
Lima hari sejak penyerangan berlalu. Keadaannya kian membaik dan orang-orang yang terluka sudah mulai beraktivitas. Tentunya mereka yang menderita luka berat masih terbaring lemah di kasurnya.
Ray kini tak lagi mengelola serikat Redwest karena Mein sudah kembali untuk memerintah menggantikan Erina. Meskipun ia tampak memerlukan istirahat, tetapi tak ada satupun orang yang mau melawan wanita keras kepala itu.
Ordo telah menceritakan situasinya kepada Mein terutama keberadaan termonuklir yang belum lama ini Ray, Leo, Arthur dan Sebastian datangi untuk diperiksa. Tak lupa mereka juga menebarkan pengawasan ke sekitarnya dengan tidak mencolok.
Meskipun regu pencarian sudah dikirimkan, sampai saat ini masih tidak ada kabar tentang keberadaan markas Rebellion. Mereka seakan-akan menghilang ditelan oleh bumi.
Selama waktu itu Ordo dan Mein bekerjasama untuk memperkuat pasukan. Semua orang kini tahu betapa krisisnya situasi saat ini. Cepat atau lambat, dua serikat ini akan melakukan bentrokan dengan Rebellion.
Selama mereka tak menyelesaikan tugas ke lima, maka takkan ada siapapun yang bisa Meninggalkan Open World.
Untuk berjaga-jaga Ordo juga tidak menyampaikan keberadaan termonuklir kepada orang awam. Dan, hanya orang-orang penting yang memiliki peran saja yang mengetahuinya.
Lalu, mereka juga memberikan penjagaan ketat di setiap ruang bawah tanah karena hanya tempat itu satu-satunya orang mendapatkan barang dari Market.
Di hari keenam masalah lain timbul. Tim pelacak menemukan jejak orang dalam jumlah besar yang bergerak ke selatan. Tak ada informasi lebih lanjut, tetapi diyakini bahwa Rebellion ada di sana.
Di hari ke tujuh, peristiwa lain terjadi. Ini bukan hal yang buruk, justru membahagiakan karena Erina telah mendapatkan kesadarannya.
Ray, Ordo, dan Mein datang untuk menjenguknya. Tujuan mereka bukan hanya melihat, namun menanyakan beberapa detil yang terjadi padanya sampai seperti itu.
“... aku akan menunggu di luar. Silahkan kalian masuk lebih dulu,” Ordo terlihat ragu untuk memasuki kamar Erina yang berjarak kurang dari satu meter.
“Ada apa? Wanita itu takkan bisa melakukan apapun selain dengan lidah tajamnya.”
Ray tak mengerti apa alasannya menahan diri sekarang meski biasanya Ordo diam-diam datang berkunjung untuk melihat kondisinya.
Melihat Mein, wanita itu tampak tidak benar-benar peduli atau mempertanyakan alasannya. Tampaknya ia mengetahui sedikit hal tentang Ordo dan Erina.
“Ada beberapa hal. Lebih baik kalian menjelaskan situasi kepadanya secara perlahan. Seperti yang kalian ketahui. Hubungan kami tidak baik sehingga ia mungkin ragu mengatakan apapun saat aku ada di sana.”
Ray berpikir bahwa Ordo mungkin hanya mencari-cari alasan, namun alasannya itu memiliki kebenaran juga.
“Masuk akal,” kata Ray singkat meninggalkan Ordo yang mematung di lorong.
Saat masuk mereka disambut oleh senyuman ramah dari wanita cantik yang menyedihkan. Dibeberapa tempat Ray cukup prihatin dengan kondisinya.
“Nona Erina ... .” Mein tampak sedih dan bersimpati.
“Jangan menatapku seperti itu. Aku membencinya,” katanya sedikit tersinggung.
“Maaf,” Mein melangkah dan duduk di sisinya.
Erina tampak acuh padanya dan hanya memperhatikan Ray. Ia kemudian tersenyum masam, malu dan sedih disaat bersamaan.
“Aku menunjukkan sisi yang memalukan kepadamu.”
“Kamu memang menyedihkan. Namun aku kagum bahwa kamu bisa menahannya dengan baik,” ujar Ray selagi mengambil kursi untuk dirinya sendiri. Ia duduk di sisi yang berlawanan dengan Mein.
“Justru sebaliknya. Aku yakin mayoritas pria ingin melihat sisi itu. Yah, meski aku tak pernah mempedulikan hal-hal seperti itu.”
Ray tak pernah benar-benar peduli tentang menjaga muka di depan orang yang ia cintai, ataupun peduli dengan hal lainnya. Jika hanya ingin membuat anak, dengan wajahnya, Ray yakin bisa menggaet seorang Putri suatu kerajaan.
Meski begitu, sebenarnya ia cukup tertarik belajar tentang perasaan tersebut. Banyak yang bilang bahwa cinta membawa kebahagiaan seperti madu yang manis.
“Fu fu, kamu tak pernah berubah. Sisi itulah yang aku sukai darimu.” Erina mengalihkan tatapannya kepada Mein yang sejak tadi memperhatikan. “Sekarang, bisa kamu jelaskan situasinya padaku, Mein?”
“Ya, Nona.”
Mein memberikan penjelasannya dari awal penyerangan terjadi. Hingga ketika ia diselamatkan Ray dan memintanya datang ke tempat Erina. Lalu, sampai pada saat terakhir di mana Blueeast datang membantu.
Tak lupa Mein memberikan penjelasan lengkap mengapa Blueeast memilih datang dan membentuk aliansi tak resmi, karena ketua Redwest langsung belum menyetujuinya.
Erina tampak menerima dengan baik dan tak ada kontradiksi apapun dengan situasi saat ini. Meskipun ia tak menentang, bukan berarti ia menerimanya.
“Mengapa orang itu mau membantuku? Bukankah lebih baik aku dan serikatku hancur. Yang perlu ia lakukan hanyalah mengambil puing-puing sebanyak mungkin sebelum Rebellion yang melakukannya.”
Erina terlihat kesal dan tak percaya pada alasan Ordo. Di beberapa tempat, Ray melihat bahwa Erina tampak sedikit ingin menangis. Entah sedih atau semacamnya, ia tak bisa memahaminya.
“Selama dua tahun kita saling bermusuhan, harusnya ia mampu memikirkan rencana hebat untuk mengalahkanku dan mengusir Rebellion. Pastinya ada tujuan lain yang ia miliki, misalnya ingin aku berhutang budi padanya.”
Erina tampak tak berpikir jernih. Ray dapat merasakan semua kata-kata tersebut muncul murni dari emosinya dan bukan hasil dari pemikiran yang matang.
Pintu kemudian terbuka diikuti suara seorang pria yang tampaknya mendengar umpatan Erina.
“Aku tak melakukannya karena aku peduli kepadamu. Tidak peduli seberapa jauh kita, seberapa regang hubungan kita. Ikatan darah tak bisa diputuskan begitu saja.”
Di sana ada Ordo yang sebelumnya memilih menunggu di luar, kini ia datang untuk menjenguk.
Ray memperhatikan kata-kata Ordo dan ia cukup terkejut akan satu hal.
Apakah mereka berdua ...
“Berani-beraninya kamu menguping percakapan kami sejak awal. Kamu memiliki bakat besar sebagai penguntit. Hobi yang sungguh menjijikan untuk dimiliki!” Erina mengumpat dengan keras, dan marah.
“Lidahmu tajam seperti biasa. Tidak pernah berubah sejak dua tahun yang lalu.”
“Kalimatku juga sama. Kamu terlihat menyebalkan seperti biasanya. Ray, Mein. Kumpulkan pasukan kita. Kita akan segera pergi dari sini!”
Erina tampaknya tidak memiliki kesediaan untuk berada di tempat ini. Jika ia memilih menarik mundur serikat Redwest, sama artinya aliansi sementara dibatalkan.
Ray berpikir bahwa itu adalah langkah yang benar-benar buruk untuk diambil. Andaikata mereka lepas dari aliansi sementara ini, sebuah langkah mudah bagi Ordo melenyapkannya.
Ordo hanya menghela napas dan berwajah sedih. Meski itu akan jadi kesempatan besar untuk langsung menyelesaikan tugas bonus, namun ia tak mengambilnya.
“Bukankah ini sudah waktunya bagi kita mengakhiri perkelahian ini, adikku?”