
Di sebuah karaoke yang ada di mall, beberapa orang berkumpul dan membuat ruangan itu tertutup.
Di pintu karaoke selalu ada cermin sehingga orang mampu melihat ke dalamnya agar menghindari berbagai hal buruk yang mungkin terjadi.
Namun pada dasarnya tempat ini seperti wilayah di mana hukum tidak berlaku. Cukup mudah menutup kaca tersebut jika menutupinya dengan mantel.
Lampu berwarna merah yang membantu menyamarkan wajah orang-orang di dalamnya meski sedikit. Bagian penting dari lampu merah itu adalah menyembunyikan cairan yang berserakan.
Sofa disusun sedemikian rupa sehingga mengitari ruangan, lebih tepatnya mengitari seseorang yang diikat di tengahnya.
“Kamu masih tidak mau berbicara, ya.” Indri menendang wajah orang yang ia ikat dan membuat orang itu mengeluarkan darah dari hidungnya.
“Ah, kamu menodai stocking-ku dengan darah tua yang menjijikan.”
Indri kembali duduk dengan wajah yang muak dan kesal. Ia kemudian menatap pria di depannya yang juga menatap balik dengan kebencian.
“Aku tak benci ditatap seperti itu. Namun aku cukup tidak menyukai orang yang keras kepala,” katanya, Indri kemudian bertanya sekali lagi. “Katakan padaku. Apa yang kamu rencanakan? Apa yang akan kalian lakukan, dan apa tindakan yang akan diambil Virgo?”
“Kamu mungkin sudah tua dan dekat dengan kematian, tetapi percayalah aku tidak bisa membantu membuatnya menjadi mudah. Sebaiknya kamu jujur dan hargai detik-detik berharga yang kamu miliki, Sebastian.”
Orang yang ditangkap Indri dan rekan-rekannya adalah seorang pria yang telah kehilangan kakinya, Sebastian. Pria yang mengacaukan banyak hal namun juga membantu banyak hal.
“Tidak peduli bagaimana kamu menyiksaku. Tidak ada cara apapun bagimu untuk mendapatkan informasi apapun dariku.”
Sebastian orang yang cukup keras kepala, bahkan setelah semua kuku jari dan kakinya dicabuti orang ini tidak mudah bicara. Orang ini jelas sangat loyal kepada Virgo.
Indri awalnya yakin bahwa Sebastian adalah jenis orang yang akan mampu mudah berpaling ke sisi lain jika mendapatkan gertakan dan siksaan. Hal tersebut didasari pada pengkhianatan Sebastian kepada Ordo dan Erina.
Orang ini telah menyusup cukup lama sampai tidak ada kecurigaan apapun padanya. Bahkan pengkhianatnya lebih dari efektif menyebabkan guncangan kuat yang memperburuk mental Erina.
“Ini masalah yang besar, pak tua. Aku tidak mungkin menyampaikan kepadanya bahwa aku tidak mendapatkan apapun darimu.” Indri menggelengkan kepalanya dengan masam.
Indri tentunya menyadari bahwa siksaan pada tahap ini tidak akan berguna kepadanya. Untuk itu ia berencana mengganti suasana.
“Hiroshi. Apa kamu ingat tentang beberapa bom yang tertanam di kediaman Redwest sebelum Rebellion menyerangnya?” Indri bertanya.
Di ruangan ini sekarang hanya ada Hiroshi dan Ben yang menggunakan riasannya. Hanya ada empat orang termasuk Sebastian.
Indri awalnya ingin semua anggotanya ada di sini namun untuk beberapa alasan ia tidak menemukan Rani dan Rina. Sementara Guren memiliki tugas lain yang ia jalani secara mandiri.
“Ya. Itu sangat mengejutkan karena orang yang menanamnya tidak berasal dari Rebellion ataupun pengkhianat ini.”
Bukan hanya kediamannya, tetapi ada banyak bom yang tersebar ke berbagai tempat. Bom tersebut dipasang bukan hanya untuk menciptakan kerusuhan, tetapi krisis makanan.
“Banyak bom yang di pasang untuk menghancurkan tempat-tempat tertentu di mana Redwest mendapatkan makanan tanpa harus menggunakan DP.”
Mulai dari kebun dan beberapa gudang penyimpanan telah ditanamkan bom.
Menilai dari reaksi Sebastian yang terkejut, Indri menyimpulkan bahwa orang ini juga tidak mengetahui apa-apa. Itu tentu saja, karena pelakunya bukan Sebastian, Rebellion ataupun Indri.
“Kamu pasti akan terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang merencanakan itu adalah Ray Morgan. Pria itu menjalankan hal-hal itu sendirian.” Indri mulai mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan melemparkannya ke arah Sebastian.
“Arsenik, polonium, dimethlymercur, serta beberapa zat beracun lainnya. Aku menemukan ini di beberapa tempat untuk menyimpan air.”
Sebastian jelas terguncang, ia bahkan lupa untuk mempertahankan poker face miliknya. Tiga zat yang disebutkan Indri adalah sesuatu yang berbahaya jika seseorang mengkonsumsinya. Belum lagi, tiga sekaligus digunakan untuk meracuni air.
Serikat Redwest yang berada di bawah kepemimpinan Erina adalah tempat yang sangat ketat. Bahkan selama Sebastian bekerja di bawah Ordo, ia menemukan Erina melakukan hal-hal yang luar biasa ketat.
Meski ada aliran air terjun dan juga Market, Erina tetap memilih tidak menggunakan Market untuk menghemat DP. Ia bahkan tidak langsung mengkonsumsi air terjun, tetapi menyimpannya terlebih dahulu sampai dipastikan aman.
“Air yang sudah di simpan siap dikonsumsi tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Bahkan takkan ada yang sadar seseorang telah membuat pengaturan untuk racun ini terbuka.”
Dari penjelasan Indri, seseorang telah meletakkan zat-zat berbahaya ini dengan cara tertentu sehingga akan terbuka di waktu yang telah diprediksikan.
“Apa Ray yang melakukannya?” tanya Sebastian, tentunya ia tidak bisa untuk tak tertarik dengan hal ini.
“Entahlah. Namun yang bisa dipastikan bom yang tersebar adalah ulahnya. Sementara mengenai Zat ini tidak dapat dipastikan, namun berkat kekacauan Virgo botol-botol itu terbuka lebih cepat dari jadwal.”
Meski tidak ada bukti namun Indri yakin yang meletakkan zat-zat ini orang yang sama dengan pemasang bom. Hal itu juga yang menjadi alasan Indri tertarik untuk bekerja sama dengannya.
“Selain itu ada beberapa rencana lain yang disiapkan saat aliansi terjadi. Namun sekali lagi kamu dan Virgo mengacaukannya. Padahal aku tertarik melihat apa yang akan ia lakukan.”
Indri menepuk tangannya dan Ben mengangguk beberapa kali. Ia mendekat dan memegang jari Sebastian.
“Aku ingin membalas dendam kepadamu, Virgo dan monyet lainnya. Aku akan mulai darimu. Cepat katakan, siapa identitas Virgo.”
Ben mendekati Sebastian dan mematahkan kelingkingnya beberapa kali. Hal tersebut membuat Sebastian cukup menderita namun ia masih teguh kepada pendiriannya.
“Apa rencana kalian selanjutnya?”
“Mati saja.”
Krak!
“Bagaimana cara kalian menentukan generasi kedua yang memiliki Degree berbahaya?”
“Kamu bisa pergi ke neraka dan menungguku mengatakannya.”
Krak! Krak!
Sebastian tetap kekeh meski kini hampir semua jari di tangannya telah dipatahkan. Meski begitu Indri juga keras kepala untuk mendapatkan sesuatu darinya.
Tidak mungkin dia bersusah payah menculik orang namun tidak mendapatkan apapun. Indri tentunya telah menemukan beberapa hal dari percakapan sebelumnya, meski begitu satu hal yang ia inginkan masih belum diraih.
Pada akhirnya Indri harus menjatuhkan bom terakhir untuk mengkonfirmasi satu hal.
“Yah, aku lelah berputar-putar. Ben, sebaiknya kita langsung saja tangkap wanita itu. Siapa sangka? Virgo yang terlihat keras dan gagah nyatanya adalah seorang wanita.”
Dari hal tersebut wajah Sebastian menunjukkan reaksi.