
Dengan gas air mata di tangan kanannya, dan kepalanya sedikit keluar untuk mengamati situasi di depannya. Leo terlihat canggung karena ini kali pertama dia membuat musuh orang sebanyak ini.
“Bahkan pembunuh keji seperti Jack The Ripper takkan melakukan tindakan bodoh seperti ini.”
Sekali lagi ini bukan kisah fantasi tentang pendekar maupun Pahlawan. Orang-orang yang mampu menghadapi puluhan hingga ratusan orang sekaligus.
Menekan semua pemikiran negatifnya Leo menarik napas dalam, memejamkan mata lalu membukanya kembali.
“Mari kita mulai.”
Leo melempar gas air mata dengan hati-hati ke tempat yang memiliki lebih banyak orang.
Gas tersebut meledak dan membuyarkan puluhan orang dalam sekejap. Habisnya tak akan ada yang bisa tahan terhadapnya.
Hanya ketika terkena gas air mata saja pria terkuat di dunia sekalipun akan menangis.
Leo sendiri menghindari lokasi gas air mata itu selagi mendekat secara sembunyi-sembunyi.
“Sial! Mataku sangat sakit!”
“Ahh! Orang bodoh mana yang melemparkannya?! Cari dan aku akan bunuh dia!”
“Daripada berteriak sebaiknya kamu pergi dari sana jika tak ingin menderita!”
“Apakah ini ulah penyusup?”
“Jika itu benar mereka tak memiliki bakat sebagai penyusup. Setelah melihat jumlah kita harusnya mereka pergi!”
Bahkan jika mereka mengumpat dan mengucap seribu sumpah serapah takkan membuat Ray melangkah mundur.
Dia melemparkan gas lainnya ke tempat di mana orang-orang berkumpul. Hal itu membuat mereka lagi-lagi bubar dan berdecak dengan marah.
Mencari di mana keberadaan si pelaku dan tanpa hasil. Di tengah kekacauan tersebut siapa yang menduga bahwa saat ini dia berada di tengah-tengah mereka? Menyamar dan membaur seakan semuanya adalah rekan.
“Siapa orang bodoh yang melakukan ini?”
“Entahlah, mungkin dia penyusup?” Leo menjawab selancar bernapas.
Sementara orang yang berbicara dengannya sama sekali tidak peduli kehadirannya yang sesungguhnya asing.
“Aku tidak yakin ada yang begitu bodoh menyusup ke sini. Apa kamu tidak melihat? Berapa banyak orang yang ada di sini. Itu sama seperti halnya domba melompat ke kawanan karnivora.”
“Tapi aku yakin penyusup itu ada. Selain itu bukan domba. Bagaimana jika dia karnivora yang lebih besar?”
“Apa maksudmu— tunggu. Siapa kamu—” Sesaat orang itu hendak menaikkan suaranya Leo segera memeluknya dengan pisau yang menembus jantung pria itu.
Dalam sekejap dan tanpa siapapun menyadarinya dia membunuhnya dan membiarkannya tergeletak.
Segera Leo berjalan santai selagi membunuh orang satu persatu.
Tindakannya serupa macam assassin yang ada dalam cerita. Membunuh dalam sepi dan pergi bagai angin lalu.
Dengan kepanikan yang terjadi. Dengan orang-orang yang berusaha mencari penyusup mereka takkan memperhatikan keadaan sekitarnya. Bahkan jika seseorang mati tepat di belakangnya, takkan ada yang menyadarinya.
“Selagi bisa mari kurangi lawan sebanyak mungkin.”
Di tempat dengan lingkungan seperti ini mengotori tangan sudah jadi hal yang biasa. Seseorang harus menjadi terbiasa dengan darah. Dan, dengan pembunuhan.
Sampai ketika Leo tiba di seorang pria besar dan menusuk punggung. Dia terkejut tentang betapa kerasnya dagingnya.
“Apa-apaan ini. Ini lumayan sakit, loh.”
Pria besar, kepala botak dan sedikit kecoklatan menatap penuh kemarahan. Tatapannya mengembara ke tempat lain dulu mengingat ketinggiannya yang luar biasa.
Seketika dia melihat ke bawahannya dan menemukan Leo. Melihat betapa pendeknya dia, pria besar nan tinggi tertawa.
“Fu ha ha ha, pantas saja aku tak melihatmu. Penyusupnya sangat kecil! Kamu bahkan takkan bisa ditemukan jika bersembunyi di sebuah toples!”
Tentunya kaum pendek takkan bisa menerimanya. Antara benar-benar marah dan muak. Leo ada di pilihan pertama.
“Jangan meremehkanku hanya karena tinggi badan!”
Leo segera melompat dan menusuknya di leher. Namun ketebalan kulit dan dagingnya tidak wajar. Tubuh besarnya bukan karena lemak namun karena otot rupanya.
“Dasar bocah keparat! WOY! Penyusupnya di sini!”
Teriakannya sangat keras sehingga semua orang memperhatikannya. Hal itu cukup untuk mengungkapkan Leo yang disaksikan semua orang menusukkan pisau ke pria besar.
Bukan berarti ini menyebalkan namun sudah seharusnya seperti ini. Tugasnya adalah menjadi umpan dan dia butuh semua perhatian macam ini.
“Kalau sudah begini. Maka mari kita mulai!”
Leo melepaskan pisau dari genggamannya dan menutup mata pria besar dengan lengannya. Dia memanfaatkan satu tangan lainnya untuk mengambil pisau baru dan menggores cukup dalam lehernya.
Pria besar kesakitan dan mulai runtuh. Tak peduli seberapa tebal daging dan ototnya, mustahil dia bisa menguatkan arteri.
Itu bagian yang diincar Leo. Manusia tidak akan terselamatkan jika arteri di lehernya terputus karena terhentinya pasokan darah dan oksigen.
Leo segera bergegas untuk melompat namun dia menarik pin granat terlebih dahulu secara sembunyi-sembunyi.
Orang-orang berkumpul di sana tanpa menyadari bahwa Leo telah melemparkan granat.
“Oi! Apa kamu baik-baik saja?”
Seseorang bertanya pada pria besar yang terkapar tersebut. Saat itu dia melihat sesuatu berguling ke kakinya. Benda berbahaya yang akan meledak.
Sebelum sempat baginya untuk berteriak ataupun melarikan diri, granatnya meledak dan membunuh beberapa orang dalam sekejap.
“Rasakan itu!” Leo mengejek selagi berlari menghindari orang-orang.
Tak lupa dia juga membunuh orang-orang yang bisa dia tangani dalam pelarian dirinya.
“Kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!”
Puluhan orang mengejar Leo seperti kawanan serigala mengejar seekor kijang.
“Aku akan menangkapmu!”
“Takkan semudah itu!” Leo menyelinap diantara ************ orang di depannya dan menyelengkat kakinya. Kemudian dia memutar lehernya hingga tak sadarkan diri serta menaruh granat di tubuhnya.
Sesaat sebelum meledak. Leo melempar orang di tangannya bersama granat. Orang lainnya menangkap dan—
DHUAR!
Ledakan besar terjadi lagi. Kali ini korbannya lebih besar dari sebelumnya. Semuanya jadi panik. Huru-hara layak perang sejati.
Mereka ingin menembak Leo namun tak bisa karena peluru nyasar mampu melukai temannya sendiri.
Sementara untuk Degree tak banyak orang yang memiliki Degree berguna untuk menangkapnya.
Disatu sisi aku memiliki keuntungan karena tidak ada yang benar-benar berbahaya bagiku. Namun tetap saja kerugian terbesarku ada di jumlah. Pikirnya.
Leo melirik tempat Ray dan Terumi berada. Dia menemukan bahwa keduanya mulai mengambil langkah maju.
Tersenyum canggung akhirnya Leo mulai menggiring orang-orang ke tempat lain. Ke manapun selama dua rekannya memiliki kesempatan menyusup.
“Sekarang, sudah waktunya aku menggila!” Leo menyilangkan kedua tangannya.
Kuku-kuku yang dia miliki kian memanjang dan meruncing tajam. Dikarenakan dia tak bisa bertarung seperti ini terus, Leo memutuskan menggunakan Degree-nya.
Seperti tajamnya cakar seekor singa. Leo mampu mengoyak daging tubuh manusia dalam sekali ayunan.