The Degree

The Degree
Pilihan Sulit



“Jadi singkatnya kamu khawatir dengan Degree-ku melebihi apapun?”


Arthur mengangguk tanpa keraguan, “Orang bodoh seperti apa yang tidak akan waspada dengan Degree yang bahkan bisa mengendalikanku seperti boneka?”


Mendengar perkataan Arthur membuat Erina tersenyum tipis. Dalam negosiasi kedua pihak harus setara agar kesepakatan dapat terjalin. Arthur memegang rahasia Erina tentang Degree-nya dan jug sebaliknya, Erina memiliki Degree yang bahkan mampu mengendalikan Arthur sesuka hati.


Meski persyaratannya bukanlah hal mudah namun siapa yang tahu bahwa Arthur akan melakukan blunder di masa depan. Selain itu kekuatan Erina akan lebih dari cukup untuk mempersulit Arthur dalam beberapa hal.


“Huh, baiklah. Aku menyetujui kesepakatan ini, bahwa di masa depan jika ada situasi yang kau ramalkan itu aku akan tetap netral.”


Melihat Erina setuju tanpa menolak sama sekali membuat Arthur menghela napas lega. Ia sempat berpikir bahwa dirinya akan ditolak mengingat Erina bisa melakukan cara lain untuk membungkam Arthur tentang Degree-nya.


Jika wanita ini tak coba mengancamku maka posisi kita sama. Baik aku ataupun Erina tidak ingin menjadi musuh satu sama lain. Pikirnya.


Arthur tentu sadar bahwa dirinya sangatlah terkenal sampai-sampai orang segan kepadanya meskipun tak pernah terlihat menggunakan Degree-nya.


Meski tahu akan hal itu Arthur tidak jadi besar kepala dan membuat permusuhan di mana-mana. Ia justru memanfaatkan posisinya ini untuk keuntungan dan tujuannya.


“Kalau begitu baguslah.” kata Arthur selagi melakukan persiapan untuk meninggalkan perkemahan, “Aku akan membantu persiapan untuk pergi dan melihat keadaannya. Tak masalah, kan?”


Erina mengangguk tanpa menolak sedikitpun. Ia sadar bahwa tak ada hal lain yang pantas untuk dibicarakan. Selain itu Erina ingin melihat kondisi Ray saat ini.


...****************...


Mona tengah memberikan pengobatan kepada Ray. Setelah membersihkan luka dan menjahitnya ia lekas membalut lukanya. Untungnya tidak ada yang fatal namun untuk beberapa waktu tangan kanan Ray akan sulit digerakkan karena lukanya tersebut.


“Aku tak menyangka bahwa kamu bisa terluka separah ini. Kupikir kamu bukan orang normal seperti Arthur.” Mona memiliki wajah takjub yang tampak salah tempat mengingat situasi Ray bukan sesuatu yang harus dikejutkan.


“Jika kamu menyangkutkan Degree terhadap kasus ini, maka kita semua bukanlah orang normal.”


Manusia normal tidak akan memiliki kemampuan aneh, penyembuhan cepat dan umur panjang.


Ray melihat kembali lukanya, ia tidak menyangka bahwa hasil dari pertarungannya akan separah ini.


Aku tak pernah menduga membuat kontak langsung dengan mereka adalah tindakan bodoh meski sebelumnya kita bekerja sama. Pikirnya.


Ray ingat bahwa orang itu sudah memberikan peringatannya. Meski mereka berada dalam kelompok yang sama bukan berarti mereka akrab. Ini adalah kelompok kecil yang memiliki visi berbeda namun satu tujuan yaitu menyelesaikan tugas ke lima.


“Ray.” Seseorang memasuki tenda dengan tergesa-gesa.


Ray menemukan Terumi yang terengah-engah dan berkeringat di sana, wanita itu jelas berlari setelah menyelesaikan diskusi dengan Erina.


Perkemahan keduanya memang cukup jauh sehingga tak mengejutkan butuh waktu bagi Terumi untuk sampai.


“Kamu baik-baik saja?” Ray bertanya lantaran mengkhawatirkan Terumi.


Pertanyaan tersebut membuat Terumi marah karena tidak senang dengan Ray yang tampak biasa-biasa saja.


“Baik-baik saja? Aku yang harusnya bilang itu! Memangnya apa yang kamu lakukan seorang diri sampai terluka seperti itu? Kamu tahu aku di sisimu dan mengapa tak meminta bantuanku?!” Dalam satu tarikan napas Terumi mengungkapkan kekesalannya pada Ray.


Terumi mengepalkan erat kedua tinjunya dan berjalan dengan langkah kaki yang berat. Wajahnya mengkerut dan matanya tampak berkaca-kaca.


Ray sedikit heran mengapa Terumi sampai segitunya hanya karena luka-luka ini. Ray tak berpikir bahwa sikapnya adalah kebohongan karena tak mungkin seseorang berakting sepintar itu.


“Mona, bisakah?” Ray membuat kontak mata untuk meminta Mona meninggalkan mereka berdua.


Mona awalnya berpikir sedikit sebelum alisnya naik dan mulutnya membentuk O besar sebelum tersenyum nakal dan menusuk-nusuk pinggang Ray.


Sebelum pergi Mona membisikkan, “Jangan sampai hamil.” dan lari kencang meninggalkan perkemahan.


Andaikan ia tidak berlari seperti itu Ray memiliki keinginan mencubit gadis itu untuk memberinya pelajaran. Lagi pula tidak mungkin seseorang akan hamil hanya karena berbicara. Bahkan dengan semua rasa sakit di tubuhnya Ray tak memiliki hormon semacam itu saat ini.


“Aku takkan menerima alasan lupa!” Terumi berkata dengan nada mengentak.


Ray menghela napas panjang,“Bukannya aku lupa atau menganggapmu lemah. Degree-mu jelas lebih kuat dan berguna dari milikku. Hanya saja aku tak ingin melibatkanmu diantara hal-hal yang aku lakukan secara pribadi.”


Melihat wajah Terumi yang masih tidak puas membuat Ray bermasalah karena dia tak bisa membuat alasan yang bagus untuk saat ini.


Jika itu adanya maka mari lakukan keduanya.


“Aku takkan berbohong padamu. Aku melakukan ini karena bisa bergerak bebas dan tanpa mengkhawatirkan apapun. Namun jika tindakanku membuatmu khawatir maka tolong maafkan aku.”


Terumi menundukkan kepalanya, bahunya mulai bergetar. Jelas dia tak terima permintaan maaf seperti itu. Terumi jelas amat benci Ray yang seakan-akan tak mengetahui perasaannya yang sudah sangat jelas bagi siapapun untuk menyadarinya.


Meski tahu masa lalu Ray yang demikian menyakitkan namun bukan berarti Ray cukup tidak peka untuk tak memahami perasaan milik Terumi. Bahkan orang yang menderita di masa lalu pastinya masih memiliki hati.


“Aku tak pernah memintamu untuk minta maaf! Aku hanya–”


Belaian lembut menggapai rambutnya, tangan tersebut mulai membawanya ke sebuah dekapan lembut, hangat dan harum. Telinganya merasakan detak suara jantung yang stereo. Wajahnya terkubur di besar dan kekarnya badan seorang pria.


Terumi cukup terkejut karena Ray berinisiatif memberikannya pelukan yang lembut. Ia tak bisa melihat wajah Ray, lagi pula ia tak berani melihatnya. Bagaimana bisa Terumi merasa sangat senang atas pelukan ini meski seharusnya ia berduka atas luka yang dialami Ray?


Hati kecilnya bahkan berharap agar Ray sering terluka jika itu artinya Terumi mendapatkan pelukan.


“Kamu orang bodoh!” Berkat pelukan itu juga air mata yang ditahan membeku mulai mengalir mencair, membasahi kemeja Ray yang kotor dan memiliki percikan darah.


“Ya. Kesalahanku karena tak memikirkanmu. Lain kali aku tidak akan bertindak sembarangan dan tanpa pemberitahuan.”


Sepertinya benar buku itu, tindakan mampu menjelaskannya lebih banyak. Dengan tindakan ini aku bisa menghindar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan merepotkan itu. Pikirnya.


Ray juga berencana melakukannya kepada Erina andaikan ia bersikap sama dengan Terumi. Namun Ray juga bertanya-tanya apakah pelukan akan mampu membuatnya menghindar jika pertanyaan datang dari pria?


Apa reaksi Leo atau Arthur saat aku memeluk mereka seperti ini? Mungkin aku akan dipukul.


Mengesampingkan semua hal ini Ray membiarkan Terumi menangis di pelukannya selama beberapa waktu. Segera setelah ia selesai menangis Erina datang di waktu yang tepat.


Tujuannya sejalan dengan Terumi yaitu untuk melihat kondisinya. Untuk beberapa alasan keduanya tampak bermusuhan saat bertanya secara bergantian.


Selebihnya tidak ada yang penting karena keduanya lebih banyak melontarkan kalimat satu sama lain ketimbang menanyakan kondisi Ray. Ray ingin segera melarikan diri dari situasi ini namun apa daya karena tak ada kesempatan.


...****************...


Di tempat lain Leo mengumpulkan semua pasukan di satu tempat. Awalnya ia ingin menggunakan aula pesta namun karena hampir separuhnya terbakar dan hutannya juga terbakar maka Leo memindahkannya ke tempat lain.


Ia tak bisa menggunakan pengeras suara karena ada kemungkinan musuh mendengarnya. Berteriak secara normal akan mengurangi risiko tersebut.


“Aku yakin kalian semua telah mendapatkan notifikasi bahwa tempat ini akan segera hancur. Awalnya kami sudah mengetahui bagaimana cara menyelesaikan tugas ke lima namun karena serangan Rebellion hal ini jadi tertunda.”


Leo juga menyampaikan bahwa penemuan nuklir memang benar adanya. Selama ini mereka telah merahasiakannya sebaik mungkin namun tak terduga ada kelompok lain yang mengaktifkannya.


“Kelompok ini bukan Redwest, Blueeast ataupun Rebellion. Meskipun bajingan Sebastian mengetahui lokasinya, mustahil ia bisa bergerak secepat itu dan mengaktifkannya.”


Leo juga telah mengkonfirmasi dari Ray yang terluka parah bahwa keberadaan kelompok misterius ini nyata adanya.


Orang-orang juga terkejut karena mengetahui Ray terluka parah. Terutamanya para gadis yang merasa marah dibeberapa tempat karena ada orang yang melukai Ray. Bahkan tak hanya gadis, pria juga marah karenanya.


Mau bagaimanapun Ray adalah sosok yang populer diantara para pria dan wanita. Meskipun terkesan cuek Ray adalah orang yang berkemampuan dan cukup disegani.


“Aku takkan banyak basa-basi. Berkat serangan penyusup sebelumnya ada banyak yang terluka bahkan mati. Ditambah lagi tugas mendadak ini muncul dan menuntut kita mengungsi.”


Dengan kejaran Rebellion mereka akan sulit untuk melarikan diri. Rebellion sendiri mungkin takkan mengambil langkah mundur karena mereka sudah bergerak sejauh ini. Selain itu Virgo takkan mungkin mau melepaskan hadiah utama dari tugas bonus begitu saja.


“Pilihan kita hanyalah melarikan diri selagi melawan musuh yang mengejar. Namun kesulitannya tak hanya ada di sana. Bahkan jika kita sampai di Shelter bukan berarti kita akan aman. Rebellion pasti akan mengejar sampai Shelter!”


Leo menyampaikan bahwa kesulitan pertama yang mereka hadapi adalah orang yang terluka.


“Kami memutuskan untuk membiarkan kalian memilihnya sendiri. Apakah kalian akan meninggalkan orang yang terluka atau membawa beberapa orang yang kalian kenali. Siapapun tak masalah! Teman, kekasih, kakak ataupun adik. Itu menjadi hak kalian untuk memilihnya.”


Semua orang tau beban seperti apa yang akan mereka terima jika membawa semua orang yang terluka mereka bawa. Namun mereka juga memahami seberapa besar beban mental mereka ketika meninggalkan orang-orang yang terluka.


“Aku tahu ini hal yang kejam untuk dilakukan namun kematian mereka akan menjadi hari esok untuk kita. Itu keputusan kalian apakah ingin membawa semuanya, atau membawa orang yang kalian kenali saja. Semuanya berhak memilih.”