima pandangan Ray tentang sisi lain menjadi semakin rendah.
“Ini bahaya ...”
Ray mau tak mau harus melangkah lebih cepat. Dikarenakan Steve dan Jane sudah mencapai sisi lain maka tak ada keraguan untuk mendahului.
“Cepatlah Diana!” Jack mendesak karena hanya Diana yang tampak ragu melompat.
“Aku tahu! Tapi aku khawatir jatuh ...” Diana menatap ke bawah di mana duri besi yang tajam siap menembus tubuhnya.
“Tenang saja, aku akan menangkapmu dengan tali jika sesuatu terjadi padamu!” Steve mencoba menenangkannya karena Edward dan Jack akan kesulitan.
Diana menelan ludah dan memejamkan mata lalu melompat selagi bertariak. Kakinya hampir terpeleset saat tiba di sisi lain namun Jane dan Steve kompak menariknya.
“Terima kasih!” Diana mulai menangis dan memeluk Jane, tubuhnya benar-benar gemetar.
Jack segera mengambil langkah lebih cepat karena tahu Ray dan Edward akan bisa mengimbanginya.
“Tak perlu ragu untuk berlari!” Ray mendorong Jack untuk bergerak lebih cepat.
Jack menjawabnya dengan tindakan dan mempercepat langkahnya.
Tak butuh waktu lama baginya melompat ke sisi lain.
Ketika dia sampai kubus yang ada telah berada di bawah. Edward harus melompat dan berhasil mendarat dengan separuh badannya hampir jatuh.
“Kerja bagus! Tarik dia!” Steve dan Jack menarik Edward.
Ray berada di kubus ke sepuluh dan melompat namun ketinggiannya mustahil. Alhasil dia mengambil benda yang ada di sakunya.
Sesuatu yang sudah dia siapkan sejak sebelum memasuki rintangan dan sebelum Market tak bisa difungsikan.
Ray melemparkan benda tersebut dan mencapai tepat di sisi lain. Melompat sekuat tenaganya Ray tak mampu meraih sisi lain dan terjatuh.
“Sudah kuduga—”
Ray mengikatkan tali yang dia pegang ke pinggang dan melilitnya dengan tangan kanan sehingga menghindari kejatuhannya.
“— memang keputusan tepat untuk membeli pengait ini.”
Market menyediakan hampir segalanya. Ketika iseng mencarinya Ray menemukan pengait magnet yang sangat kuat.
Mengingat tempat ini dilindungi oleh besi maka Ray tak ragu membelinya. Selain ringan dan mudah dibawa, pengait magnet memiliki banyak kegunaan lain.
Dengan asumsi akan ada banyak rintangan seperti yang dia dan Justina lalui sebelumnya, Ray sudah membayangkan akan ada banyak jebakan yang berhubungan dengan jatuh.
“Dia ... aku tak tahu harus mengatakan apa. Namun orang itu mengerikan ...” Jack berkata dengan terkejut saat menemukan Ray berhasil selamat.
“Firasatku benar bahwa orang itu berbahaya.” Steve bahkan takjub dengan Ray yang benar-benar memiliki persiapan matang.
“Seandainya kita menyabotase dan membuatnya menarik Edward jatuh ... hanya Edward yang akan tewas karena dia bisa selamat menggunakan pengait.” ujar Jane.
Steve berkeringat dingin, dia benar-benar bersyukur karena tidak melakukan apapun karena nantinya akan sama dengan dia membunuh satu temannya.
“Itu lompatan yang cukup jauh namun bukannya mustahil. Tetap saja ... aku harus melakukan hal yang merepotkan.”
Memang tidak mustahil namun Ray membutuhkan waktu yang tepat. Jika ingin melompat maka dia harus mematikan pengait magnetnya dan melompat sebelum terjatuh.
Ketimbang melompat Ray terpikirkan satu cara lainnya. Tak jauh berbeda namun lebih besar keberhasilannya meski melelahkan.
Kesalahan sekecil apapun akan menyebabkannya dalam bahaya.
”Diam saja juga tidak ada gunanya.”
Ray menarik napasnya dalam-dalam dan perlahan mendaki naik hingga mencapai pengait magnet.
Dengan tangan kirinya yang terlilit Ray bersiap mematikan fungsi magnet dan menyalakannya lagi.
Ketika mematikannya Ray memindahkan posisi magnet ke atas dan menyalakannya lagi. Dia menggunakan kedua tangannya dan dorongan kakinya untuk naik perlahan-lahan.
Sampai sepuluh menit berlalu Ray berhasil mencapai atas dengan tangan kiri yang terlilit penuh memar dan bengkak.
Itu wajar saja, tangannya takkan kuat menahan beban berat Ray yang kurang lebih 60kg.
“Tch! Kamu berhasil selamat meski aku berharap sebaliknya.” Hanya Steve yang mengungkapkan kebenciannya tanpa keraguan.
Ray tak peduli dengan apa yang dikatakannya. Untuk sekarang adalah tangan kirinya, rasanya tak begitu menyakiti namun Ray takkan mampu mengerahkan kemampuan terbaiknya.
Tugas ketiga membutuhkan segenap kekuatannya. Tujuan lain memiliki kelompok Edward adalah untuk melalui neraka yang ada di depan sana.
“Kamu tampak baik, apa kita harus lanjut ke stage selanjutnya?” tanya Edward ketika menatap rintangan yang akan mereka hadapi.
“Kita istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga. Bahkan aku tidak perlu menjelaskannya tentang rintangan apa di depan sana.”
Rintangan yang mungkin Secret tak rencanakan sedemikian rupa, tetapi rintangan mudah yang menjadi neraka karena diperburuk oleh Erina.
Ray sendiri tak memiliki keyakinan mutlak untuk bisa melaluinya sendirian. Dia membutuhkan orang lain untuk menjadi perisai baginya.
“Ya ... itu yang aku takutkan untuk dihadapi.” Edward sepakat dan terlihat bermasalah.
Dia tak khawatir tentang dirinya tetapi semua tentang teman-temannya. Terutama para gadis yakni Jane dan Diana.
“Apakah organisasi itu benar-benar menginginkan pemandangan ini?” Jack berkata dengan nada yang sedikit putus asa.
“Kemungkinan besar ... sial! Aku benar-benar berharap tak pernah datang ke tempat ini!” Steve mengumpat dan menghentakkan kakinya.
“Aku mual-!” Diana tak kuasa melihatnya dan mulai memuntahkan isi perutnya.
Jane juga tampak sama namun dia memiliki perut yang lebih kuat ketimbang Diana.
“Di depan sana ada neraka ... rintangan selanjutnya adalah survival. Kita akan saling bertarung satu sama lain untuk pergi ke tahap akhir.”
Rintangan terakhir yang Ray waspadai adalah sesuatu yang terjadi secara alami dan berkat perkataan Erina.
Untuk mencapai stage terakhir mereka harus melalui pertempuran mematikan dengan partisipan lainnya.
Selain itu ada robot penjaga yang ikut bertarung dan mencegah partisipan melewati jalannya begitu saja.
“Mungkin kita bisa menghadapi manusia lainnya namun ... bukankah mustahil mengalahkan dua robot gundam raksasa itu?!” Steve berkata dengan sedikit marah dan jengkel.
Ya. dua robot yang ada hampir setinggi sebuah rumah dua lantai. Tak peduli seberapa baik seseorang dengan Degree akan terasa sangat mustahil mengalahkannya.
Cara seperti apa yang pantas digunakan untuk melaluinya?
Ray tak berpikir Degree-nya akan berguna namun untuk kali ini dia harus mempertimbangkan memahami seperti apa Degree miliknya.