
Setelah berpisah dengan Terumi dan Leo, Ray berjalan kembali ke pemukiman. Ketika hari mulai menggelap, ada dorongan kuat di dalam hati Ray bahwa dia harus kembali.
Itu pasti efek dari Degree yang dimiliki Erina. Ray sama sekali tidak bisa menentang keinginan kuat tersebut dan meyakini sesuatu.
“Jika begini keadaannya aku harus melakukan hal-hal yang merepotkan. Jangan sampai dia mengekangku jauh dari ini.”
Ray khawatir bahwa dia akan benar-benar menjadi boneka sepenuhnya karena Erina terlalu banyak memberikannya larangan.
Ini hanya asumsi belaka namun ada lima puluh persen kemungkinan benar. Dia mampu memerintah seseorang dengan syarat tertentu.
Benar saja saat matahari benar-benar hampir tenggelam Ray memiliki dorongan kuat untuk sampai segera dan mulai berlari.
Hal itu membuatnya jengkel lantaran dirinya benar-benar akan diperalat.
Hingga pada akhirnya Ray tiba tak lama karena dia menempuh perjalanannya dengan berlari.
“Selamat datang, sayangku.”
Tepat di depan pintu kediamannya Erina sudah menunggunya dengan senyuman berani.
“Kamu pasti sudah mengerti sedikit kekuatanku. Apa sekarang kamu sudah tidak lagi marah kepadaku?” Erina tersenyum dengan mengejek.
Hal itu tentunya membangkitkan kemarahan Ray namun dia tahu dirinya tak bisa bertindak gegabah.
Erina sengaja memberi perintah untuknya kembali sebelum hari benar-benar gelap. Hal itu untuk memberitahukan kepada Ray bahwa Degree-nya nyata.
Jika aku bertindak sembarangan maka lambat laun akan menghambat rencanaku.
Ray tak perlu melakukan tindakan serampangan yang akan mendorong Erina untuk memberikannya tali pengekang lainnya.
“Kamu memang gadis yang menyebalkan.”
“Fufu, aku anggap itu sebagai pujian. Karena sekarang sudah malam, bagaimana jika kita makan?”
“Mengapa aku harus menurutimu?” Ray menatap dengan dingin dan jelas tidak senang.
“Ya, bahkan jika kamu tidak mau aku bisa membawamu ke sana tanpa melakukan apa-apa.”
Dalam artian Erina bisa memerintahkan Ray menurutinya bahkan jika dia menolaknya dengan keras.
Ray menghela napas kasar dan menurutinya. Dia benar-benar terlihat tertekan dan seakan putus asa.
Erina tampak menikmati hal itu dan segera meraih tangan Ray ke dadanya tanpa rasa takut. Dia tahu bahwa Ray adalah orang berkepala dingin yang takkan mengambil tindakan bodoh apapun terhadap hal yang tidak diak ketahui.
“Kamu ingin makan dulu? Mandi dulu? Atau yang kamu inginkan adalah a~ku~?” Erina berkata dengan nada yang menggoda.
Bahkan jika dia melakukan hal-hal lainnya takkan membuat Ray tergerak. Bukan karena dia tidak normal namun Ray sudah terlatih dalam mengendalikannya.
“Aku tak peduli apapun itu.”
Erina menggembungkan pipinya seraya marah, “Kamu sangat dingin.”
Meski begitu Erina merasa nyaman karena selama Ray adalah miliknya, itu sudah cukup.
Fufu, kamu takkan pernah bisa pergi dariku, Ray. Cepat atau lambat, aku yakin kamu akan menyerah dan mencintaiku.
Ketika mereka makan dengan damai, ada sesuatu yang Erina buka secara mendadak. Yakni obrolan tentang serikat.
“Ada hal yang aku ingin bicarakan denganmu. Ini tentang kamu bergabung serikat dan aku akan mengungkapkan teka-teki yang muncul.”
Ray awalnya ingin mengabaikan apapun yang Erina katakan karena dia sudah menebak sedikit Degree-nya. Meski begitu teka-teki tugas ke lima bukan sesuatu yang bisa dia abaikan.
“Apa aku benar-benar harus bergabung untuk mendapatkannya?”
Erina tersenyum kecil, “Kamu bisa saja membuat serikatmu sendiri namun tentunya tidak akan mudah. Pilihanmu hanya bergabung dengan serikatku. Selain itu ada beberapa hal tentang Open World yang belum kamu ketahui.”
Erina menjelaskan bahwa keberadaan serikat bukan hanya untuk berkumpul dan menjadi pemimpin besar saja. Melainkan untuk satu hal yang mungkin hanya ada di Open World.
Ray tentunya tertarik untuk mempelajari lebih banyak tentang Open World dengan segala isinya.
“Seratus persen partisipan di tempat ini terjebak di tugas ke lima sehingga untuk tugas ke enam dan seterusnya tidak tersentuh sama sekali. Walau begitu bukannya tak ada cara apapun untuk mendapatkan bocoran tentang memecahkan tugas atau apa yang akan ada di tugas selanjutnya.”
Dalam artian seperti ada kisi-kisi yang tersebar tentang tugas yang telah disiapkan oleh Secret. Kisi-kisi tersebut akan menuntut seseorang untuk menyelesaikan tugas dengan mudah dan aman.
Dengan tujuan mencari kisi-kisi tersebut terbentuklah serikat-serikat. Ada cukup banyak serikat namun keberadaan mereka samar dikarenakan milik Erina dan Ordo adalah yang terbesar.
“Kami dari generasi pertama menerima tugas bonus yang sama. Namun dikarenakan semua orang memiliki cara berbeda-beda kami terpecah menjadi barat dan timur. Untuk itulah keberadaan kalian para junior akan jadi penentuan siapa yang terbesar dan pecundang.”
Perang akan pecah cepat atau lambat dikarenakan Ray dan orang-orang lainnya telah mencapai Open World. Sangat persis seperti apa yang telah Ray prediksi.
“Lalu apa hubungannya dengan aku bergabung?”
“Kamu orang yang tajam, cerdas dan berkemampuan. Aku ingin kamu menjadi bagian dari serikatku dan membagikan pemikiranmu tentang teka-teki untuk membuka tugas ke lima.”
Cara terbaik menguak sesuatu adalah dengan membagikan pemikiran bersama orang lain. Dengan cara bertukar pendapat maka seseorang akan melihat hal-hal yang tidak dilihat sebelumnya.
Ray sedikit terkejut bahwa Erina memiliki penilaian tinggi terhadapnya. Namun itu tidak menutup kemungkinan bahwa dia telah mencoba menggunakannya.
“Mengapa harus aku? Selain otak dan kekuatan fisik, aku bodoh di bidang lainnya. Bahkan Degree-ku sangat tidak berguna.”
Ketika Ray menyinggung soal Degree, entah mengapa Erina menunjukkan senyuman yang misterius.
“Jika kamu menganggapnya tidak berguna maka Degree-mu adalah sesuatu yang mudah ditemui di dunia luar. Aku takkan memaksamu untuk mengatakannya namun aku akan menunjukkan padamu bahwa tidak ada Degree yang tak berguna.”
Erina menepuk tangannya dan Mein segera masuk ke ruangan tersebut.
Tanpa kata apapun Erina mengambil pisau dan menyayat tangan kanan Mein yang dengan sukarela dia ulurkan.
Tentunya tangan tersebut berdarah karena tajamnya pisau tersebut. Ray tak tahu apa yang coba Erina tunjukkan namun dia tertarik menyaksikannya untuk beberapa hal.
“Mein, peranmu sekarang adalah manusia dengan kulit besi.”
Mein mengangguk dan memejamkan matanya. Di saat itu juga Erina tak lagi menggores halus, tetapi dengan kuat menikam tangan Mein.
Bagian aneh yang membuat Ray melebarkan terjadi. Seharusnya tangan Mein terluka sedemikian rupa. Namun secara ajaib pisau yang digunakan Erina memantul dan bengkok.
Kulit Mein sama sekali tidak tergores atau terluka. Saat itu juga Ray menyadari sesuatu yang mengejutkan.