
Hiroshi mulai berlutut dan menyerahkan pedangnya. Hal itu membuat Sung Jin terheran-heran, tindakan Hiroshi jelas terlihat aneh olehnya.
“Apa yang coba kamu lakukan, bocah?” tanya Sung Jin lantaran dia merasa heran akan tindakan Hiroshi.
“Kamu takkan mendapatkan apa-apa dariku, menyiksaku hanya akan membuang waktumu. Cepat, bunuh saja aku.” Hiroshi mengatakannya tanpa keraguan sedikitpun.
Hal itu membuat Sung Jin ragu untuk melakukannya, dia menatap mata Hiroshi baik-baik dan menemukan bahwa bocah itu tidak bercanda akan perkataannya.
“Yang benar saja, di abad ini masih ada orang yang menjalankan tradisi seperti itu? Kamu lebih dari sekedar fanatik!”
Sung Jin tak bisa banyak berkata-kata, dia mulai berpikir bahwa bocah di depannya mungkin sudah sinting. Habisnya ini pertama kalinya Sung Jin melihat orang begitu bersedia menerima kematiannya.
Bahkan Sung Jin sendiri tidak berani melakukan sesuatu seperti menyerahkan nyawanya dengan sukarela.
Sung Jin mengambil katana tersebut. Hiroshi kemudian memejamkan matanya, dengan tenang meletakkan tangannya ke pangkuan.
“Aku hargai keberanianmu, selamat tinggal.”
Dalam sekejap mata Sung Jin memukul leher Hiroshi dengan gagang katananya. Dia tidak membunuh Hiroshi, tetapi hanya membuatnya tak sadarkan diri.
Akan sangat disayangkan untuk membunuhnya, pikir Sung Jin. Tidak banyak bocah yang berani bertarung mengorbankan nyawanya seperti Hiroshi.
“Bahkan jika menyiksamu tak mendapatkan apapun, rekanmu takkan mengabaikanmu. Kami bisa menggunakanmu.”
Selain itu Sung Jin cukup menyukainya, jika bisa dia ingin membuat bocah itu menjadi pengikutnya karena nantinya akan sangat berguna. Hiroshi jelas memiliki potensi untuk menjadi mafia.
Sung Jin mendapati dering di handphonenya, rekannya yang menjaga sisi timur yang melakukan panggilan tersebut.
“Bagaimana di sana? Apa kalian berhasil mendapatkan bocah itu?” tanya Sung Jin.
“H-hyungnim ... t-tolong-!”
“Hoi! Ada apa?!”
Panggilan berakhir begitu saja sebelum Sung Jin tahu seperti apa kejadian sebenarnya. Hal itu meninggalkan rasa tidak enak di mulutnya, perasaannya juga tidak membaik.
Suara yang didengarnya di handphone terdengar menyakitkan, seperti erangan dari orang yang kesakitan.
“Aigo ... sesuatu pastinya terjadi. Aku harus memastikannya sendiri.”
Sung Jin tak memiliki pilihan selain langsung datang ke TKP, dia berharap tidak ada hal buruk apapun yang terjadi.
...****************...
Di tempat lain Hiromi sedang berlari kencang selagi menghindari para mafia. Pada awalnya semua berjalan lancar karena mereka sibuk mengejar Hiroshi, tetapi selling beberapa menit kemudian mereka kembali ke timur dan melakukan pengejaran.
“Sial, apa yang terjadi? Jangan bilang Hiroshi telah tertangkap.”
Kemungkinan terburuknya adalah Hiroshi telah tertangkap sehingga perjuangan Hiromi tidak akan mudah. Dia harus berhasil meloloskan diri entah bagaimanapun caranya.
“Pengorbananmu tidak akan sia-sia!” gumam Hiromi selagi meyakinkan dirinya.
“Itu dia!” teriak seorang mafia, memergoki Hiromi yang bersembunyi di dekat tong sampah.
“Sial!” Hiromi mengumpat dan lekas tancap gas, berlari kencang selagi menjatuhkan apapun yang bisa dijatuhkan olehnya.
Sebisa mungkin dia harus menambahkan kecepatan langkah kaki dan menghambat para mafia itu. Hiromi tentunya sadar, tak peduli seberapa banyak berlatih, jika dihadapkan oleh pria yang juga melatih tubuhnya maka wanita akan dikalahkan.
Beberapa pistol ditembakkan dalam pengejaran namun beruntung tidak ada satupun yang mengenainya. Hiromi merasa akan gawat jika dia tetap berada di situasi itu.
“Aku akan mengurangi jumlah mereka,” gumam Hiromi selagi berbelok ke gang kecil.
Para mafia mengikutinya tanpa peduli, sampai saat mereka berbelok dua kunai melesat dan menghancurkan mata salah satu dari mereka.
“Argh! Bocah keparat akan kubunuh kau!”
Hiromi takkan gentar, dia mengeluarkan kantung dan menaburkannya sepanjang jalan. Para mafia tentu mengabaikannya, tetapi saat mereka melangkah, sesuatu menembus sepatu kulit mereka dan melukai kakinya. Rasa sakitnya cukup mengganggu bagi mereka.
“Ini sakit, sialan! Hati-hati, dia menebarkan paku di mana-mana!”
Paku bergerigi yang berbentuk seperti bulu babi, hal itu jelas akan menembus sepatu mereka begitu mudahnya. Beberapa mafia tak mampu berlari lagi sampai mencabut pakunya, bahkan beberapa melepas sepatunya dan lanjut berlari.
Hiromi hanya bisa berdecak kesal karena orang-orang itu sangat gigih untuk mengejarnya.
Beberapa orang muncul di depannya, ada empat dan mereka berbadan besar, sulit bagi Hiromi melewatinya. Selain itu, di belakangnya terdapat para mafia lain, bisa dibilang Hiromi telah terkepung.
Sisi kiri dan kanannya adalah dinding, tak ada jalan keluar.
“Akhirnya, tertangkap juga kau gadis kecil!”
“Kita apakan dia, hyungnim?”
“Yah, kita harus mengabarkan ini kepada Sung Jin -hyung terlebih dahulu.”
Hiromi tetap tenang dan tidak panik akan situasi tersebut, dia hanya tersenyum kecil selagi mengamati sekitarnya. Meski tidak tahu apakah orang-orang itu akan memahami bahasanya atau tidak, Hiromi tetap mengatakannya.
“Kalian pikir telah menangkapku?”
“Fufu, sayang sekali.” Hiromi segera membanting kuat beberapa bola kecil ke tanah, bola tersebut meledak dan mengeluarkan asap yang mengepul.
“Sial, bau busuk apa ini?!”
“Ini seperti ketika Sung Jin —hyungnim membuang semua gas di perutnya!”
Saat asapnya perlahan menghilang, keberadaan Hiromi tidak lagi ditemukan. Dia telah meloloskan diri selama kekacauan tersebut. Tentunya, tindakannya menyebabkan kemarahan diantara para mafia.
Mereka merasa terhina karena terus dipermainkan oleh bocah ingusan itu. Bahkan sekarang ini, bocah itu mempermainkannya dan berhasil meloloskan diri lagi.
“Cari bocah itu! Jika dia meloloskan diri lagi maka tembak saja kakinya!”
“Baik!”
Sekali lagi mereka berpencar dan melakukan pencarian. Hiromi yang berhasil lolos terus bergerak ke arah timur, dia telah menemukan jalan ke kota.
“Di tempat ramai mereka takkan bisa mengejarku!”
Jika para mafia itu nekat untuk mengejarnya di tempat umum maka orang-orang akan memperhatikan, sehingga Hiromi bisa meminta pertolongan siapapun.
“Negara ini sangat berbeda dengan jepang! Penduduknya sangat toleran dan bahkan mau menolong orang asing, aku harus—”
Ketika Hiromi berpikir dirinya akan segera lolos, tetapi hal itu dihentikan lantaran sebuah tembakkan melesat ke arahnya. Meski tak mengenainya, tetapi Hiromi segera berhenti karena tembakan itu sengaja dibuat meleset.
“Anak baik, andaikan kamu melangkah saja aku akan menembak kepalamu tanpa ragu.”
Hiromi berbalik dan menemukan seorang pria dengan bekas luka di wajahnya, dia memiliki pembawaan berbeda dari mafia lainnya. Jelas, orang itu mungkin lebih berpengalaman dari pada yang lainnya.
‘Apa ini akhirnya? Maafkan aku, Hiroshi!’
Pengorbanannya jadi sia-sia karena dia tertangkap. Para mafia yang berhasil dia kelabui sebelumnya telah berkumpul, dia sudah terkepung.
“Jay Jo —hyungnim!”
“Kalian tampak payah, bisa-bisanya dipermainkan bocah ini.”
Jay Jo tak lagi menghiraukan orang-orang itu dan kembali menatap Hiromi. Dia sudah mendengar situasinya dari Sung Jin bahwa ada sekelompok manusia yang memiliki sejenis kekuatan super.
Kekuatan itu sendiri bermacam-macam dan mungkin lebih cocok disebut sebagai bakat maksimal ketimbang kekuatan super.
“Kamu bersikap seperti ninja atau apapun itu, tampaknya itu kekuatan yang kamu miliki. Gerakanmu begitu lincah, bahkan bisa memepermainkan orang-orang ini.”
Para mafia itu bukan orang lemah dan bodoh umumnya, mereka harusnya bisa menangkap Hiromi dengan mudah jika dia bocah biasa.
Namun dikarenakan Hiromi memiliki Degree, dia bisa meloloskan diri dengan berbagai trik yang bisa dia gunakan.
“Yah, untuk berjaga-jaga,” Jay Jo menarik pelatuknya dan menembak kedua kaki Hiromi.
“Argh!” Hiromi menjerit, mulai menangis karena rasa sakit yang luar biasa.
Dia jatuh berbaring di tanah karena kakinya tak bisa digunakan untuk berdiri. Hiromi mulai mengerang dan meminta tolong, berharap seseorang akan datang membantu, tetapi nyatanya tak ada yang akan mencapainya.
“Hyungnim, bocah ini cukup rupawan dan memiliki tubuh yang seksi. Bagaimana jika kita bermain-main dengannya dulu?” ujar salah seorang mafia dengan wajah bejat.
Jay Jo mengantungi pistolnya, dia mengambil rokok dari balik jasnya dan menghisapnya.
“Kamu benar, dia tidak memiliki wajah dan tubuh yang buruk. Meski begitu, kalian tak boleh menyentuhnya. Jika dia belum pernah melakukan hubungan itu, kita bisa menjualnya dengan harga yang mahal.”
Jay Jo adalah otak bisnis, dia seorang oportunis yang akan menukar apapun yang bisa diuangkan. Di organisasi, dia dipercaya sebagai orang yang mengontrol dan menjaga bisnis. Jay Jo adalah pria yang takkan ragu melakukan apapun untuk keuntungan organisasi.
“Bereskan tempat ini dan bawa gadis itu bersama kita.”
“Baik!”
Saat mereka berniat membawa Hiromi pergi, suara seorang pria muncul dan ditujukan kepada mereka. Para mafia sebagian tidak mengerti apa yang disampaikan orang itu karena bahasanya.
Hanya Jay Jo, orang yang sering melakukan transaksi gelap memahami bahasa orang itu.
Pria itu tampak masih muda, wajahnya mungkin datar tetapi dia jelas marah. Jay Jo berpikir bahwa dia adalah rekan gadis yang baru saja ditangkapnya, tetapi dari raut wajahnya tampaknya mereka tak saling berhubungan satu sama lain.
‘Dia sangat percaya diri datang ke sini ... jam itu?’
Jay Jo mengenali jam itu karena serupa dengan yang digunakan Haiyan dan Dong Wok. Selain itu, gadis yang ditangkapnya juga menggunakan jam serupa.
Tak perlu diragukan lagi, orang itu adalah pemilik kekuatan super seperti yang lainnya.
“Who are you?” tanya Jay Jo dengan acuh tak acuh.
“Your nightmare.”
Jay Jo mengerutkan alisnya dengan tak senang, dia kemudian mengangkat tangannya dan menyuruh orang-orangnya mengelilingi pria itu.
“Bunuh saja.”